The first 188 lines.
Aku bersedia berkencan denganmu.
Bagaimana rasanya mencintai seseorang?
Seakan aku ingin memakannya.
Mantan pacar Xiaofei akan menikah hari ini.
Itu normal untuk merasa sedih ketika kau jatuh cinta.
Jadi kupikir itu
kau harus mengalihkan perhatianmu pada sesuatu.
Kupikir kau tidak akan jatuh cinta padanya.
Bagaimana kau tahu?
Kita sudah sampai.
Aneh sekali.
Apanya yang aneh?
Mengapa tadi saat berbicara denganmu aku merasa baik-baik saja dan sekarang aku frustrasi lagi?
Inilah proses kehilangan cinta.
Kau akan baik-baik saja selama dua hari dan tidak selama tiga hari.
Suatu hari akan datang ketika kau tidak merasakan itu lagi.
Nikmati prosesnya.
Hah?
Apa yang kau lakukan besok?
Belajar.
Kau sedang sekolah juga?
Aku sedang berbicara tentangmu. Kau telah bermain sepanjang hari dan kau masih belum lelah?
Bukannya kau harus bersiap untuk ujian masuk universitas?
Baiklah. Mengapa kau sangat galak?
Total adalah NT$285 (134,200 IDR).
Mengapa buru-buru?
Ini mungkin yang disebut rendah diri.
Selamat tinggal, FJCU.
Kemana aku harus pergi?
Pergi...
Apa lagi?
- Apa yang sedang kau lakukan? - Tidak ada.
Apa yang akan kau makan nanti?
Halo?
Apa menurutmu film hari ini akan memiliki sekuel?
Mengapa kau menelepon?
Tak ada apa-apa.
Kalau tidak ada apa-apa, selamat tinggal.
Tunggu. Ada sesuatu.
Katakan sekarang.
Aku tidak tahu universitas mana yang harus dituju.
Harusnya aku bilang, aku tidak tahu mau belajar apa, seni atau desain.
Aku tidak tahu sama sekali.
Aku tanya ya.
Sudahkah kau pikirkan mau jadi apa dalam sepuluh tahun dari sekarang?
Aku?
Aku ingin punya uang. Itu penting, punya uang.
Karir mungkin harusnya sudah sukses.
Juga...
pacarku harus memukau, cerdas, dan baik hati.
Dia harusnya sudah jadi istriku.
Juga... Aku harus sudah punya rumah. Apa terlalu cepat?
Setidaknya, aku sudah membayar lunas hutangku.
Ini kau sepuluh tahun lagi?
Benar.
Juga, aku lupa memberi tahumu. Mobilku harusnya mobil Eropa.
Tidak ada isinya, penuh kekurangan dan membosankan.
Kata siapa? Aku harus punya semua hal ini.
Ini hanyalah idealisme buta.
Aku bahkan tidak memdengar apa impianmu.
Bagaimana gairah hidupmu?
Tanpa impian dan gairah, tidak akan ada aspirasi.
Tanpa aspirasi, kau tidak akan memiliki kemampuan untuk maju.
Kau hanya akan perlahan-lahan bertambah tua.
Bukankah itu membosankan?
Belum pernah ada yang memberitahuku bagaimana seharusnya impian dan gairah hidup itu.
- Apa impian sahabatmu, kalau begitu? - Akting.
- Bagaimana kau tahu? - Dia yang bilang.
- Jadi, kau tidak mendengarkan dirimu sendiri atau kau dengar tapi tidak mengerti? - Hah?
Kalau kita mau mengerti teman-teman kita, kita berbincang dengan mereka.
Kalau kita mau mengerti tentang kekasih kita, kita berbincang dengannya.
mengapa kita tidak berbincang dengan diri sendiri?
Akhirnya, kitalah yang tidak mengerti tentang diri kita sendiri.
Ya... kedengarannya masuk akal
tapi agak mendalam.
Tapi aku...
Jangan bicara denganku. Bicara dengan dirimu sendiri. Aku ada telepon masuk.
Hei, tunggu...
Pasti pacarnya yang menelepon. Teman yang angin-anginan.
Ada apa lagi?
Ada sedikit masalah untuk besok.
Apa lagi sekarang?
An Qinghui, apa impianmu?
Beritahu aku. Kau mau jadi apa dalam sepuluh tahun lagi?
Pilot?
Kedengarannya bagus.
Tuan dan Nyonya.
Selamat datang di CI...
Apa bahasa Inggrisnya "303"?
Aku tak bisa menyetir.
Terima kasih.
Rotinya baru keluar dari oven.
Mengapa ada dia di masa depanku?
Ini mungkin adalah...
yang disebut ketergantungan.
Benar. Ketergantungan.
An Qinghui.
Ibu.
Aku mau bertanya.
Apa?
Ada yang mau aku tanyakan.
Bisakah nanti setelah aku selesai mandi?
Aku takut nanti lupa. Mengapa kau malu?
Ibu mana yang belum pernah melihat tubuh putranya.
Bibi Zhang itu, katanya dia mau mendaftarkan anaknya ke kelas bimbingan belajar.
Ada tiga. Ada kelas intensif, kelas sukses, dan kelas berdesakan.
Kata Bibi Zhang, anaknya perlu ikut bimbingan belajar supaya bisa masuk kuliah.
Kau mau daftar? Hidupmu tanpa tujuan.
Kapan?
Putranya Bibi Zhang sekolah di SMU, kalau aku sekolah di SMK.
Terlebih lagi, kami punya Pameran Kelulusan. Kapan aku ada waktu?
Bagaimana kalau kau tidak bisa masuk Universitas?
Siapa bilang aku tak bisa? Aku bisa dengan mudah masuk Universitas manapun.
Asal masuk Universitas? Awas saja kalau kau masuk Universitas abal-abal.
Jangan masuk Universitas di tempat jin buang anak (tempat terpencil), lalu mengeluh aku tidak menyekolahkanmu.
Pikirkan kau mau mendaftar atau tidak.
Ibu!
Apa?
Mengapa kau tidak buka kafe saja bersamaku?
Apa?
Daripada uang yang kau dapat dengan susah payah itu digunakan untuk biaya kursus dan SPP Universitas,
asrama dan ongkos perjalanan, sebaiknya gunakan untuk mensponsori aku membuka kafe.
Saat orang lain menggunakan uang untuk belajar, aku akan membantu mendapatkan uang untukmu.
Oh begitu.
Biar aku tanya. Sejak kapan kau pernah menyeduhkan kopi untukku?
Belum pernah.
Selama dua puluh tahun hidupmu,
pernahkah kau menuangkan segelas air untuk aku minum?
Memangnya belum pernah?
Kau bahkan tidak tahu bagaimana melayani ibumu
dan kau mau melayani pelanggan di kafe?
Itu beda.
Apa bedanya? Dengarkan dirimu membual.
Kau pikir buka kafe itu mudah? Urusan gampang?
Jadi bos itu enak, ya?
Coba lihat apa yang akan kau lakukan jika kau tak bisa menangani pelanggan sulit yang tidak mau bayar.
Kau tak butuh uang untuk beli peralatan dan sewa tempat?
Kalau kau bertemu pemilik tempat yang tamak, yang terus menaikkan uang sewa setiap tahun, kau akan menangis.
Baiklah. Kafe sudah dibuka.
Kalau bisnisnya tidak baik, kau tak akan bisa tidur. Kalau bisnisnya bagus,
kau juga tidak akan bisa tidur. Kau mau kehidupan seperti itu?
Kalau kau mau kehidupan seperti itu, mengapa aku harus menggunakan uangku untukmu?
Kau menghabiskan banyak uangku untuk SPP sekolah dan bahan pelajaran. Kapan kau pernah melukis gambarku?
Aku menyuruhmu mengecat rumah, kau bahkan tidak mau.
Kau ini omong besar tapi tidak ada kerjanya dan tak punya keuletan.
Buka kafe? Bokongku!
Lupakan.
Minta bulan.
Bodohnya.
Bukankah kau seharusnya mengerjakan konsep desain hari ini?
Aku sedang menguji seberapa cepat otakku bereaksi.
Dengarkan dirimu membual.
Kau tahu apa?
Potong saja rambutmu. Jangan ikut campur.
Bidikan yang bagus.
Bidikan yang bagus.
Begitukah?
Ini.
Hidup itu bukan hanya butuh teman baik, teman yang jujur dan teman yang pintar.
Tapi juga perlu teman dengan keahlian.
Ini kebangkitan kembali.
Kau hebat.
Aku hanyalah alat. Mengapa kau membuatku terkesan hebat?
Mengapa kau begitu negatif?
Tampaknya ini titik kelemahanmu.
Bagaimana dengan titik kekuatanku?
Menurutmu, apa aku punya titik kekuatan?
Titik kekuatan?
Kelihatannya kau ini dua dimensi... padat...
keahlianmu lumayan.
Itu saja?
Ya. Ada apa denganmu?
Tidak ada apa-apa.
Aku hanya merasa tersesat tentang masa depanku.
Tenanglah. Kau membuat ini dengan baik.
Kalau kau berusaha lebih keras untuk mata pelajaran akademik, masuk FJCU itu masalah kecil.
Lalu?
Hah?
Meskipun aku masuk FJCU,
aku berkonsentrasi belajar lalu lulus, apa yang terjadi selanjutnya?
Mengapa kau seperti dewasa hari ini?
Contohnya, kau menyukai akting.
Kau punya tujuan yang membuatmu berkerja keras.
Meski aku bisa membuat ini, aku tidak benar-benar suka melakukannya.
Kau mengerti?
Kau tidak demam.
Jiwa siapa yang bertukar denganmu?
Keluar sekarang.
No comments yet. Be the first to leave one.