The first 200 lines.
Hei, ayo berhenti bersih-bersih.
Banyak sekali debunya. Kotor sekali.
Apa karena kamu bekerja sepanjang waktu
dan tidak pernah bersih-bersih,
hingga menjadi seperti ini?
Ini bagus. Rasanya nyaman.
Ayo pindahkan ranjangnya.
Ayo bantu aku. - Tidak usah.
Banyak debu, nanti flu.
Tidak. Cepat angkat ujung ranjang di sisi itu.
Tidak apa-apa.
Sama sekali tidak.
Angkatlah.
Siap, mulai.
Tunggu.
Aku tidak percaya kamu sembunyikan majalah porno di sini.
Dasar mesum. - Tidak.
Itu tidak sengaja terjatuh.
Siapa yang kamu coba bohongi?
Buang semuanya, ya?
Buang saja. - Kenapa? Tunggu sebentar.
Jangan lakukan itu. Berhenti.
Kenapa?
Tidak, hentikan.
Baik. Aku akan patuh.
Aku akan membuangnya.
Aku akan membuang jenis wanita dewasa ini.
Sedangkan yang siswi SMA...
Baiklah. Aku akan membuangnya.
Bagaimana perasaanmu?
Bagaimana menurutmu?
Cocok untukmu.
Kalau begitu, akan kurapikan pinggangnya untukmu.
Tunggu sebentar.
Kamu sungguh tidak keberatan dengan ini?
Apa?
Tidak masalah aku kemari hari ini?
Lagi pula,
kita sudah membuat janji sejak lama.
Jika tidak datang hari ini,
akan terlambat untuk pernikahannya, bukan?
Sanae.
Ada apa?
Jika kamu masih tidak bersedia,
kita bisa menunda pernikahannya.
Aku tidak peduli lagi.
Itu semua sudah berlalu.
Aku ingin melupakan masa lalu dan melangkah ke depan.
Maaf membuat kalian menunggu.
Biar kurapikan pinggangnya. Permisi.
Akhirnya aku meyakinkan diriku untuk merelakanmu.
Jika kamu tidak bahagia, aku akan sangat terganggu.
Bukankah kamu akan menjadi kakak iparku mulai sekarang?
Aku hanya berharap kamu bahagia.
Teppei.
Kenapa kamu melamun di depan majalah pornomu?
Bukankah kamu sudah punya aku?
Astaga.
Bersumpahlah.
Aku tidak akan menginginkan wanita lain selain Riko.
Aku akan menginginkan wanita lain selain Riko.
Apa katamu?
Aku tidak akan menginginkan apa pun.
Ayo pindahkan kembali ranjangnya.
Angkat sisi itu.
Kurasa aku melihat sesuatu. - Apa?
Apa aku melihat sesuatu? - Aku tidak menyembunyikan apa pun.
Sulit dipercaya, dasar mesum!
Kenapa kamu memukulku?
Sulit dipercaya, aku akan membuangnya!
Yang benar saja. Astaga.
Baiklah.
Tunggu sebentar. - Ada apa?
Buka bajumu dahulu.
Dasar mesum.
"Episode 8"
Jadi, nilai jual merek baru ini
adalah memakai bahan yang bisa didaur ulang.
Kalau begitu, bisakah kita memakai lebih banyak foto baru
dan ide negatif, memberi tahu orang untuk melindungi lingkungan?
Contohnya, yang ini.
Kita bisa memakai foto bayi telanjang
duduk di atas tumpukan sampah.
Tidak bisakah kita memakai itu?
Kurasa itu bukan hal baru
untuk menarik perhatian dengan omong kosong itu.
Aku juga.
Lagi pula, Caruso Japan adalah perusahaan yang sangat konservatif.
Penanggung jawab mereka pasti akan ketakutan.
Maka kita lakukan sebaliknya dan fokus pada itu.
Benar, bukan?
Iklan tidak boleh hanya mencerminkan satu era.
Mari kita lanjutkan inovasi.
Jika hanya ingin terdengar keren, kamu terlalu banyak bicara.
Astaga.
Maafkan aku. Bisa ambilkan tisu untukku?
Sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan, seratus.
Baiklah, berikutnya.
Bersuten batu dahulu.
Tunggu. Apa katamu?
Bersuten dahulu. - Kamu akan bersuten, bukan?
Bersuten dahulu. - Bersuten dahulu.
Aku menang. Gendong aku lagi.
Lihat tanganku baik-baik.
Memang aku tidak tahu trikmu?
Ini terlalu dingin. Ayo pulang saja.
Kenapa kamu ke arah sini? Tunggu. Hei!
Katagiri, bagaimana rasanya memenangkan kampanye penawaran?
Siapa yang paling ingin kamu beri tahu?
Tentu saja orang tuaku di kampung halamanku.
Juga kakakku yang selalu merasa lebih baik daripada orang lain.
Kamu masih membahas So.
Kamu tidak mau memberi tahu Riko tercintamu?
Bagaimana aku menjelaskannya? Awalnya, kami musuh.
Sanae ada di sini.
Itu memang dia. Kenapa dia di sini?
Omong-omong,
aku lupa memberitahumu.
Aku dan Erika akan ke karaoke hari ini.
Kami akan ikut maraton karaoke.
Jika menyanyikan 100 lagu, kami bisa dapat arloji Hello Kitty.
Baiklah.
Jadi,
aku akan pergi.
Baiklah.
Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Mizuhara.
Kenapa kamu di sini?
Ini teh dari Kawane.
Ayahku yang mengirimnya.
Begitu rupanya.
Terima kasih.
Kalau begitu, aku akan pergi. - Apa?
Apa yang terjadi? Hei, tunggu.
Kamu sudah di sini. Masuklah sebentar.
Cobalah teh ini denganku.
Ini untukmu.
Terima kasih.
Aromanya enak.
Benar.
Omong-omong, bagaimana hubungan kalian belakangan ini?
Begini...
Kami mengepas gaun pernikahan. Semuanya normal.
Begitu rupanya.
Soichiro sangat baik kepadaku.
Jadi, aku tidak boleh tidak bahagia.
Jangan terlalu memaksakan diri.
Kamu terlalu memikirkan perasaan kakakku.
Dengar, jika pacar seseorang selingkuh...
Maaf soal itu.
Tidak mudah memaafkannya, bukan?
Kamu bisa lebih jujur.
Lebih jujur?
Namun,
jika boleh jujur, kita akan mendapat masalah.
Kenapa?
Karena aku mungkin kemari tiap hari dan kamu harus mendengar ocehanku.
Begitu rupanya.
Jika kamu ingin mengoceh, akan kudengarkan kapan pun.
Tidak.
Jika kamu terlalu baik kepadaku,
aku akan menjadi jemawa.
Ada apa?
Kamu sungguh tidak keberatan?
Kamu membiarkan Teppei
dan mantan pacarnya berduaan.
Tidak apa-apa.
Lagi pula,
Sanae tahu
bahwa So selingkuh,
dia pasti sangat sedih.
Jika aku juga di sana,
bukan hanya sulit baginya untuk bicara, tapi tidak akan bisa
bicara sama sekali.
Riko, kamu sudah dewasa.
Apa?
Dahulu kamu tidak bisa mengendalikan perasaanmu.
Tapi sekarang, kamu menjadi sangat bertoleransi.
Kurasa Teppei pastilah pria yang sangat baik.
Ya.
Kamu mengangguk. Berhentilah memamerkan kehidupan cintamu.
Itu yang sebenarnya.
Para pria yang pernah kupacari
menyesuaikan diri dengan watakku.
Tapi Teppei berbeda.
Dia mengutarakan pikirannya dan berkelahi denganku.
Tapi itu membuatku lebih tenang.
Mungkin
ini kali pertama
aku bisa menghadapi pria
dengan jujur.
Aku iri padamu.
Bagaimana jika aku merebutnya darimu?
Aku hanya asal bicara.
Begitu rupanya. Maafkan aku.
Terima kasih untuk hari ini.
Tetap semangat.
Hati-hati di jalan.
Selamat pagi.
No comments yet. Be the first to leave one.