The first 200 lines.
Tunggu. Itu sulit. Ambilkan handuk.
Ayo, sayang.
- Kau siap? - Ya.
- Ya Tuhan. - Ayo. Kita harus berhasil.
Ayo, remas itu masuk.
Kau tahu, ayahnya ingin dia menjadi dokter bedah.
Untungnya ayahmu menyukai aku secara apa adanya.
- Ya Tuhan. - Bantu kami.
Kita sudah masuk. Ya Tuhan. Astaga!
Aku tak percaya ada pesta.
Aku akan melihat di depan. Patahkan kaki (yang terbaik).
Ya Tuhan. Aku suka ungkapan itu saat sedang pakai sepatu hak tinggi.
Dah.
Dah.
Apa?
- Ya Tuhan. Ciuman teman. - Aku tak bilang apa-apa.
Anton, sayang, berapa sisa waktuku?
Sekitar 20 menit.
Apa?
Kamu baru bicara di atas sana.
Lihatlah bawah.
Aku melihat itu, oke? Oke, bagus.
Ke kiri.
Kau membuat dia takut.
Dia manis.
Bapak dan ibu sekalian...
Serta seluruh transgender...
Berikan tepuk tangan meriah...
Dan sambutan yang hangat...
Acara pertama, yang tiada duanya...
Aphrodite Bank!
Hei, hei... Apa itu laki-laki?
Makhluk sesat.
- Serius. - Itu banci, kawan.
Hanya sesama banci yang bisa tahu, bukan?
Apa?
Hei, apa kau bilang?
- Kau bicara denganku? - Terima kasih.
- Hei, apa kau bilang? - Berikutnya.
Kau mau katakan itu di hadapanku?
Dia pria besar dengan sepatu hak tingginya.
Berbalik dan katakan itu.
Ayo, berbalik.
- Berbalik. - Terima kasih.
Aku bilang,
Bagaimana bisa kau sebut aku "Banci" di depan seluruh teman-temanmu...
...sementara aku tadi melihatmu melirik kepadaku?
Kalian saling kenal.
Enyahlah. Dia asal bicara.
Sayang, jangan repot-repot kirim aku pesan nanti...
...saat kau mencari penis untuk diisap,
Karena kau dan penis kecilmu itu...
- Bukan tipeku. - Bajingan!
Pegangkan itu untukku, oke? Pegangkan itu untukku.
- Dia pergi. - Apa yang terjadi?
Baiklah, ini dimulai... Ayo. Cepat
Hei.
Baiklah, ayo.
Apa yang akan kau lakukan?
Waria ini mempermalukanmu.
Kau mau ke mana?
Berbalik.
Berbalik dan senyum ke kamera.
Berbalik, jika kau memang jantan.
Hei, persetan ibumu.
Apa aku bilang? Aku bilang berbalik.
Enyahlah!
Enyah?
- Astaga! - Enyah?
Kau pikir kau jagoan?
Kenapa kau pakai gaun jika kau memang jagoan?
Berlutut. Cepat berlutut.
Berlutut!
Buka gaunmu. Aku akan ambil gaunmu.
Buka gaunmu. Benar begitu... Benar begitu...
Kau berani bicara seperti itu padaku seolah kau pria jantan?
Kau berani katakan itu padaku? Kau berani?!
Tenanglah, kawan.
Siapa jagoannya sekarang? Siapa jagoannya?
Kau jagoannya?
Aku jagoannya.
Dasar orang aneh.
- Ya Tuhan... - Lisa, cari bantuan!
Lisa!
- Tak apa, sobat. - Tak apa, tak apa...
Berhenti melihat dan panggil ambulan!
Sayang?
Sayang?
Aku mendapatkan ini tadi pagi,
Jadi kau bisa pakai yang lamaku jika mau.
Aku tahu kau bisa jeda gimnya, jadi jangan coba-coba.
Aku bisa, tapi aku tidak mau.
Kenapa tetap di sini bermain apapun ini,
Sementara kau bisa bertemu pria di kehidupan nyata di kelab?
Aku tak ingin berada di kehidupan nyata. Manusia kejam.
Bisa kau lihat aku saat aku bicara denganmu?
Aku berusaha menyiratkan dengan bahasa tubuhku,
Bahwa aku tak ingin memulai ini lagi.
Tobes?
Jangan merusak malam ini sebelum itu dimulai, oke?
Aku mencoba menjadi teman yang baik. Ini tidak sehat.
Tapi dia tak mau keluar.
Setiap kau melakukan ini, kau biarkan mereka menang.
Cemerlang.
Terserah. Itu hidup dia.
Hai.
Hai.
Tidak malam ini.
- Kau menawan. - Terima kasih.
Aku setebal 9 inci.
Mungkin lain waktu.
Selamat bersenang-senang, cantik.
- Apa yang barusan aku katakan? - Baiklah.
Lalu kenapa kau bicara kepadaku?
Tenanglah, bung.
Kembali ke sini sebelum aku menamparmu.
- Dasar psikopat. - Dasar anjing yang hanya bisa menyalak.
- Tenanglah, oke? - Apa aku bicara denganmu?
Tenanglah, atau aku panggil petugas keamanan.
Homo.
Kita semua di sini homo, sayang.
Ini juga tempat yang buruk.
Ikut aku.
Bisa kita ke tempatmu?
Tidak.
Tetap tutup mulutmu.
Ke mana kau pergi?
- Aku pergi sauna. - Kau tak bisa dipercaya.
Tidak, bung. Aku jenuh dengan ocehanmu.
Kau kembali ke apartemen?
Tidak, aku masih di luar menunggu orang.
Entah apa yang dia mainkan.
- Kau harus mengganti senimu. - Percaya aku.
Kau mungkin akan pergi ke persimpangan setelahnya jika kau menginginkannya.
Baiklah, kita akan lihat nanti.
Baiklah, jaga dirimu.
Kita hampir sampai. Jangan sampai orang lain melihatmu masuk.
- Ada yang melihatmu? - Tidak.
Mau bir?
Aku tak apa. Terima kasih.
Buka sepatu.
Tutup pintunya.
Jadi, siapa namamu?
Aku tak mau dengar suara apapun, paham?
Kau bersuara, aku akan tutup mulutmu.
Buka bajumu.
Anak pintar.
Membungkuk.
- Sialan! Bajingan! - Hei, Pres, kau di rumah?
Bajingan, bajingan!
Kau tak boleh keluar sekarang.
- Aku harus apa? - Tetap di sini.
- Apa mereka akan lama? - Aku tidak tahu!
Dia tak seharusnya di sini.
Hei, Pres, kau di dalam? Keluarlah.
Jangan beranjak, oke?
Kau di mana?
Beri aku waktu.
Hei, aku akan kencing.
Siapa jagoannya sekarang?
Biar aku ambil gaun itu.
- Apa kabar, Preston? - Hei.
Berikan aku itu.
- Hei, Bung. - Kau mau satu garis?
- Kau melinting... - Tidak, kawan, aku tak apa.
- Membuat bagiannya sendiri. - Aku mencoba selesaikan itu.
Lintinglah.
Hisaplah kokain.
- Hei, siap? - Apa, ada orang di sana?
Ada yang datang.
Preston, kau bersama gadis?
Siapa yang datang?
Ada gadis di sana?
Siapa ini?
Ini temanku.
Kenap kau tak bilang sedang ada temanmu?
Kau pengasuhku sekarang?
Itu sebabnya dia mencoba membuatku sibuk,
Sementara seseorang berusaha merampokku secara buta.
- Siapa namamu, kawan? - Jules.
Apa yang kau lakukan di tempatku, Jules?
Hanya mengambil pesanan.
Ini agak larut.
Tidak, itu membantuku tidur.
- Dari mana kalian saling kenal? - Pentonville.
Menarik.
Kalian teman satu sel?
Diamlah.
Kau mau bir, Jules? Kau bisa ceritakan kami...
...tentang Preston dicumbu saat berada di penjara.
Kau pikir kau lucu, ya?
Tidak, tidak, tidak, aku...
Kau tahu? Aku akan pergi.
- Tidak sopan. - Itu lebih baik.
Sampai jumpa, Jules.
Berikan aku nomormu.
Aku mau bajuku kembali.
Tunggu pesan dariku, paham?
Ya.
Anak pintar.
No comments yet. Be the first to leave one.