All Quiet on the Western Front

All Quiet on the Western Front

Download Indonesian Subtitle

Release info

All Quiet on the Western Front 1930 720p BluRay x264 YIFY
A Commentary by Chyrus

Tags

BluRay
x264
720p
720
Published on: 2017-06-12
Downloads: 119
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

30 ribu.

Dari Rusia?

Bukan, dari Prancis.

Dari Rusia, kita dapat lebih dari setiap harinya.

Mr. Pos.

Perang adalah perang, schnapps adalah schnapps, tapi bisnis harus terus jalan.

Kau belum kirimi surat pagi ini.

Maafkan aku, Mr. Meyer.

Halo, Himmelstoss. Ada surat buat kami hari ini?

Tidak, tidak, Mr. Peter.

Ayo, pasti ada surat.

Pergilah, kau ini.

Ini. Ini surat terakhir yang aku antar.

Apa?

Besok aku ganti seragam.

Kau akan masuk tentara?

Ya, aku sudah dipanggil.

Aku sersan di pasukan cadangan.

Aku akan ajukan diri, jika ini belum berakhir dalam beberapa bulan.

Itu pasti.

Aku yakin kau benar, Mr. Meyer.

bersama tentara hebat

mempertahankan negara kita, tanah air kita.

Sekarang, sekolahku tercinta, inilah yang harus kita lakukan.

Serang dengan segenap kemampuan kita.

Berikan segala kekuatan...

demi dapat kemenangan sebelum akhir tahun.

dengan tidak bosan-bosannya aku membicarakan persoalan ini kembali.

Kalian adalah penopang tanah air ini, kalian semua.

Kalian pemuda pemberani Jerman.

Kalian adalah tokoh sentral yang akan memukul mundur musuh...

ketika kalian diperintahkan untuk melakukannya.

Bukan aku yang menganjurkan siapa saja di antara kalian...

berdiri dan mengajukan diri untuk membela negaranya.

Tapi aku ingin tahu apa persoalan seperti ini bisa membuat diri kalian bangga.

Aku tahu jika di suatu sekolah...

semua siswa akan berdiri di ruang kelas...

untuk mendaftarkan dirinya masing-masing.

Tapi tentu saja, bila persoalan seperti ini harus terjadi di sini...

kalian takkan menyalahkanku karena perasaan bangga.

Mungkin beberapa akan mengatakan...

tak seharusnya kalian diperkenankan berpartisipasi saat ini,...

bahwa kalian terlalu muda, kalian punya keluarga, ibu, ayah...

bahwa kalian tak seharusnya dipaksa turut serta.

Ayah kalian apa lupa dengan tanah air mereka...

bahwa mereka akan biarkan negara ini hancur daripada kalian?

Ibu kalian apa begitu lemah karena mereka tak bisa mengirimkan putranya...

demi mempertahankan negeri yang melahirkan mereka?

Lagipula, sedikit pengalaman...

apakah hal yang buruk buat seorang anak?

Apakah kehormatan mengenakan seragam...

tentara itu sesuatu yang harus dipermasalahkan?

Bila kekasih kita bangga dengan pasangan yang mengenakannya...

apakah itu sesuatu yang harus dipermalukan?

Aku tahu kalian tak pernah menghendaki pahlawan yang disanjung secara berlebihan.

Karena itu bukan bagian dari ajaranku.

Kita harus berupaya menemukan sesuatu untuk membuat diri kita pantas...

terhadap sambutan sorak-sorai nanti pada saat itu berlangsung.

Selain jadi yang terdepan dalam pertempuran...

adalah sebuah keberanian yang tak bisa dianggap remeh.

Aku meyakini ini akan jadi sebuah peperangan yang singkat...

akan ada sedikit kekalahan.

Tapi bila kekalahan itu harus terjadi...

maka marilah kita mengingat ungkapan dari bahasa Latin...

yang berasal dari mulut orang Roma...

saat dia berperang di luar negeri,

"Adalah hal yang manis dan mulia apabila seseorang gugur demi negerinya."

"Manis dan pantas mati demi tanah air."

Beberapa di antara kalian mungkin punya ambisi.

Aku mengenal salah satu pemuda yang punya ikrar hebat sebagai penulis...

dia menulis tragedi pertempuran pertama...

yang akan mendapat penghargaan terhadap salah satu penguasa.

Dia mengimpikannya, aku rasa...

mengikuti langkah Goethe dan Schiller...

aku harap dia akan mendapatkannya.

Tapi sekarang seruan negara kita.

Tanah air butuh pemimpin.

Ambisi pribadi harus dikesampingkan...

dalam pengorbanan yang lebih besar demi negara kita.

Di sinilah kejayaan dimulai dalam hidup kalian.

Medan pertempuran memanggil kalian.

Kenapa kita ada di sini?

Kau, Kropp, apa yang membuatmu bertahan?

Kau, Mueller, kau tahu seberapa besar kau dibutuhkan?

Aku perhatikan kau melihat pemimpinmu.

Aku juga melihat kepadamu, Paul Bäumer...

aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan.

- Aku ikut. - Aku mau ikut.

Masukkan aku.

Aku juga.

Aku siap.

Aku tak mau tinggal di rumah.

Ikuti aku! Daftarkan diri sekarang!

- Tak ada lagi pelajaran! - Tak ada lagi pelajaran!

- Jangan menyerah dengan mudah! - Ayo, Behn!

Terus bersama. Itulah yang harus kita lakukan.

Mari kita semua terus bersama.

Ayo, Behn.

Baiklah. Baiklah.

Aku ikut.

Bagus!

Mari berjuang!

Bernyanyi! Mari bernyanyi! Ayo!

Tetap pada barisan, prajurit.

Siap, Jenderal.

Kalian, berhenti!

Hadap kiri!

Kenakan seragamnya, siapkan diri untuk melapor. Bubar.

Aku yakin tempat seperti ini bisa membuatmu ada dalam kondisi yang baik.

Kau harus seperti itu demi perjalanan yang jauh.

Aku akan masuk pasukan kavaleri dan menungganginya.

Tak ada kavaleri buatku.

Di infanteri kau akan saksikan pertempuran.

Dari mana semua senjata itu? Itu yang ingin aku tahu.

Kau takkan dapat senjata untuk waktu yang lama.

Kalau aku bunuh musuh, aku harus ikuti beberapa latihan.

Latihan bayonet. Itu yang aku mau.

Kau sudah menangkan medali saat itu, Mueller.

Kau tunggulah. Dalam waktu seminggu, aku akan menguasainya.

Singkirkan sepatumu dari wajahku.

Sebuah kehormatan mendapatkan sepatu ini ada di wajahmu.

Sepatu ini yang terbaik di angkatan darat. Pamanku menghadiahkannya padaku.

Coba perhatikan kulit impor spesial itu.

Taruhlah ke mana saja yang kau suka, selain di wajahku.

Tidak pula pelayan dapur yang akan melihatku dengan ini.

Siap, gerak!

Astaga... Itu Himmelstoss!

Benar.

Kenakan seragam kalian.

Halo, Himmie.

Kau tak menyangka jumpa denganku lagi dalam waktu dekat ini, kan?

Kau lihat pangkatku?

Tentu.

Kalau begitu mundur!

Himmelstoss, kami tentunya senang melihatmu.

Apa kau bilang?

- Aku hendak bilang... - Lupakan!

Ada apa denganmu, Himmelstoss?

Saat kau memanggil perwira yang ada di atasmu, bilang "pak."

Dari mana dia dapat seragam yang bagus ini?

Adakah surat buat kami, Himmie?

Diam!

Astaga, kau berteriak.

Sudahlah, Himmelstoss. Kami mengenalmu.

Lepaskan kumis palsumu itu.

Aku yakin kau serius.

Kau akan tahu kalau aku serius.

Tapi baru tiga hari kemarin kau itu tukang pos kami.

Diam!

Kembali kemari!

Berbaris!

Berbaris! Buatlah barisan! Jangan sampai hal ini terulang kembali.

Kalian semua! Berbaris, aku bilang!

Bagus sekali pemandangan seperti ini.

Kalian tak pernah dengar berdiri dalam satu barisan?

Kalian akan dapat makanan yang layak.

Aku harus ajari kalian.

Kita akan habiskan seharian penuh untuk itu.

Kalian mungkin bodoh, tapi aku tak heran.

Setelah ini akan ada banyak latihan lagi.

Aku tidak akan mengabaikan kalian.

Kalian tidak dapat latihan yang berat pada awalnya... tapi aku akan usahakan yang terbaik.

Aku perhatikan kita ada di sini dengan sedikit kesalahpahaman...

dan kita akan mengoreksinya, benar, kan, huh?

Hal pertama yang harus dilakukan adalah lupakan segala hal yang pernah kalian ketahui.

Segala hal yang pernah kalian pelajari, lupakan! Mengerti?

Lupakan apa yang sudah kalian alami dan apa yang kira-kira akan kalian alami.

Kalian akan jadi tentara, itu saja!

Aku akan latih kalian. Aku akan jadikan kalian prajurit yang dingin.

Aku akan jadikan kalian tentara pemberani atau aku bunuh kalian!

Sekarang, hormat, gerak!

Siap, gerak!

Detasemen, menunduk!

Menunduk!

Tundukkan kepala!

Tundukkan kepalamu, Bäumer!

Detasemen, bangun!

Maju ke depan, gerak!

Sekarang, bernyanyi!

Kalian sebut ini bernyanyi?

Detasemen, berhenti, gerak!

Jadi, kita tak punya semangat, huh?

Kita tak ada niat untuk rekreasi.

Latihan itulah yang kita butuhkan. Bagus!

Makanya kita harus kembali latihan.

Detasemen, menunduk!

Tundukkan kepala kalian.

Sekarang, bernyanyi!

Berhenti, gerak!

Tegak senjata, gerak!

Inspeksi pukul 3:00. Bubar!

Babi itu! Itu artinya kita tak punya waktu istirahat.

Butuh waktu empat jam mempersiapkan diri untuk inspeksi.

Aku ingin tahu apa yang ada di pikirannya.

Dia tak punya pikiran!

Aku akan mengkritiknya suatu saat nanti untuk mengetahuinya.

Dia tak peduli dengan kritikan. Dia akan hiraukan.

Ini keempat kalinya dia membuatku mengecewakan gadis malang itu.

Senjata!

Tegak senjata, gerak!

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left