The first 200 lines.
Permisi.
Kau Kim Hye-yoon jurusan Jurnalisme dan Komunikasi?
Aku Yeo Jun, mahasiswa baru jurusan administrasi bisnis.
Yeo Jun. Ya, aku pernah dengar tentangmu.
Ada yang ingin kami tanyakan.
Jadi, bisa luangkan waktu untuk kami?
Tentu. Mari dengarkan apa maumu.
Dia mengingatkanku kepadamu saat kali pertama kita bertemu.
- Apa? - Apa dia juga psikopat?
Maksudku, apa dia juga berjiwa unik?
Apa dia setuju?
Dia ingin tahu konsepnya lebih dahulu.
Kita akan mengambil konsep masa muda yang cerah
dan bersemangat.
Bolehkah membuatnya dengan unsur fantasi?
Nanti tampak tidak realistis.
Aku juga setuju itu harus lebih realistis.
Jadi, kau mau coba hiperrealisme?
Ini video promosi, bukan dokumenter.
Kenyataan sulit bukan sesuatu yang ingin kita lihat dalam iklan.
Itu mungkin benar untuk iklan komersial.
Sudah seharusnya hanya menyoroti kebahagiaan masa muda.
Tapi ini tugas kuliah.
Tapi haruskah bertema gelap dan berat?
Mari lebih perhatikan pelajaran Profesor Park.
Akankah menyoroti sisi positif masa muda
menyentuh hatinya?
Yang penting menyenangkan dan memancarkan energi positif.
Tidak perlu mempertimbangkan preferensi profesor.
Tapi nilai kita dipertaruhkan.
Meski sebagai mahasiswa baru, kau mungkin tidak peduli.
Apa hubungannya ini dengan mahasiswa baru?
Ketua kelompok benar.
Seperti yang kalian tahu, tugas kelompokku gagal.
Aku butuh nilai bagus untuk menebusnya.
Aku juga.
Tetap saja. Apa pun yang menyenangkan
berujung pada hasil baik.
Sepertinya kita tidak bisa sepaham.
Aku harus masuk kelas.
Aku akan pulang telat setelah sifku.
Aku juga tidak akan di rumah.
Apa ada sesuatu antara kau dan Soo-hyun?
Tidak, kami baik-baik saja.
Jun, pertimbangkanlah kembali pendapat Soo-hyun.
Tunggu. Bukankah tadi kau memihakku?
Tentu saja, aku memihakmu.
Tapi...
Aku juga berpikir lebih baik
mencerminkan kenyataan kita, bukan hanya sisi positifnya.
Bahkan dalam kasusku, aku hanya bahagia bersamamu.
Hidupku juga kelam. Sebenarnya,
dahulu seperti itu.
Tapi bukankah kita hanya ingin mengingat kenangan indah
saat mengenang kembali masa-masa ini?
Tapi yang menderita juga tetap dirimu.
Lebih baik kubuang dia di suatu tempat.
Lantas, aku akan menjemputnya dan membawanya di sakuku.
Bukankah tidak nyaman bersama Soo-hyun di rumah?
Kau tahu aku tak mudah terpengaruh.
Selain itu, Soo-hyun mungkin ketus, tapi dia tidak akan terus marah.
Kau saja dahulu.
Tidak, kau saja.
Aku tidak terlalu kebelet.
- Aku juga. - Yang tua lebih dahulu.
Itu tidak berlaku untuk pipis.
Benar. Karena aku lebih muda, maka aku lebih dahulu.
Tidak.
Aku akan masuk lebih dahulu.
Asal kau tahu, aku sangat kebelet.
Aku ingin kudapan tengah malam.
Aku ingin kudapan tengah malam.
Mungkin piza? Atau ayam goreng?
Tteokbokki?
Astaga, ini tampak enak.
Aku ingin tahu seberapa jauh aromanya akan menyebar.
Ini terlalu banyak untuk sendiri.
Apa boleh buat. Aku akan membuangnya.
Apa? Ini hanya untukku.
Hanya satu porsi.
Satu porsi? Orang-orang suka membuang makanan.
Makanlah.
Jika tidak ada makanan, kau akan berpura-pura tidur.
Kenapa kau begitu marah karena tugas itu?
Tidak.
Karena tugasnya atau kau memang kesal kepadaku?
Aku menentang konsep kelam yang kau sarankan itu.
Aneh kau begitu ingin terlibat.
Kurasa itu benar.
Tapi apa kau tidak muak?
Hidup kita sudah cukup sulit.
Kenapa tugasnya...
Kita harus melihat kenyataan apa adanya.
Tidak bisakah kita lari dari kenyataan?
Begitu kita lari darinya,
suatu hari kita akan melihat kita lolos dari itu.
Seseorang harus berusaha mengatasi kesulitan.
Tapi aku enggan melakukannya sekarang.
Apa menundanya akan membuatnya lebih baik?
Bisa saja.
Sebagai seniormu, aku tahu...
Kau mengungkit usia?
- Kau mahasiswa baru... - Seolah-olah itu penting,
Pria Tua.
Beberapa orang tidak bisa lari dari kenyataan meski ingin.
Kita sudah berada di tepi jurang.
Kau menantangku untuk melihat siapa yang lebih menderita?
- Haruskah kita lakukan? - Siapa takut!
Ada apa dengan kalian hari ini?
Apa maksudmu?
Apa mungkin aku terlihat lebih tampan?
Dasar narsistik.
Kau menyebutku apa tadi?
Tapi kau lebih parah dariku.
Jangan bilang kalian bertengkar semalaman.
Atau mungkin kalian minum semalaman tanpa aku.
Sepanjang malam,
kami makan tteokbokki.
Tteokbokki?
Hei, Koo-hyun.
Dengan adiknya, dia selalu paling manis.
Kau cemburu?
Yang benar saja.
Kami sangat tidak cocok.
Konon, pertengkaran pasutri tidak akan bertahan lama.
Pasutri?
Menjijikkan!
Kenapa telingaku amat gatal?
Pasti ada yang menjelek-jelekkan Kakak.
Jadi, bersikaplah lebih baik...
Kenapa kau di sini padahal seharusnya sibuk belajar?
Apa hadiahnya?
Hadiahnya? Aku!
Astaga.
Kau tak menghabiskan banyak uang, 'kan?
Tidak.
Ini.
Ibu mengirimkannya melalui pos dan menyuruhku menyerahkan ke Kakak.
Apa ini?
Buku harian Ayah.
- Tapi kenapa... - Ibu bilang
Kakak ingin menjadi polisi seperti Ayah.
Aku tidak tahu.
Kakak bekerja sif demi sif hanya untuk menyokongku mewujudkan apa pun impianku.
Kenapa dia harus memberitahumu? Itu sudah lama sekali.
Kak Soo-hyun, jangan kirim uang untuk sewa kamarku atau biaya Ibu.
Kakak bahkan melunasi utang Ayah.
Kenapa kau mengatakan ini?
- Kakak baik-baik saja. - Tapi aku tidak.
Kakak juga harus melakukan yang Kakak inginkan.
- Koo-hyun... - Aku sudah dewasa sekarang.
Kakak memastikanku tumbuh dengan rupawan.
Mau kirim aku ke panti asuhan?
Baiklah, ini dia.
Jangan hanya berdiri di sana. Hormat ke kamera.
Ya, tampak bagus.
Akan ayah potret sekarang. Satu, dua, tiga.
Baiklah.
Mari kita lihat.
Lihat.
Kau tampak luar biasa!
Astaga, sejak kapan kau menjadi sebesar ini?
Dalam beberapa tahun, kita akan memakai seragam yang sama.
Tentu.
Lalu kita akan berfoto bersama.
Bagaimana kalau kita gantung di dinding ini?
Ke mana Nona Seol pergi?
Dia sudah mengambil banyak cuti karena akan segera berhenti.
Siapa yang berhenti?
Anda tidak tahu? Dia akan segera menikah.
Dia akan menikah?
Dengan siapa?
Pacarnya, kurasa.
Kudengar pacarnya lebih muda.
Omong-omong, kuharap Anda membantuku.
Dengan apa?
Begitu dia pergi, kupikir...
Kau pikir kau akan menggantikannya?
Tentu saja. Siapa lagi yang bisa membantu Anda?
- Bukan kau. - Apa?
Entah apa lagi kebohonganmu nanti.
Apa maksud Anda?
Kau tahu persis maksudku.
Apa ini? Aku tidak melihat nama.
Itu milikku.
Silakan gunakan sesuka Anda.
Tapi itu...
Kebohongan hanya menyebabkan lebih banyak kebohongan.
Jika itu caramu bertahan dalam hidup, kau akan terus melakukannya.
Ubah jalan hidupmu sebelum terlambat.
Kau harus masuk. Aku harus menerima telepon ini dahulu.
Tidak ada apa-apa, bukan?
Tidak, jadi, jangan khawatir.
Baiklah.
Ya, Ayah.
Soo-hyun, bisa kita bicara?
Kita terlambat ke pertemuan kelompok.
Tidak masalah jika kita terlambat.
Kita sudah janji dengan teman-teman sekelompok,
tentu saja masalah.
No comments yet. Be the first to leave one.