The first 200 lines.
"Episode 2"
Kamu yang paling tahu mengenai keadaan perusahaan kita.
Kita dalam bahaya.
Ya, tapi kamu tahu yang kulalui untuk memecat orang-orang
di timku sendiri.
Kamu mungkin berpikir ini seperti membunuh anjing setelah perburuan,
tapi ini juga berlaku untukku. Aku bisa dipecat kapan saja.
Kamu menjanjikanku jabatan direktur.
Apakah kamu memutuskan memberikannya kepada orang lain?
Kami akan segera memutuskannya.
Kamu tidak apa-apa?
Ya. Aku baik-baik saja.
Permisi. Apakah kamu punya rokok?
Tidak. Aku tidak merokok.
Ayo makan!
Baiklah.
Ibu.
Perawat Baek sangat menyukai ekstrak premnya.
Benarkah? Kamu sudah memberikannya kepada atasanmu?
Apa? Ya, tentu saja sudah.
Kubilang kamu yang membuatkannya dan dia senang.
Pak Kim. Bawalah ini.
Tidak, Pak.
Aku mengidap diabetes dan tidak bisa menerima ini.
Berikanlah kepada istrimu.
Pak Kim. Ambillah lagi saja.
Ini.
Aku tidak bisa mengambil sesuatu yang sudah kuberi kepadamu.
Tidak apa-apa. Ambillah.
- Simpanlah. - Ambillah.
- Simpanlah saja. - Aku tidak mau menerimanya!
Nak. Kamu belum kembali ke asramamu?
Kedokteran sulit untuk dipelajari.
Kamu bisa melewatkan kelas?
Bahkan orang sukses atau orang kaya
merasa berkecil hati di dekat anak mereka yang pintar.
Itu benar.
Melihatmu memberikan ayah kekuatan.
Kamu tidak tahu karena tinggal di asrama,
tapi Ayah hidup untuk menyombongkanmu.
Ayah harus menyombong saat bisa.
Tidak sembarang orang bisa masuk ke sekolah kedokteran.
Ayah.
Dae Young, cobalah ini.
- Ayah. - Dae Young, ibu bilang cobalah.
Ibumu sangat takut
kamu tidak makan baik di kampus sampai berusaha memberimu makan.
Bicaralah sambil makan.
Aku akan menjadi apa saat lulus?
Tentu saja dokter.
Apakah aku akan bahagia sebagai dokter?
Kamu pasti akan bahagia.
Kamu dijamin mendapat pekerjaan, akan menghasilkan banyak uang,
dan orang-orang akan menghormatimu.
Apakah itu kebahagiaan?
Apa tujuan belajar untuk masuk sekolah kedokteran?
Benar, bukan?
Ayah, itu bukan tujuan.
Tujuannya adalah mengobati penyakit dan menyelamatkan pasien.
Tentu saja.
Dae Young, bisakah kita makan sekarang?
Terima kasih sudah menahan diri.
Aku tidak menahan diri.
Aku berhenti karena tahu kami tidak akan pernah sepemahaman.
Kalau begitu, ayo dengar rencanamu.
Apa yang kamu lakukan kalau berhenti dari universitas?
Ibu tidak akan mengerti.
Jangan meremehkan ibu.
Ibu lulusan Universitas Terbuka Nasional Korea.
Ibu.
Ibu tahu aku suka "The Little Prince".
Kamu selalu membawa buku itu saat masih SD.
Lalu Ayah mengambilnya
dan membuangnya dengan barang-barang yang bisa didaur ulang.
Ada apa dengan itu?
Ibu tahu ceritanya menyebutkan tentang pohon baobab?
Pohon-pohon itu mati tanpa alasan.
Lalu kenapa?
Mereka diketahui bisa hidup selama 2.500 tahun lebih,
tapi mungkin akan punah.
Lalu kenapa?
Aku berjanji kepada Soo Ho untuk datang melihatnya.
- Di manakah itu? - Padang rumput Afrika.
Benar, bukan? Sudah kubilang Ibu tidak akan mengerti.
Apa yang akan kamu lakukan setelah melihatnya?
Aku mau melihat semua air terjun di dunia.
Aku masih punya beberapa ide.
Ibu tidak mengerti, bukan?
Ya. Ibu sungguh tidak mengerti.
Astaga.
Dong Hyun.
Apa?
Bukan kamu. Panggilkan ibumu.
Aku bukan Dong Hyun.
Panggil namaku kalau membutuhkanku.
Di mana kemeja garis-garisku?
Di mesin cuci?
Apa?
Kenapa semua pakaian yang kubutuhkan selalu ada di mesin cuci?
Apakah itu lemarinya?
Apakah kamu hanya punya itu?
Kenapa kamu sudah mengeluh?
Lihatlah keadaan kamar ini.
Kalau kamu tidak membersihkan, setidaknya tetaplah rapi.
Aku membersihkan sesekali.
Kapan? Sebulan lalu? Dua bulan lalu?
Apakah kamu bersama orang lain selama ini?
Ada apa denganmu hari ini?
Apakah karena menopause?
Bagaimana kamu bisa selalu mudah marah?
Mari berhati-hati di dekat satu sama lain.
Lihatlah ruang keluarga. Itu lebih mirip timbunan tanah.
Bisakah kamu hentikan?
Aku mengatakan yang sebenarnya.
Ya, benar, tidak apa-apa.
Haruskah kamu mengatakannya dengan kasar?
"Kamu sibuk bekerja sehingga tidak punya waktu membersihkan, ya?"
"Ayo membersihkan bersama akhir pekan ini."
Maka aku akan berbuat sesuatu setidaknya karena merasa bersalah.
Masa saat pria bisa mengomel sudah berakhir.
Cobalah untuk membuatnya terkesan.
Baik, Nyonya.
Pastinya menyenangkan hidup sekarang ini
saat kamu bisa membuat alasan bahkan dari memasak.
Tidak ada sendok?
Sepertinya begitu.
Kamu mau aku makan dengan ini?
Gunakan gusimu kalau tidak punya gigi.
Itu juga sendok.
Semua ini membuatku gila.
Berhentilah memandangi ponselmu.
Kenapa memukul kepalaku?
Itu peringatan.
Perhatikanlah sebelum ayah sita itu.
Ayah selalu mengatakan itu.
Kamu sudah mau pergi?
Aku tidak berselera makan.
Aku tidak butuh tumpangan. Aku akan pergi sendiri hari ini.
Aku tidak terkejut.
Ibunya menyebut ini sarapan.
Siapa yang akan berselera makan?
Aku juga tidak makan.
Dong Hyun, tunggu!
Bertahanlah.
Ini karena kamu terlalu sering memandikannya.
Anjing sama seperti kita.
Kalau terlalu sering memandikannya, kulitnya akan kering dan kasar.
Namun, setelah kami berjalan,
aku harus memandikannya karena tanah, debu, dan bau.
Bersihkan saja sedikit dengan lap basah.
Sudah selesai untuk hari ini.
Terima kasih.
Ayo pulang, Alex.
Ayo pergi.
- Sampai bertemu pekan depan. - Baiklah.
- Pohon baobab? - Pohon baobab?
Apa itu? Seperti apa pohon itu?
Ada pohon tanpa cabang yang terlihat seperti drum minyak.
Kenapa dia mau melihatnya?
Pohon itu mati tanpa alasan.
Jadi, dia akan berhenti dari universitas
yang susah payah dimasukinya, hanya untuk melihat pohon?
Benar sekali.
Itu gila. Dia sangat dimanjakan.
Jadi, kamu bilang apa?
Aku tidak bisa membujuknya.
Banyak anak-anak sekarang ini sulit dimengerti.
Kamu tidak bisa mencoba menghajar mereka.
Dunia mereka berbeda dengan dunia kita.
Suruh dia mengambil libur untuk bepergian.
Sudah.
Begitu sudah melihat pohonnya,
dia mau melihat air terjun di seluruh dunia.
Dia mau melakukan apa saja yang diinginkannya.
Dia sama sekali tidak memedulikan orang tuanya.
Memangnya apa lagi itu kalau bukan pubertas gila?
Hanya ada satu cara menghadapi anak seperti itu.
Biarkan dia melakukan hal yang diinginkannya.
Dia akan menjelajahi dunia dan mendapatkan pengalaman
serta kembali ke tempatnya.
Aku juga bisa bilang itu kalau dia bukan anakku.
"Berjalanlah di mana tidak ada jalan dan temukan jalanmu sendiri."
"Itulah jalan yang benar."
"Itulah jalan kebahagiaan yang sejati."
Tepat.
Perlakukan dia seolah dia anak orang lain.
Kamu seperti ini karena terlalu berharap padanya.
Itu salah.
Bagaimana dia bisa membiarkannya jika sudah jelas yang akan terjadi?
Bisakah kamu memastikan yang kita ajarkan menjamin kebahagiaan?
Kurasa tidak.
Apa yang dilakukannya sekarang?
Dia sudah kembali ke asramanya.
Kalau begitu, semua akan berjalan baik.
Dia anak pintar. Dia pasti tahu yang harus dilakukannya.
"Perawat Oh"
Firasatku tidak enak.
Ada apa? Dari siapa itu?
Ini aku.
Apa? Perkemahan?
No comments yet. Be the first to leave one.