The first 200 lines.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Mau kubuatkan kopi?
Masih sakit perut?
Tak apa-apa. Aku akan beli sesuatu di jalan, terima kasih.
Nanti malam jadi, bukan?
- Tentu saja. - Bagus.
- Kau antusias? - Ya.
Aku tak percaya.
Aku antusias. Hanya saja, entahlah.
Aku antusias. Pasti akan sangat bagus.
Entah bagaimana kau melakukannya,
tetapi aku antusias.
Terima kasih, Ayah. Itu amat berarti.
Aku tahu kau bisa sangat menekan dirimu.
Ya, aku tinggal di apartemen dua kamar bersamamu, tak punya mobil,
dan makan malamku tempo hari sepotong Twix,
- jadi, kita butuh tekanan itu. - Namun, intinya, itu bukan masalah.
Karena aku sangat menyayangimu dan bangga kepadamu.
Jika kau perlu tinggal di sini selamanya, aku mau kau di sini selamanya.
Aku tak mau kau merasa harus membuat segalanya penting.
Kenapa tak coba mengerahkan semua yang kita punya ke semua yang bisa?
Sayang, jika itu benar, kenapa begitu menekankan yang ini?
Karena aku...
Entah apa aku bisa melakukannya lagi.
Apa pun itu, sampai jumpa nanti malam.
- Ya. - Pasti akan bagus sekali.
- Sampai jumpa nanti malam. - Ya, baiklah.
Aku menyayangimu, Koki.
Apa-apaan, kalian...
Carm, ini hal baik.
Keparat!
Apa kalian para bajingan baik-baik saja?
Hai. Halo.
Kau kepala koki terbaik di restoran terbaik
di seluruh Amerika Serikat.
Jadi, kenapa kau di sini?
Verdana akan tutup permanen tanggal 1 Mei.
KALDU PENYAMBUT - FOCACCIA - CRUDO CANNOLI - TUJUH IKAN
BOLOGNERE - GRICIA - TULANG T KAVIAR - DONAT CERI
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Kau tak apa-apa?
Aku baik-baik saja.
Ada hal seru yang mau kubicarakan.
Baiklah, bagus. Aku pun punya yang seru. Mau kau dahulu?
Ya, dengan senang hati.
Persenan versus tanpa persenan,
yang seharusnya percakapan sederhana, dan tak menyulitkan.
Lalu, apa-apaan itu?
- Itu lukisan. - Aku membencinya.
Fotonya sudah kukirim lewat pesan teks dan kutanyakan apa boleh dipajang.
Jadi, kau pajang? Bahumu tak apa-apa?
Kataku, jangan dijawab jika boleh.
Bahuku... Entahlah. Baiklah, bagus. Giliranku.
Jendela roti lapis tak bisa dibuka karena belum dapat sertifikasi ServSafe.
Harus ada sertifikasi ServSafe agar bisa dibuka
dan Ebra tak memperpanjang sertifikasi ServSafe itu.
Itu sudah dicentang dari daftar.
Ya. Rupanya mencentang tak sesulit itu.
Tahu bagaimana bisa cepat kita bereskan?
Ya, aku tahu.
- Jimmy? - Jimmy.
Stevie dan Michelle tak bisa datang malam ini, itu payah.
Aku pun mengundang Ibu.
Kau mengundang Ibu?
Ya.
Ini untuk teman dan keluarga.
Bukan berarti harus bawa keluarga, Sug.
Jangan panik jika kau melihatnya.
Kau jangan panik jika tak melihatnya.
Sertifikat ServSafe itu apa?
- Jangan mengalihkan. - Tidak.
Aku masih memikirkan lukisan itu.
ServSafe adalah pelatihan keamanan makanan.
Itu bukan aku.
- Pelatihan keselamatan bukan kau? - Lukisan itu bukan aku, Nat.
Baiklah.
Aku tak keberatan Ibu datang.
Kau yakin?
- Aku tak keberatan. - Baiklah.
- Akan kusingkirkan lukisan itu. - Terima kasih.
JANGAN TERLALU DIPIKIRKAN
Belum ada pelayan penuh, kita seharusnya punya pengantar makanan.
Kita buat sembilan hidangan saja?
- Ya, itu bagus untuk percobaan. - Bagus.
- Mungkin... - Ganti crudo- nya?
- Crudo dan... - Salah satu pasta.
Ya, cavatelli- nya.
- Ya. - Baiklah.
- Sudah bisa menghubungi Tony? - Belum.
Ada...
Ya.
- Aku punya sesuatu untukmu. - Baiklah.
Untuk nanti.
- Seragam baru sudah ada? - Ya.
Pakai biru sampai waktu pelayanan?
- Ya, Koki. - Bagus.
Hei, ingatkan siapa itu Tony?
Reparasi kulkas.
Matilah aku.
- Matilah aku! Sial. - Tak apa-apa.
- Tidak, maaf. Dia terlewat. - Ya.
- Maaf. - Ya. Aku tahu kau melewatkan dia.
Maaf. Keparat.
Aku hanya merasa aku memberi banyak untuk ini.
- Entahlah, Kawan, ini sama dengan... - Aku tahu.
- yang selalu kau katakan. - Aku tahu.
Aku bukan mencoba...
Aku butuh fokusmu sama seperti kau butuh fokusku. Tak mau kubagi, maaf.
Aku mengerti. Ya? Hai.
Carm, aku lupa bertanya karena aku perlahan mulai lemas.
Sudah ada kabar dari Tom?
- Siapa Tom? - Tom tukang reparasi kulkas.
- Itu Tony. - Bukan, itu Tony.
- Tom atau Tony? - Aku saja.
Kau bisa meneleponnya?
- Baiklah. - Akan kulakukan. Tidak. Hei, aku saja.
Kau punya ponsel akhir-akhir ini?
- Ya, Nat, aku punya ponsel. - Baiklah.
Terima kasih.
Baiklah. Bagaimana pendapatmu tentang menunya?
Bagus. Menunya tampak bagus. Tampak seperti menu.
Harus melakukannya seribu kali saja.
- Kau tak apa-apa? - Tanyakan lagi nanti. Kau?
Bagaimana hubunganmu dengan ibumu?
Baiklah, kenapa membahas itu?
Nat mengundang ibu kami makan malam.
Itu tak bagus?
Itu tak bagus.
Aku tak keberatan, karena aku tahu itu bencana besar.
Aku tahu akan seperti apa, tetapi untuk Nat, itu sangat tak bagus.
Dia mengharapkan semacam mukjizat.
Untuk menjawabmu,
hubunganku tak terlalu baik dengan...
Dia sudah meninggal.
Mungkin itu bisa kusampaikan dengan lebih halus.
Dia meninggal saat usiaku empat tahun. Lupus.
Maaf, aku seharusnya tahu...
Tidak. Jangan lakukan itu.
- Apa? - Mengatakan "turut berduka cita."
Tak apa-apa. Kejadiannya sudah lama. Entahlah.
- Aku masih kecil. Biar saja. - Maaf.
- Terima kasih. - Ya.
Jadi, hubungan kami tak baik
karena dia sudah meninggal.
Itu bisa jadi penyebabnya. Ya.
- Itu sungguh bisa, ya. - Ya.
JANGAN BERHENTI
Hei.
- Apa kabar? - Berbaringlah.
Jika berbaring, aku tak akan berdiri lagi.
Tunjukkan bulannya.
Baik. Ini, duduklah.
Terima kasih.
- Ya. - "Ya" apa?
Kita aman selama beberapa minggu, lalu...
Lumayan.
- Itu lumayan. - Ya.
Namun, tak terlalu baik. Kita butuh yang luar biasa.
Biaya makanan dan upah tak murah. Semua juru masak ini tak murah.
Tahu apa lagi yang mahal?
- Melon jingga dan kaviar? - Benar.
- Namun, keren. - Jelas keren.
Sangat keren sampai harga menu harus naik lima persen.
Ya. Lima. Tujuh. Aku setuju.
Ya? Menurutmu begitu?
Ya. Aku sebetulnya tak yakin apa yang sedang kita bahas.
Ya, harganya harus kita naikkan lima persen.
Benar.
Aku tak akan panik dahulu. Tidak.
- Ya, aku juga, Koki. - Ya.
Seberapa penuh kita minggu depan?
Minggu depan, kita penuh.
Ya? Lalu?
Setelahnya, tak sepenuh itu.
Baik, jika kita sepi, tamatlah.
Apa ada daftar tunggu?
Berapa reservasi setiap malam?
- Tak ada. - Baiklah.
Aku mulai panik.
Tidak, ayolah. Lupakan itu, kita pasti bisa.
Ya?
Kita pasti bisa.
Baiklah, Koki, beri garam yang banyak.
- Banyak sekali. - Kau besar di mana? Arizona?
Koki, dengar. Ya?
- Tolong ambil penggorengan. - Ya, Koki.
Kenapa ini ada di kiri?
Seharusnya di kanan karena kita semua tidak kidal.
- Kenapa kau kaget? - Sial!
Dasar ceroboh!
Itu kesalahanku. Siapa yang pasang di sisi kiri?
Kontraktor kidal yang meneleponmu entah sudah berapa kali.
- Kau punya ponsel? - Ya, aku punya.
Kenapa tak kau suruh dia untuk memasangnya di kanan?
Karena kau yang minta persetujuan akhir untuk semua peralatan, Koki.
Itu kau.
- Fokuslah. - Di belakang. Hei, itu cepat sekali.
- Sangat cepat. - Ya, itu membuatku gugup.
- Kau suka? - Carmy, aku siap.
Ya, aku segera ke sana, Koki.
No comments yet. Be the first to leave one.