The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX
Tadi kami ke Pangkalan Pompa Air dan minum-minum di dekat sini,
tetapi tak kusangka dia akan semabuk itu.
Kenapa tak panggil sopir?
Soal itu…
Apa ini?
Kau meninggalkan rumah?
Ya.
Ceritanya panjang.
Ceritanya panjang.
Omong-omong, kenapa kau kemari malam-malam?
Ceritanya juga panjang.
Kau tak mau atau tak bisa menjawab?
Kau sendiri bagaimana, Bu Kepala?
Apa maksudmu?
Biasanya kita mengantar rekan kerja yang mabuk ke rumah,
bukan ke motel.
Luka di hati itu menyeramkan.
Lee Si-woo.
MOTEL IMI
Aku pikir
kau sudah pulang dari tadi. Ternyata masih di sini.
Luka yang disangka sudah sembuh
rupanya telah memborok dan terinfeksi.
Kita sering-sering bertemu, ya?
Hati-hati di jalan.
Kian dalam kenangan akan luka itu,
tubuh pun kian meringkuk.
Bagai terperangkap di hutan gedung-gedung yang menjulang tinggi,
dia terjebak dalam simpati dan rasa sakitnya
dan berputar-putar di tempat yang sama
kemudian mengasingkan diri.
EPISODE 6 PULAU BAHANG PERKOTAAN
Status awas gelombang panas pertama tahun ini telah diterbitkan di Seoul.
Seoul akan terasa panas dan lembap sementara ini karena hawa panas
tidak bisa menguap akibat fenomena pulau bahang perkotaan.
Aspal yang memanas di siang hari
dan embusan angin panas dari kompresor penyejuk udara
membuat suhu kian panas.
Park Cheol-min melaporkan.
Astaga, kenapa pagi-pagi sudah sepanas ini?
Ibu sedang masak apa panas-panas begini?
Tak terasa sudah waktunya.
Berhenti membuat ini, Ibu.
Sekarang tak ada yang makan ini.
Ludahmu memuncrat. Pergi sana.
Aku cuma takut Ibu sakit lagi.
Ayah harus tinggal di kantor
karena sedang masa waspada bencana musim panas.
Bukankah Ayah pulang untuk tinggal bersama?
Apa?
Benar.
- Namun… - Kapan pulangnya?
Mungkin…
Selesai musim hujan.
Astaga, aku pusing.
Astaga!
Astaga, hari ini, akan sepanas apa lagi, ya?
Selamat pagi.
Radiasi surya menguat dan udara panas
- terus meresap - Maaf.
akibat pengaruh antisiklon negara kita.
Meski bersifat temporer,
suhu Juni pun meningkat tajam karenanya dibanding tahun-tahun sebelum.
Kau datang terlalu cepat.
Apa?
Bukankah Tim Dua sif malam mulai hari ini?
Mulai hari ini?
Benar.
Tampaknya kau bingung usai dimutasi dari Gangwon ke sini.
- Selamat bekerja. - Selamat jalan.
BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA KOREA
Mentega.
Mentega.
Bau.
PANGGILAN MASUK APARTEMEN 1302
MEMANGGIL APARTEMEN 1201
Ya.
- Kebetulan kau ada. - Ya.
Ada perlu apa?
Staf kami sudah mengirim pesan kepadamu berkali-kali,
tetapi tak ada jawaban.
Tak lama lagi akan ada peserta diklat,
jadi, kuharap kau mengosongkan kamar.
Kalau bisa sekitar pekan depan.
Pekan depan?
Kami harus menata kamarnya
sebelum peserta diklat baru tiba.
Aturannya pun staf dilarang tinggal lebih dari sebulan.
Kau pasti tahu itu.
Baiklah.
Tolong kosongkan kamarnya pekan depan.
- Terima kasih. - Ya.
Cuaca panas, tetapi kau berlari?
Padahal kita sif malam. Kau tak tidur siang?
Apa yang enak di sini, ya?
Mari kita pertimbangkan lagi.
Soal apa?
Kau dan aku.
"Layaknya dua awan
yang berbunyi lantang tatkala bertemu,
ingin kutemui dirimu seperti itu
dan berteriak tanpa sadar."
"Ibarat lampu yang menyala sekejap
tatkala dua awan tiba-tiba bertemu,
ingin kutemui dirimu
dan kutemukan jalanku yang telah hilang."
Kira-kira apa arti ini, ya?
Kalimat akhirnya,
"Kau memberitahuku dengan penuh pesona
bahwa hujan harus bertemu dengan sesama hujan agar keduanya basah."
"Sisi yang serupa akan memahami perasaan masing-masing."
Mungkin itu artinya.
Misalnya?
Semacam ini.
- Apa-apaan itu? - Kenapa?
- Apa itu? - Kala itu aku belum tahu
- Apa? - bahwa untuk memahami bait indah,
"Hujan harus bertemu dengan sesama hujan agar keduanya basah,"
kami harus berkecamuk hingga merasa pilu.
Kenapa mendadak begini?
Kukira aku sudah membaik, tetapi ternyata tidak.
Sejak melihatmu di sana kemarin,
aku terus memikirkannya tanpa henti.
Aku terus teringat akan luka di hatiku
dan marah.
Wanita itu tak ada hubungannya denganku.
Aku juga ingin memercayaimu dan melupakannya.
Namun, hal itu terus mengganjal dan tak kunjung hilang.
Aku juga tahu bahwa kau tak berbohong.
Namun, menurutku itulah masalahnya.
Jelas-jelas kau jujur,
tetapi aku tak bisa memercayaimu.
Nona Jin.
Mari kita pertimbangkan dahulu.
Itu demi diriku sendiri, bukan kau.
Aku pamit. Makanlah.
Itu karena ayahku.
Kemarin aku pergi ke motel…
karena ayahku.
Lee Si-woo?
Aku kemari untuk menemui Lee Myung-han.
Masuk.
Hei, kau mati kalau takut.
Ke mana perginya si pemain hwatu?
- Sialan. - Myung-han.
- Putramu tiba. - Ini punyaku.
- Jika lebih tinggi dari ini… - Kau tampan sekali.
- Selamat datang, Si-woo. - Apa itu?
Kemari…
Hei, Si-woo!
Hei, Si-woo!
Astaga. Hei, Si-woo!
Hei!
Hei, tunggu ayah.
Hei, Si-woo.
Dasar berandal.
Kenapa kau langsung pergi?
Berjudi lagi?
Ayah menghubungiku sampai gelisah karena ini?
Apa boleh buat? Kau putra ayah satu-satunya.
Berikan semua uang yang kau bawa.
Kenapa?
Sialan.
- Kau tak bawa uang? - Aku…
- tidak punya uang. - Kenapa tak punya?
Ayah tahu kau punya
pekerjaan bagus dan tabungan dari gaji tetap tiap bulan.
Uang yang kukumpulkan itu
sudah Ayah habiskan satu tahun lalu.
Begitu, ya?
Pokoknya, berikan saja yang kau punya berapa pun.
Uang ayah sudah habis dan nyaris tinggal di jalanan.
Ya?
- Cepat. - Aku tak punya uang!
Aku saja tinggal di mes Pusdiklat karena deposito rumah pas-pasan.
Bisa pinjam di bank?
Pasti ada pinjaman khusus untuk PNS, 'kan?
Jangan pernah hubungi aku lagi.
Bila Ayah menghubungiku lagi,
aku akan lapor polisi, tak peduli kau ayahku atau bukan.
Dasar berengsek.
Hei, berhenti.
Sial. Berani-beraninya…
Sialan.
Kakiku sakit.
Omong-omong,
kenapa kau kemari malam-malam?
Ceritanya juga panjang.
Kau tak mau atau tak bisa menjawab?
Kau sendiri bagaimana, Bu Kepala?
"Bu Kepala"?
Apa maksudmu?
Biasanya kita mengantar rekan kerja yang mabuk ke rumah,
bukan ke motel.
Kantor Catatan Sipil?
Untuk apa?
Untuk mencatat pernikahan kita.
Setelah mencari informasi kredit rumah pengantin baru,
ternyata salah satu syaratnya adalah surat nikah.
No comments yet. Be the first to leave one.