The first 200 lines.
Chae Woon!
"Episode 21"
Chae Woon!
Chae Woon... Chae Woon!
Chae Woon...
Chae...
Chae Woon...
Bu, Anda baik-baik saja?
Bu?
Ibu senang kamu pergi.
Syukurlah.
Ibu senang kamu memutuskan untuk pergi.
- Mari kita lakukan. - Satu, dua, tiga.
- "Lin"! - "Tah"!
Hae Deun?
- Kamu pasti benar. - Itu Hae Deun.
Apa? Kenapa itu berkaitan denganku?
- Bukan. - Kamu salah.
Sun Jeong?
- Ibu dari mana saja? - Dari mana saja Kakak?
Dari luar.
Tapi aku penasaran ke mana Chae Woon pergi.
Mungkin ke toilet?
Ada masalah darurat di lokasi konstruksi
dan dia pergi.
Lagi?
Aku hanya mengantarkan pakaian untuknya.
Kak Chae Woon, si gila kerja itu.
Dia pasti kelelahan.
Pokoknya, teruslah bersenang-senang.
- Tentu. - Aku akan ke kamarku.
Raut wajah James sangat berharga.
- Kamu benar-benar tidak tahu. - Tapi aku benar.
- Kali ini giliran kami. - Katanya adalah "lintah".
Katanya adalah "lintah"?
Baiklah, giliran kami.
- Apa yang akan kamu katakan? - Giliran kami.
- Baiklah. - Silakan.
Satu, dua, tiga.
- "Pi". - "Ta".
- "Pi". - "Ta".
Itu "pirang"!
Katanya adalah "pita".
Benar.
Bagaimana dengan ini?
Ada apa?
Kakak berlari dengan kaus kaki Kakak?
Tentu saja tidak.
Kakak membawakan
jaket Chae Woon untuknya
saat sandal kakak lepas.
Astaga.
Astaga, sakit.
Kakak seharusnya memperhatikan langkah Kakak.
Jangan bergerak.
Kakak mengantarnya pergi?
Dia pergi ke rumah Jung Won?
Tentu saja dia akan pergi. Kakak tidak tahu wataknya?
Bahkan aku akan pergi jika ibuku memaksaku pergi seperti itu.
Dia pasti pergi untuk memberi Kakak pelajaran.
Bukan begitu.
Dia harus pergi.
Itu tindakan yang tepat.
Ini akan sakit.
Bertahanlah.
Kakak sangat sedih sampai tidak bisa merasakan sakitnya.
Dasar bodoh.
Kamu menyebut kakak bodoh?
Mereka terdengar sangat bersemangat.
Bagus, Kak Sun Jeong. Menangislah saja saat bersamaku.
Tidak apa-apa untuk menangis.
Kakak harus mengekspresikan perasaan Kakak dan merasa tenang.
Menangislah dengan lantang.
Mengerti?
Kenapa kakak harus menangis padahal ini bagus?
Ini demi kebaikannya sendiri.
Kakak bahagia untuknya.
Baguslah Chae Woon pergi.
Astaga.
- Kakak turut bahagia untuknya. - Chae Woon...
Ini bagus.
"Hae Deun"
Ada apa, Hae Deun?
Kenapa Kakak pergi begitu saja tanpa memberi tahu kami?
Apa itu Kak Chae Woon?
Maafkan kakak.
Ada telepon penting dari kantor.
Kakak tidak ingin memberi tahu dan merusak suasana.
Kak Chae Woon, Kakak memakai pakaian hangat?
Di luar pasti dingin.
Hei,
ini sama sekali tidak dingin.
Kakak memakai pakaian tebal.
Di mana Ibu?
Ibu? Dia di kamarnya.
Dia baik-baik saja?
Tentu. Kenapa?
Kalian harus menjaganya dengan baik, ya?
Kakak bukannya jauh.
Sekeras apa pun aku berusaha, aku tidak bisa jadi seperti Kakak.
Cepatlah pulang dan urus dia sendiri.
Benar. Kakak harus menjaga Ibu. Hae Deun tidak akan pernah bisa.
Hei.
Kakak harus bekerja. Sampai jumpa.
Baiklah. Sampai nanti.
Kak Chae Woon, jangan sampai terkena flu.
Aku sangat mencintai Kakak.
Maukah kamu mengatakan itu kepada kakak juga, Ra Hoon?
Kenapa aku mencintai Kakak?
Aku juga kakakmu.
Tunggu.
- Lepaskan. - Tunggu.
- Lepaskan tanganku. - Tunggu saja!
- Chae Woon. Lepaskan... - Kemarilah.
Biar aku saja.
Bit Chae Woon?
Apa?
Seo A, ada apa? Siapa itu?
Tidak ada apa-apa, Bu.
Siapa itu?
Coba ibu lihat.
Seo Yeon?
Itu Seo Yeon. Seo Yeon...
Ibu.
Siapa itu?
Entahlah.
Seo Yeon...
Bit Chae Woon.
Halo.
Maaf mengganggu seperti ini.
Aku datang
untuk tinggal di sini.
Aku tahu aku datang terlalu mendadak.
- Mungkin aku akan kembali... - Tidak.
Tidak apa-apa, Seo Yeon.
Ibu senang kamu datang.
Selamat datang, Seo Yeon.
Ibu senang kamu di sini.
Ibu senang sekali.
Apa?
Sedang apa kamu di sini? Apa ada masalah?
Nenek. Apa yang harus kulakukan?
Ada apa?
Kamu sakit, Tuan Putri?
Apa? Ada orang di sini?
Apa?
Astaga...
Siapa dia?
Bit Chae Woon.
Apa?
Apa dia Seo Yeon?
Ibu.
Dia...
Dia putri...
Halo.
Aku Lee Bit Chae Woon.
Bit Chae Woon?
Dia Seo Yeon.
Ini nenekmu.
Apa dia orang yang menelepon Ibu?
Kubilang semua akan berakhir jika kamu yang disalahkan.
Kenapa kamu memaksa Seo Yeon kembali ke keluargaku?
Dia adalah anak Park Pil Hong yang menjijikkan itu!
Apa? Seo Yeon?
Bagaimana...
Aku tidak percaya ini.
Apa dia benar-benar Seo Yeon?
Dia sudah meninggal. Bagaimana bisa kembali hidup?
Omong kosong apa itu?
- Astaga... - Nenek.
Tekanan darah Nenek bisa naik lagi.
Bi Cho. Ambilkan air.
Astaga.
Dia Seo Yeon.
Kami sudah melakukan tes DNA
dan hubungan darah kami sudah dipastikan.
Apa?
Apa katamu?
Apa...
Kalau begitu...
Apa kamu
benar-benar Seo Yeon?
Dia benar-benar Seo Yeon.
Jadi, kamu cucuku.
Cucuku, Seo Yeon?
Ya. Dia Seo Yeon.
Astaga. Aku tidak percaya ini.
Astaga, Seo Yeon. Astaga.
Jadi, kamu masih hidup.
Kamu dari mana saja?
Syukurlah.
Terima kasih banyak. Nenek sangat bersyukur.
Biar nenek lihat wajahmu, Seo Yeon.
Coba nenek lihat. Kamu mirip siapa?
Astaga.
Kamu mirip kakekmu. Benar, bukan, Jung Won?
Dia tinggi dan langsing seperti kakeknya.
Astaga, Seo Yeon. Astaga.
Tenanglah, Bu.
- Seo Yeon. - Seo Yeon pasti malu.
No comments yet. Be the first to leave one.