The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
"It's My Life"
"Episode 19"
Aku
yakin bahwa aku bisa mundur
dari menjadi penerus Hyunkang.
Ternyata, aku hanya takut.
Aku tidak kompeten.
Aku bukan siapa-siapa.
Aku takut orang lain akan mengetahuinya.
Nam Jin.
Tapi,
kurasa aku tidak bisa lari lagi.
"Bukankah aku harus mencobanya meskipun aku jatuh atau kalah?"
"Jika aku berusaha sekuatnya
bisakah aku keluar dari parit yang kutinggali
dan mencapai lautan yang jauh?"
Katakanlah, Seung Joo.
Menurutmu, aku bisa melakukannya?
Ya, aku memercayaimu.
Kamu pasti bisa bekerja dengan baik.
Kakek bekerja keras membangun Hyunkang seperti sekarang ini.
Bagaimana jika aku menghancurkan semuanya?
Bukankah kamu memercayai penilaian kakekmu?
Dia seorang legenda di industri ini.
Dia tidak akan memercayakan tanggung jawab itu kepadamu
hanya karena kamu adalah cucunya.
Dia jelas melihat potensimu.
Itu sebabnya dia membuat keputusan itu.
Astaga.
Aku mau kamu menjadi kakakku karena baik dan bisa diandalkan,
tapi kamu terlalu lembut.
Kutarik lagi. Kamu tidak bisa.
Kamu tersenyum.
Omong-omong, apa rencanamu sekarang?
- Mengenai apa? - Katamu, Choi Si Woo
ingin membatalkan semua kontrak dengan Grup Minhan.
Aku tidak yakin harus berbuat apa.
Sejujurnya, itu gila.
Membalasnya ke perusahaan ayahku karena pertunangannya batal?
Aku tidak menyangka bahwa Si Woo seorang pecundang.
Kurasa dia bereaksi seperti ini
karena harga dirinya sangat tersakiti.
Harga diri?
Sejauh ini, dia bisa mengendalikan
semuanya sesuai kehendaknya.
Dia sangat berpendidikan
dan tidak pernah mengalami kesulitan keuangan.
Selain itu, dia berada di posisi yang luar biasa meski masih muda.
Menikahi orang sepertimu, gadis menawan dari keluarga mapan,
adalah jalan yang seharusnya dia tempuh.
Tapi kamu menolaknya.
Itu mungkin merusak harga dirinya.
Sulit dipercaya.
Hanya karena harga diri, dia mau membangkrutkan perusahaan?
Pak Choi.
Mau minum untuk merayakannya?
Gipsmu sudah dilepas.
Aku melepasnya hari ini. Aku merasa ringan seolah-olah bisa terbang.
Astaga, kamu tidak boleh terbang.
Karena sudah menang kontes, kamu harus bekerja sangat keras.
Kamu tidak boleh ke mana-mana.
- Ayo masuk. - Baiklah.
Halo, Pak.
Baiklah.
Ini tempat santai rahasiaku.
Tempat santai rahasiamu?
Tiap aku marah, sedang banyak pikiran,
atau ingin sendiri, aku datang ke sini.
Kamu orang pertama yang kubawa ke tempat ini,
jadi, anggaplah ini kehormatan.
Kalian datang bersama hari ini.
Apa?
Dia yang menolong Anda waktu itu saat mabuk.
Pak Choi.
Tolong bangunlah.
Jadi, kamu yang menolongku waktu itu.
Ya.
Tapi bagaimana kamu tahu aku di sini?
Omong-omong, apa aku meneleponmu saat mabuk?
Tidak, aku meneleponmu.
Pramubar itu bilang kamu sangat mabuk,
jadi, aku khawatir dan datang ke sini.
Maaf. Aku tidak ingat apa pun karena mabuk.
Apa aku membuat kesalahan?
Nona Han Seung Joo?
Kamu mengira aku adalah dia.
Jadi, aku hanya mendengarkan dengan tenang.
Entah apa yang kukatakan kepadamu, tapi tolong lupakan semuanya.
Maksudku, itu mungkin bukan hal yang bagus.
Kamu tampaknya kesepian.
Itu sebabnya aku membenci wanita itu sesaat.
Entah kenapa dia harus membuatmu begitu kesepian.
Selamat. Aku tidak mengira kamu akan menang hadiah utama.
Aku terkesan.
Ayo, bersulang.
Terima kasih. Aku berutang semua itu kepadamu.
Aku sungguh ingin melihat namamu di daftar pemenang kontes.
Terima kasih sudah menepati janjimu.
Aku berterima kasih atas semuanya.
Terima kasih sudah mengingat namaku
dan menyadari betapa putus asanya aku.
Terima kasih untuk doronganmu juga.
Kamu membuatku ingin hidup
dan aku berterima kasih atas hal itu.
Ini sebabnya aku merasa
seperti orang yang baik tiap kali bertemu denganmu.
Aku yakin bawahanku menganggapku atasan yang kejam.
Bagaimana jika mereka menjelek-jelekkanku?
Aku yakin tidak begitu.
Mulai sekarang, kamu akan sangat sibuk.
Kamu akan sering bekerja lembur dan sering stres.
Kamu yakin bisa melewati semuanya, bukan?
Ya, aku yakin, Pak.
Omong-omong,
jika kamu batal kembali ke kampung halaman dan tetap di sini
bagaimana dengan wanita itu?
Wanita itu? Siapa?
Wanita yang kamu sukai.
Apakah namanya Jin Ah?
Dia pasti menunggumu.
Jin Ah.
Dia di Seoul sekarang.
Maksudku, itulah yang kudengar.
Dia di Seoul?
Apa maksudmu?
Kamu tidak berkomunikasi dengan Jin Ah?
Jin Ah
mengabaikanku.
- Dia mengabaikanmu? - Ya.
Dia mematikan ponselnya.
Dia menghilang.
Aku juga mengiriminya surel, tapi dia tidak mengeceknya.
Kenapa?
Aku tidak tahu.
Bukankah itu aneh?
Pak Lee mengatakan dia melihatnya,
dan Si Woo mengatakan dia juga melihatnya.
Tapi dia tidak muncul di hadapanku.
Si Woo melihat Jin Ah?
Berarti kamu bisa meminta nomornya pada Si Woo.
Jin Ah melarangnya memberiku nomornya.
Dia mengatakan
bahwa aku, Yang Nam Jin,
seorang penguntit, dan dia muak kepadaku.
Jadi, Si Woo tidak memberiku nomornya.
Penguntit?
Astaga. Itu tidak masuk akal.
Bahkan aku tahu kamu tidak akan pernah melakukan itu.
Aku yakin dia punya alasan.
Itu sebabnya hatiku sakit.
Apa yang terjadi kepadanya?
Kenapa dia harus menghindariku?
Hatiku begitu sakit seolah-olah aku akan mati.
Astaga. Jin Ah kejam sekali.
Meski punya alasan,
dia seharusnya tidak menuduh pria baik sepertimu penguntit.
Astaga. Yang benar saja.
Nam Jin.
Jangan tidur di sini.
Nam Jin...
"Ibuku"
Halo?
Apa?
Nam Jin minum miras?
Astaga. Bagaimana ini bisa terjadi?
Nam Jin tidak kuat minum.
Dia pingsan setelah minum dua seloki soju.
Apa? Dia minum tiga seloki?
Astaga. Ini gawat. Ini benar-benar gawat.
Ya, baiklah.
Telepon aku saat kamu tiba. Akan kutunggu di depan pintu.
Mereka bergairah pada tahun-tahun awal pernikahan.
Astaga. Dia pasti sedang kesal sampai minum miras.
Nam Jin minum?
Semua ini salahmu.
Apa yang kulakukan?
Astaga. Aku suka acara itu. Kenapa kamu mematikannya?
Aku sudah melarangmu memberi tahu dia tentang Jin Ah.
Kamu pasti tahu Nam Jin akan melakukan apa pun untuknya.
Kenapa kamu memberi tahu dia?
Karena kamu membahas itu, aku harus mengatakan sesuatu.
Kamu juga tidak mau kembali ke kampung halaman kita.
Untuk apa kamu kembali ke kontrakan tahunan
yang dingin karena aliran udaranya, padahal kamu bisa tinggal
di rumah mewah seperti ini?
Itu keinginan Nam Jin. Bukan aku.
Kamu seharusnya berterima kasih kepadaku.
Nam Jin mungkin akan tinggal di sini
sampai menemukan Jin Ah.
Jangan membuang energimu untuk mengemas barang.
Omong-omong, apa dia menemukan Jin Ah?
Entahlah. Aku tidak bertanya.
Lalu dia minum bersama siapa?
Tampaknya dia minum bersama Seung Joo.
Itu aneh.
Dia pergi mencari Jin Ah. Kenapa dia minum bersama Seung Joo?
Astaga.
Bu Choi, ada apa Anda kemari?
No comments yet. Be the first to leave one.