The Lady in the Van

The Lady in the Van

Download Indonesian Subtitle

Release info

The Lady in the Van 2015 BluRay 720p 700MB Ganool
A Commentary by Artha Regina
Manually translated subtitle by me. Thanks and enjoy, xo

Tags

BluRay
720p
720
ganool
Published on: 2016-05-02
Downloads: 45
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Sepenuhnya Sebuah Kisah Nyata

The Lady in the Van - Wanita dalam Mobil Van

Aroma yang manis, dengan sedikit bau urin...,

...bau yang lazim yang mensugesti telinga seseorang.

Bau pakaian yang lembab juga ada disana...,

...kain wol yang basah dan bawang, yang dia makan mentah-mentah...,

...ditambah lagi, yang menurutku itu adalah bau dari kemelaratan...,

...yaitu koran basah.

Bau aroma tubuh Nn. Shepherd yang campur aduk itu...

...tertutupi oleh pemakaian berbagai bedak bubuk...,

...merek Yardley Lavender kesukaannya.

Dan sekarang aroma yang halus ini...

...yang mendominasi subjek kedua, dalam kompetisi keharumannya.

Tapi setiap dia pergi, aroma aslinya selalu kembali lagi...,

...bau primernya sendiri yang penuh kemenangan kembali lagi...

...membaui semua rumah dalam waktu yang cukup lama setelah dia pergi berangkat.

Katakan padanya.

Nn. Shepherd./ Hmm?

Besok-besok, kuharap kau tidak menggunakan kamar mandiku lagi.

Ada WC umum di perkotaan. Kesana saja.

WC disana bau. Dan aku ini orang yang bersih.

Aku punya surat penghargaan atas ruangan yang bersih yang diberikan padaku beberapa tahun yang lalu.

Dan, apa kau tahu, bibiku, yang menganggap dirinya orang paling bersih...,

...bilang kalau akulah yang terbersih dari semua saudara-saudaraku...,

...khususnya bersih di tempat-tempat yang tak terlihat.

Penulisnya ada dua.

Ada yang bagiannya menulis, dan ada yang menjalani hidup.

Dan mereka saling bicara. Mereka juga sering berdebat.

Menulis itu bicara dengan diri sendiri.

Dan aku telah melakukannya sepanjang hidupku...,

...dan jauh sebelum aku pertama kali melihat rumah ini lima tahun yang lalu.

Nomor lima belas?/ Nomor 10 diambil 17.

Ayolah. Kupikir kau ada panggung pertunjukan di West End.

Rumah-rumah ini pasti banyak potensinya...,

...kalau sampah-sampah itu disingkirkan.

Inilah dia. Gloucester Crescent.

Lingkungan yang bagus.

Besar 'kan? Banyak ruangan disini.

Awas...

Aku akan keluar sebentar./ Baiklah, Pak.

Kau bukan Saint John, 'kan?

Saint John siapa?

Saint John, murid yang dikasihi Yesus.

Bukan. Namaku Bennett.

Oh, begitu, kalau kau bukan Saint John, mobilku perlu didorong.

Mobilnya mogok.

Mungkin karena akinya. Aku sudah menaruh air. Tapi tidak jalan juga mobilnya.

Apa itu air suling?

Air kudus yang kupakai, jadi tidak masalah apa itu disuling atau tidak.

Tentu saja, minyak mungkin bisa jadi.

Jadi itu bukan air kudus?

Minyak kudus? Di mobil van, itu akan sia-sia saja.

Aku ingin mobilnya didorong sampai pojok sana.

Apa perlu kudorong lagi?

Mungkin. Ada dua ide di pikiranku.

Mobilnya belok ke kiri!

Oh, apa sudah cukup?

Harus di pojok sana lagi.

Tapi, itu setengah mil jauhnya.

Aku butuh bantuan.

Aku seorang wanita yang sakit.

Dan sedang sekarat.

Aku hanya mencari tempat peristirahatan terakhir, tempat untuk membaringkan kepalaku.

Apa kau kenal seseorang?

Hmm?

Sampai jumpa, Nyonya. Perhatikan jalannya.

Seorang penulis yang sopan mungkin menyambut pertemuan seperti itu sebagai suatu pengalaman.

Tapi kalau penulis seperti aku, aku harus menunggu dan memikirkan hal itu lebih dulu.

Dia melihatmu datang.

Dia sudah tua.

Kau tidak mungkin menyuruh Harold Pinter mendorong mobil van di jalan.

Kecuali aku.

Tapi aku terlalu sibuk tidak menulis naskah drama dan menjalani kehidupanku yang gila, nan penuh semangat kreatif.

Ya, kau yang menjalani hidup itu, aku yang menulisnya.

Selamat datang./ Halo.

Semuanya sudah pindah?/ Halo. Iya.

Apa proses pindah rumahnya lancar?/ Ya, terima kasih.

Baguslah.

Ini rumah yang bagus.

Tidak seperti rumah kita, tentu saja, setidaknya rumahmu tidak terikat.

Tidak, rumah ini terhubung ke rumah belakang.

Maksudku itu kau. Kau 'kan belum beristri.

Oh.

Sickert pernah tinggal di jalanan, rupanya. Istrinya Dickens yang terlantar.

Sekarang itu hal biasa di London Utara.

Periklanan, jurnalisme, TV. Orang-orang sepertimu, penulis, seniman.

Apa ada lagi?

Yah, aku ada panggung drama di West End.

Tentu saja.

Berapa biaya rumahmu?

Uh, 1305 dolar.

Astaga./ Ya, begitulah.

Rumah kami lebih besar, jadi berapa biayanya?

Asal kau tahu, tetangga baru kita tidak akan membantu biayanya.

Ya, kami sudah bertemu dengannya.

Tahun lalu dia ada di Gloucester Avenue. Sekarang giliran komplek rumah kita.

Dia tampaknya telah menetap di rumah nomor 66.

Apa mereka keberatan?/ Semoga tidak.

Kami suka menganggap kalau kita adalah suatu komunitas.

Senang mengobrol dengan kalian.

Jadi, pertunjukan apa yang dia kerjakan?

Kita sudah menontonnya. Pertunjukan domestik semacam itulah.

Aku sudah lupa.

Hmm.

Itu sampah, Ibu./ Itu kepunyaannya.

Kami rasa kau mungkin suka pir. Ini dari kebun kami di Suffolk.

Aku sudah bosan makan pir.

Ah.

Apa kau berencana tinggal lama disini?

Tidak kalau adanya suara musik itu.

Aku tahu apa yang kaupikirkan.

Namun, senang rasanya bisa berbuat baik untuk para tunawisma.

Aku ingin tetap seperti ini. Sederhana.

Monastik./ Ya, sedikit.

Ini tempat tidurku./ Bagus.

Jadi, apa kau senang memainkan peran itu?

Senang sekali.

Sangat ke-Inggris-an sekali. Apa yang semua orang sukai.

Tempat tidurnya kelihatan nyaman.

Yah, mungkin kau bisa datang kesini dan membantuku mendekorasi tempat ini.

Tentu. Pacarku pandai melukis.

Halo, sayang. Kau memang karakter yang unik.

Ya. Inilah Camden Town.

Oh, ya! Aku disini terus hampir setiap hari.

Aku mengajar. Trotoar jadi papan tulisku.

Sekarang, aku juga menjual pensil.

Ada seorang pria datang tempo hari.

Dia bilang pensil yang dia beli dariku...

...adalah pensil terbaik di pasar pada saat ini.

Kau berlawanan dengan pasar umum ternyata.

Aku? Siapa bilang itu aku?

Jadi kau bukan yang menulisnya?/ Belum tentu.

Tapi aku akan mengatakan hal ini.

Mereka anonim.

Oh ada koin 1 shilling! Kau hanya memberiku enam sen.

Tapi itu tertulis disana, "Saint Francis melemparkan uangnya".

Ya, tapi dia orang suci.

Dia orang yang mampu.

Dasar pengemis!

Aku bukan pengemis! Aku orang mandiri, dan pria ini tetanggaku.

Oh!

Mau pindah lagi? Kau tidak menetap lama ya.

Tidak. Itu karena musiknya tidak berhenti.

Lucy melakukan tingkat O-nya.

Itulah tingkat kebisingan yang kukhawatirkan.

Melambailah, sayang.

Dah, sayang.

Jangan tidur terlalu larut. Sampai jumpa sayang.

Maaf karena ini semua.

Glyndebourne./ Cosi.

Oh, beruntungnya kalian. Selamat bersenang-senang.

Oh. Lihat. Wanita tua itu sedang pindah tempat lagi.

Jadi, dimana gilirannya sekarang?

Pelan-pelan./ Aku mau tahu.

Rumahnya Ny. Vaughan Williams?/ Bukan. Keluarga Birts.

Tidak!

Rumah nomor 62.

Tidak mungkin. Siapa?

Tidak mungkin! Tidak!

Tidak, sayang, itu rumah kita!/ Berhenti!

Maaf! Maaf!

Maaf!

Maaf, kau tidak bisa parkir disini.

Tidak, aku dapat bimbingan. Disinilah tempatnya.

Bimbingan? Dari siapa?

Bunda Maria. Aku berbicara dengannya kemarin.

Dia ada di luar kantor pos di Parkway.

Memangnya apa yang dia tahu soal parkir?

Rufus, katakan padanya kita akan pergi ke Glyndebourne!

Aku butuh penggaris.

Aku harus mengukur jarak antara bannya dan trotoar.

Satu setengah inci adalah jarak yang ideal.

Aku tahu itu dari sebuah majalah otomotif Katolik...

...di kolom "Tips Parkir Orang Kristiani".

Ini bukan parkir orang Kristiani. Ini artinya kebebasan yang tak bisa ditolerir lagi.

Rufus.

Kau berusaha baik, tapi apa jadinya?

Sayang.

Kau ternyata tidak tinggal lama di luar rumah nomor 66.

Yah karena musik itu.

Mereka tidak musikal juga, 'kan?

Siapa?

Rumah nomor 61.

Tidak. Mereka pergi ke opera. Apa kau baik-baik saja?

Kenapa lagi mendadak begini...,

...kurasa aku perlu buang air dulu.

Boleh aku menggunakan WCmu?

Tidak boleh! Toiletnya sedang rusak.

Tidak apa-apa.

Dimana itu?

Dimana itu?

Terima kasih.

Aku ada pertemuan di BBC.

Pertemuan apa?

Tentang apa yang kutulis.

Ibu pikir kau mau datang.

Satu atau dua minggu lagi.

Ibu sendirian disini.

Aku tahu Ibu sendirian.

Kita semua sendirian.

More Indonesian subtitles for The Lady in the Van

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left