Scarlet Heart

Scarlet Heart (步步惊心)

Download Indonesian Subtitle

Release info

Startling-by-Each-Step-aka-Bu-Bu-Jing-Xin Ep 02
A Commentary by Ultra_Gon
Not mine. This subtitle belongs to Runi. All thanks to Runi..... Just uploaded... Bantu di RATE ya.....

Tags

other
Published on: 2017-11-04
Downloads: 40
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Episode 2 Penerjemah: Runi

Satu, kembali.

Dua, mati.

Tiga, terluka parah.

Kita coba!

Kau tidak apa?

Siapa yang suruh kau menghentikan kudanya?!

Kenapa harus Anda lagi?

Pangeran ke-4.

Kau bukan sedang berkeliling.

Kau melihat kuda kami dan dengan sengaja berlari ke arah kami.

Apa kau ingin mati?

Saya...

Kenapa saya ingin mati?

Yang tadi itu tidak disengaja.

Yang pertama memang kecelakaan,

tapi yang tadi bukan.

Jika lain kali kauingin mati,

Aku tidak akan menarik tali kekangku lagi.

Saya justru melakukannya karena ingin hidup.

Ada banyak hal yang tidak bisa saya tinggalkan.

Perkataanmu sungguh aneh.

Ini obat untuk lukamu.

Pangeran ke-4.

Terima kasih!

Aku telah menyelamatkan nyawamu.

Di masa depan, tanpa izin dariku,

kau tidak boleh mati.

Pelan-pelan, Nona Kedua.

Nona Kedua. / Ruoxi.

Nona Kedua.

Kakimu masih belum sembuh.

Kenapa kau tidak istirahat saja?

Kau justru berjalan-jalan.

Aku baik-baik saja.

Lagipula, aku sudah mengoleskannya dengan salep.

Sekarang sudah lebih lebih.

Kita harus berterima kasih kepada Pangeran ke-4 dan ke-13.

Kita harus berkunjung ke tempat mereka...

untuk berterima kasih.

Aku sudah berterima kasih kepada mereka.

Jangan repot-repot melakukannya lagi.

Sudah etikanya seperti itu.

Hanya urusan sekecil ini,

kurasa kedua pangeran itu...

tidak terlalu mengingatnya.

Tapi jika Di'fujin mengetahuinya,

dia pasti akan marah seperti gunung meletus.

Bisa-bisanya kau menyambungkan hal ini dengan istilah seperti itu.

Apa kepandaianmu hanya untuk itu?

Kakak, surat ini dialamatkan untukmu.

Kenapa kau tidak membacanya?

Kasim yang bertugas membacakan surat sedang tidak di sini.

Biarkan saja dulu.

Untuk pekerjaan seperti itu...

serahkan saja padaku.

Kau bisa membaca surat itu?

Apa sulitnya melakukan hal itu?

Tentu aku bisa.

Baiklah.

Karena itu surat dari ayah dan kakak pertama,

kau boleh membacanya.

Ini adalah surat untuk Ruo Lan.

Sudah lama kita tidak berkirim kabar.

Kami merindukan dirimu.

Membaca surat-suratmu, seakan melihatmu secara langsung.

Huruf apa ini?

Huruf 'sampai jumpa'.

Sesuatu seperti menang...?

Sesuatu... sesuatu...

Sesuatu... Dewa Kuda.

Memangnya Dewa Kuda itu ada?

Tidak ada.

Kakak.

Kita sudah lama tidak bertemu.

Kupikir kepandaianmu telah meningkat...

dan membuatmu mampu membaca huruf dan buku.

Tapi, ternyata tidak begitu.

Kakak, kurasa...

Lebih baik kau menunggu...

kasim yang bertugas datang dan...

membacakannya untukmu.

Apa kau sudah menyerah?

Tidak.

Kurasa, lebih baik aku...

mulai belajar lagi dari awal.

Kalau begitu, aku pergi dulu.

"Daun-daun berguguran menandakan musim dingin mulai berlalu."

"Angin musim gugur yang melewati danau menggerakkan hati pengembara."

Kebijaksanaan anak-anak...

"Saat malam tiba, lentera menerangi kegelapan."

Jika dipikir-pikir, aku yang modern ini,

telah bersekolah selama 16 tahun,

bisa disebut sebagai sarjana.

Saat ini,

aku justru buta huruf.

Untunglah, aku berada dalam tubuh gadis kecil ini.

Jadi, tidak perlu takut kelaparan atau kedinginan.

Mungkin,

aku akan...

sangat ingin mati...

karena tidak bisa bekerja.

Semut kecil, jangan lari, jangan lari.

Ayo, main denganku.

Hormat Pangeran Ke-8. Hormat Pangeran ke-10.

Berdirilah.

Melihat kau yang seperti ini,

aku penasaran apa asyiknya bermain denganmu.

Sepertinya, aku telah memandangmu terlalu tinggi.

Dipandang olehmu bagiku bukanlah suatu kehormatan.

Kau sedang membaca puisi?

Ya.

Dia itu sedang bermain dengan semut.

Dia hanya ingin terlihat seperti orang terpelajar.

Dasar bocah,

ingin terlihat seperti Pangeran besar di depanku?

Apa Anda pernah mendengar pepatah...

"melihat dunia dalam sebutir pasir, dan surga dalam sebatang bunga liar."

Meski saya sedang melihat seekor semut,

kenyataannya saya sedang tidak memperhatikan mereka.

Adik ke-10, kau harus belajar lagi.

Orang bodoh tetap saja bodoh.

Satu pepatah bisa membuatnya terdiam begitu.

Tidak bisa membalasnya.

Kau membaca naskah doa Buddha?

Aku pernah mendengarnya dari Kakak, membuatku tahu sedikit.

Dia memang berdoa terus.

Dia melakukan hal itu agar hatinya damai.

Ada suatu makna dari perkataan Pangeran ke-8.

Dan maksud sebenarnya tersembunyi.

Jika kau ini seorang pemimpin,

kau pasti pemimpin dari berbagai pemimpin.

Apa kau bisa membaca semua ini?

Tentu.

Aku mengenal huruf-huruf ini, tapi mereka belum mengenalku.

Karena itu, kami akan mencoba saling mengenal.

Kakak ke-8, coba dengar dia.

Bagaimana caramu mengenal mereka lebih baik?

Ditebak saja.

Bagaimana bisa begitu?

Jika bisa seperti itu, kita tidak lagi membutuhkan guru!

Kita hanya perlu menebak.

Ayo pergi.

Hei, kami mau berkuda. Kau mau ikut?

Berkuda?

Ya.

Baik.

Ayo.

Untung sekali.

Apa yang barusan kaulihat?

Saya tak mau bilang.

Kenapa tadi kau mengeluarkan suara 'yi' begitu?

Jika Anda ingin tahu,

berikan saya hadiah.

Tidakkah itu membuatmu jadi materialistik?

Aku hanya bertanya padamu,

dan kau meminta hadiah?

Anda tidak boleh menilainya seperti itu.

Sayalah yang melihat hal yang menarik.

Tapi, karena Anda ingin tahu,

Anda harus membayarnya.

Kecuali jika Anda memang tidak membayar...

saat menonton pertunjukan cerita.

Ini.

Sekarang, katakan padaku.

Ada apa? Memangnya kurang?

Saya tidak meminta uang Anda.

Jika bukan uang,

apa sebenarnya yang kauinginkan?

Saat ini, saya tidak bisa berpikir apa yang saya inginkan.

Bagaimala kalau begini?

Suatu hari nanti, lakukan satu permintaan saya.

Sudah pasti itu adalah hal yang sanggup Anda lakukan.

Lagipula, bagi seorang pangeran,

menerima permintaan seorang gadis kecil,

apa susahnya?

Iya juga. Baiklah.

Aku berjanji. Coba katakan.

Anda tidak boleh ingkar janji ya.

Saya punya saksi.

Akan kuingat, coba kaukatakan.

Ada banyak orang di jalan,

tapi tidak ada yang menghalangi kereta ini.

Orang yang mengenali kereta ini, sudah jauh dari jalan kita.

Padahal tidak ada tanda ada Pangeran ke-8 di dalam kereta.

Saya penasaran kenapa bisa begitu.

Karena itulah aku bersuara 'yi' begitu.

Lalu bagaimana dengan anggukan kepalamu?

Karena itu, aku mulai berpikir.

Kereta semacam ini,

tidak mungkin dikendarai oleh orang biasa.

Lagipula, daerah ini tidak jauh dari kediaman keluarga istana.

Rakyat di sini sudah berpengalaman.

Meski mereka tidak tahu ada siapa di dalam kereta,

tidak ada salahnya memberikan jalan untuk kereta ini.

Dan untuk anggukan kepalaku,

Aku merasa...

menjadi seekor rubah.

Rubah?

Memang apa hubungannya dengan rubah?

More Indonesian subtitles for Scarlet Heart

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left