The first 200 lines.
Inilah Amber, Pemirsa. Amber, keluarlah.
- Larry! - Hai.
Bergeserlah sedikit.
Aku memintamu bersiap saat aku kembali.
Aku...
Sudahkah kau beranjak sejak aku pergi tadi pagi?
Tentu saja. Apa maksudmu?
Aku bangun untuk memberikan tip pada pelayan.
- Larry. Tidak lucu. - Itu lucu.
Mungkin lucu minggu yang lalu. Tapi...
Cukup! Setiap aku masuk, kau cuma duduk di situ...
Dengan keripik, kue, dan menonton...
Maury.
Dengar, kita harus bertemu wanita itu dalam beberapa menit.
Jadi, kau harus berpakaian agar kita bisa melihat rumah itu.
Biarkan aku selesai menonton.
- Kau harus ganti baju sekarang. - Tidak.
Mereka akan masuk pelatihan, aku mau tahu siapa yang direhab.
- Bangunlah! - Mereka menekan peserta...
- Dan peserta menangis. - Dan ganti baju.
Lalu saat selesai pelatihan, mereka akan jadi lebih baik.
Apa kau sudah pensiun dan hanya mau lakukan ini seumur hidup?
- Dan kau tak akan bekerja lagi? - Tentu akan bekerja lagi.
- Kapan? Saat ini masa produktifmu. - Entahlah!
- Apakah kau cuma mau... - Tidak! Aku mau bekerja.
Jika ada pekerjaan yang mau kulakukan.
Aku mau kau berganti baju agar kita bisa melihat rumah ini.
- Baik. - Bagus. Terima kasih.
Baiklah. Ini Brittany. Keluarlah.
Lihat gadis itu keluar. Lihat.
Kalian tak tahu aku!
Kalian berengsek! Tidak apa-apa.
Ya. Ayo.
Ayo.
Kalian berengsek! Berengsek!
- Rumah ini besar! - Benar-benar besar.
- Kurasa agak kebesaran. - Tidak terlalu besar.
- Lihat ukurannya. - Kupikir sesuai sekali.
Sesuai? Rumah ini seperti untuk keluarga Osmond. Ayolah.
Entah kenapa kita menjual rumah lama. Apa karena kabelnya?
- Kabelnya membuatku gila. - Itu bukan alasan untuk pindah.
Itu alasannya. Saat kau tak bisa menyingkirkannya.
Agen real estatnya datang.
Hai.
Kenapa kita harus tinggalkan hotel? Aku suka hotel itu.
Aku tak bisa tinggal di sana. Itu bukan rumah.
Ada pelayan, ada telepon untuk membangunkan.
Kapan kau gunakan itu? Kau tak pernah pergi.
- Saat tidur siang. - Astaga.
- Hai. - Halo.
- Tidakkah rumah ini indah? - Ya.
- Hanya saja... - Terlalu besar.
- Aku suka. - Ini menarik. Kalian akan suka.
Aku punya informasi.
Mereka itu penjual yang bermotivasi tinggi.
Rumah ini mudah terjual cepat.
Jika kalian suka, kita buat penawaran.
Aku sudah tanya mereka tentang transaksi tunai.
- Mereka setuju. - Bagus.
Itu bagus sekali.
Jadi, kalian bisa masuk dalam beberapa hari.
Apa maksudmu beberapa hari? Berapa hari?
Mereka sudah beli rumah lain, jadi siap untuk pindah.
- Halo. Hai, Susan. - Apa kabar?
- Baik. Apa kabarmu? - Barbara Schneider.
- Ini Cheryl dan Larry David. - Senang bertemu dirimu.
- Larry, senang bertemu. - Astaga! Apa itu lautan?
Ya. Kau akan terbiasa dengan pemandangan ini dalam dua hari.
- Silakan masuk. - Aku meragukan itu.
- Ini indah sekali. - Bagus, ya?
Kami memiliki langit-langit melengkung.
- Sangat luas. - Indah. Furniturnya! Fantastis, ya?
- Sesuai sekali dengan ruangannya. - Rumah yang indah.
- Benar-benar indah. - Terima kasih.
Ini pemandangan kami yang luar biasa. Tiap sarapan.
- Matahari terbit. - Aku suka laut.
- Ayahku seorang nelayan Italia. - Sungguh?
- Dia datang dari Italia. - Tadi pagi, kau akan suka ini.
Aku melihat paus beranak. Aku tak pernah melihat itu.
- Sangat jarang. - Bisa menembak paus dari teras?
- Apa? - Aku suka sarapan lemak paus.
- Jangan tanggapi dia. - Tanggapilah.
Apakah mereka ini penawar baru?
Larry David, Jay Schneider.
Aku meneleponmu saat kau di acara Seinfeld.
Aku kerja pada Agensi William Morris.
Aku akan meneleponnya, menawarkan klienku.
- Baik. - Apa kabar? Aku Jay Schneider.
- Aku Cheryl. - Senang berjumpa denganmu.
Kau tak akan percaya ini. Aku baru mengontrak Jason Alexander.
- Yang benar! - Dua bulan lalu.
- Dia hebat. - Luar biasa.
- Aku beruntung. Luar biasa. - Aktor hebat.
- Apa kabarnya? - Sejujurnya, dia agak susah.
- Benarkah? - Orang mau George Costanza.
- Tak ada yang seperti George. - Dia tak seperti George.
Dia kebalikannya. Jason cerdas, George bodoh.
Sulit bisa menyaingi itu. Karakter yang bisa dia perankan.
- Menurutmu dia bodoh, ya? - Dia dungu.
Setiap komedi situasi butuh itu. Apa kegiatanmu?
- Tak ada. - Pastinya.
Kau punya ide? Ada yang siap dikerjakan?
Aku punya ide, tapi aku tak mau membuatnya.
Bagaimana kalau kita satukan kau dan Jason lagi?
- Ayo kita bertemu. - Kau perlu meneleponnya.
Kau sedang tak ada pekerjaan, ayo kita bertemu.
- Aku hanya... - Kau sedang tak bekerja.
Ayo kita bertemu dan membahas ide-ide.
- Kurasa itu ide bagus. - Tak mau memaksakan.
- Sweter yang bagus. - Terima kasih. Ini kasmir.
- Sungguh? - Tidak untuk dijual.
- Itu kasmir? - Seratus persen.
Bahan yang bagus.
- Ayo lihat ruangan yang lainnya. - Baik.
Ya, ayo kita lihat.
Aku sangat suka rumah itu. Kurasa itu sempurna.
- Larry, kau suka? - Aku suka.
- Kau pikir itu sempurna? - Aku sangat suka. Itu rumah bagus.
- Besar, tapi aku suka. - Bagus.
- Cuma itu yang aku butuhkan. - Kamar tidur utamanya?
Aku suka kamar tidur utama, ruangan bawah, perapiannya.
Aku mau tanya sesuatu. Apa kau melihat ketika...
Aku bertanya tentang sweter itu dan dia bilang 100 persen kasmir?
Itu tak mungkin.
Mungkin 35, 40, paling banyak 50.
Tapi 100?
- Makin cepat semakin baik. - Itu tak mungkin...
- Kau ingin segera masuk? - Tunggu.
Kau percaya pria tadi padahal dia bohong tentang kasmir?
- Kau nyaman dengan itu? - Kita tak beli sweter, tapi rumah.
Dengar. Kita harus bicara berapa penawarannya.
Tentu.
Orang macam apa yang berbohong soal persentase kasmir di sweternya?
Kasmir palsu atau tidak, ide bagus kau kerja dengan Jason.
Aku suka Jason. Aku cuma tak mau kembali ke TV lagi.
Ayolah! TV itu media yang sangat baik.
- Terlalu sibuk. - Terlalu sibuk? Kau harus bekerja.
- Semua acara TV menyebalkan. - Kau harus bekerja.
- Kau harus bekerja. - Aku menikah. Itu sudah sibuk.
Baik, tapi kau perlu mulai menulis.
Untuk kebaikanmu sendiri. Untuk kewarasanmu.
Kenapa? Aku tidak gila. Kau pikir aku gila?
Dengar, Richard Lewis ingin aku menjadi manajernya.
- Sungguh? - Tapi aku mau kau jujur padaku.
- Tentu. Baiklah. - Benar-benar jujur padaku.
Apakah dia terlalu banyak menuntut?
- Kau bercanda? - Perannya mirip dengan pribadinya?
- Ya. Lalu kenapa? - Aku akan mengontraknya.
- Itu bagus, kau suka itu. - Bagus.
Aku tak percaya dia tak menyinggung ini padaku.
Tom!
- Apa kabar? - Jeff! Hai, senang bertemu.
Senang bertemu juga. Tom Clark, Larry David.
- Larry David, Tom Clark. - Senang bertemu denganmu.
- Senang bertemu. - Tom, silakan duduk.
- Tom menjual Toyota Sequoia-ku. - Dari Toyota of Hollywood?
- Ya. - Kau agen mobil?
- Ya. Tapi aku juga senang menjual. - Benarkah?
- Ada orang penting datang. - Dia orang penting?
- Dia manajer. - Bagus. Manajerku orang penting.
- Kau naik mobil apa? - Mobilku Prius.
- Kau senang dengan Prius? - Sangat. Dan Prius senang denganku.
Aku mau tanya.
Bagaimana seseorang bisa menjadi penjual mobil?
Haruskah punya banyak pengalaman?
Itu sudah mendarah daging padaku.
Perlu waktu bertahun-tahun untuk menjadi penjual mobil.
Aku selalu merasa bisa menjadi penjual yang hebat.
- Kau harus punya bakat. - Aku bisa meyakinkan siapa saja.
Kecuali wanita untuk bercinta. Hanya itu yang tak bisa kulakukan.
Tapi di luar itu, aku bisa memanipulasi orang.
Aku ahlinya.
- Penjual mobil bukan pembohong. - Memang bukan.
Kami orang-orang jujur, khususnya di antara penjual.
Terus terang, aku suka menghasilkan uang banyak.
Tapi aku suka menjual mobil. Sungguh.
Jika aku mau melakukan itu untuk sehari saja.
- Jual mobil? - Ya. Untuk sehari saja.
- Kurasa tak bisa. - Aku cuma ingin tahu apa aku bisa.
Karena aku selalu berpikir aku hebat dalam hal itu.
Kau tak bisa lakukan itu. Kau penulis.
- Apa pekerjaanmu? - Kau tahu siapa dia?
Dia Larry David yang membuat acara Seinfeld.
Paham?
Lupakan itu. Aku cuma mau mencoba sehari.
- Kurasa bagus. Bekerjalah untukku. - Sungguh?
- Mungkin untuk dua atau tiga hari. - Apa maksudmu?
- Kenapa? - Apa maksudmu dua atau tiga hari?
- Apa masalahmu? Apa pedulimu? - Apa peduliku?
- Bagaimana jika aku pintar menjual? - Bagaimana jika pintar menjual?
Kau tak akan bisa menjual mobil di hari pertama.
Dengar. Aku jamin aku akan menjual mobil lebih banyak...
- Dari siapa saja di tempatmu. - Tak akan bisa pada hari pertama.
Tak ada yang bisa menjual pada hari pertama.
- Kita lihat nanti. - Begini saja.
Mampirlah, ambil brosurnya. Kau tahu alamat kami.
Akan kuambil brosur dan mempelajari semuanya.
Jangan cemas. Aku akan siap saat aku ke sana.
- Datanglah Senin pagi. - Aku hargai ini.
- Ini seperti fantasiku. - Baik. Senin pagi.
No comments yet. Be the first to leave one.