The first 121 lines.
Maaf, Rudy.
Ayahanda.
Aku juga minta maaf.
Aku jadi lapar.
Saya adalah Rodriguez, murid ketiga Auber sang Pedang Merak
yang merupakan murid Kalman sang Ahli Pedang Utara Tingkat Dewa.
Dilihat dari sikap Anda, saya yakin Anda adalah orang hebat.
Maka dari itu, saya menantang Anda bertarung.
Sudah lama aku tidak ditantang seseorang.
Saya kalah telak.
Rupanya masih ada orang yang lebih kuat.
Dunia memang luas.
Sampai jumpa, pejuang suku Superd!
Saat bertemu kembali, aku akan menantangmu lagi!
Saya adalah...
Saya adalah...
Rudeus, cepat tolong aku!
Pangan berlimpah merupakan kuasa—
Ruijerd tidak apa-apa?
Justru aku yang tidak paham kenapa kalian merasa mual.
Oh begitu, ya. Tapi—
Aku bersyukur Ruijerd bisa naik kapal bersama kami kali ini.
Kadang-kadang ayahku bisa berguna.
Jangan terlalu sering mengejek ayahmu.
Bukan masalah. Begitulah hubungan kami.
Apa iya?
Kalau dipikir, perjalanan kita cukup panjang untuk sampai ke Benua Pusat.
Masih di tengah perjalanan menuju ke sana, sih.
Perjalanan masih panjang.
Kalau tidak salah, tadi awak kapal bilang
bahwa menyeberangi laut ini susahnya seperti mencari daerah penghasil nasi.
Oh, kau suka makan nasi?
Iya, sangat suka.
Aku tidak sombong,
tapi aku bisa makan segunung nasi dengan lauk nasi kepal sampai habis.
Bisa-bisanya bicara soal makanan di saat mual begini.
Kalau ada tenaga untuk cerita, cepat gunakan Healing padaku.
Jalanan di Benua Pusat pasti terawat,
jadi mari bertualang dengan konsep riang gembira.
Tentunya dengan memprioritaskan pencarian keluargaku
dan membersihkan nama suku Superd.
Kau benar. Aku paham.
Zenith masih hilang.
Tidak ada informasi mengenai Lilia, Aisha, dan Sylphy.
Ghyslaine juga tidak diketahui masih hidup atau sudah mati.
Tidak, mungkin setelah sampai di wilayah Fittoa,
mereka masih sehat dan baik-baik saja.
Aku tidak boleh berpikir berlebihan.
Ya, mau bagaimana? Wajar cemas di saat begini.
Mari berpikir positif.
Akhirnya kami bisa pulang ke benua Pusat.
Setelah melewati Kerajaan Raja Naga,
kami akan sampai di Kerajaan Shirone tempat Roxy berada.
Akhirnya aku bisa bertemu setelah sekian lama.
Rupanya begitu. Blaze sudah mati, ya.
Ya, dia ditelan mentah-mentah oleh Red Hood Cobra.
Blaze bermulut kotor dan selalu mengejekku ketika aku berbuat kesalahan.
Lalu, Hawkendale selalu melerai
pertengkaran kami dengan berkata, "Ada-ada saja kalian."
Sungguh kelompok yang menyenangkan.
Yang bertahan hidup hanya dua pendukung paruh baya.
Tapi kau sudah berubah, ya.
Apa iya? Aku sendiri tidak sadar.
Kau terlihat sedikit lebih dewasa.
Apa maksudmu? Mengejekku, ya?
Sama sekali tidak. Rasanya auramu berbeda.
Dirimu yang dahulu lebih kekanak-kanakan.
Aku masih berusaha hidup meski penampilanku tidak menua.
Begitu, sifatmu itu.
Dahulu kau memaksakan diri untuk diakui sebagai orang dewasa.
Kalau dengar kata-kataku tadi, pasti kau terpelatuk.
Apa iya?
Mungkin benar. Aku memang pernah begitu.
Dahulu aku tidak mengakui tubuh kecilku sendiri.
Aku hanya memikirkan bagaimana cara agar tidak diejek seperti bocah.
Sekarang aku menjadi penyihir air kelas raja.
Namun, itu hanya julukan kosong.
aku diharapkan bisa menggunakan sihir tanpa merapal
dan hal-hal yang tidak bisa kulakukan.
Kau sendiri tidak berubah, selain penampilanmu tentunya.
Apa maksudmu? Menyindirku, ya?
Bisa dibilang begitu.
Sekarang sudah bisa main sarkas, ya.
Apa kau masih memanfaatkan yang lemah untuk menghasilkan uang?
Aku hanya mengajari mereka betapa sulitnya menjadi petualang.
Tapi aku sudah menguranginya setelah terpukul keras dua tahun lalu.
Kau terpukul?
Iya, ada sedikit masalah dengan kelompok Dead End.
Ya, kita tidak perlu membicarakannya.
Yang lebih penting, mumpung kau kembali ke sini,
apa kau sudah mengunjungi kampung halamanmu?
Bagaimana?
O-Oh, kampungku, ya?
Hei, kau tidak bercanda, 'kan?
Jangan bilang kau belum pulang sejak pergi dari rumah?
Karena kalau aku pulang pun, tidak akan ada yang bahagia.
Aduh, dasar kau ini...
Aku tarik kata-kataku.
Ternyata kau tidak berubah sejak terakhir bertemu.
Masih lari dari kenyataan dengan bilang begitu.
Kenapa kau harus menceramahiku?
Setelah kelompok kita bubar,
aku punya istri dan tiga anak.
Mereka imutnya luar biasa!
Mau sombong, ya?
Terkadang mereka memang aku marahi atau bertengkar denganku,
tapi demi mereka, aku rela jadi apa pun dan melakukan apa pun.
Begitulah orang tua.
Tidak bisa telepati? Memangnya kenapa kalau tidak bisa?
Ada yang lebih penting daripada itu, 'kan?
Aku tidak mau diceramahi makhluk kasar dan mata duitan sepertimu.
Cih. Kepala batu sepertimu memang susah meski aku beri nasihat.
Tapi sebelum menyesal, aku sarankan Kau berbaikan dengan orang tuamu.
Mereka adalah keluargamu satu-satunya.
Suasana desa sedikit berubah.
Apa karena penduduk desa bertambah?
Lahan hijau juga bertambah luas.
Namun, sepi senyap seperti kuburan tidak jauh berbeda dengan dahulu.
Hentikan. Aku tidak mengerti bahasa kalian.
Tatapan kalian seperti melihat orang asing.
Dari lahir sampai tumbuh dewasa, aku merasa ada yang ganjil.
No comments yet. Be the first to leave one.