The first 200 lines.
Apa istriku, Kang Mi Ri, adalah
putri kandung Ibu,
Kang Seung Yeon?
Kang Mi Ri dan Kang Seung Yeon.
Apa mereka
orang yang sama?
Tolong jawab aku.
Apa mereka orang yang sama?
Apa itu
benar?
Ibu.
Sudah kubilang jangan mencarinya.
Kubilang dia tumbuh dengan ibu yang lebih baik dariku.
Jadi, aku melarangmu mencarinya.
Kumohon...
Kumohon katakan ini tidaklah benar.
Kamu tidak bisa menghadapi kenyataan.
Jadi, kenapa repot-repot mencarinya?
Kenapa kamu mencarinya?
Kamu benar.
Kang Mi Ri adalah putriku.
Aku tahu kebenarannya akan tersingkap suatu saat.
Tapi aku tidak menyangka hari ini akan datang secepat ini.
Tapi
aku tidak mau kamu mengetahuinya.
Tapi aku lega
kamu yang pertama tahu.
Lega?
Maksudnya, Ibu lega
aku menikahi putri Ibu?
Kamu
yang memilih menikahinya.
Ibu seharusnya memberitahuku.
Ibu seharusnya memberitahuku lebih dahulu!
Lalu apa?
Kamu tidak akan menikahi istrimu?
Kebenarannya malah akan membuat kita semua terlibat kemalangan
walaupun kamu tidak menikahinya karena tahu dia putriku.
Walaupun kamu tahu dia putriku,
keadaannya tidak akan berbeda.
Itulah alasanku menentangnya.
Aku bahkan memukulmu agar kamu berhenti.
Jadi, kenapa kamu tidak mendengarkanku?
- Ibu! - Jangan membentakku.
Aku dahulu
melihat kalian dengan terkejut dan tercengang,
lebih buruk dari perasaanmu kini.
Putri yang kulahirkan dan putra yang kubesarkan.
Kalian berdua menghadapi takdir yang tidak dapat dipahami
dan saling jatuh cinta.
Seolah-olah dihukum langit,
kamu datang dan bilang kalian akan menikah.
Bisakah kamu menghadapinya jika menjadi aku?
Benar.
Hanya ada satu kesimpulan dari ini.
Aku dihukum.
Apa pun alasannya, aku membuang putriku.
Membesarkan putra orang lain selayaknya anakku sendiri,
aku hidup dengan kemunafikan.
Ibu, aku
menyayangi Ibu sepenuh hati.
Aku tahu.
Kamu memang mencintaiku.
Itu sebabnya ini membuatku makin menggila.
Ini tidak akan semenyakitkan
jika aku bersekongkol dengan putriku
untuk memeras orang senaif kamu sampai aku mati.
Lantas,
Mi Ri tahu soal ini?
Apa dia tahu
Ibu adalah ibunya?
Jangan menyalahkannya.
Apa kalian berdua
tahu soal ini,
tapi memilih tidak memberitahuku?
Aku akan bertanggung jawab penuh.
Dia anak malang.
Jangan salahkan Mi Ri.
"Ruangan Direktur Pengelolaan Junior"
Katamu Pak Han ke mana?
Dia keluar untuk mengurus bisnis luar kantor pagi ini.
Kudengar dia juga tidur di kantor tadi malam.
Sekretarisnya memberitahuku.
Dia di kantor semalaman
dan pergi saat aku tiba di kantor.
Apa dia tidak bilang apa-apa?
Tidak banyak.
Kurasa dia amat sibuk.
Apa kamu tahu dia sibuk apa?
Entahlah, aku tidak diberi tahu apa pun.
Dia juga tidak memberi kami perintah tertentu.
Baiklah.
Nomor yang Anda tuju tidak bisa dihubungi.
"Direktur Pengelolaan Junior Kang Mi Ri"
Apa kamu tahu editor kepalamu duda?
Ya, aku sudah bilang kepada Ibu berkali-kali.
Semakin memikirkannya, ibu semakin terkejut.
Aku juga sudah bertemu dengan mantan istrinya.
- Mantan istrinya? - Ya.
Hei, kamu kira ini Hollywood?
Ini Seoul, memangnya kenapa?
Mengencani duda belum cukup,
kamu juga menemui mantan istrinya?
Kamu sudah gila?
Ibu bekerja keras agar kamu bisa bersekolah.
Kenapa kamu malah mengencani duda?
Memangnya kenapa? Aku tidak boleh mengencani duda?
Tidak. Langkahi dahulu mayat ibu.
Kenapa tidak boleh?
Ibu menganggap remeh orang yang bercerai?
Ada banyak orang yang bercerai di Korea.
Mereka juga bercerai bukan karena sudah gila.
Mereka bercerai karena masalah dan keadaan.
Jangan anak ibu.
Ibu tidak peduli orang-orang bercerai dan menikah lagi,
tapi jangan anak ibu.
Lantas, aku tidak akan jadi anak Ibu.
- Apa? - Aku bukan anak Ibu lagi.
Hapus saja aku dari kartu keluarga.
Apa katamu?
Baik, Berandal.
Baiklah, ibu akan menghapusmu dari kartu keluarga.
- Ibu akan memutus hubungan. - Astaga.
Ibu akan menyobek akta kelahiranmu
dan membuang KTP-mu.
Kita bukan keluarga lagi.
- Ibu, - Tidak, kembali saja ke rahim ibu.
- Tidak, Bu. - Masuk kembali.
Kembali. Cepat kembali.
- Ibu! - Lepaskan!
Ibu, tunggu.
- Tenanglah. - Astaga.
Astaga.
Berandal itu...
Bang Jae Bum.
Apa kamu memberi tahu ibuku bahwa Pak Kim duda?
Tidak.
Jangan berbohong. Bagaimana lagi dia tahu?
Jangan salahkan Jae Bum. Dia tidak bersalah.
Dia yang memberi tahu ibu.
Editor kepala itu setidaknya punya nurani.
Dia datang dan memberi tahu sendiri.
Dia kemari?
Apa hanya dia yang kamu pedulikan?
- Ibu, tenanglah. - Kemari.
- Ibu. - Maksudku...
- Minggir. - Maaf, Bu.
Jae Bum membeli roti lagi hari ini.
Kak, susu pisang itu kesukaan Mi Hye.
Masa bodoh. Biar dia mati kelaparan.
Jae Bum.
Apa kamu mau memberikan roti ini untuk Mi Hye sejak kemarin?
Ya.
Ini juga kesukaan Mi Hye.
Dia makan karbohidrat setiap kali murung.
Astaga, dasar bodoh.
Jangan marah, Kak.
Kita akan makan semua roti ini.
Min Ho, cepat makan.
- Baik. - Aku tahu kamu suka roti.
Benar. Terima kasih untuk rotinya.
Astaga, ini lembut dan enak.
Sepertinya ini baru dipanggang.
- Ini enak, bukan? - Ya, amat enak.
Kamu mau ke mana?
Ya...
Aku mau ke toilet.
Cepatlah kembali.
- Jangan menangis di kamar mandi. - Baik.
Kak, Mi Hye juga suka roti ini.
Bagaimana jika Kakak mencicipinya?
Singkirkan itu.
Aku tahu ini akan terjadi.
Apa?
Bang Jae Bum.
Makanlah.
"Kim Tae Joon"
Ayah.
Aku akan terbang ke Amerika.
Aku tadinya mau membawakan edisi pertamanya sendiri.
Aku tidak bisa melakukan itu.
Tapi alih-alih aku,
Kang Mi Hye yang akan membawakannya.
Terima kasih
sudah memperkenalkanku kepada penulis hebat.
"Kim Tae Joon"
Woo Jin. Kamu sungguh mau pergi?
Berapa kali harus kubilang?
Aku sudah membeli tiket untuk pekan depan.
Bagaimana dengan pekerjaan?
Kita tetap bisa berkomunikasi.
Uji bacanya hampir selesai
dan desain sampul sudah selesai.
Hee Jin merekomendasikan penata cetak yang bagus.
Aku sudah menghubungi mereka.
Kamu akan mengerjakan pemasaran dan hubungan masyarakat yang baik.
Ini sungguh tidak adil.
Bantulah aku.
Beri tahu Mi Hye.
Dia tahu aku akan pergi. Aku harus bilang apa lagi?
No comments yet. Be the first to leave one.