The first 200 lines.
Pran Boon. Di mana kau?
Tolong aku. Pran Boon. Di mana kau?
Tolong aku.
Siapa di situ?
Ini aku, Daeng.
Itu kau, Pran Tin?
Harimau itu membawa putra Bibi Maew.
Sedang apa kau di sini tengah malam begini?
Aku kemari mencari bantuan untuk Pran Boon.
Katanya kau dan istrimu pergi ke rumah mertua di Ban Nua Nam.
Boon Mee?
Aku Daeng, bukan paman Boon Mee.
Pran Boon. Syukurlah itu kau.
Apa yang telah terjadi? Aku sungguh bingung.
Harimau Sming meniru ibu dan anaknya.
Mereka menggunakan ilusi untuk menipu korbannya.
Pran Tin tewas olehnya di balik pohon sebelah sana.
Harimaunya masih ada?
Tidak, dia sudah pergi.
Kupikir kita tidak selamat.
Tak kukira dia pergi saja.
Ke mana kira-kira dia pergi?
Ayo kembali ke desa, Daeng. Aku merasa was was.
Ya Tuhan, putraku.
Lumduan, bangun. Bantu aku menyiapkan sarapan.
Aku sudah bangun.
Siapa yang bisa tidur di saat seperti ini?
Darng, kau menggonggong pada siapa?
Warga desa bisa terbangun karena gonggonganmu.
Darng?
Kau baik-baik saja?
Darng?
Darng?
Ada apa, Bu?
Mundur.
Siapa itu?
Mau apa kau?
Apa katamu? Aku tidak mengerti.
Ibu.. Ibu.
Ibu.
Ibu, tolong aku.
Ibu.
Dasar kau iblis.
Jangan ganggu anakku.
Ibu.
Ibu.
Ibu.
Ada kebakaran.
Tolong.
- Tolong aku. - Lumduan.
- Lumduan. - Ayah.
Pran Boon. Jangan masuk.
Tidak, lepaskan aku.
Tidak, terlalu berbahaya.
Ayah.
Lumduan. Kau di mana?
Ayah. Ayah.
Lumduan, di mana kau?
Lumduan. Bicaralah padaku, Lumduan.
Lumduan.
Lhong, jaga anakku baik-baik.
Aku akan membunuh makhluk itu,...
...walau sampai darah penghabisan.
Tunggu, berikan senjataku. Aku akan ikut denganmu.
Tidak. Makhluk itu bisa kembali.
Lhong, saudaraku,..
Jangan percayai apa yang kau lihat.
Makhluk itu adalah Sming.
Gawat kalau begini.
Mungkin takdir kita menentukan kita akan bertemu kembali.
Ibu.
Lumduan.
Ayah. Ayah.
Jangan percayai apa yang kau lihat.
Itu adalah Sming.
Kenapa kau datang menemuiku sepagi ini, Nona?
Tunjukkan dirimu.
Ayo bertarung denganku.
Kau tak bisa bersembunyi selamanya.
Ayo bertarung denganku.
Prang.
Kembalilah.
Kembalilah.
Kembalilah.
Kembalilah...
SMING Perburuan Dimulai
Ini ayam kesayanganku.
Siapa mau kopi? Teh? Susu kocok?
Enak dan menyegarkan.
Jangan berisik.
Ini gedung pemerintahan.
Aku juga bayar pajak.
Saat di tokoku, kau selalu bicara tanpa henti.
Tapi aku tak pernah menyuruhmu diam.
Jika tak percaya, silakan tanya dia.
Duduklah, tak ada yang mau mendengar alasanmu.
Buktinya ada di sana.
Aku tak ada kaitannya dengan itu.
Permisi.
Ada yang bisa kubantu?
Aku datang melapor untuk tugas.
Ini dokumenku.
Kau petugas polisi hutan yang baru?
Kau seperti masih anak-anak.
Simpan kameranya, ikuti aku.
Terima kasih, Bu.
Tak apa-apa, aku senang membantu.
Nak, sedang apa kau di sini?
Nid Noi, ada apa ini?
Ada pasangan bertengkar, kau kirim mereka padaku.
Kasus binatang hilang, kau datang padaku.
Memangnya kau pikir aku apa?
Konsultan pernikahan atau petugas polisi?
Itu bocah dengan kasus harimau pemakan manusia?
Ayo jelaskan lebih lanjut.
Jangan bersembunyi lagi, kalian berdua.
Kata Pak Lhong, makhluk itu Sming, bukan harimau.
Sming atau harimau, terserah. Kenapa heboh sekali?
Desamu terkenal sebagai desa pemburu, bukan?
Ke mana para pemburunya?
Kalian tak bisa mengurus masalah ini sendiri?
Kau melapor untuk bertugas?
- Ya, Pak. - Siapa namamu?
- Namaku.. - Surachard Penghorm.
Bagus, ini tugas pertamamu.
Pergilah bersama bocah itu, periksa ada situasi apa.
Cari solusinya dan lapor padaku.
Baik, Pak.
Bagaimana cara kita mencapai "desa para pemburu" itu?
Kita menumpang kendaraan. Begitulah caraku kemari.
Menumpang kendaraan? Masa?
Permisi, apa kau menuju desa para pemburu?
Aku seorang montir.
Aku suka hutan belantara.
Sudah empat tahun aku tinggal di Thailand.
Terima kasih kami dibolehkan ikut serta.
Tak apa-apa, justru kami yang berterima kasih ada kau.
Sama-sama.
Kuharap kalian bukan pemburu,...
...karena tugasku menghentikan perburuan.
Tentu saja.
Permisi. Kalian sudah siap atau belum?
Ya, kami sudah beres.
Kita siap berangkat.
Baiklah.
Di mana Daeng?
Anak kecil itu ada di toilet.
Terima kasih.
Saatnya kita pergi.
Bab satu buku harian.
Hari pertamaku bertugas...
...menjadi petualangan yang tak disangka-sangka.
Kejutan yang menyenangkan.
Entah apa yang akan kutemui.
Tapi dalam hatiku, ini yang kutunggu sepanjang hidupku.
Kata Daeng, desanya tak jauh dari sini.
Apa kita bisa pakai mobil?
Bagaimana menurutmu, Daeng?
Bisa saja, tapi harus memutari pegunungan.
Kita tak bisa mencapai tujuan sebelum hari gelap.
Baiklah, aku paham.
Ben, hati-hati. Ini senjata api.
Akan kubawa satu. Tangkap ini.
Ini yang kusuka.
Tenang, Bung. Ini cuma untuk berjaga-jaga.
Ini hutan rimba, jangan berisik.
Kurasa anak ini menyuruhmu untuk jangan berisik.
Jadi tutup mulutmu.
Aku suka anak ini.
Chart. Cobalah ikuti kami, bisa?
Daeng, kami mengirimmu untuk mencari bantuan.
Kenapa malah kembali mengajak turis?
Dia kemari akan membidik Sming dengan kamera, bagus.
Bibi, makan apa kita malam ini?
Katakan pada mereka...
...jangan berkemah jauh dari desa. Tak aman.
Kurasa kita akan beraksi sendirian.
Kurasa mereka tak suka polisi hutan itu.
Begini saja, besok kita ke jip kita.
Sementara ini kita membuat tenda di sekitar sini.
Aku tak mau berada dekat-dekat mereka. Ayo.
Aku juga tak mau.
Tapi aku mau. Gadis ini cantik sekali.
Kurasa mereka tak akan mematuhi larangan kita tadi.
Mereka membawa banyak peralatan.
Tampak dari senjata mereka,...
...kurasa kita tak perlu cemas.
Kau bisa menginap bersama Prean malam ini.
Setelah kebakaran, Lumduan tinggal bersamaku.
- Kau tak keberatan, Prean? - Tidak, Pak Kepala Desa.
Kita menyusuri rimba esok pagi.
Akan kutunjukkan lokasi insiden terakhir.
Baiklah.
Ayo, Pak Polisi Hutan.
Agak sulit membiasakan dengan aksen bicara Prean.
Dia pengungsi Kamboja.
Ada orang Thailand, Cina, orang Barat dan Kamboja.
Apa ini PBB?
Siapa kau? Tolong aku.
Apa-apaan itu?
No comments yet. Be the first to leave one.