The first 200 lines.
Dalam setiap titik yang memancarkan cahaya agung-Nya.
Lihatlah ke dalam dirimu sendiri, Dia tidaklah jauh darimu.
Jika kau memiliki cinta dalam dirimu, maka kasihilah semua orang
Karena kita semua berada dalam lindungan-Nya. Itulah ibadah.
Apa yang akan terjadi jika pria berambut merah...
.. tidak terbangun saat subuh hari itu untuk meringankan dirinya sendiri?
Mungkin kehidupan di Delhi-6 akan berjalan seperti biasa selama berabad-abad.
Mungkin juga hidupku tidak akan menjadi begitu rumit.
Tapi sekali lagi.
Ketika kau harus melakukannya, kau harus melakukannya!
Di Zaman Treta dari era Veda.
Ravan berkepala sepuluh yang jahat adalah raja.
Kekuatannya terkenal dan dia sangat ditakuti.
Matahari, Bulan, Angin dan Api diperbudak Ravan.
Dikpal, Suresh, Kuber, Varun takut kepadanya.
Tempat kediamannya adalah Lanka, yang terbuat dari emas.
Dia tidak mengizinkan siapapun untuk menyembah Hari. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai Dewa.
Terdapat kerusuhan di alam semesta...
Siapa yang bisa menyelamatkan Bumi, Brahma berpikir.
Harapan akan kebahagiaan tertekan oleh kekejaman dan penderitaan.
Suara yang agung berfirman...
"Bumi. Bumi yang Kukasihi. Aku akan mengeluarkanmu dari masalah ini."
"Aku akan terlahir sebagai Ram di Awadh untuk menyelamatkanmu."
Letak tumornya berada dekat ke area penglihatannya.
Aku sama sekali tidak akan merekomendasikan operasi.
Terutama dengan catatan diabetes dan tekanan darah yang dideritanya.
Operasi membuka jantung akan berlebihan.
Bahkan Medicaid tidak akan bisa mengatasinya.
Fatima, tanyakan si bodoh itu berapa sisa hidupku?
Ibu, jangan katakan itu! Allah melarangnya.
Apakah ada keadaannya sudah sangat berbahaya?
Dengar, dia harus menerima ini sebagai bagian dari hidupnya.
Mulai kini dan seterusnya Beri dia diet yang tepat...
... dan pengobatan yang teratur dan yang terpenting, dia harus tetap bahagia.
Maksudku, hindari segala bentuk stres.
Itu akan membantunya.
Siapa yang kau miliki di India?
Apakah lima tahun bersama kami membuatmu bosan?
Tidak, anakku. Tapi kau harus bersatu dengan tanah di mana kau dilahirkan.
Ibu, ini adalah peribahasa lama.
Anakku, anggaplah itu sebagai keinginan terakhirku.
Ibu, kau seperti anak kecil yang keras kepala.
Kau membuat hidup menjadi sulit.
Kau tahu aku tidak akan pernah kembali ke Delhi
Cukup.
Ayah, aku yang akan menemaninya.
Aku tidak bisa melihat dengan jelas dalam gelap. Tingginya sekitar 2,5m.
Tubuhnya dipenuhi bulu hitam.
Kukunya bersinar seperti pisau.
Siapa yang berani untuk tidur, akan mati!
Dia akan merayap mendekatimu disaat kau sedang mendengkur.
Dia akan membunuhmu. Membunuhmu.
Pertanyaan. Siapa dia? Siapa dia?
Ya! Pembunuhnya tidak lain adalah seekor monyet.
Seekor Monyet Hitam!
Monyet Hitam itu membunuh. Monyet Hitam itu membunuh.
Waspadalah! 24/7. Dari Delhi, Kumar.
Yang pertama menyambutku di Delhi adalah si Monyet Hitam.
Mungkin takdir telah mengirimkan pertanda untukku.
Nenek! Tunggu.
Apakah kau mau paan?
Salaam, Nyonya Mehra!
Sekarang aku bisa mati dengan tenang.
- Cintaku menyeretmu kembali. Kau tidak bisa menjauh terlalu lama. - Nenek!
Apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa begitu saja meninggalkanku seperti itu.
Aku sampai lupa tentang dirimu.
Kenal dia?
Akhirnya!
Sekarang mataku bisa beristirahat selamanya sekarang. Biarkan aku memelukmu.
Ayo! Peluk aku, nak.
Namaku Ali Baig!
Oh, aku minta maaf. Aku tidak mengenalimu.
Mengagumkan.
Ramai sekali orang! Delhi dipenuhi dengan kehidupan yang hiruk pikuk.
Semuanya terjadi di waktu yang bersamaan.
Namun terdapat semacam keseimbangan.
Keseimbangan yang menakjubkan.
Tidak, tidak. Kau tidak bisa masuk seperti ini. Kau harus memaniskan mulutmu terlebih dahulu.
Mamdu! Bagaimana kabarmu?
Kau akhirnya kembali!
Salaam, Hina! Adik iparku, apakah semuanya baik-baik saja?
Mengapa wajahmu murung? Apakah kau tidak menjaganya?
Gobar! Bagaimana kabarmu? Kau diberkati, nak.
Tebak siapa ini! Cucuku. Roshan.
Tidak, terima kasih.
Dia tidak merasa lapar.
Hanya anjing yang makan di saat mereka lapar. Manusia makan untuk terikat satu sama lain.
Kau harus makan sedikit. Ambillah.
Hanya sedikit yang beruntung yang bisa merasakan manisan Mamdu.
- Tidak apa-apa - Apa yang terjadi? Atau kau tidak akan bisa lewat.
Kekasihku telah kembali pulang.
Orang-orang memiliki keimanan yang besar di tempat ini.
Mereka mengatakan jika kau menggantung lonceng dengan hati yang tulus.
Tuhan akan mendengarkanmu.
Aku menggantung sebuah lonceng sebelum aku pergi dan berdoa...
... untuk kembali dengan seluruh keluargaku.
Tuhan telah mendengarku. Setidaknya sebagian dari doaku.
Tuhan! Tuhan! Tuhan! Tuhanku yang Mahakuasa.
Akhirnya pulang! Jalan Paswaan-mu.
- Sama sekali tidak berubah. - Teleponmu berdering.
Ini bukan milikku.
Itu milikku.
Oh. Terputus.
Hey. Terima kasih untuk semuanya.
Sama-sama.
Kau harus beristirahat. Aku akan pergi.
- Minumlah teh bersama kami. - Lain kali saja.
- Pastikan kau mampir. - Tentu.
Itu bolaku.
Dapat!
Nyonya Mehra kembali.
- Bagaimana kabarmu, Rajjo? - Kau terlihat cantik.
- Urmila! - Bagaimana kabarmu?
Selamat datang di Delhi-6.
- Bagaimana kabar semuanya di rumah? - Aku Rajjo.
Masuklah. Masuklah.
- Rama! Berkatnya. - Oh, ya
Rama. Kau diberkati.
- Bagaimana kabarmu? - Kau telah datang setelah sekian lama.
- Ini. - Kau terlihat cantik sekali.
Keistimewaan khas lokal.
- Setidaknya makanlah satu. - Akhirnya pulang!
Kau baik-baik saja?
Kemarilah.
Roshan! Buka pintunya.
- Yang mana? - Yang kecil.
Ayo. Ayo. Cepat.
Tanaman Tulsi telah mengering. Airnya.
Air.
Tidak ada air sekarang.
Keran air berfungsi hanya di pagi hari.
Sama seperti kebijakan pemerintah. Bekerja dengan iseng.
Tidak seperti bumi sang Ibu Pertiwi!
Waktu itu umurku baru 16 tahun.
Kakekmu menikahiku dan membawaku kemari.
Aku akan meninggalkan dunia dari tempat ini sekarang.
Nenek.
Di mana kamar mandinya?
Lewat sini.
Jangan buang-buang air. Air sangat berharga.
Dipenuhi dengan emosi.
Itulah keindahan India untukmu.
Cinta tidak pernah diberikan dalam dosis kecil.
Di sini, keran air mungkin tidak lancar.
Namun saluran air biasa selalu lancar.
Kehidupannya baik-baik saja.
Kakekmu! Dia tidak pernah bisa menerima pernikahan orangtuamu.
Tidak pernah mendengarkan kata-kata orang lain.
"Bagaimana mungkin?"
Itu mengganggu pikirannya sampai dia meninggal.
Dia akan mengatakan: "Bagaimana bisa putraku menikahi seorang Muslim?"
Aku dulu juga tidak senang.
Tapi ketika aku menghabiskan waktu dengan ibumu.
Aku tahu kalau aku salah.
Sialan!
Haruskah listriknya mati sekarang?
Ayahmu juga keras kepala.
Suamiku berkata: "Keluar!" Lalu dia pergi.
Dan menolak untuk kembali.
Dia pernah sekali kembali. Untuk pemakaman kakekmu.
Kau melihat keajaiban Tuhan, Roshan?
Kau terlahir di malam yang sama.
"Segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Tuhan."
Hanya kumisnya yang membedakan kalian.
Nenek.
- Kumis itu benar-benar hardcore. - Hei.
Kau masih belum siap?
Ravan sedang dalam perjalanan untuk menculik Sita.
Selendangku! Hei, tuan.
Kau tidak bisa melihat? Haruskah aku membelikanmu kacamata?
Maaf.
Nenek!
Dewa Ram terlahir di Awadh untuk mengakhiri semua penderitaan.
- Dewa Ram terlahir di Awadh... - Salaam, Nyonya Mehra.
Halo.
- Kalian terlambat. - Mamdu? Benar?
Penderitaan para pengikut...
Aku tidak bisa masuk tanpa memakan sesuatu yang manis, kan?
Benar. Lewat sini.
Ayo. Ganesh. Ambilkan piring pemujaannya.
Kau diberkati! Bagaimana kabarmu, Madangopal?
Baik. Berkat sang Dewi.
Bittu! Bukankah dia Bittu?
Kurus sekali dirimu.
Kau dulu begitu gemuk dan sehat.
- Kau seperti tongkat kayu sekarang. - Cucu Amerikanya.
Haruskah aku menari kegirangan?
Roshan. Dia Bittu. Putri mereka.
- Oh, ya, aku tahu. Kami sudah bertemu - Oke.
- Nyonya Mehra. - Ya.
- Lihat ke sini. - Rs.20 dariku.
Dan sumbangan 50 dariku.
Mengapa pelit dengan Sang Bijaksana? Benar?
- Pelit dengan adiknya tapi sok pamer kasih sayang di depan umum - Kau diberkati.
- Bagaimana kabarmu? - Kalian adik kakak tidak pernah berhenti bertengkar.
Apakah kalian tidak merasa malu?
- Kau terlihat gagah! - Terima kasih, Nona.
Terima kasih.
Anak muda, bukan Nona. Tapi Nyonya!
- Oh, aku minta maaf - Aku sendiri Jaigopal Khanna,...
No comments yet. Be the first to leave one.