The first 200 lines.
[Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun]
Aku mau bertanya!
Apa yang kau maksud dengan 'menutup sekolah'?
Seperti yang sudah kukatakan.
SMK Sains dan Teknologi Nulji...
...akan ditutup.
Apa?
Apa yang dia katakan?
Tidak masuk akal.
Ini konyol.
Jangan lakukan ini.
Lepaskan aku!
Apa yang sedang kau lakukan?
Apa?
Menutup sekolah?
Apa maksudnya itu?
Pihak yayasan benar-benar mengkhianati kita.
Bos terakhir yang lebih kuat dari Direktur Gu muncul...
...dan mengumumkan bahwa sekolah akan ditutup.
Dia hanya muak terhadap segalanya, jadi, dia menyingkirkannya begitu saja.
Bos terakhir?
Siapa?
Shin Cheol Min.
Kalian tahu 'kan CEO Shin Eul Seop pendiri sekolah kita?
Dia putranya.
Apa?
Jadi, dia akan menutup sekolah?
- Memangnya boleh? - Sulit dipercaya.
Apa gunanya semua tindakan kita?
Shin Seonsaeng.
Menutup sekolah?
Ini bukan kesepakatan kita.
Apanya?
Begini.
Kupikir tadi kau mau umumkan kalau ada direktur baru.
Kau bisa menjadi direktur sekarang.
Dasar orang ini...
Kau main-main?
Sekolah juga akan ditutup. Direktur apa?
Kau masih bisa jadi direktur sampai siswa saat ini lulus.
Jika tidak mau,
ya tidak usah.
Takarir diterjemahkan oleh Tim Sekolah Daring
Instagram @cliffedgesubs & @chanjun_00
[Episode 16 Momen paling bahagiaku adalah...]
Mungkin...
seharusnya kita gak berbuat apa-apa.
Pasti gak akan jadi seperti ini.
Kita cuma mencoba memperbaiki yang salah.
Kamu gak usah sampe bilang gitu.
Ini bukan seperti sekolah kita tidak berguna...
...yang bisa hilang begitu saja seperti ini,
Apa yang kita pelajari setidak berguna itu?
Kita gak salah apa-apa.
Jadi, jangan salahkan dirimu.
Mengerti?
Ayo.
Ki Joon.
Ibu.
Aigoo. Kau pasti lapar.
Harusnya mampir dulu sebelum kerja.
Waktu itu mah aku gak lapar.
Kalian pasti khawatir soal sekolah.
Harusnya mereka tak perlu bertindak sejauh ini.
Awalnya itu sekolah yang bagus.
Sebelum Direktur Gu mengambil alih,
sekolah itu meraih reputasi baik di daerah ini.
Pendiri sekolah itu sebenarnya adalah orang yang hebat.
- CEO Sang Rim? - Ya.
Anak-anaknya dan keluarganya berbuat kekacauan,
tapi CEO sangat memedulikan sekolah.
Begitu, ya.
Sungguh hubungan benci dan cinta dengan sekolah itu.
Aku harus pulang sekarang.
- Hah? - Sampai jumpa di sekolah.
Sudah kelar?
Dah.
Mau kuantar pulang?
Buat apa?
Halte bus di sebelah sana.
- Benar juga. - Aku pulang, ya.
- Selamat malam. - Dah.
Apa?
Apa?
Ngapain?
Harusnya kasih tahu dulu kalau mau datang.
Kalau Ibu kasih tahu...
Kau akan melarang Ibu datang.
Kau di sini sendirian...
Ibu sangat berterima kasih kepada keluarga Ji Won, tapi...
Dasar bodoh!
Kenapa tidak bilang kalau keadaanmu begini?
Apa gunanya kasih tahu Ibu?
Ibu cuma...
...hidup dengan bahagia.
Ayahmu...
...tidak meneleponmu?
Kau bilang terkadang ada telepon dari nomor yang tak dikenal.
Sudah lama aku tak menerima teleponnya.
Meskipun...
...dia buron karena hutangnya,
bagaimana bisa dia meninggalkan anaknya sendirian seperti ini?
Dia bahkan tidak tahu ayahnya sendiri sudah meninggal.
Pokoknya, Ibu sudah pesan tiket pesawat.
Berkemaslah.
Aku tak pernah bilang akan pergi.
Ibu sudah bilang lewat telepon.
Ajussi juga setuju...
...dan kau bisa kembali berlatih taekwondo lagi di studio paman.
Sebenarnya lebih banyak potensi yang kau dapat dibanding tinggal di sini.
Kenapa menyerah pada taekwondo?
Kau sangat andal dalam itu.
Aku tidak andal dalam taekwondo.
Dan setelah sekian lama,
kenapa aku harus ke sana?
Bagaimana bisa?
Kupikir Ibu dan aku akan...
...menjalani hidup dengan baik secara terpisah.
Tapi situasinya sudah berubah.
Kakek juga sudah tidak ada lagi.
Bagaimana kau akan tinggal di sini sendirian?
Jangan keras kepala.
Mengerti?
Ki Joon.
Maafkan Ibu.
Ibu minta maaf untuk semuanya,
jadi, ikutlah dengan Ibu.
Lebih baik Ki Joon pergi.
Aku merasa sangat lega saat melihat ibunya Ki Joon.
Tentu saja, dia masih anak-anak.
Kenapa anak-anak padahal udah 18 tahun?
Tentu saja, dia masih anak-anak.
Memikirkan Ji Won sendirian seperti itu...
Tidak, tidak mungkin.
Tidak mungkin.
- Tidak mungkin. - Astaga.
Makanya.
Kamu gak masalah?
Mungkin agak dingin, tapi aku bisa cepat, kok.
Sepertinya kau sering juga memakainya.
Sekarang, rasanya aneh aja kalau gak pakai.
Nih.
Pakailah.
Hei.
Ayo kita pacaran.
Apa ini?
Hari ulang tahunmu.
Kenapa kamu cuma mikirin diri sendiri?
Kamu gak mikirin orang-orang yang mencemaskanmu?
Kurasa sebenarnya aku senang bermain denganmu.
Kamu udah bangun.
Cepat mandi. Kau harus sarapan.
[Titik antar-jemput anak Duduk dan tunggu di sini Klub pertukangan SMK Nulji, Jin Ji Won]
Akhirnya selesai juga. Bangku Jin Ji Won.
Bagus.
Kamu banyak bicara dengan ibumu?
Kau pasti senang dia datang.
Canggung, sih.
Lama gak bertemu dengannya.
Kudengar dia datang untuk membawamu bersamanya.
Sudah kau putuskan?
Belum.
Senang ada ibuku di sini.
Astaga.
Dasar payah.
Aku ini sedang melunak. Jangan ngeledek aku.
Sudah kau putuskan?
Gak bisa kamu tinggal di sini saja?
Kenapa? Supaya aku bisa bermain denganmu?
Kamu tahu 'kan,
Sejujurnya,
agak menakutkan pulang ke rumah setelah kakek meninggal.
Pulang sendirian ke rumah yang gelap...
...aku sulit terbiasa.
Hei.
Mungkin sebaiknya aku pindah saja ke rumahmu.
Dasar...
Itu yang terparah.
Mungkin aku harus ke sana...
...dan berlatih taekwondo seperti kata ibuku.
Kamu juga menikmati pertukangan akhir-akhir ini.
Jika kamu pergi, kamu gak akan melakukan pertukangan lagi?
Mungkin.
Aku berniat berusaha keras untuk itu, tapi sekolah ditutup.
Astaga. Aku bahkan gak tahu harus ngapain.
Ji Won gimana?
Astaga, tak percaya kita bertemu di sini!
Kita duduk dulu.
Kau dengar SMK Nulji ditutup?
Itu untuk yang lebih baik.
Setelah SMK Nulji ditutup,
kuharap mereka bisa bangun sekolah kejuruan atau sekolah swasta.
Apa nanti harga rumah akan naik?
Aigoo. Sejujurnya, distrik sekolah sangat penting.
Aigoo, omong kosong sama SMA teknik itu.
Aku merasa lebih baik sekolah itu ditutup.
Aigoo, itu maksudmu.
Astaga, kalian berdua terlalu kasar.
Apa?
Memangnya siswa SMK Nulji pernah membuat masalah?
No comments yet. Be the first to leave one.