The first 200 lines.
Apakah aku terlihat gila?
Gila karena tidak berteriak pada segala sesuatu yang dadaku rindukan?
Mereka datang!
Aku harus menahan diri agar tidak menusukmu dengan...
Biarkan dia!
Aku datang agar dia bisa membunuhku.
Karena aku telah pergi dengan pria lain.
Aku telah pergi.
Kau akan melakukan hal yang sama.
Aku dulu adalah wanita yang dipandang rendah,
penuh rasa malu luar dalam.
Dan anakmu...
Anakmu adalah harapan.
Aku bisa punya anak-anak, tanah dan kekuatan.
Tapi pria lain ini,
dia adalah sungai yang gelap, penuh dengan pohon pakis,
yang membawakan aku gumaman para alang-alang
dan lagu di antara gigi-gigi terkatup.
Aku tidak menginginkannya...
Kau dengar aku? Aku tidak menginginkannya...
Anakmu adalah hidupku.
Tapi pelukan pria lain ini menyeretku bagai gelombang pasang.
Seperti gagang seekor bagal...
Dan dia bisa menyeretku selamanya.
Selamanya...
Selamanya...
Diterjemahkan oleh Sangkuni
Dari empat penjaga keledai.
Dari empat penjaga keledai.
Dari empat penjaga keledai.
Oh Ibu, masuk ke air,
masuk ke air...
Seorang dengan keledai abu-abu.
Seorang dengan keledai abu-abu.
Seorang dengan keledai abu-abu.
Oh Ibu, dia mencuri jiwaku,
mencuri jiwaku.
Hujan mengguyur di ladang.
Hujan mengguyur di ladang.
Oh Ibu, cintaku menjadi basah,
cintaku menjadi basah.
Siapa yang bisa menjadi pohon kecil.
Siapa yang bisa menjadi pohon kecil.
Oh Ibu, penuh dengan daun,
penuh dengan daun.
Lebih baik tetap diam.
Apa yang kau lakukan? Mereka akan melihat kita...
Lepaskan, lepaskan...
Hentikan, tidak, tidak, tidak, hentikan!
Tidak, tidak, tidak!
Lihatlah, anak muda, taplak mejanya telah tiba.
Apakah kau pernah melihat kain seperti ini?
Dan bordirnya?
Kau bisa mengatakan ini buatan ibumu./ Ibuku!
Aku akan menjemputnya sebelum terlambat.
Tidurlah, bayiku, tidurlah...
Dia adalah kuda besar...
yang tidak mau minum...
Lihatlah... sebuah apel.
Dia baik-baik saja hari ini.
Dan kau?
Aku telah menghabiskan dua bulan
memakaikan sepatu baru pada kuda itu dan selalu menjadi longgar.
Karena batu-batu kecil.
Atau mungkin hanya terlalu banyak bekerja?
Tidak.
Aku tidak menungganginya sesering itu.
Para tetangga mengatakan kepadaku bahwa kemarin mereka melihatmu di tepi dataran;
Itu kau?/ Bukan.
Hei...
Aku sedang dengan para pengawas gandum.
Mereka selalu sangat menghibur.
Aku butuh gaun baru.
Dan topi bayi baru./ Jadi siapa yang telah memacu kuda itu?
Dia ada di bawah dengan mata melotot,
seolah dia telah melihat akhir dari dunia.
Aku...
Aku yang melakukannya.
Tentu saja.
Kuda itu milikmu.
Apakah kau tahu mereka meminta bantuan sepupuku?
Kapan?
Hari ini.
Kurasa ibu si pengantin pria tidak terlalu senang dengan pernikahan itu.
Dia benar. Gadis itu tidak bisa dipercaya.
Putriku.
Ayah...
Apa kau senang?
Anggurnya sudah datang.
Aku ke sana.
Selamat, gadis muda,
atas pertunanganmu...
Terima kasih./ Ada masalah apa, Nak?
Kau tidak merasa bahagia?
Kau siapa?/ Aku membawa hadiah untukmu...
dan nasehat.
Apa?
Dengan pisau,
dengan pisau kecil yang hampir tidak muat di tanganmu,
tapi melukai seperti es, ke dalam daging yang terkejut,
dan tetap menancap,
di mana kegelapan jeritan terdalam, menggigil dan menggeram.
Kau siapa? Apa yang kau lakukan di sini?
Jangan menikah, jika kau tidak mencintainya.
Keluar. Keluar dari rumah ini!
Tidurlah, bayiku, tidurlah...
Dulu ada kuda besar
yang tidak mau minum
yang tidak mau minum
Airnya hitam
di bawah cabang-cabang
Ketika mencapai jembatan
dia berhenti dan bernyanyi
Siapa yang bisa menebak, Anakku,
apa yang dibawa oleh air sungai
dengan ekor panjangnya
di dalam ruang tamu hijaunya
Apa kabar?
Aku menutup toko dan datang untuk menemuimu.
Kita tinggal sangat berjauhan!
Sudah 20 tahun sejak aku pergi ke ujung jalan.
Kau baik-baik saja?/ Menurutmu?
Dua hari yang lalu mereka membawa anak tetanggaku
dengan dua lengannya yang terpotong oleh mesin.
Rafael?
Ya, dan begitulah dia.
Aku sering memikirkan anakku, dan anakmu...
mereka berada di tempat yang lebih baik. Tidur,
...istirahat./ Cukup!
Itu hanya dugaan, tidak akan menghibur.
Berbulan-bulan telah berlalu
dan kesedihan masih menyengat mataku dan bahkan helai-helai rambutku.
Ketika akhirnya aku melihat anakku, aku membasahi tanganku dengan darahnya...
dan kemudian menjilatnya dengan lidahku.
Karena dia adalah milikku. Kau tidak akan mengerti.
Nyonya!/ Aku tidak akan pernah diam.
Kau masih punya satu tersisa.
Pikirkan itu.
Apa yang Ibu lakukan di sini, bukannya ikut aku ke kebun anggur?
Apa yang bisa dilakukan wanita tua di kebun anggur?
Tua?
Tua? Ya, sangat, sangat tua!
Ayahmu dulu biasa membawaku ke sana...
Jadi akhirnya dia membeli kebun anggur itu?
Dia beruntung.
Sekarang dia akan menikah.
Apakah kau tahu tunangan anakku?
Dia gadis yang baik.
Ya tapi...
Kau tak akan pernah tahu isi hati seseorang,
Tapi dia baik.
Dia hidup sendirian dengan ayahnya di luar sana, sangat jauh...
dia sudah biasa kesepian.
Dan ibunya?
Dia cantik. Tapi aku tidak pernah menyukainya.
Dia tidak mencintai suaminya./ Tapi semua orang tahu terlalu banyak!
Kaulah yang bertanya!
Apakah dia pernah punya pacar?
Ketika dia berusia 15 tahun.
Tapi beberapa tahun yang lalu dia menikah dengan sepupu gadis itu.
Siapa dia?
Leonardo.
Leonardo siapa?
Leonardo Felix.
Felix!
Ibu tahu bahwa tunanganku adalah gadis yang baik.
Ya./ Lalu?
Ya. Aku sendiri tidak tahu...
Aku tahu bahwa dia pekerja keras dan baik. Tapi...
ketika kau menyebutkan namanya, itu seperti melempar batu ke kepalaku.
Aku harus pergi.
Orang-orangku dari ladang akan segera tiba.
Jangan menghalangi kebahagiaan anakmu.
Sekarang sudah waktunya bagi kita untuk mundur.
Jangan berpikir macam-macam, aku tahu Ibu akan menyukai tunanganku.
Pasti.
Hanya saja... Ibu akan sendirian.
Pertama ayahmu...
yang kucintai dengan sepenuh hati. Dan yang berlangsung hampir tiga tahun.
Kemudian kakakmu...
dan sekarang hanya ada dirimu.
Aku tidak ingin kau pergi.
Ya ya ya...
Aku tahu kau sudah terlalu tua untuk ciuman.
Cobalah untuk meringankan hidupku dengan enam cucu.
Atau sebanyak yang kau inginkan. Ayahmu tidak pernah memberiku apapun.
Yang pertama untuk Ibu.
Tapi perempuan./ Ayo, siap-siap.
Ini perjalanan yang panjang.
Perjalanan yang panjang?/ Empat jam.
Kau mengambil jalur yang jauh.
Aku terlalu tua untuk bepergian lewat tepi sungai.
Dia sedang pusing.
Silahkan masuk.
Panen bagus dari rumput esparto.
Saat aku kecil, tidak ada rumput esparto di sekitar sini.
Sekarang kita harus memukulnya dengan tongkat, untuk membuatnya mengeluarkan sesuatu.
Tapi sekarang memberimu keuntungan. Berhentilah mengeluh.
Aku datang bukan untuk meminta sesuatu darimu.
Kau lebih kaya dariku.
No comments yet. Be the first to leave one.