The first 200 lines.
Apa hakmu membeberkan semuanya kepada suamiku?
Kau tak punya hak.
Dia memang suamimu,
tapi juga menantuku.
Ji-a juga, dia memang putrimu,
tapi juga satu-satunya cucuku.
Apa ayahku ada dua?
Ayahku hanya satu,
tapi siapa yang membuatku tak bisa menemuinya?
Karena itu…
Aku tak bisa hidup dan bernapas dengan lega di hadapanmu.
Setelah hidup seperti itu,
kau membuatku seperti pembohong di depan suamiku?
Aku tak bisa jelaskan dengan baik.
Kau buat aku menjadi pembohong licik.
- Apa maksudmu… - Kau bilang, hubungan kalian baik.
Lalu Ayah wafat dalam kecelakaan mobil.
Sampai sebelumnya, aku berpura-pura dari keluarga dua orang tua yang bahagia.
Kau tahu sekeras apa aku berusaha agar tak tampak terganggu
meski dibesarkan orang tua tunggal!
Lalu, apa ini? Ibu berulah seakan demi putrimu sendiri.
Membeberkan semua masalah yang bahkan tak bisa aku ceritakan!
Dia pikir kesepian adalah satu-satunya masalahku!
Sebenarnya, kau memang tak punya masalah.
Kau berpikir begitu? Aku terlihat baik-baik saja?
Itu harapanmu, 'kan?
Kau tumbuh dengan baik.
- Kau tak pernah hancurkan hatiku… - Perlu kuulangi?
Baru saja kau bilang kau tak bisa hidup tenang di hadapanku.
Aku tahu
aku ini jahat dan tak normal.
- Tidak… - Dia akan menjauhiku.
Kini dia tahu aku berpura-pura selama sepuluh tahun.
- Yu-sin pasti paham… - Kau bisa baca pikirannya?
Mungkin dia tidak bilang, tapi dia akan merasa begitu.
Tapi kau berbuat banyak untuknya.
Benar.
Aku berusaha menjadi menantu dan istri yang sempurna sampai rasanya ingin mati.
Tapi kenapa rasanya nihil? Kenapa kau ikut campur?
Sampai kapan hidupku berantakan karena Ibu?
"Apa yang bisa dia pelajari dari keluarga yang retak?"
Dia pasti akan berpikir begitu.
Jika aku dia, aku akan begitu.
Selalu berpikir negatif pada pria karena Ayah yang pernah selingkuh.
Aku bisa histeris kepada Ibu hanya karena omelan kecil.
Aku simpan kebencianku, takut orang memandangku begitu.
Apa Ibu pikir aku tak punya kebencian itu?
Ini semua karena suamimu berselingkuh?
Mengakhiri pernikahanmu saja cukup.
Kenapa memisahkanku dan Ayah juga?
Ibu hanya memikirkan diri sendiri.
Karena hanya perasaan yang penting.
Kau tak mempertimbangkan penderitaan orang lain
dan luka putrimu.
- Harusnya kau tahu karena sudah menikah. - Tahu apa?
Begitu menikahi seseorang,
berselingkuh adalah satu-satunya hal yang tak termaafkan.
- Kau masih belum mengerti? - Baik.
Anggap Ayah tak termaafkan.
Tapi apakah itu salahku?
Aku yang memaksa kalian menikah?
Kalian menikah karena saling suka dan melahirkan aku.
Bagaimanapun, dia ayahku.
Kami satu darah.
Meskipun bercerai,
seharusnya jangan pisahkan kami.
Alih-alih,
kau merengek soal kau salah memilih pria
dan itu membuatmu menjanda.
Sungguh memuakkan.
Ayah sangat mencintaiku.
Sangat menyayangiku.
Aku tahu dia berselingkuh,
tapi kenapa tega memisahkan kami?
Kau buat dia tak bisa bertemu putri semata wayangnya.
Ayah juga berhak untuk itu.
Dia bersalah kepadamu, bukan aku.
Tapi kau mengusir dia tanpa apa pun.
Kau tak akan mengerti
karena orang tuamu hidup cukup lama.
Kau tak akan bisa membayangkannya.
Di mataku,
sosok Ayah yang menyambutku dengan tangan terbuka…
Tak akan kulupakan sampai mati.
Nenek yang membelamu pernah bilang,
"Tak bisa makan yang dibenci, tak bisa temui orang yang dibenci."
Kau tak bisa ampuni suami yang berselingkuh dengan sekretarisnya.
Aku bisa memahaminya.
Tapi kau tak bisa pisahkan orang tua dan anak.
Aku makin mengerti setelah melahirkan Ji-a.
Saat temanku pergi dengan ayahnya,
atau dihadiahi produk riasan,
atau pamer makan enak bersama…
Bayangkan perasaanku saat itu.
Jangankan bisa kubanggakan,
Ayah yang tak bisa kutemui selamanya…
Aku menderita saat berpikir
tak bisa menggandeng tangan yang hangat dan kokoh itu…
Ibu pernah meminta maaf kepada Ayah meski dalam hati?
Pernahkah Ibu merasa bersalah?
Maaf karena memberi tahu suamimu,
tapi kau tak akan dikhianati
karena Yu-sin orang yang jujur. Tapi…
Ayah meninggal karena Ibu!
Bukan hanya mengusirnya,
Ibu juga melarangnya bertemu dan berbicara denganku!
Karena itu, Ayah ke sekolahku
dan tewas dalam kecelakaan!
Ibu mau berdalih apa lagi?
Katakan, apa aku bicara omong kosong lagi?
Benar! Semua salahku!
Ayahmu tak bersalah.
Hanya aku yang bersalah!
Tapi hidup dan mati sudah ditakdirkan.
Dia meninggal karena sudah takdirnya.
Aku sudah selesai bicara.
Bencilah Ayah sampai mati.
Ibu sama sekali tak salah.
Ayah ditakdirkan meninggal karena memang pantas dihukum.
Puas?
Jangan harap bisa bertemu Ji-a lagi.
Ibu takkan bertemu dengannya seperti aku dan Ayah!
Dasar tak tahu malu!
Bahkan Tuhan membenci pezina!
Kau tak tahu rasanya dikhianati karena belum mengalaminya.
Rasa dikhianati yang membuatmu geram.
Ibu tak merasa bertanggung jawab?
Tak merasa Ibu penyebabnya?
Aku akui Ayah berkhianat dan melukaimu.
Tapi Ibu tak seutuhnya tak bersalah.
Sepertinya Ayah muak, sama sepertiku.
Apa katamu?
Ibu selalu saja…
bersikap seperti ini.
Tak bisa memikirkan orang lain sedikitpun meski telah berumur.
Kau menikahi seorang pria karena cinta dan menaikkan status sosialnya,
tapi dia berani berselingkuh dengan sekretarisnya.
Tentu karena sangat emosi dan gelap mata.
Tapi pernahkah berpikir bahwa Ibu adalah penyebabnya?
Ibu meremehkan orang lain.
Menganggap diri sendiri segalanya.
- Aku? - Dulu bahkan lebih parah.
Ibu dulu selalu memberi tahu bahwa bantuan takkan disyukuri,
serta mencoba dan melewati batas jika kau terlalu baik pada mereka.
Kau selalu meremehkan orang lain.
Bagaimana Ibu memperlakukan Ayah?
Kau perlakukan dia secara hormat?
Ayah dalam ingatanku…
selalu harus menjaga perasaan Ibu.
Ibu kesal karena masalah sepele.
Dengan hati-hati Ayah membujuk Ibu setiap kali begitu.
Bahkan anak kecil pun tak seharusnya begitu.
Ibu tahu apa kata produser di tempatku?
"Wajah cantik hanya bertahan sebulan. Kebaikan akan bertahan selamanya."
Bayangkan di posisinya.
Di posisi Ayah. Meski Ibu sudah tahu,
Ibu akan memahaminya.
Ibu hanya benci mengakuinya.
Aku pun akan tergoda dengan sekretaris yang manis dan baik
jika punya istri yang menyulitkan.
Itu wajar.
Semua perasaan manusia itu sama.
- Kau sudah selesai bicara? - Coba pikirkan.
Jika kau punya suami yang kasar
dan ada pria muda baik mendekatimu, kau pasti akan tertarik.
Itu wajar.
Sebelum menjadi putri orang kaya,
andai Ibu bersikap hangat pada keluarga sebagai seorang istri,
dengan sifat Ayah seperti itu…
Ayah akan jujur dan perhatian pada Ibu.
Ayah tak akan berpaling.
Meski ada yang mendorongnya untuk berkhianat,
Ayah akan menjaga kepercayaan Ibu.
Karena itu kau mirip denganku?
Karena itu kau bersikap dingin begini?
Sepertinya begitu.
Meski tak tahu perasaan suami,
bagaimana dengan derita anak sendiri?
Cobalah pikirkan.
Jika jadi Ibu, aku akan malu minta bertemu Ji-a.
Aku akan menghilang sampai dicari.
Begitulah seharusnya.
- Jae-yu! - Ada apa?
U-ram, kalau dipikir-pikir…
- kau menabung uang sakumu, 'kan? - Ya.
- Terkumpul berapa? - Aku tak menghitungnya.
- Mungkin sudah ratusan ribu. - Mungkin saja.
Cobalah hadiahkan baju cantik untuk ibumu.
Kau bilang tak suka ibumu menua.
Baju yang terlihat muda.
BAHASA KOREA
Hyang-gi.
Kau mengetuk pintu?
Aku lupa.
Ayo kumpulkan uang untuk hadiah Ibu.
Ulang tahun Ibu masih lama.
Ayah juga akan berikan hadiah pernikahan.
Baju Ibu sedikit. Selalu saja pakai celana.
- Aku juga tak punya banyak baju. - Lalu apa itu semua?
Di lemari juga banyak.
No comments yet. Be the first to leave one.