The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Ayah.
Kakek.
Ayah.
Aku amat senang.
Terima kasih banyak sudah siuman
tanpa terluka seperti ini.
Ayah, ada apa?
Kakek. Hentikan. Tenanglah.
Dokter Choi. Panggil Dokter Choi sekarang juga.
Ada apa?
Ayah.
Apa yang terjadi?
Aku sudah memintamu menidurkannya lebih lama.
Kenapa dia siuman amat cepat?
Aku juga tidak yakin.
Dia tidak merespons obatnya.
Itu konyol.
Kamu berpura-pura di hadapanku?
Bu Wi.
Aku melupakan etikaku sebagai dokter dan suara hatiku
untuk membantumu.
Jika kamu masih sulit memercayaiku,
aku tidak akan membantumu lagi.
Aku bilang begini hanya karena amat memercayaimu.
Jika dia sembuh sekarang,
tamatlah riwayat kita berdua.
Dia belum pulih sepenuhnya,
jadi, mari menunggu dan mengamati.
Bukankah ini aneh?
Dia amat kesal saat melihat Ibu seolah-olah melihat musuh bebuyutan.
Kamu mendengar ucapan Dokter Choi.
Dia masih memulihkan diri.
Jadi, kondisi mentalnya belum stabil.
Mungkin lebih mudah mengatakan itu.
Apa maksudmu?
Saat Kakek kolaps,
obat-obatan yang biasa dia minum tiba-tiba menghilang.
Dia tidak bisa meminum obatnya saat dibutuhkan.
Kamu kedengarannya
seperti menyiratkan ada yang mengambil obatnya.
Orang yang berada di sana
pasti tahu siapa dalangnya.
Ibu dan aku
berada di sana saat itu terjadi,
jadi, pasti salah satu dari kami.
- Benar, bukan? - Siapa yang paling untung
jika Kakek tewas?
- Apa? - Jika Kakek tewas sekarang,
wasiatnya akan dilaksanakan.
Kamu kira siapa yang dia tunjuk sebagai penerusnya?
Aku? Atau kamu?
Atau Ibu?
Kamu yang paling untung.
Akankah Ibu dan aku melakukan hal seperti itu?
Aku tidak yakin soal Ibu.
Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Yang kutahu pasti adalah
bukan aku orangnya.
Jika kamu punya waktu untuk mengkhawatirkan itu,
berfokuslah pada proyek waralaba.
Jika kamu mau menyelamatkan Pangan Gangin
dan mengabulkan keinginan Kakek.
Jantungku berdetak kencang.
Pak.
Pak.
Apa itu tadi?
Aku sungguh penyelamatnya.
Bagaimana bisa dia siuman begitu saat aku berada di sampingnya?
Aku yakin
aku spesial bagi pria tua itu.
Jika tidak, bagaimana bisa kuselamatkan nyawanya
bukan hanya sekali, tapi dua kali?
- Kamu bicara dengan siapa? - Astaga.
Jangan mengendap-endap.
Apa? Itu yang dilakukan
orang yang menumpang sepertimu.
Berhenti sombong hanya karena kamu punya rumah kecil.
Bagaimana denganmu? Apa kamu bahkan punya rumah kecil?
Jika tidak punya rumah kecil, pergi sajalah.
Tidak ada yang akan menghentikanmu.
Berhentilah bersikap arogan.
Kamu tidak pernah tahu ada apa di masa depan.
Tepat sekali.
Siapa yang akan menyangka Koo Mi Hong yang arogan
berakhir menumpang pembantunya, Mo Jin Ja?
Aku tidak pernah tahu kamu akan mencuci piring
dan mengupas bawang, serta tinggal di rumahku.
Apa kamu bahkan tahu siapa yang kupacari?
Kenapa? Kamu sudah mendapatkan pria tua kaya yang sekarat
yang selalu kamu harapkan?
Aku tidak mau bilang apa-apa karena takut kamu membuatku sial.
Kamu tidak pernah tahu ada apa di masa depan.
Aku mungkin akan menikahi kepala keluarga konglomerat
dan hidup mewah
selama sisa hidupku.
Astaga. Jika kamu menikahi kepala keluarga konglomerat,
aku akan menjadi Ibu Negara.
Teruslah bermimpi.
Kamu tidak akan menjadi Ibu Negara pada hidup ini,
jadi, berharaplah pada hidup selanjutnya.
Kenapa kamu masih bermain dengan kubis?
Lihat ini. Semuanya lembek. Lihatlah itu.
Bumbui sajalah sekarang!
Dia kira aku pembantunya?
Hanya karena menghasilkan uang, dia kejam sekali.
Dia seperti itu karena kamu terus menerimanya.
Lupakan menjaga rumah. Kamu seharusnya berdemo.
Dia akan lebih menghargaimu hanya setelah kehilanganmu.
Berdemo?
Kang In Wook
adalah kakakku.
Aku pengangguran dan mantan kriminalis,
jadi, tidak bisa mendapat pekerjaan.
Kamu mempekerjakanku
sebagai pekerja purnawaktu. Serta cepat mempromosikanku.
Kamu tidak harus pergi ke Amerika?
Aku harus menabung untuk tiket pesawatku.
Tidak mudah bagi pengangguran mantan narapidana menghasilkan uang.
In Wook.
Sebanyak apa perkataanmu yang jujur?
Siapa itu?
Kang In Wook ada?
Dia harus bergegas ke rumah sakit.
- Kenapa tidak meneleponnya saja? - Baik.
"Kang In Wook"
Nomor yang Anda tuju tidak tersedia. Silakan...
Ibu masih bangun?
Hidupmu sangat dramatis.
Jika dipikir-pikir, kamu, pecundang terbesar dari semua orang
di keluarga menyedihkan ini punya rahasia sebesar itu?
Jika tahu kamu diadopsi,
ibu pasti mencegah Ji Sup menikahimu.
Itu penyesalan terbesar ibu.
Ibu sebaiknya tidur. Nanti Hae Sol terbangun.
Apa? Kamu menyuruh ibu diam dan tidur?
Tidak apa-apa, Hae Sol. Kembalilah tidur.
Ibu.
Ibu terlalu tidak peka kepada putri ibu sendiri
dan pernikahannya.
Ini hadiah pernikahanmu. Kamu menyukainya?
Aku amat menyukainya.
Selama 24 tahun ibu jahat, bilang kamu meninggalkan Yuh Rim.
Saat memikirkan betapa menyakitkan itu bagimu,
ibu amat malu.
Tidak apa-apa. Karena kini sudah menemukan Yuh Rim
dan Ibu tahu yang sesungguhnya, aku tidak masalah.
Maaf sudah salah paham terhadapmu.
Ibu akan membayar segala sesuatu yang tidak ibu lakukan untukmu.
Ibu.
Aku memilih hadiah itu.
Sungguh?
Aku memilih yang kusukai. Sungguh tidak apa-apa?
Ini melebihi tidak apa-apa.
Ini amat indah. Terima kasih, Mi Ryung.
Aku senang.
Aku khawatir karena selera kita jauh berbeda.
Ibu amat gembira melihat kalian berdua
amat saling mempertimbangkan.
Mi Ryung dan aku akan membuat ibu tertawa setiap hari mulai kini.
Terima kasih, Hae Rim.
Tapi jangan memanggilnya Mi Ryung lagi,
panggil dia Yuh Rim sekarang.
Benar, bukan?
Aku Jin Yuh Rim mulai sekarang.
- Aku pulang. - Hai.
Apa itu?
Bukankah itu perhiasan?
Boleh kulihat?
Tentu. Ini.
Halo. Aku Ki Cha Ra.
Aku mau beli satu juga.
Apa? Kenapa kamu butuh perhiasan?
Untuk hadiah.
Apa? Ra Hee.
- Kamu punya pacar? - Apa?
Tidak.
Pastinya tidak.
Kamu bertingkah mencurigakan.
Katakan yang sejujurnya atau kuadukan ke ibumu.
Belum.
Aku baru menyukainya saja.
Dia bahkan tidak tahu aku menyukainya.
Apa? Siapa gadis ini?
Siapa yang menarik hati Ra Hee?
Kamu belum pernah berpacaran, bukan?
Jika kamu melakukan saranku, para gadis akan bertekuk lutut.
Mau kuajari cara menarik hati gadis? Bagaimana menurutmu?
- Sungguh? - Ya.
Ra Hee masih anak-anak.
Benar juga.
Dia masih 20 tahun.
Maaf. Aku akan mengajarimu saat kamu sudah lebih dewasa.
Naiklah.
Baik. Selamat malam.
Maaf.
Aku berusaha berhati-hati,
tapi kebiasaan sulit dilupakan.
Jangan berusaha terlalu keras.
No comments yet. Be the first to leave one.