The first 200 lines.
- Kau pikir aku bodoh? - Apa?
Sialan. Aku tidak akan mengurusmu.
Kau pikir aku tidak tahu?
Hei. Maaf.
Aku punya kabar. Ala mengembalikan uangnya.
Kupikir kau akan menyukainya.
Terima kasih sayang. Ini indah.
- Apa yang terjadi? - Ayah mau pindah.
- Apa? - Ini saatnya.
Aku sudah merencanakannya sejak lama. Selain itu, lihat saja dia.
- Kenapa kau tidak memberitahuku? - Sayang...
- Dan apa pendapatmu? - Ayah setuju denganku.
- Aku selalu setuju dengan anakku. - Kau mau bantu?
Kau mau membawanya ke panti jompo?
Tidak, dia akan tinggal di flat lamamu di Jalan Zamoyski.
- Itu flat kosong dan aku cuma membayarnya. - Sendirian?
Kau yang akan mengurusnya. Kau tidak keberatan, kan?
- Kau sudah memikirkan semuanya. - Tentu saja. Itulah aku.
Itu sebabnya kau mencintaiku. Semua akan baik-baik saja. Ayo.
Kutanya padamu... Kenapa kau tidak memanggil namaku saja ketimbang memanggil "Ayah"?
Karena kau ayahku, bukan ayahnya.
Dia mewarisi kepintarannya dariku.
- Perlu dibersihkan. - Kalau begitu, bersihkan.
Kornelka mulai masuk taman kanak-kanak. Lagipula kau tidak ada hubungannya.
Bagus sekali! Kau yang terbaik!
Super! Cium aku!
Sampai jumpa!
Hey.
Kau menungguku?
Nela tidur. Kupikir kau pulang lebih cepat.
Aku memberikan wawancara di TV. Butuh waktu lebih lama.
Pertama kali, tapi tentu saja bukan yang terakhir.
Tentu.
Kau pantas mendapatkannya.
Apa yang kau bicarakan dengan Alicja hari ini?
Aku menunggu sepanjang hari untuk ini.
Aku lelah.
- Besok saja. - Sekarang.
- Sekarang. - Kumohon.
Kau tidak mau?
Katakan.
Katakan. Siapa lagi yang kau ajak bercinta?
Beberapa lelaki.
Aku memperingatkanmu, kau hidup dengan uangku.
Kurasa aku bisa mengandalkan istriku bersikap baik padaku, kan?
Setidaknya cukup bagiku untuk mengetahui apa yang kubayar.
Ibu...
Hey.
Kau belum tidur?
Sayangku... ayo.
Ayo, Nelka.
Itu tidak cocok dengan mendiang.
Kenapa tidak?
Sepertinya dia bukan perokok.
Benar. Anaknya menngatakan itu.
Jadi, ada orang di sana setelah itu.
- Kekasihnya? - Aku tidak tahu jika itu kekasihnya.
Kita perlu mencari tahu lebih banyak tentang kehidupannya.
Entah dia punya musuh, atau bahkan orang yang tidak menyukainya. Apa pun itu.
Atau mungkin dia hanya mengambil korek api milik orang.
Atau dia menemukannya di suatu tempat.
Aku mau merokok.
Saatnya liputan berita lokal.
Sayap baru pabrik pengolahan buah dan sayur sudah menjadi fakta.
Pak Chairman...
Hadirin sekalian, aku bisa mengatakan aku membangunnya untuk menciptakan 120 lapangan kerja baru.
Bisa dibilang aku melakukannya untuk menyumbang beberapa juta ke anggaran kota kita,
tapi sebenarnya aku melakukan itu semua agar anakku bisa dapat makanan baru yang enak
...selai stroberi.
INVESTASI MASA DEPAN
Hadirin sekalian, inilah rahasia kesuksesanku.
Terima kasih banyak dan selamat datang...
Hey.
Wojtek ada di TV sekarang.
Dan aku di Jalan Zamoyski.
- Apa yang kau lakukan di sana? - Ayah Wojtek hidup sendiri.
Aku yang mengurusnya.
Kita akan bertetangga lagi?
- Wow, seperti dulu. Keren. - Ya.
Jangan lupa memukul radiator jika mertuamu membuatmu lelah.
Aku harus pergi. Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Maaf.
Pak, kenapa kau melakukan ini? Kau punya banyak.
Aku tidak punya apa-apa.
Bagaimana dengan Nelka?
Dia milikmu. Dan miliknya.
- Kupikir kau tidak bisa tinggi lagi. - Hai, Bu.
Dengar, makanlah dan kita bisa pergi ke danau.
Aku menyiapkan kemping untuk musim panas.
Aku membuat perusahaan.
Sepeda. Seperti yang kita bicarakan.
Ya.
Aku bisa meninggalkan rumah sakit. Kita akan atur perjalanannya.
- "Keseruan Bersepeda." kau suka? - Ya.
Nama yang luar biasa. Hanya saja...
Jangan sekarang. Aku tidak mau kerja di danau.
Tapi... kita sudah membicarakan ini.
- Dulu saat kau masih SMP. - Dulu aku punya banyak mimpi.
Aku mau jadi pendeta dan punya helikopter.
Tapi banyak hal yang berubah.
Lagipula itu kerjaan untuk sementara waktu, karena nanti aku akan bawa Erasmus ke Italia.
Kau tidak bilang apa-apa.
Aku mengatakannya sekarang.
Tapi perusahaan ini ide yang sangat keren.
Astaga, aku masih ada prosedur di klinik rawat jalan, aku lupa. Makanlah.
Sebentar!
Hey.
- Hai, Bibi. - Apa yang kau lakukan di sini?
Aku pulang liburan.
Ibu keluar, tapi... masuklah.
Astaga...
Terakhir kali aku bertemu, aku menunduk melihatmu.
- Bagaimana kuliahnya? - Bagus.
Rekor asramaku empat teh penuh dari satu kantong.
- Lumayan. Ibumu pasti bangga. - Ya. Dia selalu sangat bangga padaku.
Jangan mengganggunya. Dia sangat menyayangimu.
- Halo. - Halo.
- Bagaimana perasaanmu? - Aku sudah lebih baik.
Mereka mungkin akan mengizinkanmu keluar hari ini.
Sangat disayangkan, karena aku mulai suka ada di sini.
- Dengan sepeda motor, kan? - Ya.
Maka ada kemungkinan kau akan kembali.
- Selesai. - Sudah? Cepat.
Pasien lain menunggu.
Mungkin kita bisa berbincang-bincang sepulang kerja?
Sepulang kerja, aku banyak urusan.
- Selamat tinggal. - Selamat tinggal.
- Kau mau batang? - Ya.
Ayo.
- Tusuk ditengah. - Istana pasirnya sudah siap.
Oh keren.
Oke, sekarang kau bisa bawakan air.
Beginilah cara kita memasukkannya.
Kita menggunakan lumpur dingin.
Dia akan pulang setelah kuliah, kami akan membangun perusahaan.
Saat kau seusianya, kau terus berubah pikiran.
- Dia menghindariku, aku merasakannya. - Dia sudah dewasa sekarang.
Bisa kita mengikisnya? Ya.
- Kita perlu membuat saluran pembuangan di sini. - Nela, ayo!
Ayo, minumlah.
Mudah bagimu mengatakan itu. Kau punya Kornelka, Wojciech, rumah.
Selalu ada uang di rekeningmu.
Hanya dia yang kupunya.
Dan kebebasan juga kemerdekaan.
Kau mau pergi?
Tepat sekali.
Mereka akan berenang? Hah?
- Yah, kukira begitu. - Kukira.
- Hey. - Hey.
- Bagaimana kau melakukan ini? - Seperti biasanya.
- Kau mau coba? - Ya.
Di mana bagian bawahnya?
- Aku tidak bisa merasakan dasarnya. - Tidak ada dasarnya.
- Tunggu, kakimu ada di pahaku. - Tunggu.
Naik! Ayo, naik!
Tidak apa-apa, aku memelukmu.
Terima kasih.
Aku mengkhawatirkanmu.
Aku lupa ponselku.
Tidak bisa kau memberitahuku di mana kau berada?
Itu hari yang panjang.
Kami berenang di danau.
- Sekarang dia tidur. - Kau tidak dengar apa yang kukatakan?
- Tidak terjadi apa-apa. - Kau menghilang sepanjang hari.
Di luar jangkauan. Katakan...
Bagaimana aku bisa mempercayakan perawatan anakku padamu?
Dia anakku juga.
Aku berhak untuk selalu mengetahui keberadaan Kornelka. Jelas?
Kau mengeluh tentang hari yang bodoh di danau?
Mengerti kah kau, aku hampir memanggil polisi?
Aku sangat mencintai kalian. Kenapa kau tidak mengerti? Katakan.
Katakan padaku ada apa denganmu?
- Ayah, aku mau tidur. - Ayo, sayang.
- Ayo makan malam dan ngobrol. - Aku sudah makan. Berikan dia.
Ayolah sayang. Ayo, anakku. Sekarang. Kau lihat...
- Ibu sedang dalam banyak masalah. - Kenapa dia bermasalah?
Kita akan tidur.
Aku akan menidurkanmu.
- Ayah, aku takut. - Kornelia.
- Ayah... - Kornelka, tetaplah di sini.
Apa yang kau lakukan?
Aku tidak bisa selalu siap sedia untuk menemuinya karena dia tidak akan pernah belajar.
Tapi dia tidak mengerti.
Ingat bagaimana aku menunggumu saat kondisimu buruk?
Aku ada di sana kapan pun kau membutuhkanku. Setiap saat.
Itu kesalahan. Aku tidak akan begitu dengan anakku sendiri, paham?
Oke. Kita akan membicarakannya besok, sekarang kita perlu menenangkannya...
Biarkan dia!
- Kau tidak bisa melakukan hal seperti itu. - Aku bisa melakukan apa yang kuinginkan.
Sial.
Sebutkan nama dan nama keluargamu.
Adelina Marczewska.
Nama orang tuamu?
Jika kau mau, kami bisa menunda interogasinya.
Tidak.
Aku akan menceritakan semuanya.
Oh, Adelka. Dengar, kumohon, ambil giliran kerjaku besok.
- Kau tidak perlu memohon. - Kenapa, karena kau tidak mau?
- Aku mau. - Benarkah?!
No comments yet. Be the first to leave one.