The first 102 lines.
Mahabharat Episode 188
== diterjemahkan dari subtitle bhs Inggris kumanoke oleh sja2014 ==
Kakek biasanya menyembah Dewa Indra setiap tahun, paman.
Tapi kenapa kau tidak mau menyembah dia satu kali pun?
Anakku, Abimanyu..
Semua ketidak adilan yang terjadi di dunia ini,
semata-mata disebabkan karena
lahirnya rasa ketakutan seseorang akan sesuatu.
Aku tidak bermaksud untuk menentang pemujaan pada Dewa Indra.
Tapi dia mendapat pemulyaan, semata-mata karena rasa takut.
Kenyataannya, tidak ada seorangpun yang memuja Dewa Indra, nak.
Semua orang waktu itu hanya memuja ketakutan di dalam hati mereka.
Tapi bukankah alasan ketakutan mereka cukup jelas, paman?
Tidak, nak.
Kenyataannya, di dunia ini tidak ada lawan yang lebih berat
selain rasa takut.
Engkau lebih tahu dampak dari rasa takut itu.
Agar terhindar dari rasa takut
manusia menerima ketidak adilan.
Itu adalah awal dari lahirnya kejahatan.
Karena rasa takut, pikiran manusia
diisi dengan rasa khawatir dan konflik.
Dia akan kehilangan akal sehatnya.
Pikiran atau jiwanya akan hancur.
Karena ketakutan, pikiran manusia dipenuhi dengan kebencian.
Seluruh hidupnya akan diisi dengan kepahitan.
Kebahagiaan hidupnya akan sirna.
Sachiddananda..
Sachiddananda adalah titisan dari Dewa Mahakuasa, nak.
Sebaliknya dari takut, manusia menjauh dari Yang Maha Kuasa.
Tapi pemujaan kepada Dewa Indra, bukan berarti memuja ketidakadilan, paman.
Anakku, Prativindha.
Tidak ada kekuatan yang begitu besar
yang tidak bisa dikalahkan.
Dan tak ada ketidakadilan yang begitu kecil
yang tidak perlu dikalahkan.
Karena ketidakadilan yang kecilpun dengan berlalunya waktu
dapat berubah menjadi bencana besar.
Apakah aku benar, Ratuku yang baik?
Badut yang terhormat!
Setelah menghancurkan kesombongan Dewa Indra,
apa yang Sri Krishna lakukan?
Pangeranku! Pangeranku!
Kisah-kisah Yang Mulia Vasudeva tidak terhitung banyaknya.
Jika kalian semua tidak keberatan, bisakah kita akhiri kisahnya sampai disini?
Malam telah semakin larut. Dan begitu fajar menyingsing
ritual pernikahan juga akan segera dimulai.
Tidak, badut tersayang.
Setelah menggoda seseorang dengan makanan
dan menggambarkan rasa dari setiap potongan makanan,
kau tidak bisa menghilangkan potongan lainnya dari makanan itu.
Kau harus memberitahu kami kisah
akhir dari Kansa, Raja Mathura.
Baiklah, dengarkan baik-baik.
Kegelapan merambat ke kerajaan Mathura dan bersemayam di pikiran Kansa.
Hati Kansa yang busuk kehilangan semua rasa cinta dan kasih sayang.
'Ketakutan mencengkeram pikirannya dan kesombongan merusaknya. "
"Ketika saat-saat terakhirnya mendekat, ia kehilangan semua kesadarannya. '
Vasudeva!
Apakah Raja Gokul dari Yadawa itu temanmu?
Apa yang ingin kau tahu, Kansa?
Anaknya telah mengangkat bukit Govardhana!
Bagaimana ia bisa begitu kuat?
Siapa dia?
Apakah kau curiga, kakak
bahwa ia adalah anakku?
Tapi anak kedelapan yang aku lahirkan adalah perempuan.
Dia adalah ilusi!
Rahimmu telah melahirkan sebuah ilusi
untuk menipuku!
Vasudeva pasti telah mengirim
anak kedelapan mu ke tempat temannya untuk diselamatkan.
Tidak, kakak!
kau telah mengambil semua bayiku
dan membunuh mereka ketika lahir.
Lalu bagaimana bisa ada bayi yang masih hidup?
Katakan padaku!
Tenang, Devaki.
Waktunya telah tiba
saat Kansa menyadari ajalnya akan tiba.
Dengar, Kansa.
Raksasa-raksasa yang telah kau kirimkan
telah menemui ajal mereka.
Bahkan Iblis wanita Putna telah bertemu kematiannya.
Namun, kau tak tahu.
Pertama, akan ku ceritakan tentang anak ketujuh Devaki.
Anak ketujuh Devaki
pada bulan ketujuh
dipindahkan oleh para Dewa ke rahim
istri keduaku, Rohini.
Namanya Sankarshana.
Karena ia sangat perkasa, ia juga dikenal sebagai Balarama.
Dia aman di rumah temanku, Nanda.
Dan nama anak kedelapanku adalah
Krishna!
Anak dari Nanda, Krishna!
Dia bahkan telah mengalahkan ular Kaliya.
Dan telah mengangkat bukit Govardhana hanya dengan satu jari.
Suamiku, kakakku telah dibutakan oleh kesombongan.
Dia akan membunuh anak kita! Suamiku!
Jika ia memang mampu untuk membunuh anakmu..
itu mungkin sudah dilakukannya beberapa tahun yang lalu.
No comments yet. Be the first to leave one.