The first 200 lines.
Jika aku bukan putri CEO Gipeun Cosmetics,
apa kau tetap mencintaiku?
Tentu saja.
Kenapa kau mengajukan pertanyaan hipotetis
padahal semua orang tahu kau putri CEO?
Aku bukan putri kandungnya.
Apa?
Aku bukan putri kandung Shin Muyeong.
Sebenarnya,
aku bahkan tak tahu siapa ayah kandungku.
Aku hasil dari perselingkuhan ibuku.
Tunggu.
Apa maksudmu? Berhentilah bercanda.
Siapa yang bercanda tentang hal seperti ini?
Kukira ibuku sudah memberitahumu.
Apa Pak Shin juga tahu?
Ya. / - Lalu?
Dia mengusirmu?
Ya.
Kapan kau tahu kau bukan putri CEO?
Kapan?
Kau membohongiku selama ini.
Kenapa ekspresimu begitu?
Seolah aku merenggut harapan dan impianmu.
Apa Kim Sorim tahu kau bukan putri kandungnya?
Dia tahu.
Kenapa kau melakukan ini kepadaku?
Setelah selama ini!
Jadi, kau benar-benar sampah.
Kim Sorim.
Aku yakin kau sengaja tidak memberitahuku.
Apa maksudmu?
Kau tahu bahwa Jihye
bukan putri kandung Pak Shin.
Sulit dipercaya. Kau benar-benar sampah.
Katakan.
Kau diam untuk mencari masalah denganku.
Sial.
Katakan!
Lepaskan aku.
Katakan.
Siapa ayah kandungnya tidak penting sekarang
karena dia tahu kau orang seperti apa.
Kau bercanda?
Kau merasa hebat?
Lepaskan aku. / - Kau...
Dasar kau... / - Astaga.
Sialan kau.
Kau baik-baik saja?
Ya, aku baik-baik saja.
Pak Shin, apa kau baru saja memukulku?
Aku akan menuntutmu atas penyerangan.
Ya, silakan.
Bisakah kau mengendalikan dirimu?
Karena Sorim,
kenapa kau memecat pegawai setia sepertiku
dan menjebakku atas hal yang tidak kulakukan?
Kita akan tahu kau benar atau tidak.
Pak Shin.
Mari pisahkan masalah pribadi dari pekerjaan.
Aku siap mengabdi untuk Gipeun Cosmetics.
Baik, aku mengerti, Pak Cho.
Kooperatiflah dahulu dalam penyelidikan polisi.
Sial!
Kau bisa duduk di sampingku
karena kau diselidiki atas penyerangan.
Kedengarannya bagus.
Polisi akan memutuskan harus bagaimana
saat melihat rekaman kamera pengawas.
Kau menyerang seorang wanita lebih dahulu.
Tuntut aku sesukamu.
Kau menjebakku karena Sorim
dan akan kubuktikan.
Kau juga harus mengganti kerugianku
secara psikologis.
Sadarkan dirimu!
Ayo, Sorim.
Pak Shin, aku belum selesai bicara.
Cho Namsoo!
Sial.
Kenapa kau kembali ke sini?
Aku senang kau bergabung.
Beri tahu Pak Shin
betapa Sorim mencintaiku
dan betapa dia menangis dan panik
saat aku putus dengannya.
Beri tahu dia!
Kenapa kau...
Hentikan omong kosong itu.
Apa kau harus bertindak sejauh ini?
Kau berengsek.
Geonu!
Kau benar-benar...
Semua ini salah kakakmu!
Aku akan membunuhmu.
Jangan lakukan itu. / - Pukul aku.
Pukul aku! / - Jangan, Geonu!
Hentikan. Masuklah. / - Sial kau!
Hentikan! / - Berhenti merengek dan pergilah!
Cukup. / - Hentikan!
Jangan berpura-pura. Bangun! / - Masuklah.
Jika melihatmu lagi, kubunuh kau, mengerti?
Masuklah. / - Sial!
Sial.
Di mana...
Ada satu kamera juga.
Pukul berapa ini? / - Pukul 21.00.
Lari. / - Ayo cepat.
Sial.
Apa yang terjadi di luar?
Tidak ada apa-apa, sungguh.
Toko bunganya sudah tutup?
Ya. Akan kuberikan kepada mereka besok.
Baiklah.
Sepuluh bungkus ini untuk keluarga Sangjun.
Lalu...
Pak Shin, kau bisa menikmatinya di rumah.
Terima kasih banyak.
Hei.
Ada apa dengan wajahmu? Wajahmu merah.
Bukan apa-apa.
Apa yang terjadi? Kau menabrak sesuatu?
Seseorang terbaring di luar.
Aku sudah memanggil ambulans,
tapi kurasa dia tidak sadarkan diri.
Sial.
Itu Cho Namsoo.
Kenapa dia berbaring di tanah?
Benar terjadi sesuatu.
Apa yang dia rencanakan?
Menuntut kita atas penyerangan?
Apa?
Dia membuat gaduh dan jatuh dengan selamat.
Kau melihatnya?
Ya, aku melihatnya dengan jelas.
Dia menahan jatuh dengan tangan kanannya.
Kau yakin?
Ya. Aku suka olahraga dan mataku jeli.
Bantu dia.
Jangan khawatir. Aku dokter, akan kuberi CPR.
Sorim, bisa ambilkan seember air dingin?
Air cucian kotor akan lebih baik.
Baiklah.
Ayo.
Ini orangnya.
Aku dokter. Jangan khawatir.
Mari kita lihat.
Syukurlah, dia bernapas dan ada denyut nadi.
Coba lihat. Pak.
Pak.
Bangun.
Namsoo, bangun.
Terlalu dingin berbaring di tanah saat malam.
Kurasa dia tidak sadarkan diri.
Kau bilang akan melakukan CPR.
Tidak perlu jika ada denyut nadi
dan dia bernapas.
Sorim, di mana air esnya?
Tolong banyak es!
Aku datang!
Astaga.
Ini dingin sekali.
Jangan menghalangi. / - Mundur.
Jangan menghalangi.
Ini akan membuatnya sadar.
Akan kusiramkan pada hitungan ketiga.
Satu...
Hei! Jangan pernah kembali lagi!
Dasar pecundang. / - Astaga.
Dia kabur di hitungan satu, bahkan belum dua.
Sangjun.
Kurasa Ibu tidak pulang semalam.
Nenek bicara dengannya dini hari,
dia bilang sedang di Laut Timur mencari udara.
Laut Timur?
Sangjun, kurasa dia sangat kesal.
Taeju. Ayo pindah.
Aku tidak suka tinggal di atas rumah ibuku.
Dia segan di dekatmu karena merasa bersalah.
Jika kau tidak bisa langsung berbaikan,
setidaknya berhentilah mengatakan hal-hal buruk
yang tidak kau maksudkan.
Aku akan ke tempatmu setelah wawancara.
Tidak ada kamar kosong.
Jiwoo kembali ke rumahnya untuk berkemas.
Sangjun, jika itu sangat mengganggumu,
kenapa tidak mengerjakan proyek lain?
Apa ini akan terjadi kepada kita
jika aku bukan aktor?
Ini terjadi
karena aku terkenal dan orang pikir aku kaya.
Sial.
Kukira kau bersemangat
setelah pemotretan.
Aku sudah berusaha,
tapi tetap sulit.
Haruskah kita menunda pernikahan?
Tidak, kita tetap pada rencana.
Dan cari rumah baru.
Datanglah ke rumah orang tuaku sepulang kerja.
No comments yet. Be the first to leave one.