Release info

경우의-수-More-Than-Friends-E12-NEXT-iQIYI
A Commentary by ANANG2196

Tags

other
Published on: 2020-11-08
Downloads: 9
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

[Nama, bisnis, tempat, dan insiden yang disebutkan hanyalah fiksi.]

Soo.

Ya?

Jangan simpan apa pun yang terlalu kau cintai di sisimu.

Kenapa?

Karena itu akan menyakitimu

atau kau akan menyakiti mereka.

Mengerti?

Baiklah.

Haruskah kita putus?

Itu berat, bukan?

Maafkan aku

kau menderita sendiri.

Karena tidak bisa membantu.

Tapi jangan bilang begitu.

Jangan mencampakkanku.

[Kalian harus tetap dekat karena mencintai mereka.]

Cinta tidak berbalas sudah berakhir, bukan?

Aku tidak perlu menunggu lagi, bukan?

Aku tidak butuh jawaban.

Aku tidak akan menunggu lagi.

Kapan bantuan akan datang?

Begitu kita memanggil mereka.

Aku tidak menelepon mereka.

Apa?

Bagaimana cara kita pulang?

Jangan khawatir. Aku akan mengantarmu pulang.

Apa yang kau lakukan?

Aku selalu merencanakan semuanya.

Hei, kau.

Jangan marah, Sayang.

Sudah selesai.

Ayo, Sayang.

Hentikan itu.

Kenapa, Sayang?

Ada apa, Sayang?

Sayang.

Hentikan itu.

Sayang.

[Episode 12: Luka Yang Lebih Dalam Dari Cinta]

Kalian berpacaran, bukan?

Tidak.

Kau memegang bunga, bersenandung, dan menyeringai,

tapi kalian tidak berkencan?

Tidak.

Ibu tidak akan mengeluh.

Kenapa kau tiba-tiba menyembunyikannya?

Begini... Aku tidak menyembunyikannya...

Kau masih muda. Kau harus berkencan.

Kau tidak ingin menua sendiri.

Selama bukan si berengsek itu.

Apa?

Selama bukan si berengsek itu...

Jangan bilang...

Apa? Ada apa? Apa?

Jangan si berengsek itu. Tidak akan pernah.

Kenapa kau menyebutnya berengsek?

- Dia orang berharga... - Dasar bodoh.

Kau tidak punya harga diri.

Kau sungguh membela si berengsek yang membuatmu menangis?

Aku yang menangis. Bukan dia yang membuatku menangis.

Dia punya alasan.

Sudah Ibu bilang. Jangan dia. Tidak akan pernah.

Astaga.

Selamat malam.

Satu, dua, tiga.

Halo?

Kau mendengar perasaanku?

Apa ini?

- Kyung Woo-yeon. - Ya?

- Woo-yeon. - Ada apa?

Woo-yeon.

Kenapa kau terus memanggilku?

Menyenangkan sekali melakukan ini.

Aku setuju.

Haruskah kita bicara semalaman sampai tertidur?

Tidak bisa. Aku mendengkur.

Tidak apa-apa. Aku menggertakkan gigiku.

Apa rencana besok?

- Besok? - Kita harus pergi kencan pertama.

Kita harus bersama sepanjang hari.

Entahlah. Apa yang harus kita lakukan?

Apa yang ingin kau lakukan?

Kau akan menuruti semua permintaanku?

Tentu saja. Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan.

"Kau akan mematahkan hidungmu jika jatuh ke belakang

dan kepalamu akan retak jika kau jatuh ke depan."

Tidak akan ada yang berhasil hari ini

dan keadaan akan menjadi yang terburuk.

Kau harus lebih berhati-hati hari ini."

Apa ini? Itu membuatku merasa tidak nyaman.

[Kau tidak lupa hari ini, bukan? Kita akan berkencan hari ini.]

Kencan apa?

- Apa ini? - Hadiah untukmu.

Mulai sekarang, terimalah bunga dariku.

Hanya berikan hadiah bunga kepadaku.

Jika diberikan ke wanita lain, kubunuh kau.

Kenapa kau selalu membicarakan hidup dan mati?

Jadi, apa rencana hari ini?

Apa pun yang kita lakukan, ini akan menjadi hari yang baik.

Woo-yeon.

- Maaf. - Maaf.

Kau baik-baik saja?

Hari ini akan menyenangkan, bukan?

Apa yang terjadi?

Kenapa dia belum datang?

- Jin-ju. - Kenapa kau terlambat?

Maaf. Tadi kemacetan.

- Kenapa kau terlambat? - Maafkan aku.

Kenapa kau menata rambutmu?

Aku menata rambutku karena kita akan berkencan.

Kelihatannya aneh, bukan?

Ini bukan kencan. Jangan salah paham.

Ini bukan kencan. Aku hanya membalas

atas bantuanmu waktu itu.

Aku tidak peduli apa itu.

Yang penting adalah kita menonton film bersama.

- Ayo. - Baiklah.

Hei, itu Woo-yeon dan Soo.

Kenapa mereka bersama?

Apa?

Mereka akan berpikir aneh melihat kita bersama.

- Kenapa? - Mereka akan berpikir kita kencan...

Aku tidak mau mereka salah paham.

Hampir saja.

Apa aku membuatmu malu?

Tidak.

Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin disalahpahami.

Seharusnya aku belajar lebih giat.

- Apa? - Seharusnya, aku ke sekolah terbaik

dengan pekerjaan lebih baik.

Seharusnya aku menjadi orang dewasa yang lebih baik.

Hei.

Pergi ke universitas bagus

dan punya pekerjaan bagus tidak membuat orang lebih baik.

Entahlah. Itu hanya terlintas di benakku.

Ayo.

- Halo? - Halo?

- Apa? - Apa?

Bagaimana bisa aku begitu sial hari ini?

Bagaimana dahimu? Kau butuh salep?

Kenapa kau tertawa?

- Kau aneh. - Kenapa?

Kau tidak seperti Soo yang kukenal.

Lupakan dia. Dia sudah mati.

Menyenangkan berada di sini, bersama seperti ini.

Aku mau ke toilet.

Baiklah.

Astaga.

Maaf.

- Kau baik-baik saja? - Kau baik-baik saja?

- Ya, aku baik-baik saja. - Tunggu sebentar.

Haruskah kita sudahi hari ini?

Ya.

Baiklah.

Tapi kau tidak lapar?

- Apa? - Begini...

Kita tidak bisa makan dengan benar atau menonton film itu.

Kau baik-baik saja?

Aku baik-baik saja,

tapi pakaianku...

Aku tidak keberatan,

tapi kau mungkin tidak nyaman.

Benar.

Atau

kau mau ke rumahku?

Kita juga bisa makan di sana.

Kita tidak bisa berkencan hari ini.

Kurasa begitu.

Jadi, kita ke rumahku.

Baiklah.

Pak Kim Jun-young memutuskan menggugatmu

untuk kasus penyerangan tanggal 8 Agustus.

Dia punya rekaman dan laporan medis jadi buktinya jelas.

Sebaiknya berdamai saja.

Aku tidak berniat berdamai dengan baik.

Nikmatilah nasi kacang yang disajikan di balik jeruji.

Kau bilang itu kesukaanmu, bukan?

Dasar berandal.

Bisa kami bicara berdua?

Tentu.

Itu terlalu besar, bukan?

Apa yang kau lakukan?

Kau tampak sangat manis. Aku harus mengingatnya.

Apa ini? Ini bukan penampilan yang terbaik dariku.

Kupotret lebih sering saat hari terbaikmu.

Coba kulihat.

Kelihatannya bagus.

Kau fotografer yang cukup hebat.

Kau cukup pandai memukul orang.

Kau sangat kuat.

Tidak mungkin. Aku sangat lemah.

Apa maksudmu? Kau kuat.

Lihat.

Kau terlalu dekat.

Berikan dompetmu.

- Kenapa? - Untuk memasukkan uang damai.

- Kenapa kau yang membayar? - Cepat serahkan.

Kenapa kau memberikannya secara tunai?

Jika kutransfer padamu, kau harus bayar pajak 22 persen.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left