The first 200 lines.
Seluruh kayak kami telah dikemas,
berencana untuk menghabiskan hari di atas air.
Jadi kami menikmatinya saja.
Bersantai.
Kami benar-benar tak merasa
bahwa apa pun bisa terjadi, yang tak bisa kami tangani.
Florida Keys.
Serangkaian lebih dari 800 pulau tropis yang membentang
lebih dari 190 km di lepas pantai selatan Florida.
Iklimnya yang sejuk, keindahan alam, dan beragam satwa liar membantunya
dikenal sebagai surga rekreasi
bagi turis dan penduduk lokal seperti Karri Larson, yang jatuh cinta
pada Florida Keys pada hari dia tiba.
Aku dari Michigan. Pada tahun 2006, aku datang ke sini untuk berlibur.
Putriku sedang kuliah,
aku menelepon hari kedua di sini dan berkata akan pindah.
Aku gila menolong. Aku ingin selesaikan masalah semua orang.
Selulus kuliah, aku bekerja di penjara pria tingkat tiga,
dan setelah satu tahun menjadi petugas pemasyarakatan,
aku menjadi konselor di unit kejiwaan.
Aku sampai pada titik di mana merasa mereka seharusnya
dibantu lebih cepat, dan mulai tangani anak yang dipukuli dan disiksa.
Aku pulang dan... Itu sulit.
Harus memprosesnya,
harus memahami apa yang bisa diubah dan yang tidak.
Setiap hari, sepulang kerja,
aku berjalan-jalan dan harus menyegarkan diriku karena
karena jika terus menumpuknya di dalam diri,
pada saat bekerja esok harinya, takkan bisa membantu.
Untuk Karri, obat yang sempurna untuk stres kerja adalah naik kayak,
memulai perjalanan sehari di sepanjang Florida Keys
bersama pacarnya, Michael Hinojosa.
Kayak adalah kemampuan kami untuk menjauh dari kesibukan sehari-hari,
menjauh dari orang, karena desain Florida Keys,
dan perairan dangkalnya, serta ribuan pulau kosong,
kami menyukai bagian petualangannya,
pergi ke tujuan baru hampir setiap saat.
Serunya menemukan, belok di kelokan
pulau kosong yang belum pernah dilihat,
dan tak tahu apa yang akan ditemukan nantinya.
Mungkin kapal karam, mungkin lumba-lumba,
mungkin elang botak Amerika.
Kami akan pergi dan mencari tempat yang nyaman untuk diinapi,
lalu kami akan makan siang roti lapis,
dan ada banyak pulau bakau yang bisa didatangi,
dan tak ada yang tahu kami di sana, dan kami akan di luar seharian.
Ini Oktober 2010. Hidup mulai indah bagi Karri.
Putrinya akan menikah musim semi itu
sementara dia dan Michael baru pindah ke rumah baru di pantai.
Kami pindahan seharian, cukup lelah, tetapi juga,
kami merasa pantas beristirahat, dan itu malam yang indah dan sempurna,
dan kami antusias akan naik kayak,
jadi kami tak sabar memulai perjalanan pertama kami.
Kami akan menaruh kayak tepat di belakang rumah,
tetapi karena waktu kami terbatas, hari sudah malam,
dan matahari terbenam 2-3 jam lagi,
kami putuskan menaruh kayak di belakang trukku,
dan pergi ke dermaga terdekat di pulau yang sama,
yang disebut Big Pine Key.
Setengah dari pulau ini ditutupi oleh hutan lindung.
Itu yang ingin kami lihat.
Kami tak mau melihat rumah seperti milik kami.
Kami ingin melihat sisi pulau yang masih alami.
Jadi kami pergi ke dermaga, memasang kayak, dan berangkat.
Entahlah. Kami pikir kami sangat aman karena kenal area itu.
Kami pergi ke area yang pernah didatangi.
Ini hari yang indah. Matahari sedang terbenam.
Mungkin sekitar dua jam sebelum matahari terbenam,
jadi tahu jika bergegas, kami bisa ke sana,
naik kayak beberapa jam sebelum matahari terbenam.
Jadi, aku perlahan mendayung di sekitar pulau,
ke area di mana kami bisa melihat Teluk Meksiko,
melihat pulau-pulau kosong, membawa kami jauh dari peradaban.
Perairan dangkal Florida Keys dan hutan bakau
bersama-sama menciptakan pembibitan ini.
Hutan bakau menyediakan area perlindungan bagi ikan kecil
dan makhluk laut kecil lainnya untuk berkembang biak dan bertahan hidup
dan tumbuh cukup besar untuk melindungi diri dari ikan yang besar,
dan hiu yang ada di dekatnya.
Jadi, kami tiba di pulau bakau ini,
tempat kami akan naik kayak, dan sadar air laut sangat surut,
dan bahwa harus ada air pasang untuk melewati area ini.
Jadi, kami berhenti.
Air sangat tenang.
Kami bisa melihat dengan jelas ke bawah, melihat ratusan ikan,
hiu kecil berenang di sekitar.
Saat itu, kami sangat santai,
kami hanya menikmati diri dan kesempurnaan saat ini.
Menikmati alam, jernihnya air,
dan bisa melihat segala sesuatu yang berenang di dekat kami.
Kami tak bisa melihat orang lain atau perahu lain.
Hanya dia dan aku dan alam, untuk itulah kami memotret.
Di kejauhan aku melihat ikan perak raksasa melompat keluar dari air,
ini ikan perak sangat besar
sepanjang sekitar 1,5 meter. Belum pernah kulihat ikan sebesar itu
melompat keluar dari air.
Ikan itu tidak melompat-lompat, melainkan terbang.
Kami melihatnya di kejauhan, dan mendengarnya melompat dua kali.
Mike berkata, "Kau lihat ke kiri, aku lihat ke kanan."
Satu dari kami akan melihatnya. Saat aku menoleh...
Airnya pecah, dan seekor ikan perak raksasa melesat keluar dari air
dan menabrak tulang rusuk Karri di sini,
begitu keras sehingga menjatuhkannya dari perahu.
Tak banyak ikan perak raksasa di lautan,
dan satu-satunya jenis ikan perak raksasa yang mungkin ada,
karena kami di hutan bakau, adalah barakuda.
Barakuda, ikan pemangsa besar yang ditemukan
di lautan tropis dan subtropis di seluruh dunia.
Gigi tajamnya yang menonjol dan bentuknya yang seperti ular
menjadikannya salah satu ikan paling menakutkan di lautan.
Perenang yang sangat cepat dan kuat, barakuda bisa tumbuh hingga 1,8 meter,
dengan berat hampir 45 kg.
Dr. Camila Caceres adalah ahli biologi kelautan yang mengabdikan hidupnya
untuk meneliti beberapa hewan paling berbahaya di lautan.
Barakuda sudah pasti tak tertarik memakan manusia,
kurang tertarik pada darah manusia
karena darah kita tak berminyak seperti ikan.
Sangat jarang melihat barakuda melompat keluar dari air
tanpa rangsangan atau apa pun,
tetapi barakuda adalah penyergap, berarti mereka duduk dan menunggu,
lalu saat ada mangsa di dekatnya, mereka berenang sangat cepat.
Bisa dibandingkan dengan citah di darat,
di mana tak bisa pertahankan kecepatan itu lama-lama,
tetapi dalam jarak dekat, mereka bisa cepat menyergap.
Diperkirakan barakuda bisa berenang
hingga 58 km per jam, sangat cepat.
Jika pernah berada di air, snorkeling atau menyelam,
kau bisa melihat barakuda sejauh enam meter,
dan dalam sekejap, bisa berada tepat di depanmu.
Seperti ditabrak motor.
Cara tubuhnya tinggalkan pandanganku. Dari sesaat berada di depanku,
dan hilang total dalam sepersekian detik.
Dia mengangkatku dari kayak dan melemparku sejauh 1,5 meter.
Fakta bahwa barakuda mampu berenang begitu cepat,
saat menyerang, berenang dengan kuat,
dan bisa menyergap atau membuatmu merasa seperti dihantam,
itulah kekuatan di balik kemampuan berenang mereka.
Mike berteriak padaku, "Kembali ke kayak,
"kembali ke kayak." Aku mau berdiri...
Aku langsung bisa melihatnya berdarah dan rusuknya berlubang besar.
Aku mendengar mereka, kurang lebih bisa melihat
bentuk tubuhnya dari bulan.
Begitu cepat hingga hanya, "Kau menggigitku."
Pada saat itu, aku perlu menegaskan dominasiku.
Umumnya orang bertanya, "Kenapa?"
Kujawab, "Kalau kau bagaimana?"
Longmont, Colorado,
kurang dari satu jam dari Taman Nasional Gunung Rocky.
Ini perpaduan sempurna antara pesona kota kecil dan keindahan alam.
Andrew Dickehage, teknisi komputer, tinggal di sini seumur hidupnya.
Longmont adalah kota keluarga. Ini area yang bagus.
Tahu keluargamu aman.
Aku bisa biarkan putraku keluar,
berlarian, dan aku tak cemaskan siapa pun.
Itu tempat tinggal yang mudah.
Bulan Oktober 2013. Sebagai karyawan perusahaan teknologi besar,
yang melayani klien dua zona waktu,
hari kerja Andrew dimulai pada pukul 05.00 yang berat.
Menjadi ayah dari putra dua tahun adalah motivasi yang lebih dari cukup.
Menjadi seorang ayah membantuku memahami nilai kehidupan,
dan membantuku menyadari apa yang penting.
Membuat anak itu tersenyum,
mengetahui putraku baik saja, kenyang,
dan hangat setiap malam adalah hal yang penting bagiku.
Sayangnya, malam sebelumnya,
mobil Andrew mogok dan dia tak punya cara
untuk pergi kerja paginya.
Jika tak masuk kerja,
hanya kulihat kurampas makanan dari mulut putraku.
Tujuan utamaku adalah berangkat kerja,
dan saat itu tak ada yang mengantarku bekerja.
Tak ada bus beroperasi pukul 03.00.
Jadi, aku harus berjalan 9,6 km untuk pergi kerja.
Cukup dingin sepanjang perjalanan.
Saat tanpa lampu, rasanya makin dingin.
Sekitar pukul 04.00.
Andrew telah berjalan selama hampir satu jam di jalan kecil
yang melintasi sejumlah padang terbuka di daerah berhutan.
Tak terlihat apa pun di depanku.
Tak terlihat marka jalannya, garis putih besar itu tidak ada.
Aku bisa tahu sedang berjalan ke arah
yang kutuju adalah karena bisa melihat seberkas sinar kecil
dari cakrawala di atas batas pohon,
dan bisa merasakan trotoarnya,
dan di mana tanahnya. Gelap.
Setelah beberapa saat, harus pakai senter,
dan yang terlihat hanyalah cahaya bintang.
Biasanya saat berjalan, akan dengar macam-macam.
Bunyi jangkrik,
bunyi kelinci, macam-macam.
Tidak semuanya hewan besar.
Namun, ada suara yang mulai mendekat.
Aku di dekat area semak yang membuatku kurang nyaman.
Aku mulai menyorotkan senter ke sana,
dan sebelum sempat menyorot semak...
hewan itu menerjangku.
Dia menempel di wajahku dan menggigitku
dari bawah pipi ke bawah rahangku.
Ketegangan di ligamen itu belum pernah kurasakan.
Dari kegelapan,
No comments yet. Be the first to leave one.