The first 200 lines.
Kau lihat?
Di dua sisi ada bekas sekop.
Benar.
Bentuk lubang ini juga
hampir sempurna.
Sepertinya
ini lubang yang digali,
oleh senior Mo Jin tadi.
Kalian membicarakan apa?
Kuberitahu,
tadi saat kami turun,
kami bertemu tengkorak anggota Mo Jin.
Perkiraan Lao Hu benar,
di bawah Kuil Tulang Ikan benar ada kuburan,
bahkan dari Dinasti Zhou Barat.
Kami temukan tungku perunggu zaman Dinasti Zhou.
Aku lewatkan begitu banyak hal?
Tidak apa.
Kubawa kau pergi lihat.
Tidak mau.
Tidak mau!
Jangan takuti dia lagi.
Jika dia lari,
kita tak bisa mengejarnya.
Ayo masuk.
Bangun, Lao Jin.
Sini aku papah.
Lao Hu.
Ayo.
Dewa ini yang menolong kita.
Terima kasih, Dewa.
Terima kasih, Dewa.
Terima kasih, Dewa.
Terima kasih.
Semuanya,
lihatlah.
Tiang ini
apa terbuat dari tulang ikan?
Benar juga.
Bukankah ini Kuil Tulang Ikan?
Sepertinya kau benar.
Kuil Tulang Ikan adalah pintu masuk gua itu.
Kita beruntung berkat anggota Mo Jin itu.
Nanti aku harus cari tahu
siapa sebenarnya dia.
Istirahat dulu.
Pang,
kau kegatalan?
Punggungku gatal.
Tak bisa garuk.
Eh, bantu aku garuk.
Baik.
Di sini.
Agak ke sini.
Punggungmu kenapa?
Kenapa ada bercak?
Bercak?
Coba lepas pakaianmu, aku lihat.
Ada sesuatu?
Putar.
Pang,
bercak merah
yang tadinya ada di sini
telah berubah.
Menjadi apa?
Menjadi seperti
sebuah bola mata.
Bola mata?
Ada apa?
Lao Hu,
apa bercak merahmu berubah?
Milikku?
Cepat periksa.
Jangan panik.
Pelan-pelan.
Lihat.
Kau lihat?
Dia juga berubah.
Ada sebuah mata juga,
persis denganmu.
Sama, 'kan?
Sama persis.
Apa benar?
Benar.
Bagaimana bentuknya?
Begini.
Trigram Li?
Trigram Li?
Apa itu?
Kau ingat jimat yang diberi Si Buta Chen?
Oh, iya.
Trigram yang
tidak kita pahami itu,
bukankah Trigram Li?
Tidak.
Kita sedang bicarakan mata,
apa hubungannya dengan Trigram Li?
Benar.
Simbol di 8 Trigram ini
selain berhubungan dengan alam,
juga berhubungan dengan tubuh manusia.
Trigram Li berhubungan dengan mata manusia.
Jadi maksudmu adalah
saat Si Buta memberi kita jimat itu,
dia sudah tahu
di punggung kita ada sebuah mata?
Hebat sekali.
Kuakui dia memang berilmu tinggi,
tak kusangka sehebat ini.
Apa dia mendengar kita
bahas bercak merah ini?
Tidak mungkin.
Kita tidak membicarakan mata.
Benar.
Lalu kenapa dia paham tentang bercak merah ini?
Tidak.
Gerak geriknya mencurigakan,
apa rencananya?
Jika dia ingin tahu,
bisa langsung tanya kita, 'kan?
Jika dipikirkan,
Trigram Kedua yang mengarah barat daya itu
bukan pelabuhan,
tapi Kuil Tulang Ikan.
Kenapa dia paham sekali dengan
kelompok Mo Jin?
Pasti ada sesuatu.
Benar.
Aku harus temui dia
dan menanyakan hal ini.
Hu,
sebaiknya jangan.
Apa Ma Da Dan
akan melepaskan kita?
Tempat tinggal Si Buta Chen
berada di dalam hostel itu.
Jika Ma Da Dan tahu,
menunggu di sana,
kita sama dengan bunuh diri.
Menurutku
sebaiknya kita pergi dari sini.
Mungkin ini hanya penyakit kulit biasa.
Ke Rumah Sakit 301 saja.
Siapa tahu sembuh setelah minum obat?
Jin, kau tak merasakannya.
Hal ini tidak tumbuh pada dirimu.
Kuberitahu,
begitu terpikir
benda di punggungku ini,
aku benar-benar kesal.
Benar.
Aku tak mau asal bepergian lagi,
daripada ditumbuhi hal aneh seperti ini.
Begini saja.
Pang, kau bawa Si Gigi Emas kembali ke Beijing,
aku akan menemui Si Buta Chen.
Tidak mau.
Aku harus bersamamu.
Siapa tahu...
Tidak, tidak.
Lao Jin,
bukankah kau ingin pulang?
Pulang saja sendiri.
Jin,
kau tak punya bercak merah,
masalah ini tak ada hubungan denganmu.
Kita semua pengertian.
Jika kau pergi sekarang, tidak masalah.
Aku dan Pang paham, kok.
Benar.
Aku memahamimu.
Bukankah kau penakut?
Tidak berani?
Aku tidak sepayah itu!
Aku memikirkan keselamatan bersama.
Aku sudah selesai bicara.
Bagus.
Aku akan menemani
ke manapun kalian pergi.
Jin,
tak disangka kau seorang pemberani.
Tapi...
Anda masih seorang...
Dengar aku dulu.
Sebaiknya kita,
pergi ke rumah Si Tua Wang,
makan dan pulihkan tenaga.
Saat tengah malam,
baru ke hostel.
Maksudmu
diam-diam masuk ke desa?
Jangan sampai ketahuan.
Licik sekali.
Bertahanlah.
Sudah sampai.
Tuan!
Tuan!
Tuan!
Tuan!
Tuan.
No comments yet. Be the first to leave one.