Sleep of the Crow

Sleep of the Crow (Karganın Uykusu)

Download Indonesian Subtitle

Release info

Sleep Of The Crow 2023 WEBRip id
A Commentary by Kudalumping
Durasi: 01:29:25

Tags

webdl
Published on: 2025-02-14
Downloads: 39
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Kami sedang dalam perjalanan. Kau di mana?

Di restoran Mehmet.

Oke, oke, kami datang.

Apa yang terjadi dengan hidungmu?

Tadi malam, ada serangga terbang masuk dan saat aku menggaruknya...

Itu terlihat buruk. Berhati-hatilah.

Biar kupanggil perempuan ini dulu. Dia menunggu kita di toko kue.

- Kita akan bertemu di toko kue? - Semoga harimu menyenangkan.

Tidak, katanya, dia mau melihat dari jauh dulu,

jika dia setuju, maka kita bisa duduk dan bicara.

Tunggu, biar kutelepon dia.

Halo, halo. Kak, orang kita sudah di sini.

Jika kau bersedia, mungkin kau bisa datang.

Oke, Kak. Kami tunggu di lampu lalu lintas. Oke.

Perempuan itu berasal dari mana?

Apa pedulimu dari mana asalnya?!

Pertama, sebaiknya dia datang dan melihat dulu. Kalau dia setuju, kita bisa duduk dan bicara.

Oke.

Jadi, apa kabar?

Ya, kak?

Kak, mereka menunggu di lampu merah.

Kak, dia pakai jaket, pakai dasi. Bertubuh tinggi.

Ya, Kak, oke, Kak. Oke.

Semoga beruntung! Semoga beruntung!

Tidak. Katakan padanya.

Apa maksudmu "tidak?" Apa yang harus kukatakan pada perempuan itu?

Katakan ini tidak bisa, katakan apa yang mau kau katakan.

Baiklah, tapi kau harus mengatakan sesuatu.

Katakan "tidak", katakan "dia tidak menginginkannya".

Katakan apa pun yang kau mau, Alişar. Aku tidak tahu lagi.

Demi Allah. Aku akan bilang "mungkin lain kali."

Terserah kau. Kau membawa rokok?

Ya. Di mana motormu?

Di belakang gedung Balai Pengadilan.

Apa ikan tidur di malam hari?

Ya.

Apa mereka berjalan?

Tidak.

Suatu pagi, ada seekor ikan di belakang pompa. Ikan itu mati.

Apa dia bisa datang siang hari?

Kenapa kita tidak melihatnya?

Dia berenang di sana?

Dia mati. Lempar keluar. Agar kucing-kucing bisa memakannya.

Aku melemparkannya ke air. Agar ia tetap hidup.

Ayah, ada mobil datang.

Ayah, Ayah, bangun.

Ayah, bangun!

Ayah, ada mobil datang.

Tempat ini sangat indah.

Aku menyukainya. Udara yang bagus. Indah sekali.

Sayang, kau manis sekali?

- Vahap! - Hah?

Buatlah anak seperti ini.

Tidak apa-apa sayang. Aku bisa membantumu.

Aku akan membuat empat denganmu.

- Empat? - Ya, empat!

Masuklah. Masuklah.

Ayo masuk, masuk ke dalam.

Masuklah. Masuklah.

Oke. Bersulang.

- Bersulang untukmu, selamat menikmati. - Bersulang, semoga sehat selalu.

Rutinitasku adalah dari rumah ke kantor, dari kantor ke rumah. Sungguh menyesakkan!

- Vahap. - Ya?

Kau bukan burung lovebird yang terjebak di rumah. Kau adalah serigala yang bebas. Seekor serigala.

Ya, akulah serigalanya. Ssst.

Waktu kau datang ke toko, gayaku membuatmu terpesona, kan?

Ayolah, kau tidak memikat siapa pun.

Bekir bilang, "lihatlah, jika kau menyukainya",

"Aku bisa menjodohkan kalian."

Sebenarnya aku menyukaimu!

Itulah Bekir, anak itu begitu,

anjing licik yang bahkan bisa mengalahkan iblis.

Ayolah, demi Allah!

Aku serius, aku bersumpah demi kedua mataku.

- Vahap. - Hah?

Ini bukan rumah duka, kan?

Rasanya seperti kita datang ke pemakaman.

Ayo. Nyalakan musik. Putar dan ayo bergoyang sedikit.

Nasip!

Sobat, kau tidak punya lagu yang asyik untuk diputar? Mainkan!

- Ayo. - Ayo.

Sebentar!

Ayo.

Ayo.

Menari, menari.

Tutup tirainya.

Aku bahkan tidak bisa berjalan.

Tunggu, tunggu, oke. Ayo.

Kau punya rokok tersisa?

Dasi yang kau pakai. Itu hanya untuk pamer?

Pakai saja. Cocok untukmu.

Kota ini penuh dengan germo berdasi.

Ayo, ayo, ayo kita pergi. Aku bisa mengantarmu,

matahari akan menunjukkan wajahnya sampai kita pergi.

Aku tidak mau masuk ke lingkungan ini. Orang-orang bisa melihat kita.

- Vahap. - Hah?

Uangku?

Ayolah, uangmu? Benarkah?

Bawa saja dia. Bersenang-senanglah, oke?

Aku bisa menunggumu di mobil.

Vahap, uang!

Oke, kau masih berduka, aku mengerti. Tapi bagaimanapun juga, kau seorang laki-laki.

Kau bisa menganggapnya seperti, "dia pergi dan yang ini datang, kan?"

Nasip!

Nasip!

Nasip!

Nasip!

Ayah?

Aku mau tahu, kau sudah bangun atau belum.

Ambil telur dari kandang, ayo sarapan.

Ada perempuan asing. Sepertinya dia orang Jerman,

dia bicara tentang sesuatu di luar pom bensin.

Aku di kuburan di ujung jalan. Mereka melempari kami dengan batu.

Temanku…

Temanku terjebak di sana. Aku harus membawa...

Aku mau tahu bahasa apa itu.

Temanku ada di sana. Aku harus...

Anak pamanku dulunya bicara bahasa Jerman.

- Temanku... - Kedengarannya seperti itu?

Ini dia. Tanyakan padanya. Nasip.

- Apa yang terjadi? - Kau bisa bicara bahasa Jerman?

- Ya. - Ada sesuatu yang terjadi.

Aku sedang melewati kuburan bersama temanku

dan anak-anak di sana melempari kami dengan batu.

Aku tidak tahu. Aku melarikan diri saat itu juga.

Tapi temanku masih di sana.

Mereka anak-anak desa. Mereka hanya bermain-main.

Biar aku menerjemahkannya. Orang-orang ini akan membantumu.

Anak-anak Desa Akarca, mereka melempari mereka dengan batu, karena mereka menganggap mereka kafir.

Dia bilang temannya terjebak di sana.

Dia mau ke sana bersama orang untuk menjemputnya.

Baiklah, baiklah, kalau begitu aku akan carikan mobil.

Bang Nuh. Bisa kau ke sana dengan mobil itu?

- Dan menjemput orangnya? - Ya, tentu.

- Baiklah. Terima kasih. - Ayo, bantu aku.

Ismail sedang makan es krim. Aku mau membayarnya.

- Ayo, ayo. - Tolong, Nasip,

Demi Allah, bolehkah aku membelikan es krim untuk keponakanku?

Simpan saja. Nanti saja, bang!

Suatu hari, ibuku sakit. Aku keluar untuk mengambil obatnya.

Saat aku berada di sana, aku bersenang-senang di rumah desa.

Kau tahu saudaranya Sultan, seorang polisi,

orang yang bertugas di Kars.

Orang itu terus berkata,

“Adikku selalu mengambil wudhu,

dan mengabdikan dirinya pada Al Quran, dia bukan orang yang ingin bunuh diri,

"Aku yakin ada sesuatu yang mencurigakan".

"Aku kenal pengacara dan ahli hukum,

Kika ada sesuatu, aku akan mengungkapkannya".

Begitulah di desa, kawan. Saat mereka mendengar satu hal, mereka akan menambahkan lebih banyak lagi.

Mungkin laki-laki itu mau mengatakan sesuatu tentang rasa sakitnya

tapi penduduk desa tidak mau bicara,

mereka menambah masalah seperti "Jaksa akan membuka kasusnya lagi,"

Nasip tidak bisa datang ke desa karena dia takut.

Demi Allah!

Aku berdiri di depan mereka dan berkata,

"Nasip tidak punya orang tua di sini."

"Kenapa dia datang ke desa?"

“Aku melihat Nasip menangis saat itu,

untuk sampai di rumah sakit tepat waktu,

"aku melihat bagaimana dia berjuang di atas sepeda motor".

Nasip, itu kau?

Ini aku. Kau punya waktu?

Mesut ada di rumah teh.

Apa kabar? Di mana anak-anak?

Semua orang baik-baik saja.

Mereka menonton TV di dalam. Bagaimana kabar Ismail?

Sama. Sedang menonton TV di ruang makan.

Kau masih belum ke rumah?

Tidak, kami masih tinggal di ruang bangsal.

Kau yang menelepon kemarin?

Aku juga menelepon nomormu. Tapi kau tidak meneleponku kembali.

Tidak, itu bukan aku.

Aku mau mengobrol sebentar. Aku tidak bisa bicara dengan siapa pun.

Mesut akan pergi bekerja di Istanbul,

aku bisa meneleponmu. Itu akan jauh lebih mudah.

Kau juga bisa datang ke sini.

Oke.

Kau baik-baik saja?

Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja.

Baiklah, aku harus menutup telepon sekarang. Mesut bisa tiba-tiba muncul.

Baiklah, sampai jumpa.

Ambil sabunnya.

Gosokkan di wajahmu.

Gosok, gosok, gosok, gosoklah.

Di ketiakmu juga.

Letakkan sabunnya.

Cucilah kepalamu dengan cara menggosoknya.

Lumuri tubuhmu dengan busanya.

Oles, oles, oles. Di kakimu juga.

Oleskan saja.

Oke, sekarang ambil semangkuk air.

Tuangkan ke kepalamu.

Siram, siram, siram, semuanya.

Injaklah seprainya.

Tuangkan airnya.

Pertama, beri sedikit minyak. Ini untuk menggoreng.

Kenapa sedikit?

Jika tidak, kita bisa merasa mual.

Lalu pecahkan telur di atasnya.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left