The first 200 lines.
"Semua Karakter Tempat Kejadian Dalam Drama Ini Sepenuhnya Fiksi"
Bagus. Anggap dirimu sudah mati.
Kau selalu terbunuh.
Kali ini berbeda.
Aku dapat retasan satu juta won kali ini.
[Retasan, program peretasan ilegal yang menaikkan kemampuan karakter daring]
Bahkan jika mati, aku akan hidup lagi.
Baiklah.
Tidak.
Itu dia.
[kau harus mendorong dirimu untuk mengalahkan sainganmu.]
Bagus!
Kau terjebak.
[Tapi usaha dan kualifikasi tidak menjamin kemenangan.]
Sial, retasan lagi.
Permainan ini menjadi permainan ayam yang bodoh.
Retasan itu bakat dan keterampilan.
Jangan macam-macam denganku.
Ini permainan ayammu.
Berhenti memainkan itu dan pergilah.
Baiklah.
Cepat.
Baiklah, aku pergi.
Kau mau minum lagi?
Tentu saja! Di mana?
Tempat yang sangat keren!
Apa ini?
Diam?
Ini kesempatan terakhirku untuk menjadi reporter sungguhan.
Diam?
Rahasia sampai selesai.
Rencanamu tampak keren,
tapi kartu ini terlihat payah.
Tidak ada nama atau nomor telepon.
Apa gunanya?
Entahlah.
Kita akan tahu saat waktunya tiba.
Ada apa dengan titiknya?
Apa itu singkatan dari sesuatu?
Tajam seperti biasanya, Ki-ha andalan kita.
- Aku juga melihatnya. - Bagus.
Jika kalian bisa menebak apa itu,
aku akan mentraktir kalian makan malam steik lengkap.
Benarkah?
Kau tidak perlu melakukan itu.
Istriku menyuruhku mengurangi daging.
Ini bukan "laporan eksplorasi"...
Jangan ke sana.
Sederhana.
[Kematian reporter magang cepat terlupakan]
[Manual Manajemen Krisis Harian Korea/Harian Korea Digital]
Apa ini soal restrukturisasi?
Tidak.
Kita harus mengembangkan, bukan merestrukturisasi.
Kita harus mengubah citra publik kita
serta merenovasi dari dalam.
Citra pers ditentukan oleh "kisah yang bagus".
Hanya internet yang bisa menjadikannya "isu bagus".
Kehadiran daring kita akan menentukan hasil pertarungan.
Entahlah.
Bukankah kita harus memperkuat kedisiplinan kita dahulu?
Perubahan dan perluasan ini akan menjadi kesempatan
untuk meningkatkan disiplin dan kompetensi kita.
Omong-omong, para pemagang sekarang reporter junior, bukan?
Ya.
Anda punya rencana untuk mereka?
Tidak juga.
Tapi menurutku kau harus memisahkan mereka.
Aku memercayaimu dalam hal ini.
Terima kasih, Pak.
Aku akan mengurus ini.
Baiklah.
Periksa akun media sosial Berita Koryeo.
Hitung suka, komentar, dan pengikut mereka,
lalu bandingkan dengan yang pekan lalu.
Baiklah.
Ringkaslah setengah halaman sebelum makan siang
dan bawa ke mejaku.
Sebelum makan siang? Bukan makan malam?
Ya, sebelum makan siang.
Ju-an lebih andal menangani komputer,
jadi, melakukan lebih banyak darimu.
Baiklah.
Jangan menyanjung dirimu sendiri.
Kami mempekerjakanmu untuk hal ini.
Teruskan!
Zaman sekarang sulit dapat pekerjaan.
Jadi, kau harus bertahan di sini.
Tidak melakukan apa pun seperti biasa.
Kita kehilangan manajer SDM dan jaksa.
Kita mulai dari mana lagi?
Kita harus memeriksa
catatan sidang ini.
Aku akan bicara dengan temanku di Kejaksaan untuk menghubungi ulang.
Kau bilang tidak akan pernah menjadi reporter persidangan.
Tidak akan.
Ini hanya makan malam dengan teman kuliahku.
Hati-hati.
Mereka tetap sangat terampil melakukan manipulasi di bawah meja.
Aku tahu. Jangan khawatir.
Ini iblis.
Kita harus menyingkirkan ini.
Kau kecewa kemarin?
Kau harus memukul, bukannya dipukul.
Rasanya menyakitkan seperti memotong dagingku sendiri,
tapi aku harus menjual kisahnya.
Perusahaan harus tetap utuh.
Kita harus mencari nafkah.
Anda memanggilku untuk mengatakan itu?
Tidak.
Ini tentang para pemagang.
Mereka kini secara resmi reporter junior kita.
Kau bertanggung jawab atas mereka.
Tanya mereka ingin pergi ke Meja mana.
Apa maksudmu?
Bukankah Anda akan memakai mereka untuk pekerjaan tempel dan salin?
Mereka juga korban.
Anggap saja sebagai tindakan pereda.
Untuk saat ini, kirim mereka ke mana pun mereka mau.
Beri mereka telur mentah di Warung Camilan Im.
Jun-hyuk.
Aku mengerti.
Tapi jangan memendamnya terlalu lama.
Perusahaan lebih suka orang serakah daripada pemarah.
Redaktur Um, kopi di ruanganku.
Apa?
Menugaskan ulang para pemagang? Kau sudah gila?
Kau sungguh akan memperlakukan mereka sebagai reporter sungguhan?
Mereka sekarang resmi reporter tetap, bukan?
Kau memanggil semua orang reporter zaman sekarang?
Kita kekurangan orang.
Setelah semua latihan...
Latihan apa?
Mengajarkan menyalin dan menempel bukan latihan.
Mereka direkrut dua bulan setelah perekrutan reguler.
Jadi, mereka seharusnya melakukan itu.
Setelah insiden itu, kita harus memberi mereka posisi tetap.
Sekarang mereka dimutasi?
Kenapa aku tidak dimutasi?
Tidak ada yang mendengarkanku.
Jae-eun.
Meja apa pun yang mereka inginkan?
Benarkah?
Ini.
Terima kasih.
Apa yang ingin kau katakan?
Ya.
Itu...
Kurasa kita harus melakukan sesuatu.
Melakukan apa?
Tentang Soo-yeon.
Ada apa dengannya?
Kau sungguh tidak tahu?
Kau yang tidak tahu.
Apa yang harus kita lakukan?
Tidak, kita bisa apa?
Kenapa kau mengatakannya seperti itu?
Sejujurnya, kita semua mendengar perkataan Kepala.
Jadi, maksudmu dia meninggal
karena perkataan Kepala?
Kau mau melapor ke polisi bilang Kepala membunuhnya?
Ji-soo.
Jika kita semua bunuh diri karena kata-kata kasar,
tentara di kemiliteran adalah zombi yang mati.
Bukan itu maksudku.
Ya, begitulah.
Sejujurnya, aku tidak memahami Soo-yeon.
Dia seharusnya hidup dengan keberanian untuk mati.
Bagaimana dengan kita jika dia bunuh diri seperti itu?
Bukankah itu tidak bertanggung jawab dan egois?
Apa?
Apa yang kau...
Ju-an, kau sudah keterlaluan.
Keterlaluan bagaimana?
Aku tidak salah, bukan?
Keluargaku juga miskin, jadi, aku harus belajar sendiri.
Semua temanku les privat mahal.
Aku tidak punya koneksi,
jadi, kumasukkan semua kualifikasi di resumeku untuk masuk kemari.
Reporter magang diangkat menjadi repoter tetap?
Ini bukan kesempatan biasa di bidang ini.
Kenapa aku harus mempertaruhkan pekerjaanku padahal itu bukan salahku?
Mempertaruhkan?
Soo-yeon meninggal karena diskriminasi...
Diskriminasi?
Dia berbeda, bukan didiskriminasi.
Dia memang lulusan universitas yang biasa saja.
Kenapa kalian bermalas-malasan?
- Minggir. - Baik, Bu.
Lihat sisi baiknya.
Lagi pula, itu lebih baik bagi mereka.
Di mana pun lebih baik daripada di sini.
Mereka tidak bisa belajar di sini.
Sung-han.
Kau punya dendam kepadaku, bukan?
Tidak.
Sama sekali tidak.
Ya, kau punya.
Jang Jae-kwon menjadi Redaktur Politik terlebih dahulu.
Aku tidak menyimpan dendam.
No comments yet. Be the first to leave one.