The first 200 lines.
Pada suatu masa, di suatu tempat, nun jauh disana...
Tidak, tak seperti itu. Aku hanya bercanda.
Tapi aku akan menceritakan sebuah kisah.
Ini bukan kisahmu... ini kisahku...
kisah yang belum pernah kalian lihat.
Tapi kau ingin kisah yang wajar saja, huh?
Kalau begitu aku akan menceritakan sesuatu
tentang kaumku, dan negeriku.
Dengan begitu kau bisa melihat, dan mengetahuinya.
Dimulai dari negeri ini pada awalnya.
Yurlunggur, dari Great Water Goanna, dia datang kemari.
Yurlunggur lalu menciptakan negeri ini.
Dia menciptakan air...
dan dia menciptakan rawa,
yang panjang membentang, yang menghidupi kami.
Aku datang dari kubangan air disana di negeri yang Yurlunggur ciptakan.
Aku terlihat seperti ikan kecil di dalam kubangan itu.
Lalu ayahku menghampiri kubangan airku.
Aku meminta seorang ibu.
Aku ingin dilahirkan.
Ayahku menunjuk salah satu istrinya.
"Itu ibumu", katanya.
Aku menunggu sampai saatnya tiba...
dan aku masuk begitu saja, kedalam vaginanya.
Lalu ayahku bermimpi.
Mimpi itu memberitahu ayah kalau ada si kecil di dalam istrinya.
Si kecil itu ialah aku.
Suatu saat aku mati, aku akan kembali kedalam kubangan air.
Aku akan menunggu disana, seperti ikan kecil...
menunggu untuk dilahirkan kembali.
Kau tak tahu semua itu, kan?
Tapi itu sesuatu yang nyata.
Akan selalu begitu bagi kaumku.
Sekarang mari kita mencari dimana kisahnya...
kisah yang akan kuceritakan padamu.
Kita harus kembali jauh ke masa lalu...
kembali ke masa leluhurku.
Sepuluh Kano
Ssshhhhhh... dengar...
Aku bisa mendengar mereka. Mereka datang...
para leluhurku.
Si bijak yang satu ini ialah Minygululu.
Dan adiknya Dayindi,
lalu yang lainnya lagi.
Terlalu banyak nama untuk diingat.
Semuanya berhenti!
Yang berteriak adalah Djigirr.
Djigirr banyak bicara,
tapi dia mungkin mendengar sesuatu.
Aku tak mau jalan paling belakang.
Ada yang kentut terus di depan.
Bukan aku!/ Bukan aku!
Lagi-lagi kau!/ Bukan aku!
Biasanya kau!
Tak bersuara tapi bau!
Mengakulah!/ Baiklah... aku yang kentut.
Ada bangkai di perutmu!
Ada bangkai di perutku./ Ada bangkai di perutmu!
Kau paling belakang.
Ayo.
Para leluhur membuat kano untuk berburu telur angsa.
Mereka mengupas kulit batang pohon...
dan berbicara tentang wanita,
seperti biasanya.
Bagaimana dia bisa pergi dengannya?
Apa mereka melakukannya?
Dia tak menyukainya!
Kau pasti buta!/ Dia tak menyukainya!
Mereka mengolok-olok Dayindi.
Mereka tahu Dayindi menyukai istri muda kakaknya, Minygululu.
Ini pertama kalinya Dayindi berburu angsa *magpie.
Banyak hal yang tak diketahui Dayindi sebelumnya...
dan banyak hal yang harus dipelajarinya di perburuan itu.
Sini aku ajari.
Aku bisa.
Gini caranya./Aku tahu. Siapa orang itu?
Jangan pedulikan dia...
dia itu dukun.
Aku dengar...
kau melirik
istriku?
Yang muda?
Tarik kesini...
hati-hati.
Minygululu tahu perasaan adiknya yang menyimpang.
Aku akan menceritakan sebuah kisah
jauh di masa lalu
dan aku ingin kau mendengarnya
dengan seksama.
Para pria membawa kulit-kulit pohonnya ke rawa.
Minygululu akan menceritakan Dayindi kisahnya...
untuk membimbingnya hidup di jalan yang benar.
Ini kisah Minygululu untuk Dayindi saat itu.
Dan itulah kisahku untukmu sekarang.
Ini kisah yang bagus. Kau dengarkan baik-baik, eh!
Bisa jadi kau akan menyukai Dayindi?
Bisa jadi kisah ini akan membimbingmu ke jalan yang benar.
Dan inilah kisahnya.
Jauh di masa lalu.
Dayindi masih seekor ikan kecil di kubangan air.
Semua leluhur, dimana Minygululu,
Djigirr dan bahkan sang dukun tua,
semuanya, ikan kecil di kubangan air.
Ayah-ayah mereka, dan ayahnya para ayah-ayah,
masih seekor ikan kecil di kubangan air,
di seluruh negeri ini, menunggu untuk dilahirkan.
Masa lalu tersebut, kali ini menjadi tempat dimana kita berada.
Masa yang kita lihat sekarang ialah masa setelah penciptaan.
Ini adalah keadaan setelah banjir besar yang menutupi seluruh negeri.
Lihat bekas banjirnya!
Kau bisa melihatnya, kita sekarang sangat jauh di masa lalu.
Ini masa setelah Yurlunggur, Great Water Goanna,
menamai pepohonan
burung-burung
tanaman
dan orang-orang.
Setelah Yurlunggur memberi para tetua leluhur
upacara besar Djunggan...
yang memberi kita hukum-hukum adat yang kita semua pelajari.
Ini masa setelah orang-orang belajar hidup di bawah hukum adat...
setelah itu, tapi masih jauh, jauh di masa lalu.
Dan pada masa itu,
hiduplah leluhur kuno.
Leluhur kuno ini bernama Ridjimiraril.
Ridjimiraril adalah seorang pejuang, yang paling hebat.
Dia punya beberapa istri, dan anak, seperti kita sekarang.
Dan dia mematuhi hukum adat, hukum adat yang sama dengan masa sekarang.
Kisah tentang kaum kami sangatlah tua
terkadang perlu banyak waktu untuk menceritakannya.
Bahkan berhari-hari.
Minygululu menceritakan sebuah kisah pada Dayindi selagi mereka membawa kulit pohon.
Pohon yang bagus untuk kano tumbuh jauh dari rawa.
Akhirnya sampai ke rawa.
Dingin dan nyaman di kaki.
Mendongengnya harus berhenti dulu.
Masih banyak yang harus dikerjakan sebelum para pria berburu angsa.
Meraka harus merendam kulit pohon di air.
Setelah direndam, lalu diletakkan di atas api, supaya panas dan halus.
Kisah Ridjimiraril bisa dilanjutkan.
Sekarang...
kembali ke leluhur
dia punya tiga istri.
Seperti dirimu./ Ya.
Istri pertama Ridjimiraril, bernama Banalandju.
Banalandju sangat bijak dan sangat berpengaruh.
Dia istri yang baik.
Baiklah, bawa kemari.
Kulit pohonnya hampir siap.
Mereka harus mendinginkannya agar mudah dibengkokkan.
Dayindi belajar dengan melihat.
Begitulah cara kami belajar.
Tapi sebaiknya kita lanjutkan kisahnya...
Istri kedua Ridjimiraril bernama Nowalingu.
Nowalingu sedikt pencemburu,
tapi dia punya mata yang kadang melirik pria lain.
Bagaimana dengan istri ketiga... yang paling muda?
Kenapa kau bertanya?
Kau tertarik padanya?
Ah, istri yang ketiga, dia yang paling muda.
Dia bernama Munandjarra.
Munandjarra istri yang paling cantik.
Dia pendiam seperti bayi tertidur.
Ridjimiraril juga punya adik.
Seperti halnya Dayindi, adik dari Minygululu.
Adik Ridjimiraril bernama Yeeralparil.
Yeeralparil belum punya istri, dan juga calon.
Menurutnya, seharusnya dia punya,
dan istri yang dia maksud ialah Munandjarra.
Baginya itu tak adil, melihat kakaknya punya tiga istri,
sedangkan dia tak punya satupun.
Seperti sekarang ini,
orang tua dapat semua wanita.
Dan kau...
kau akan dapat istri
kalau kau sudah tua.
Kalau aku sudah tua, penisku loyo.
Kalian menertawaiku
sebab kalian pikir...
penisku loyo!
Para pemuda tinggal di dusun pria lajang.
Terpisah dari dusun utama
Mereka tinggal disana untuk belajar hukum adat,
dan cara hidup.
Yeeralparil juga tinggal dii dusun pria lajang.
Meskipun jaraknya jauh dari dusun Ridjimiraril,
Mata Yeeralparil sudah bisa melihat Munandjarra.
Pikirannya tertuju pada wanita itu.
Terkadang dia pergi menemuinya.
Lihat dia akan menemui wanitanya.
Dia memikirkan bagaimana caranya agar benar-benar bisa melihat Munandjarra.
Mungkin dengan cara pergi ke gubuknya dan pura-pura ada keperluan.
Ada yang bisa dimakan?
Namun mata Banalandju terlalu tajam.
Pada hari itu, dekat gubuk, ada acara cukur rambut.
Semuanya, potong semuanya.
Kau yakin?
Semuanya.../ Yakin?
Aku ingin terlihat seperti pejuang,
biar para wanita tak kemana-mana.
Apa kabar nak?
No comments yet. Be the first to leave one.