The first 200 lines.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
Lepaskan aku!
Jangan bergerak.
Di mana bajuku?
Aku tidak tahu!
Siapa kau?
Memangnya siapa kau?
Jangan bergerak!
Sial, kau menyakitiku!
Jangan bergerak.
Lepaskan aku.
Kurasa…
kita menempel.
Apa?
Jangan bergerak!
- Jangan sentuh aku! - Berhenti berteriak!
Kumohon…
Ini sakit… Kepalaku sakit.
Siapa kau?
Angkat badan sedikit.
Aku hanya ingin tahu kenapa kita tak bisa lepas.
Apa itu?
Pita bedah?
Apa?
Kurasa kita…
menempel bersama.
Menempel bersama?
- Bagaimana bisa? - Entahlah.
- Dengan lem? - Entahlah.
- Tolong! - Kita harus tenang.
- Tolong! - Tenanglah.
- Tolong! - Tenanglah.
Jangan bergerak.
Jangan bergerak.
Jangan bergerak sebentar!
Jangan bergerak!
Kenapa kau lakukan ini kepadaku?
Aku tak melakukan apa pun.
Siapa kau?
Memangnya siapa kau?
Jika kita tidak tenang, ini akan makin parah.
Mengerti?
Kita harus melepaskan diri.
Tidak, kurasa tak bisa.
Kenapa?
Hentikan!
Hentikan!
Hentikan!
Bagaimana aku bisa di sini?
Di mana kita?
Ayo coba lagi. Dengar. Kita akan mencobanya lagi.
Kepalaku…
Aku haus sekali.
Aku juga.
Apa hal terakhir yang kau ingat?
Aku meninggalkan rumah…
Aku harus bertemu suamiku.
Bagaimana denganmu?
Aku ada kencan.
Kita pasti dibius.
Caranya?
Entahlah.
Rohypnol…
scopolamine, scoop.
Scoop?
Penaklukan dengan bahan kimia.
Itu menjinakkanmu, menjadikanmu zombi.
Lalu kau tak ingat apa pun.
Bagaimana kau tahu semua ini?
Memang kau hidup di mana?
Obat-obatan ini dipakai oleh…
Siapa?
Pemerkosa.
Tenanglah.
Apa kau memerkosaku juga?
Aku tak melakukan apa pun kepadamu!
Lepaskan aku!
Itu bekas jarum.
Kau membiusku.
- Lepaskan. - Lepaskan aku.
Kita dijahit bersama.
Kita dijahit bersama.
- Kenapa kau diam saja? - Untuk menghindari ini.
Tenanglah.
Tenanglah.
Tenanglah. Ini pasti hanya kulit ke kulit.
"Hanya"?
Ya. Kita bisa memotong benangnya. Bekas lukanya tak akan kentara.
Kenapa seseorang melakukan ini?
Apa dia mau tebusan?
Dia tak akan dapat banyak dariku.
Aku kedinginan.
Jangan sentuh aku.
Aku hanya mencoba membuatmu hangat.
Kedua lukisan itu mirip.
Mereka seolah-olah menatap kita.
Di mana kita?
- Ini mungkin kamar hotel. - Kurasa bukan.
Bagaimana sekarang?
Seseorang membius kita.
Pada suatu saat.
Saat kita tak sadarkan diri…
dia melakukan ini kepada kita.
Dia membawa kita ke sini.
Atau menjahit kita di sini.
Tenanglah.
Tarik napas.
Tarik napas.
Biarkan aku.
Aku hanya coba menenangkanmu.
- Tenanglah. - Biar kutegaskan satu hal.
Sampai terbukti sebaliknya, kau tetap tersangka utama.
- Tak adil, 'kan? - Yang terjadi kepadaku ini tak adil.
Yang terjadi kepada kita.
Bagaimana aku yakin kau bukan orang gila yang merencanakan ini?
Aku tak perlu membius wanita untuk menidurinya.
Kita tak tahu ini siang atau malam.
Semua barang kita diambil.
Pakaian…
Jam tangan…
Ponsel kita.
Setidaknya antingmu masih ada.
Apa?
Ada apa?
Ini bukan milikku!
- Milik siapa? - Bagaimana aku tahu?
Menjijikkan!
Astaga!
Kita benar-benar celaka.
Sialan, itu menjijikkan! Kumohon…
Ada telepon di meja.
Kita bisa minta tolong.
Tak akan berfungsi.
Kenapa tidak?
Penculik tak akan menaruh telepon.
Dengar,
mungkinkah pacarmu melakukan ini?
Pacar yang sangat marah?
Aku sudah menikah.
Seperti kataku.
Jangan ganggu aku.
Jika kau mau, aku akan pergi.
Aku malas bercanda.
Aku tertawa agar tak menangis.
Pasti ada penjelasan.
Ayo berpikir.
Kenapa seseorang melakukan ini?
Apa kita punya hubungan?
- Di mana kau tinggal? - Dekat zona industri.
Sepertinya kau tak tinggal di sana.
- Aku tinggal di Taman Augusta. - Ya, tentu saja.
- Kau punya saudara? - Tidak.
Aku anak tunggal. Kau?
Aku yatim piatu.
Maaf.
Di mana kau bekerja?
Di pelabuhan.
Aku bekerja di toko pakaian.
Dahulu.
Berapa usiamu?
Usiaku 38.
Kau?
Usiaku 33.
Aku masuk sekolah negeri. Kau pasti sekolah swasta.
Kita jelas tak memiliki kesamaan.
Alat pengendali.
Ada kamera.
Kita sedang direkam.
Di mana?
Entahlah.
Kita harus berpisah.
Tapi aku tak tahu caranya.
Aku dengar pintu ditutup.
Di mana kita?
Suara anjing.
Dekat penampungan anjing?
Telepon.
Kita harus bangun dan memanggil bantuan.
Percuma saja.
Setidaknya harus dicoba.
Baiklah. Kita akan bangun.
Ini akan menyakitkan.
Apa yang kau lakukan?
Bukan seperti itu.
Biar aku saja.
Pertama, kita coba beranjak ke tepi kasur.
Ikuti arahanku.
Aku akan berguling ke arahmu, paham?
Sekarang kita duduk sedikit.
Ayo.
Sekarang, bagaimana kita berdiri?
Omong-omong, namaku David.
Sara.
- Saat kubilang "sekarang", kita berdiri. - Baik.
Satu, dua, sekarang!
Pegangan erat!
Kubilang pegangan erat, Sialan!
Aku tak punya tenaga, Bodoh!
- Jangan menghinaku! - Atau apa? Memukulku?
Maaf. Ini sakit.
No comments yet. Be the first to leave one.