The first 200 lines.
Siapa yang mau dibacakan dongeng?
Don! Don mau!
Don mau?
Sini.
Ayah, dongengnya apa malam ini?
Malam ini, dongengnya spesial.
Wah.
Don mau dengar! Ayo mulai!
Ya, ya. Kita mulai, ya.
Ya. Sabar.
"Pada suatu masa",
hidup seorang kesatria kecil bersama kedua orang tuanya.
"Mereka tinggal di sebuah pulau yang sangat besar."
Wah, besar, ya?
Ya.
Pulaunya ada di atas awan,
dilindungi sebuah gelembung raksasa.
Wah, ada gelembungnya.
Di pulau itu, banyak sekali makhluk gelembung yang lucu-lucu.
Kesatrianya temanan, ya, sama gelembung-gelembungnya?
Ya, Nak.
Setiap hari, si kesatria kecil bersuka ria
dan bermain bersama orang tuanya.
Setiap hari?
Ya. Seru, 'kan?
Seru banget.
Tapi, suatu hari,
terlihat awan-awan hitam di kejauhan.
Apa? Kenapa awannya?
Awan itu menyambarkan kilat-kilat.
Takut!
Terus?
"Ibu dan Ayah harus pergi, Sayang.
Kami harus menenangkan sang kilat di atas awan-awan."
"Tapi, jangan takut. Kau tidak sendirian.
Ada teman-teman yang menjagamu."
"Ya."
Sang Ibu bahkan meminta bantuan dari ombak
untuk terus melindungi kesatria kecil itu.
"Ombak,
temani anak kami, ya."
Tapi, Don tidak takut, 'kan, sama petir?
Don?
Cepat banget tidurnya.
Ya.
Pelan-pelan.
Ya, Bu.
Ya, Bu.
Sudah ceritanya?
Belum, Sayang.
Ayah dan ibunya pulang lagi, 'kan?
Ayah dan Ibu kesatria itu percaya
kesatria kecil bisa melewati hari-hari di Pulau Gelembung.
Karena dia anak hebat.
Ibu sayang Don.
Don sayang Ibu.
Hei! Tangkap bolanya!
Dan!
Tidak ada yang tahu
kapan Ayah dan Ibu kesatria itu akan pulang.
Don, sudah! Kau ceritanya ini terus.
Kesatria lagi, itu lagi.
- Bosan! - Hei, tunggu!
Ayo, lari!
Kita lagi main kasti!
Kita dari tadi kalah, tahu!
- Dongeng terus! - Hei, tunggu!
Ini bagian paling serunya!
Aduh!
Kangkung?
Mbek!
Sedang apa?
Masa sama embek saja kaget?
Nurmanโฆ
Kau dari tadi aku cari di markas,
tahunya di sini.
Ayo.
Ayo, Embek! Dorong!
Jadi cadangan lagi, ya?
Aduh!
- Wah, jatuh! - Aduhโฆ
Kau tidak apa-apa?
Cadangan!
Siapa yang ganti!
Eh! Halo!
Aku saja!
Aduh, jangan kau, Jumbo!
Nurman!
Jaga, ya.
- Ingat! Jangan sampai jatuh. - Jangan sampai jatuh.
- Jangan sobek. - Jangan sampai sobek.
- Jangan sampai rusak. Ya? - Jangan sampai rusak.
Ya. Sudah tahu.
- Terima kasih, Nurman. - Ya sudah. Sana.
Hei! Aku main, ya!
Aduh. Kenapa si Jumbo?
Mana yang memukulโฆ
โฆsi Atta.
Kalian ajak Jumbo?
Tidak takut kalah?
Lempar, sini.
- Hore! - Kita menang!
- Tangkap bolanya! - Aduh, bolanya jauh banget.
Biar aku yang kejar!
Aip aja!
Tidak apa-apa! Aku saja!
Permisi, Meng.
Hei! Tunggu!
Ayo, Semua!
Jangan lupa kita ramaikan Festival Kampung Seruni.
Nah, bagus ini!
Pak Kades pasti suka.
Warnanya itu kayak merah, tapi kuning,
tapi kayak merah, tapi kuning.
Oren.
Oh! Oren! Benar, warnanya oren.
Eh! Aduh, itu masih basah catnya!
- Bagaimana ini? - Maaf! Maaf ya, Kak!
Masa ada tapak kakinya gitu? Jelek, tahu!
Bagus juga tapi.
- Lebih berseni. - Masa?
Kemarin jalan ke kuburan orang tuaku, kau tutup buat proyek jalan layang ini.
Sekarang kau mau gusur tokoku?
Lama-lama bukan jalanan saja yang melayang.
Kau juga aku bikin melayang!
- Mau kau? - Ya, benar!
Aku hanya menyampaikan niat baik atasanku
untuk menawarkan pemindahan lokasi.
Sini, mana bosnya?
- Suruh bicara langsung sama kami! - Kita beri pelajaran!
- Suruh sini! - Hei.
Ini ada apa, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu?
Ayolah. Sedikit lagi.
Ayo!
Yahโฆ Bang! Bolanya, Bang!
- Bang! - Mohon maaf, Pak Kades.
- Maksudkuโฆ - Begini, Pak.
- Aku potong, ya. - Ya, Pak.
- Toko ini milik warga. - Ya.
Dan sudah turun-temurun ada di sini.
Kalau digusur, warga-warga di sini mau cari nafkah dari mana?
Benar. Benar, Pak Kades.
Begini saja, Mas.
Nanti, biar aku yang bicara sama atasanmu.
Bang! Lelah ini, Bang!
Bang! Ada sesuatu, Bang!
Aduh!
Apa?
Dapat!
Sang Kesatria berhasil menangkap bintang jatuh.
Ini! Kita menang, 'kan?
Jumbo, Jumbo.
- Kastinya sudah selesai, Jumbo! - Kastinya sudah selesai.
- Melawanmu itu gampang. - Tidak mungkin menang lawan kita.
- Aduhโฆ - Sudah. Kau pulang aja sana!
Cuci kaki, cuci tangan, dan mendongeng lagi.
- Gendut! - Ayo main sana, yuk!
Main kasti lagi, yuk.
Kayaknya tidak, Don.
Kita mau main sepak bola saja.
Aku ikut, ya!
Kita sudah lima lawan lima, Don.
Satu lagi siapa?
Kalian cuma beremโฆ
Kau nanti saja ikutannya.
- Dah! - Teman-Temanโฆ
Aip.
Aip kenapa?
Bagaimana, yaโฆ
Kau itu lelet, Don.
Kalau sama kau, kalah terus.
Aip! Ayo!
Ya!
Aku jadi gawangnya, ya!
Ya, tunggu!
Man.
Aku bosan diledek terus.
Memang benar, ya, kalau main sama aku kalah terus?
Ya. Perhatian!
Adik-adik yang mau daftar pentas,
hari ini terakhir, ya, daftarnya.
Hei, Don.
- Apa? - Itu.
Itu.
Paling telat pukul 17.00!
Itu! Tunjukkan kepada mereka kau bisa menang.
- Bagaimana? - Apa?
- Daftar apa? - Ya, itu!
- Apa lagi? - Ini?
Mendongeng di depan anak-anak saja, aku diledek.
Aku tidak yakin.
Coba dulu.
Don! Nurman!
- Mae? - Mae?
Sudah jam berapa ini?
Oma pasti sudah menunggu!
Hampir saja lupa!
Biskuitnya sudah, 'kan?
Ini sudah! Sudah, ayo, cepat!
Heiโฆ Bagaimana radioku?
No comments yet. Be the first to leave one.