The first 181 lines.
Subtitle by dander
Banjarmasin, 14 Februari 2014
Cukup!
Baris lagi yang rapi!
Coba lagi.
Wadjda!
Ke sini.
Ulangi dua bait pertama.
Kenapa tidak menyanyi? Berdiri di sana!
Lagi.
Kamu sedang mendengarkan musik underground.
Persembahan dari Grouplove, dengan judul lagu Tongue Tied.
Jangan ke mana-mana.
Jangan lupa kuncimu. Kunci atas jangan dikunci.
Mungkin ayahmu akan terlambat pulang. OK?
InsyaAllah.
Perjalanan kita jauh. Kamu terlambat terus.
Aku harus menjemput guru lain. Terlambat lagi, takkan kutunggu.
- Ibuku tidak terlambat, kau yang baru datang. - Jangan dihiraukan!
Aku tidak ngomong sama kamu, nak. Aku ngomong sama mama, dia telat terus.
Huh?
Lihat!
Nanti kamu jadi ahlinya!
Ke mana aja kamu semingguan ini?
Aku punya sesuatu untukmu.
Sebuah batu dari gurun Rub'al Khali.
Bermagnet.
Yah!
Mama sudah menunggumu semingguan ini.
Kunci di atas tidak dikunci.
Mantaf kumisnya! Cocok buat iklan sabun cukur.
Ini kumis beneran. Elang juga bisa nyantai di atasnya.
Pesawat juga!
Makasih kuenya!
Aaah!
Dapat lagi!
Kamu pikir bisa mengejarku?
Seandainya aku punya sepeda, kamu akan tau.
Sudah-sudah. Kenapa ketawa keras sekali?
Nanti kedengaran laki-laki yg bukan mahram di luar.
Kan sudah kubilang? Suara adalah salah satu aurat wanita.
- Hello. - Maaf, takkan kami ulangi lagi
Wadjda!
Mana jilbabmu?
Apa kau datang nggak pake jilbab?
Sudah-sudah. Nggak usah ketawa.
Hey! Sini sama om! Aku mau apel itu.
Hey! Hey!
Hey, Wadjda!
- Jangan ngomong! - Sebentar.
Kubawakan sesuatu.
Kita masih belum impas.
Jika kumenangkan lombanya, maka kita impas.
Bukankan perempuan nggak boleh ikut bersepeda?
Dikalahkan perempuan akan sangat memalukan.
Nak nak. Main ke tempat lain sana.
800 riyals.
Terlalu mahal buatmu.
- Hello. - Hello.
Akan kubuatkan makan siang.
Ya Allah, sudah 3 jam kita berada di dalam mobil tanpa AC.
Perjalanan tadi bikin aku mau mati.
Ibu nggak suka tatapanmu. Kamu mau apa?
Aku pengen sepeda supaya bisa balapan sama Abdullah.
Pernahkan kamu liat perempuan bersepeda?
Mending ibu jualan buah di depan rumah sakit daripada jalan2 terus.
Lalu aku pulang dan kau bilang, "Aku pengen sepeda."
Mana gelang-gelangnya?
Aku cuma bikin sepuluh. Jari2ku jadi keriting rasanya.
Tiap gelang harganya bertambah 2 riyal.
Sudah kubilang, jari2ku terasa keriting.
Ini dia.
Giliranmu.
Ayo pindah, pria-pria tersebuh bisa melihat kita.
Kenapa? Apa mereka supermen?
Jika kamu bisa melihat mereka, mereka juga bisa melihatmu.
Perempuan terhormat masuk ke dalam.
Sisanya tinggal di mana lelaki bisa melihat mereka.
Hey...
Ngapain kamu?
Masuk ke kelas. Kamu tidak melihat lelaki di atap?
Kamu dengar? Maling masuk ke rumah Nona Hussa.
Itu kekasihnya, bukan maling!
Ayahnya kira itu maling kemudian diteleponnya polisi!
Sh! Jika katanya itu maling, maka itu maling.
Kau boleh mengatakannya, Salma.
Satu2nya lelaki yang pernah bicara denganmu, mungkin saja dia maling.
Wadjda, Wadjda.
Bisa kamu antar ini ke saudaraku?
Ini kartu izin keluarku.
- Kuupah 10 riyal. - 20.
Dasar...
Dia menunggu di belakang sekolah, di dalam truk pickup putih.
Wadjda.
Datang besok pakai kerudung,
kalo tidak, ibu jitak kepalamu.
Iya, InsyaAllah.
Tutupi wajahmu.
- Apa kamu saudaranya Abeer? - Tentu saja.
Dapat kartunya?
Nih. Kata Abeer kamu harus mengupahku 20 riyal.
- Benarkah? - Yes!
Hah? Bahkan duitmu bau parfum.
Hah? Bahkan duitmu bau parfum.
Kamu punya radio tip?
- Mau beli? - Entahlah?
Melihat-lihat dulu, boleh kan?
Kami tidak punya radio tip. Kalo CD ada.
Makasih! Aku pulang dulu.
Ibu mau jadi penyanyi?
Aku jadi penyanyi! Sembarangan!
Aku punya tabungan 87 riyal.
Aku perlu 713. Maukah ibu meminjamkan ku uang?
Tidak! Pasti sepeda lagi? Hentikan!
Aku disuruh Ibu Hussa ke sekolah pakai kebaya penuh.
Kebaya penuh? Mungkin sudah waktunya kamu menikah!
Lucu sekali!
Pergilah bersamaku.
Coba ini.
Ini kepanjangan maa.
Pegang seperti itu.
Oh, tidak, maling, maliiing!
Malingnya melompati pagar Nona Hussa untuk menemuinya.
Nggak tau juga. Mungkin itu beneran maling.
Memalukan sekali berkata seperti itu.
Maling.
Maling! Maling!
Ibu mau beli sesuatu buat datang ke pernikahan pamanmu,
supaya wanita lain berpikir seratus kali,
sebelum melihat ayahmu.
Maaf, Leila, maaf.
Supir kita si Iqbal kasar sekali.
Tadi dia meneriaki Aiesha.
Aku kasihan. Dua sudah menangis selama 3 jam.
Abeer, putrinya Mariam?
Dia ketahuan dengan seorang pria?
Kau kenal dia?
Oh, aku tahu sekarang!
Ya Allah. Playboy seperti bapaknya.
Apa dia ganteng seperti ayahnya?
Kau harus mengakui bahwa ayahnya ganteng.
Polisi religius?
Mariam pasti kecewa!
Seharusnya mereka dinikahkan dari dulu.
Perempuan seperti itu cuma bikin masalah.
Aku harus pergi, ayah sudah datang.
Terus kabari aku tentang masalah si Abeer ini.
Hati-hati. Sampai jumpa.
Ada apa?
Jangan takut, kami tidak akan menikahkanmu. Sapalah ayahmu.
- (Man in game) Hey, awas! - (Gunfire)
- (Character grunting) - Yah mati.
Seharusnya ayah tetap memakai char yang biasanya.
Itu raport asli apa beneran seperti yang kau buat tahun lalu?
Ini beneran. Aku pintar di matematika. Mau bukti?
Teorema phytagoras adalah keajaiban Allah.
Segitiganya selalu sama!
Sepertinya kau paham dengan yang sedang kau bicarakan.
Aku menabung buat beli sepeda.
- (Character groaning) - Mati lagi.
Mana si margoog?
Cantik sekali!
Superstar datang!
Hentikan! Superstar, eh?
Jadi kenapa ibumu memeriksa seluruh kota mencari wanita untukmu?
Tidak segitunya juga kali.
Ayo main denganku!
Nggak bisa.
Aku mau main!
Kudapatkan akses keamanan!
Tip dengan lagu cinta...
Gelang buat klub sepakbola...
Kau menjalankan klub penggemar sepak bola?
Bukannya benda-benda ini dilarang?
Abeer adalah gadis baik.
Dia tidak pernah bikin masalah.
Kau tau dia ketahuan berduaan dengan pemuda yang bukan mahramnya?
Apa kau yang mengatur pertemuan Abeer dan pria itu?
- Bukan aku! - Jangan bohong.
Aku yakin kau terlibat.
Aku bingung terlibat gimana.
No comments yet. Be the first to leave one.