The first 200 lines.
Kau ada di kursiku.
Maaf?
Kau duduk di kursiku.
Oh, maaf.
Hey kau!
Aku?/ Setiap pengunjung harus mendaftar dahulu.
Oh sebentar, aku sudah bekerja disini selama tujuh tahun.
Seharusnya aku melihatmu setiap hari./ Aku tidak bekerja di akhir pekan...
Maaf apa?/ ...jadi mungkin saja
kau tidak melihatku setiap hari./ Kartu identitas.
Ya, aku.../ Kartu identitas.
Oh ya, sepertinya aku tidak membawanya.
Ada di tasku, dan berada di pintu kereta.
Terjepit./ Menurutmu itu lucu?
Tidak. Sebenarnya membuatku kesal.
Jangan macam-macam, Pak.
Tidak.
Oh, um...
Sebenarnya namaku adalah Simon James.
Uh, Tidak ada huruf "J"
di nama belakangku.
Aku perlu melihat tiketmu./ Baik.
Uh-huh.
Maaf.
Pakai jaketmu, nak.
Ini bukan lokalisasi.
Tidak boleh lalai! Ini adalah hal yang besar!
Banyak yang harus dikerjakan. Kolonel sedang memperhatikan
kalian semua, termasuk aku.
Pak. Papadopoulos, sebenarnya...Pak. Papadopoulos, permisi.
Pak. Papadopoulos, aku sudah selesai.
Bahkan, aku sudah menyelesaikan lebih dari yang seharusnya.
Aku melepas jaketku karena kepanasan,
bukan karena aku salah paham jika ini kantor bukan lokalisasi.
Bagus sekali. Itu adalah insiatif yang kita butuhkan.
Kau sudah berapa lama bekerja disini, nak?
Baru, eh?/ Ya pak, tujuh tahun yang lalu.
Kau sudah tahu jika kita sudah membabat yang tidak berguna.
Kolonel menolak untuk menambah karyawan lagi.
Sebenarnya, aku punya ide yang lebih bagus
yang ingin aku sampaikan kepada Kolonel tentang bagaimana
kita bisa membuat laporan yang lebih efisien.
Menurutku dengan menggunakan analisis regresi yang sederhana
kita bisa mengkonfigurasi lagi semuanya.
Putriku bernama Melanie./ Nama yang bagus.
Dia akan magang selama liburan.
Beri salam, Melanie./ Halo, Melanie.
Stanley yang akan menjadi mentormu.
Ya, apa?/ Setiap hari selama satu jam,
di ruanganmu. Dia adalah gadis yang baik,
tapi tidak punya otak./ Ya.
Idiot.
Kau bisa pergi sekarang./ Baik, terima kasih.
Karena jika aku tahu betapa tertekannya
dan sulitnya apapun yang kau kerjakan disini,
Aku akan merasa kasihan padamu.
Baiklah,
Aku sudah tidak sabar.
Hai.
Fotokopinya.
Mengapa kau tidak membuat dua kopian? Itu akan bagus sekali.
Itu yang biasa dilakukan oleh orang normal.
Maaf./ Kau tidak bisa menggunakan satu kopian saja.
Sama seperti kemarin./ Maaf.
Kau selalu minta maaf./ Maafkan aku.
Hey, Hannah, kau bisa lembur?
Aku harus menyelesaikannya./ Uh-huh.
Satu kopian.
Ya.
Aku tahu.
Aku tahu!
Ya, Bu, aku akan kesana.
Aku selalu kerja lembur.
Aku sudah akan pergi sekarang.
Karena aku sedang berbicara denganmu, ya.
Baik. Ya. Dah.
Kau bisa mengandalkan aku. Baik.
Manusia...
sumber daya yang utama.
Untuk beberapa bisnis, mereka terlihat sama saja.
Tapi Kolonel tahu jika manusia itu berbeda.
Kolonel tahu jika bisnis itu adalah manusia
dan manusia adalah bisnis,
membuat bisnismu menjadi bisnisnya.
Karena Kolonel mengenal manusia.
Dan Kolonel tahu jika kau menginginkan
sistem pemrosesan data yang paling kuat
di dunia ini untuk semuanya.
Kolonel akan menunjukkan kepada kalian
kedalam bisnis yang tidak bisa kalian mengerti.
Karena Kolonel tahu
jika tidak ada yang namanya
manusia yang super.
Hanya manusia saja.
Kau yang mana tadi?/ Yang mana...
Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Yang...yang itu adalah aku.
Dia tidak tanpa sepertimu. Rambutnya coklat.
Kita berdua punya rambut coklat.
Maksudku, aku sudah...aku...kita orang yang sama.
Aku tidak akan mati.../ Aku tahu.
...jadi kau bisa melupakannya./ Baiklah.
Bisakah kau berhenti berbicara?
Aku ingin tidur.
Ibumu bilang kau adalah anak yang aneh.
Apa?/ Ibumu bilang kau anak yang aneh.
Oh terima kasih.
Biar aku lihat tanganmu.
Oh tidak usah. Aku baik-baik saja.
Tentu tidak.
Bisa aku berbicara denganmu?
Ya.
Bisa permisi sebentar?
Ya?
Ada ketidakcocokkan dalam tagihanmu.
Oh ya,
terdapat peningkatan pembiayaan
dan tidak bisa dijelaskan, jadi kupikir.../ Harganya sudah berbeda.
Kenapa seperti itu?/ Peningkatan.
Kelihatannya agak sedikit.../ Tidak adil.
Ya.
Oh maaf.
Baik.
Hanya itu yang aku miliki.
Ya.
Ini tidak cukup.
Tidak seharusnya kau melakukannya.
Maaf.
Lalu apa yang kau lakukan?/ Maaf?
Lalu apa yang kau lakukan?
Aku menelpon polisi./ Baik.
Ada lagi?
Dia melambaikan tangannya kepadaku.
Ya?/ Sesaat sebelum dia melompat dia melambaikan tangannya.
Seperti apa lambaian tangannya?
Apa kau membalas lambaiannya?/ Aku ingin tahu mengapa dia melakukannya.
Ditulisannya, dia bilang jika dia kesepian. Seharusnya dia memiliki seekor anjing.
Atau berlatih lagi. Dan itu sangat penting.
Haruskah aku menulisnya?/ Mungkin dalam tanda kurung.
Apa itu berarti tanda kurung yang besar?/ Tanda kurung besar itu apa?
Apa dia menderita?/ Sangat.
Apa kau sering melihat yang seperti ini?
Setiap hari. Itulah yang kami lakukan...bunuh diri.
Hanya bunuh diri?/ Benar.
Untuk kota secara menyeluruh?/ Kami tidak bisa mengawasi seluruh wilayahnya.
Lucunya
dia bisa saja mendarat di tenda itu
jika dia bergeser beberapa kaki ke sebelah kanan sebelum melompat.
Kau lihat itu? Dia akan jatuh,
dan terlempar
dan mendarat di sebelah sana.
Dan kemungkinan dia bisa selamat.
Bisa cidera parah, tentu saja, tapi tetap saja.
Jika kau bisa segera ke Rumah Sakit untuk menghentikan pembengkakkan otak.
Kau tidak berpikir untuk bunuh diri, kan?/ Apa?
Itu pertanyaan yang sederhana./ Tidak.
Haruskah aku menulisnya "Tidak?
Tulis saja "Mungkin."
Apa yang kau lakukan disini?
Orang yang sudah melompat?
Aku melihatnya./ Bagaimana caranya?
Aku tinggal di gedung itu.
Aku tidak mengenalnya.
Dia melambaikan tangannya kepadaku./ Aneh.
Besok ada acaranya Kolonel.
Menurutmu kau akan berangkat? Aku sendiri tidak tahu akan berangkat atau tidak.
Itu perintah. Semua orang harus berangkat.
Hannah?
Ya?
Menyedihkan sekali jika harus kesepian.
Aku pesan jus jeruk. Aku hanya...
Apa mereka memang sekasar itu?/ Ya.
Lalu mengapa kau datang kemari?/ Karena aku orang yang loyal.
Kau harus menyerahkan senjatamu.
Ambil saja sendiri.
Letakkan senjatamu, Jack.
Aku suka acara ini.
Aku tidak apa-apa jika harus sekarat.
Bahkan, aku sudah terbiasa dengan hal itu.
Yang aku tahu, kau hanya memiliki satu nyawa.
Dan seperti yang mereka bilang...
...tidak ada yang namanya kesempatan kedua.
Jack, ini bukan dirimu.
Lalu siapa?
Dia ada dihatimu.
Dia baik, jujur dan tulus.
Aku berbohong ketika aku bilang jika aku tidak mengenalnya.
Pria yang melompat itu? Aku memang mengenalnya.
Aku tidak pernah bertemu dengannya. Aku akan berperang dengannya.
Dia adalah seseorang yang sudah lama mengikutiku,
Dan aku selalu melihatnya, dimanapun aku pergi...
seperti di kantor, di kereta bawah tanah, di apartemenku.
Seperti di lorong kecil yang ada di apartemen?
Dia selalu ada disana, sedang mengawasi.
Dan kupikir, "itu aneh." Tapi kapanpun,
laki-laki melihat wanita. Kau akan terbiasa dengan hal itu.
Lalu aku tahu jika dia tinggal diatasku
Lalu kupikir, "Itu sangat aneh."
Apa dia mengikutiku karena dia tinggal di gedung yang sama denganku
Apa dia tergoda? Atau dia tergoda lalu pindah?
No comments yet. Be the first to leave one.