The first 200 lines.
Bobby Little.
Dia mencalonkan untuk Dewan Kota,
dan meneleponku untuk mengelola kampanyenya.
Apa yang terjadi saat ini?
- Kami dua orang dewasa. - Aku sangat kecewa saat ini.
Kau harus katakan bahwa fokusmu 100 persen untuk klien-klienmu.
Aku berhenti.
Terima kasih atas sembilan tahun terakhir ini, Leon.
Aku akan pindah ke Minnesota. Ikutlah denganku.
Kau bebas kanker, Kristina.
Nikmati dirimu dan keluargamu.
- Hai, Kristina. - Apa yang terjadi?
Aku kambuh.
Aku dapat kabar dari Berkeley.
Aku diterima.
- Kita akan memiliki anak. - Tidak!
Kau sedang hamil?
Selamat hari jadi.
Bagaimana dengan Chloe? Itu nama yang lucu.
Tidak, Chloe Freeman... Dia senior,
aku siswa tingkat dua, dan dia...
Anggap saja itu menjadi sangat aneh.
Dia aneh.
- Kenangan buruk. Ya. - Baik.
Kau bisa memberikan daftar nama yang belum kau ajak tidur,
- lalu kita bisa memilihnya. - Itu lucu.
Bagaimana dengan nama belakang? Kau sudah dapat?
Kukira kita sudah memutuskan Trussell-Braverman.
Tidak, kau bilang "Braverman-Trussell," yang menurutku...
Kau tahu, kurasa itu tak legal.
Braverman memiliki cincin, hanya Braverman...
Tanpa tanda penghubung. Sangat solid.
Ya.
Bagaimana dengan yang ini untuk mobilmu?
- Ini lucu. - Tidak, itu merah muda.
Aku tak mau merah muda. Ada warna merah dan hitam.
Ya, tapi ini punya sabuk lima titik.
- Dan sedang diskon. - Itu karena warnanya merah muda.
Tak ada pria mau berkendara dengan kursi merah muda.
Apa yang terjadi?
Kau tak apa-apa?
Kurasa ini waktunya.
Tidak, Sayang. Waktunya masih tiga pekan lagi.
Tidak. Itu mungkin kontraksi Braxton.
- Tidak. - Kita tunggu saja.
Tidak, ini jelas bukan kontraksi Braxton.
Ini masih tiga pekan lagi. Tak mungkin ini waktunya.
Kita belum punya nama, kursi bayi.
Kita belum punya popok atau tisu basah.
Aku belum membeli semua perlengkapan saat kau hamil.
Sayang, kita harus ke rumah sakit.
Setidaknya aku perlu monitor
untuk mengawasi bayinya.
- Crosby... - Lalu piama bayi...
- Dia akan pakai baju apa? - Crosby!
Apa?
Aku tak mau melahirkan di sini, paham?
- Ayo pergi. - Baik.
- Tasmu. - Ya, bawakan tasku.
Aku datang.
- Siapa? - Aku Carl.
Baiklah, Carl.
- Hai. - Hai, Carl.
Aku tak membawa kunciku. Maaf.
- Lagi! Ini sangat larut. - Aku tahu.
Kau tahu? Aku pulang naik taksi,
meninggalkan mobil dengan valet,
dan kunciku ada di sana, jadi itu...
Aku melakukan hal yang bertanggung jawab.
Benar. Kerja bagus.
Tinggalkan di bawah keset lain kali.
Baik. Itu ide bagus.
- Aku tahu. Kau super... - Aku supermu. Benar.
- Kau super... - Itu...
- Lelucon. - Kau tak terlihat seperti super.
Ini Lincoln. Dia...
Tidak, aku paham.
Lucu sekali!
- Apa ini anjing-anjingmu? - Bukan.
Itu anjing orang lain. Aku memotretnya, tapi jangan dipegang.
- Terima kasih. Baik. - Kau fotografer anjing?
- Ya. - Dan orang super.
- Itu mengagumkan. - Terima kasih.
- Baik, selamat malam. - Kurasa ibuku
- memiliki piama itu. - Itu bagus.
- Ibunya memilikinya, Carl. - Tidak.
- Lincoln, ayo. - Selamat malam.
- Ayo. - Selamat tinggal.
- Selamat malam. - Dia marah?
- Apa kau marah wanita super? - Aku tak marah.
Hanya lelah.
- Orang-orang melihat kita. - Benarkah? Aku tak peduli.
Aku tak peduli.
- Terima kasih. - Aku punya ide.
Ya.
Bagaimana menurutmu jika aku mengajakmu
bermalam denganku di sebuah motel murah?
Apa alasannya?
Entahlah. Ini hadiah.
Ini hadiah.
Tidak, aku hanya... Hidup itu hadiah.
Tahun lalu kita melalui begitu banyak hal,
dan aku hanya ingin bersikap spontan denganmu,
- seperti sebelumnya dan... - Baik.
Menikmati setiap momen.
- Aku setuju. - Carpe diem.
- Carpe diem. - Carpe diem.
- Baiklah. - Ya.
Carpe diem.
Adam. Ini sudah agak larut.
- Ada biaya ekstra lewat tengah malam. - Dengar...
apa kau bisa menjemput anak-anak malam ini, untuk menginap?
Kami jemput besok pagi.
Kau mau ke Funkytown.
Bisa tak bilang "Funkytown"?
Testosteron Braverman
adalah hal yang kuat dan hebat.
Kau harus terus menjaga gairah itu di organ seksualmu, Nak...
Seperti lagu rock and roll.
- Seperti Rolling Stones. - Ya.
- Gairah di organ seksual. - Aku harus pergi.
Baik, terima kasih. Sampai jumpa.
Baik. Sudah beres. Carpe diem.
Carpe diem.
Aku merindukanmu.
Aku rindu senyumanmu.
Jadi, apa kabar? Apa kau sering pindah-pindah?
Apa kau masih di Kandahar?
- Aku tidak... - Apa yang kau lakukan?
Maksudku, kau sibuk apa?
Pergi bekerja kemarin.
Pergi bekerja.
- Ya. - Maksudku, apa kau...
Apa kau aman?
Kami tak diperbolehkan untuk...
Kau tak bisa membicarakannya.
Benar.
Baik.
Aku sangat merindukanmu.
Ini sulit.
Aku mencintaimu...
dan tak sabar bertemu.
Ryan.
Sayang, kau tak bergerak.
- Sedikit lagi! - Satu dorongan kuat lagi!
- Aku ingin kau mendorongnya dengan kuat. - Aku tak bisa.
- Sedikit lagi! - Ayo!
Satu, dua, tiga, dorong!
- Dorong! - Ayo!
Kalian memiliki anak perempuan.
Sayang.
Kau mau memotong tali pusatnya, Ayah?
Ya. Astaga.
- Astaga. - Baiklah.
Hai.
Hai, Cantik.
Sayang, lihat.
Dia sangat... Lihat dia.
- Dia sangat putih. - Astaga.
Lihat siapa yang datang. Ada apa?
Kamera yang kau berikan rusak.
- Apa ada garansinya? - Itu berusia 45 tahun, jadi...
mungkin tidak. Bagaimana kau bisa ke sini?
Aku jalan kaki. Kau di dalam radiusku.
- Apa? - Radiusku.
Orang tuaku memberiku radius yang memperbolehkanku jalan sendiri.
Tujuannya untuk membangun otonomiku
agar akhirnya aku bisa pindah dan mandiri.
Serta, mereka juga akan meninggal,
jadi aku harus belajar hidup sendiri.
Itu menyentuh.
Aku akan memeriksanya. Aku akan melihat perbuatanmu.
Kenapa kau memotret sesuatu yang sudah jadi gambar?
- Itu untuk brosur. - Lukisan ini buruk.
Kenapa ada yang menginginkan untuk brosur?
Ya. Beberapa orang menganggapnya itu seni.
Entahlah.
Aku tahu yang kau lakukan dengan cahaya di sini.
- Apa maksudmu? - Saat kau menyinarinya
dari sisi seperti ini, tetap terang
tanpa berkilau dan menyilaukan.
Tapi kau tetap bisa melihat benjolan di lukisannya.
Ya, benar. Kau benar.
Itu tekstur. Bagaimana kau tahu itu?
Aku sangat sensitif pada cahaya,
menyebalkan, kepalaku sakit terlalu banyak di bawah matahari.
Aku harus memakai topi, tapi aku tak suka topi.
Topi menyebalkan. Itu membuatku sangat tak nyaman.
Ya, aku paham.
Foto-foto yang kuambil dengan kamera itu jauh lebih baik.
Kau memotret beberapa foto?
- Semuanya serangga? - Ya, tapi teruskan.
Ada foto-foto kadalku juga.
Ini cukup bagus, Max.
Kau memiliki bakat.
Kau harus potret orang.
Orang membuatku bosan.
Ya, aku mengerti.
Jika bibiku Sarah memotret anjing dan kucing,
kenapa aku tak potret serangga?
No comments yet. Be the first to leave one.