Release info

❤❤Mama Fairy and the Woodcutter E01
A Commentary by katy_belekeme
Episode 1

Tags

other
Published on: 2018-11-06
Downloads: 51
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Follow My IG

K

Ka

Kat

Katy

Katy_

Katy_r

Katy_ra

Katy_rah

Katy_rahi

Katy_rahim

Hari itu, aku tengah mandi dengan teman-temanku.

Aneh. Mana baju sayapku?

Apa kalian serius akan pergi tanpa aku?

Maaf, tapi ini waktunya makan siang!

Nikmati waktumu melihat sekeliling!

Tunggu!

Halo?

Tidak, aku tak butuh asuransi.

Aku akan mati saja kalau sakit.

Apa mereka tidak istirahat saat liburan?

Cepat bangun!

Aku tahu kau sudah bangun, jadi berhentilah gerak-gerak.

Sial.

Di rumah aku tak bisa tidur, tapi tiap kali di sini aku bisa,

lalu aku harus apa?

Resepkan sesuatu yang lebih ampuh jika ingin aku pergi.

Apa pil sebelumnya tidak pengaruh?

Sial. Jujur aku tidak mengerti kenapa tak ada pengaruhnya padamu.

Apa bosmu sadar dengan mulut busukmu?

Diam saja dan pergilah.

Tolong, aku mohon padamu.

Oke, baiklah. Aku pergi.

Sebelum aku pergi buatkan aku segelas kopi?

- Apa? - Aku hanya tidur selama 45 menit...

di kantormu 2 hari terakhir ini...

...kelopak mataku berat.

Bisakah kau mengekstrak secangkir kopi?

Kafein adalah musuh terburukmu.

Kata mereka kau harus satu tempat tidur dengan musuhmu.

Sekarang cepat.

- Iini. - Apa?

Ini hanya melatonin.

Bawa itu sebagai gantinya.

Apa kau akan diam di rumah saja selama Chuseok?

Mungkin.

Tidurlah dengan benar selama liburan...

dan lanjutkan mimpi yang sebelumnya kau lewatkan.

Hai!

Hai, profesor.

Sudah kubilang bawa kuncinya.

Harus karena kau bahkan tak bisa mengingat delapan digit kodenya.

Sulit dipercaya.

Kenapa kau belum berkemas?

Lalu lintas menumpuk saat kita bicara.

- Ini bukan waktunya mendengar Beethoven. - Itu bukan Beethoven, tapi Mozart.

Sandal itu milikku, bukan milikmu.

Juga, sudah kubilang aku takkan ke kampung halamanmu.

Jangan begitu dan bawa tas ringan saja.

Jika kita berangkat sekarang, kita akan tiba sebelum makan malam.

- Aku takkan pergi. - Tapi...

Aku sudah bilang pada ibuku kau akan datang.

Dia akan sangat marah.

Salahmu sudah bohong padanya. Sekarang, lepaskan sandalnya.

Demi membuat pancake kacang hijau untukmu,

dia mengupas setiap kacang.

Aku belum berkemas, jadi aku tak bisa pergi.

Ya ampun.

Aku juga memberi tahu ibuku bahwa kau membelikannya...

wiski malt tunggal Irlandia kesukaannya.

Dia benar-benar melompat kegirangan.

Apa kau sudah gila?

Alih-alih memberi profesormu sebuah hadiah,

kau malah mencoba memerasku...

dengan menggunakan ibumu sebagai alasan?

Kau membelinya karena ini kesukaan Ibuku.

Aku tahu itu.

Bagaimanapun, kemas saja apa pun yang kau bisa. Untuk dua malam saja.

Yang kau butuhkan hanya beberapa pakaian dalam yang bersih.

Hai!

Kau...

Apa kau menyentuh pakaian dalamku tanpa mencuci tanganmu?

Kau seorang ahli biologi yang tahu bahwa telapak tangan itu dipenuhi kuman.

Juga, ranselmu itu belum pernah dicuci.

Kau dipecat dari pekerjaanmu sebagai asisten pengajarku.

Oke, baiklah. Aku akan mengeluarkannya.

Tunggu, ini milikku.

Lempar ke keranjang cepat!

Kau mengemas semua dalam kantong plastik terpisah,

jadi kenapa kau tak mau pergi?

Sebenarnya aku takkan melakukan ini,

tapi kau terus bersikeras ingin aku ikut.

Kau bahkan bawa-bawa Ibumu.

Baik, terserah.

Aku punya satu pertanyaan.

Kenapa harus pakai jas segala?

Kita harus terlihat rapi di depan ibuku.

Sepertinya kau adalah kebanggaan dan kegembiraan di kampung halamanmu.

Jika saja kau bisa menghafa kode delapan digit sederhana juga.

Aku pergi kali ini saja, oke?

Baik. Lain kali, aku akan membawa istriku.

Kau yang mengemudi.

Jika saja kau bisa menghafal kode delapan digitnya juga.

Omong-omong, berapa lama kita tiba?

GPS-nya bilang tiga jam.

Kalau begitu cepat. Aku sudah mengantuk.

(Kecelakaan karena tertidur, tingkat kematian 80%)

Geum, aku mengidam kafein.

Ada tanda untuk kedai kopi.

Apa itu?

Sepertinya Profesor Park.

Ini tiang totem.

Aku tahu apa itu. Terlihat menyeramkan, itu saja.

Ke mana selera humormu?

Itu lebih mirip lelucon.

Benarkan?

Apa itu benar kafe?

Bukankah itu rumah hantu?

Aku tak lihat ada komedian.

Kau sebut itu lelucon?

Namanya "Kafe Peri".

Oh, sayang.

- Selamat datang. - Astaga.

Ingin pesan apa?

Dua cangkir kopi.

Kopi jenis apa?

(Bukan Putri, Keanggunan Cahaya Bulan, Air Hitam)

Profesor.

Apa yang harus kita pesan?

Sebaiknya kita kembali.

Pesanlah sesuatu.

Santai saja.

Aku bisa berdiri dan menunggu sepanjang hari,

lalu minum kopiku besok.

Benarkan?

Benar. Juga besok sehabis bekerja.

Santai saja dan pilih dengan hati-hati.

Lututku sakit bukan main,

tapi aku bisa berdiri selama dua hari.

Apa kau lihat sendi-sendiku kendur?

Dokter klinik bilang...

semua tulang rawan di lutut ini hilang.

- Hilang? - Ya.

Aku minta maaf.

Air Hitam terdengar paling tidak konyol.

Dua cangkir Air Hitam.

Apa mereka hanya memesan Air Hitam?

Cocok untuk kalian.

Pemuda tak kenal rasa takut.

Sudah lama tak ada yang memesan itu.

Berikan saja menu utamanya. Apa itu?

Lihatlah, kucingnya berdiri.

Ada yang aneh dengan tempat ini.

- Bagaimana bisa begitu? - Sebuah kafe...

di tengah jalan menuju Gunung Gyeryong?

Aku merasa pusing.

Apa karena ketinggian?

Aku kira begitu.

Aku belum pernah melihat barista tua seperti itu sebelumnya.

Tepat sekali. Dan apa kau lihat menunya?

Saking malunya pipiku rasanya seperti terbakar.

Baiklah, kita nikmati saja.

Apa itu "Bukan Putri"? Apa yang tak bisa dilakukan sang putri?

Ya ampun.

Ini adalah teka-teki terburuk sejak mekanisme jam biologis.

- Kopi Anda sudah siap. - Ya ampun.

Menu utama di Kafe Peri.

Air Mata Rusa.

Anda tak bersuara sedikitpun.

Bukankah ini mangkuk?

Aroma kopinya luar biasa.

Apakah ini...

Permisi.

Lihatlah.

Ada lalat buah di kopiku.

Oh, astaga.

Bagaimana bisa hal konyol ini masuk ke sini?

Dia bisa terbang ketika sayapnya kering.

Kenapa Anda menyentuhnya dengan jari?

Tidak apa-apa, lalat itu baik-baik saja.

Apa aku tampak khawatir dengan lalatnya?

Itu kotor.

Ya ampun.

Tak ada yang sebersih jari-jariku.

Apa maksud...

Buatkan aku yang baru.

Buah dengan lubang serangga biasanya yang paling manis.

Aku tidak tahan lagi.

Kopi adalah kopi, dan buah adalah buah.

Akan aku bawakan yang baru.

"Tak ada yang sebersih jari-jariku"?

Kopinya sangat enak.

Itu juga. Terlalu berlebihan enaknya.

Harusnya cukup enak.

Apa kau juga mengeluhkan kopinya?

Aku yakin dia menambahkan sesuatu.

Dia bisa menipu orang tua lainnya...

tapi dia tak bisa menipuku, orang Seoul.

Tidakkah menurutmu jalannya agak aneh?

Sepertinya kita berputar-putar.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left