The first 200 lines.
Kau tak menduga, 'kan?
Suatu hari kau akan memancing dengan bos mafia sepertiku.
Jika bisa memutar waktu,
aku akan berdoa keras agar tak pernah bertemu denganmu.
Tapi sudah terlambat.
Kau tetap akan membawa ahli warisku.
- Ahli waris? - Ahli warisku.
Baik, ahli warismu,
tapi dia akan mengikuti jejakku jadi ustaz.
Tidak bisa!
Dia akan mengikuti jejakku.
Dia akan jadi mafia.
Kau tak bisa menentukan
masa depan anak orang lain.
Dia akan menjadi ustaz.
Anak di rahimnya adalah cucuku.
Aku berhak menentukan masa depannya.
- Dia akan jadi mafia sepertiku. - Ustaz.
- Mafia. - Ustaz.
- Mafia. - Ustaz Terhormat!
- Mafia Hebat. - Ustaz…
Tuan Putri. Lihat, mafia ingin lahir.
Ustaz. Ustaz, kau akan lahir.
EPISODE 10
Ayah.
- Ayah sudah tiada. - Apa?
Innalillahiwainnailaihirojiun.
Tapi…
Bukankah hidupnya sebulan lagi? Ini belum sebulan.
Aku dokter, bukan Tuhan.
Ketua meninggal karena kanker.
Dia tak bisa bertahan.
Allahu akbar.
Aku tak sempat membacakan syahadat di telinganya.
Ayah sempat.
Dia mengucapkannya sebelum meninggal.
Lailahaillallah.
Lailahaillallah.
Lailahaillallah.
- Ayah. - Ketua.
- Ayah. - Ketua. Bangun, Ketua.
- Ayah! - Ketua. Bangun, Ketua.
Kenapa tak ada yang berdoa?
Kenapa tak ada yang baca Yasin?
Baca Yasin, panggil ambulans, lakukan sesuatu!
Aku sudah menyuruh mereka melakukan itu,
tapi ada yang keras kepala dan tak mengizinkannya.
Ketua Zack bilang dia tak mau orang lain mengurus jenazahnya.
Dia meminta Ketua Ustaz
mengurus semuanya sampai ke liang lahad.
Baiklah.
Budi.
Bantu aku mengurus jenazah ayah mertuaku.
Baik, Ketua Ustaz.
Takdir mempermalukanku sekali lagi.
Dia berbohong kepadaku!
Haji, tenanglah.
Marah tak berguna. Takdir sudah tak ada.
Makanya aku harus memberinya pelajaran.
Dia pikir aku dan putriku ini apa? Patung?
Kayu? Tanpa perasaan?
- Haji, kau mau ke mana? - Ikut aku, Mat Saje.
Haji Dam!
Haji Dam, tenanglah. Sabar.
- Jangan berbuat gila. - Aku sudah gila!
Putramu membuatku gila.
Haji Dam, tolonglah.
Terimalah Takdir bukan jodoh Murni.
Mudah sekali mengatakannya, Jah.
Dulu, putramu terobsesi dengan putriku.
Setelah aku akhirnya menerima dia,
ini balasan yang kuterima?
Kau pikir kami tak punya perasaan?
Haji Dam, tolong.
Takdir anakku satu-satunya. Aku mohon, Haji.
Jika kau tahu itu, kenapa tak mengajarinya sopan santun?
Jangan mempermainkan perasaan orang.
Sekarang, aku akan memberi anakmu pelajaran.
Tolong, Haji. Tenang. Ingat Allah, Haji.
Jangan halangi aku.
Jangan halangi aku!
Cukup!
Percuma meributkan ini lagi.
Karena Takdir sudah menikahi orang lain.
Astagfirullah.
Murni, Takdir menikah dengan siapa?
Siapa yang anakku nikahi?
Kau serius, Murni?
Murni!
Dokter.
Benarkah Ketua Zack meninggal
karena sudah waktunya?
Benar. Ketua Zack meninggal karena kanker.
Kau dan Takdir tak memercayaiku.
Aku hanya ingin memastikan.
Oke.
Dokter.
Jika aku tahu kau bekerja sama dengan dua setan itu,
aku takkan melepaskanmu.
Ketua Ustaz.
Aku pergi sekarang.
Nona Melissa,
aku antar Madam pulang dulu.
Melissa, hei.
Jangan menangis dan merintih begini.
Itu akan makin membebaninya.
Yang sekarang dia butuhkan
adalah doa anaknya
dan amalan-amalan kita.
Oke.
Ayah.
Aku pergi sekarang.
Aku akan pulang.
Saat malaikat datang,
pastikan kau jawab mereka.
Aku sudah memberimu jawabannya.
Jawab dengan hati-hati dan jelas.
Aku tahu kau bisa.
Kau sudah belajar banyak hal. Kau pasti bisa.
Insyaallah.
Baiklah, aku pergi.
Asalamualaikum.
Aku membuat gorengan favorit ayahmu, tapi di mana dia?
Aku tak melihatnya.
Ada di kamarnya. Dia belum keluar sejak siang.
Murni,
aku harus tanya.
Apa semua ucapanmu tadi siang itu benar?
Benar.
Tapi dari mana kau tahu?
Aku sebagai ibunya saja tak tahu. Takdir tak pernah bilang apa-apa.
Bukankah ini yang kau mau?
Apa maksudmu?
Tak usah pura-pura kaget atau merasa bersalah.
Dari dulu kau tak suka aku menjadi menantumu.
Jadi, sekarang sudah resmi, menantumu adalah orang lain.
Kenapa pura-pura sedih?
Ya Allah, Murni. Jangan bicara begitu kepadaku.
Ya, aku akui.
Aku memang pernah berdoa agar Allah
mempertemukan Takdir dengan orang lain,
tapi aku tak pernah menduga doaku dikabulkan.
Jangan-jangan
selama ini kau sudah tahu Takdir sudah menikah dengan orang lain.
Tidak, sumpah! Murni, jangan menuduhku begitu.
Sedih hatiku. Aku sungguh tak tahu apa-apa.
Sumpah, aku tak tahu, Murni.
Takdir juga tak pernah memberitahuku apa-apa.
Tak apa, Bu Nur. Kau sebaiknya pulang.
- Asalamualaikum. - Alaikum salam.
Siapa yang akan menutup pintu?
Tidak, Khaty. Sini.
- Kau sudah minum terlalu banyak. - Tidak.
- Khaty, kau tahu? - Apa?
Dengarkan aku.
Dalam hidupku,
ini kali pertamaku melihat seorang istri
mabuk tepat setelah suaminya mati.
Ya Allah!
Hei.
Ini cara kalian meratapi kepergian Ketua?
- Budi, duduklah. Sini. - Duduk.
- Hei, kenapa dimatikan? - Hei, apa masalahmu?
Jika kau ingin meratapi kematian Ketua Zack, silakan,
tapi jangan coba mengontrol emosiku.
- Ini caraku meratapi kematian suamiku. - Kami sangat sedih.
- Hei, Budi! - Kembalikan. Itu mahal.
- Mau ini dikembalikan? - Ya.
Aku bisa kembalikan
setelah aku mengatakan sesuatu.
Apa?
Aku ingin
kau memerintahkan semua orang kita untuk menghadap Ketua Ustaz besok.
Kita harus mengadakan rapat.
Perintah?
Hei.
Kau memberinya perintah?
Ya.
Sebagai tangan kanan Ketua Ustaz, aku memerintahkanmu
untuk memanggil semua orang kita
karena Ustaz belum punya akses kepada mereka.
- Budi. Kau tahu? - Budi.
Kau hanya pengawal di rumah ini.
- Pengawal. - Dan aku?
Aku Madam. Sang Madam!
Meskipun aku hanya pengawal,
aku harus mengikuti perintah terakhir Ketua Zack
untuk membantu Ketua Ustaz.
Jadi, besok,
kita wajib mengadakan rapat dengan orang-orang kita.
Budi. Kau merasa dirimu hebat.
Kau cuma sok-sokan. Bahan tertawaan.
Aku tak peduli kau memanggilku apa,
tapi aku sudah berjanji kepada almarhum Ketua
bahwa aku akan setia kepada Ketua Ustaz,
dan aku takkan mengkhianatinya.
Khaty.
Pengkhianatan?
Hei, kau mau berkelahi? Kau punya masalah denganku?
- Kenapa? Merasa bersalah? - Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.