The first 200 lines.
"Episode 15"
Sudah lama tidak jumpa, Sun Ja.
Kenapa kamu kemari, Jalang?
Kamu belum berubah sama sekali.
Meski aku tidak berharap kamu akan menyambutku,
ini tetap agak mengecewakan.
Kita tidak saling bertemu
selama 28 tahun.
Benar. Sudah 28 tahun.
Sudah tepat 28 tahun.
Kamu tahu sekali.
Bisa-bisanya kamu muncul saat tengah malam begini?
- Sun Ja. - Jangan sebut namaku!
Apa kamu sungguh manusia?
Kamu masih sama saja.
Kamu tidak ada bedanya!
Hatimu sedingin es.
Sifatmu selicik ular!
Kamu mengabaikan anakmu sendiri!
Sun Ja!
Kamu tidak bisa dianggap ibu.
Kamu tidak berhak melahirkan anak.
Kamu lebih buruk dari binatang!
Bahkan binatang tidak mengabaikan anak mereka.
Pergi sana!
Keluar dari sini!
Beraninya kamu malah duduk.
Pergi sekarang juga. Keluarlah!
Apa Seung Yeon
baik-baik saja?
Apa-apaan itu?
Kutanya, apa Seung Yeon
baik-baik saja?
Kamu sungguh penasaran soal itu?
Kamu memberiku uang untuk mengirimnya ke Amerika.
Tapi kenapa tiba-tiba kamu mau tahu?
Apa dia
baik-baik saja di Amerika?
Tentu saja, kabarnya sangat baik.
Dia menikmati hidupnya di sana!
- Syukurlah. - "Syukurlah"?
Kenapa kamu bisa bersyukur?
Kamu merasa bersyukur karena anakmu hidup
dalam kebisuan mencekam dan tidak boleh mencari ibunya?
Aku kemari untuk mengatakan sesuatu.
Aku mengatakan ini hanya untuk memastikan.
Aku mengatakan ini kepadamu dan Seung Yeon.
Berjanjilah
untuk hidup seperti ini
selamanya.
Apa?
Seperti hidup yang telah kita jalani,
mari
saling mengabaikan satu sama lain.
Aku datang untuk mengatakan ini.
Hei.
Hei.
Memang apa salah kami kepadamu?
Aku hanya merasa
itu keputusan yang baik untuk kita semua.
Aku permisi.
"Sup Tulang Sapi Han Cheon"
Dasar wanita jahat!
Kamu nenek sihir keji.
Jangan berani-berani kemari lagi.
Dasar jalang tidak tahu diri.
Wanita jahat terburuk di dunia.
Dasar ular licik.
Wanita jahat...
Hai, Bu.
Bisakah
kamu menemui ibu sekarang?
Ada apa, Bu?
Cepatlah.
Lekaslah kemari, ibu mohon.
Ada apa? Ibu sakit?
Kenapa?
Paman di mana? Dia sudah pulang?
Aku ke sana sekarang.
Minumlah air hangat dahulu, ya?
Aku segera menuju ke sana.
Maaf, aku harus pulang sekarang.
- Ya, baiklah. - Maaf.
Tunggu, hei.
Apa-apaan itu?
Dia melarang kita meremehkan wanita yang sudah menikah.
Sekarang dia malah sibuk dengan urusan keluarga lagi.
Mungkin dia berpura-pura
agar bisa pulang cepat.
Dia pasti merencanakan ini dengan ibunya.
- Kurasa begitu. - Pasti begitu.
Bisa-bisanya kalian berkata begitu.
Tega sekali.
Kalian tidak dengar? Ibunya sakit.
Dasar berandal kejam.
Apa Anda bisa jalan?
Kubilang aku tidak apa-apa.
Bersandarlah kepadaku.
Itu akan lebih nyaman.
Anda tidak mengganti nomor sandinya?
Berani sekali.
Hati-hati.
Baiklah.
Duduklah di sini.
Aku sudah tidak apa-apa.
Ada es batu di kulkas?
Pulanglah saja.
Ini cukup.
Kamu mau ke mana? Jangan.
Tidak, jangan ke toilet.
Kubilang aku tidak apa-apa.
Kompres dingin itu bagus untuk meredakan keseleo.
Meskipun dingin, tahanlah.
Sakitkah?
Bisa ditahan.
Apa?
Anda terluka karena aku membawa Anda ke pinggir sungai.
Aku merasa bersalah.
Ini bukan salahmu. Lupakanlah.
Kamu tidak perlu khawatir soal hal semacam itu.
Omong-omong,
tidak bisa pakai sepatu kets saja
ssat bekerja di luar kantor?
Kamu bilang apa tadi?
Aku hanya bicara sendiri,
Bu.
Terus taruh kompres dingin ini di pergelangan kaki Anda.
Pastikan Anda memakai bantal pemanas besok.
Pasti besok sudah lebih baik.
Besok itu akhir pekan,
jadi, Anda tidak bisa ke RS.
Kubilang aku tidak apa-apa.
Pulanglah sekarang.
Kamu pasti lelah usai bekerja seharian. Istirahatlah.
Sekarang.
Baik.
Aku akan pergi karena Anda memaksa.
Tapi Anda harus memakai ini sampai mau tidur.
Baiklah. Sana pulang.
Kalau begitu, selamat malam.
Apa ini?
Bu!
Bu!
Bu! Ada apa?
Bangunlah, Bu!
Ada apa? Apa yang terjadi?
Bu...
Astaga...
Seung Yeon.
Maksud ibu,
tadi ibunya Mi Ri datang.
Apa?
Bu...
Da Bin, ayo kita tidur sekarang.
Tidak, aku mau menunggu Ibu.
Kamu di mana?
Apa? Tidak bisa pulang?
Tidak, kurasa aku harus menginap.
Dia mendadak sakit?
Dia masih sehat-sehat saja tadi.
Ayah telanjang di depan Nenek.
Hentikan, Da Bin.
Apa?
Apa maksudnya? Kamu telanjang?
Bukan apa-apa.
Bermainlah saja sana.
Kenapa Da Bin belum tidur?
Dia menunggumu.
Kenapa kamu belum menidurkannya?
Lakukan saja.
Intinya, aku akan menginap di tempat ibuku hari ini.
Tidurlah dengan Da Bin malam ini.
Jaga juga dia. Lagi pula, besok akhir pekan.
- Dah. - Sayang!
Ibu.
Minumlah ini dan tenangkan diri.
Ini.
Mi Ri bertingkah aneh
beberapa hari lalu.
Ibu rasa dia sudah bertemu dengan ibunya.
Tidak mungkin.
Kalau tidak, kenapa dia bilang
akan mengabaikan anaknya jika punya anak nanti?
Bu, jika Mi Ri ingin menemukan ibunya,
dia pasti sudah lama melakukannya.
Untuk apa dia menemuinya sekarang?
Seperti yang Ibu bilang, sudah 28 tahun berlalu.
Sudah lama sekali. Mereka tidak akan bisa
mengenali satu sama lain meski tidak sengaja berpapasan.
Lantas, kenapa ibunya menemui ibu
secara tiba-tiba setelah 28 tahun?
Bagaimana jika dia bertemu dengan Mi Ri?
Anak malang itu...
Hatinya pasti akan tercabik-cabik.
Benar.
Pasti telah terjadi sesuatu kepada Mi Ri.
Ibu yakin.
Mungkin tidak begitu, Bu.
Jadi, tenanglah.
Aku akan bicara dengan Mi Ri besok.
No comments yet. Be the first to leave one.