The first 200 lines.
Orabeoni,
Bagaimana keadaannya?
Dia tidak akan mati, kan?
Ini racun Jim.
Tentu saja, dia menggunakan racun jim.
Racun Jim?
Tanduk badak ini bisa digunakan sebagai penawar.
Orabeoni, lenganmu berdarah.
Orabeoni, bagaimana lukamu?
Penawar ini berfungsi untuk menghentikan penyebaran racunnya. Tunggulah sebentar.
Dia mati.
Pembunuhnya si sialan yang membunuh orang-orang benteng.
Aku takkan melepaskan dia.
Walaupun aku tidak bisa membunuh si sialan Gim Chi Yong ini,
Tapi, aku akan membalas dendam untuk orang-orang di benteng.
So Baek, kau menjaulah dari sini.
Tabib, aku titip So Baek padamu.
Aku juga tidak akan tinggal diam.
Ini adalah pembalasan untuk orang-orang yang kau bunuh di benteng.
Ayah!
So Baek!
So Baek.
So Baek. So Baek!
So Baek.
So Baek, sadarlah.
So Baek.
So Baek.
So Baek.
So Baek... So Baek, bangunlah, nak!
Apa yang terjadi?
So Baek.
Oh Tuhan.
Kau terluka lagi?
Bantu aku siapkan kamar.
Sebelah sana.
So Baek.
Orabeoni, disini.
Tuanku, apa kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja. Selama kau disini. Aku tak apa.
Tapi, kakakmu... kenapa dia masih disini?
Kau baik-baik saja? Lukamu sepertinya juga parah.
Kau baik-baik saja?
Ya, Aku baik-baik saja.
Kau awasi inspektur apabila pendarahannya sudah berhenti.
Aku memeriksa So Baek dulu.
So Baek. So Baek! Ini Ayah. Ayah!
Dengarkan ayah. Kumohon buka matamu!
Ya, ya... bukankah So Baek ku sangat penurut?
Jadi, cepat buka matamu dan lihat ayah.
Kenapa kau seperti ini?
Ayah sudah memohon padamu, bocah.
So Baek takkan membuka matanya, walaupun kau seperti itu.
Apa? Takkan membuka mata? Maksudmu dia akan mati?
Jangan seperti itu.
So Baekku tidak akan seperti ini selamanya, tidak akan sadarkan diri, kan?
T-Tidak... Itu tidak mungkin!
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Putriku tidak akan sejahat itu pada ayahnya.
Benar. Aku tahu putriku...
bukanlah anak yang sejahat itu.
Tuanku!
Sepertinya kakakmu benar-benar seorang tabib yang hebat.
Tentu saja.
Keluargaku selalu mewarisi tabib yang hebat dari generasi ke generasi.
Sepertinya luka kakakmu juga serius. Cepat panggil tabib Da In.
Aku mengerti, jangan buang energimu untuk berbicara.
Tuanku. Tuanku! Tuanku!
Bukankah masih berdetak?
Seharusnya sudah berhenti, tapi, ternyata masih berdetak.
Karena kau ada disini.
Melihatmu sudah aman dan selamat... adalah anugerah.
Ini melelahkan. Jangan bicara.
Aku tahu hatimu.
Janganlah mati.
Tuan Gim Chi Yong sudah mati?
Dan dia mati di tangan Lee Jeong Hwan.
Ya.
Bagaimanapun,
dia seharusnya mengantarkan Gim Chi Yong ke pengasingan.
tapi dia malah membunuhnya. Aku tidak akan membiarkan ini!
Inspektur Kepolisian juga terkena pisau Anonim...
Benarkah? Baguslah.
Anonim melemparkan pisau yang mengadung racun Jim. Dia pasti sedang sekarat.
Itu...
Bukan itu?
Choe Won menggunakan tanduk badak sebagai penawarnya. Sehingga nyawanya tertolong.
Apa? Choe Won menggunakan tanduk badak...
Dia bukan orang biasa.
Baiklah. Mau dia atau aku yang hebat,
Mari kita lihat.
Aku sudah melakukan hal itu, tapi, Ibu Suri masih saja bertingkah berlebihan.
Demi menyelamatkan tangan kanannya,
dia malah membuatnya terbunuh.
Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan lagi.
Sepertinya, kau sudah tahu hal ini.
Ya, Yang Mulia.
Min Jubu menggunakan tanduk badak untuk menyelamatkanku.
Choe Won juga menggunakan itu untuk menyelamatkan Inspektur Lee, kan?
Syukurlah.
Aku dengar Choe Won juga terluka.
Aku sangat penasaran,
kau pergilah kerumah Choe Won untuk melihat kondisinya.
Ya?
Aku ingin pergi sendiri, tapi, aku menduduki posisi ini.
Tidak seperti saat masih jadi Putra Mahkota. Aku bisa kemana saja.
Kenapa?
Bukankah ini waktunya belajar?
Ada apa kau mencari ibumu?
Lihatlah ini.
Ini adalah lilin yang ada dikamarku.
Ini yang ada di kamar Yang Mulia.
Hanya milik Yang Mulia yang ada tanda birunya.
Semua lilin yang ibu hadiahkan pada Yang Mulia semuanya seperti itu.
Jadi? Apa masalahnya?
Ibu, benar-benar...
Saat ibu menghadiahkan lilin yang sama seperti punyaku pada Yang Mulia,
Aku pikir Ibu benar-benar tulus, dan aku senang akan hal itu.
Tulus?
"Sekarang, Ibu tidak akan menyakiti Hyeongnim."
Tapi, saat aku tahu lilinnya berbeda...
Apa sebenarnya ini?
Perbuatan curang apa yang kau lakukan pada Hyeongnim?
"Perbuatan curang apa?" Beraninya kau berbicara seperti itu pada Ibumu?
Aku berani bicara, itu karena perbuatan Ibu!
Apa?
Jika aku harus mati, aku tidak ingin melihat...
ibu yang melahirkanku menjadi seorang pembunuh.
Kalau sekali lagi mengatakan hal itu, maka, aku tidak akan membiarkannya.
Apapun yang ibumu lakukan ini, kau ikutilah dengan patuh.
Adik, apa katamu?
Aku mohon pada Yang Mulia untuk menurunkan statusku dan usir aku dari istana.
Kenapa kau bilang begitu?
Aku tidak suka istana ini.
Aku tidak suka jadi Pangeran!
Tempat ini adalah neraka.
Tunggu dulu. Kenapa wajahmu seperti itu, Dik?
Apa kau ditampar Ibu Suri?
Terjebak di antara aku dan Ibu Suri saat ini...
kau pasti sangat menderita.
Ini sangat sulit.
Aku tidak ingin terus tersiksa, terjepit di antara Ibu dan Yang Mulia.
Aku hanya ingin menjadi orang biasa sampai tua nanti.
Bahkan kalaupun aku miskin dan harus makan bubur akar-rumput untuk bertahan hidup.
Aku masih ingin hidup dengan tenang dan bahagia dengan keluargaku seperti orang biasa.
Adik...
Kumohon turunkan aku!
Pangeran!
Tidak mau. Aku tidak mau jadi Pangeran.
Kumohon cabut statusku!
Apa katamu?
Pangeran memohon pada Yang Mulia untuk diturunkan statusnya?
Ya, Itu benar.
Dia sungguh-sungguh meminta hal itu.
Cepat bawa dia kehadapanku.
Sekarang, Pangeran...
Apa yang kau lakukan! Cepat bawa dia kesini!
Ya, Yang Mulia.
Bagaimana keadaannya?
Denyut nadi tangan kirinya sangat cepat.
Pangeran mungkin merasa sangat depresi, yang menyebabkan hal itu.
Yang Mulia, sekarang, Ibu Suri memanggil Pangeran.
Adik.
Tidak.
Aku takut.
Ibu lebih menyeramkan dibanding malaikat pencabut nyawa.
Memikirkan ibu yang seperti itu yang melahirkanku membuatku merinding.
Kumohon usir aku dari istana.
Aku tidak ingin melihat Ibu lagi.
Pangeran tidak ingin melihat Ibunya sendiri?
Maafkan hamba. tapi begitulah.
Mulai sekarang, Yang Mulai melarang Ibu Suri untuk memanggil Pangeran.
Kau sialan! Beraninya kau mengatakan itu! Aku ingin melihat anak kandungku!
Pengurus Gang, ayo. Kita temui Pangeran-ku.
Pangeran sekarang tidak berada di istana.
Tidak di istana?
Siapa itu?
Yang Mulia, Pangeran.
Dimana sebenarnya kau menyembunyikan Yang Mulia?
Menyembunyikannya?
Menlihat betapa gelisahnya adik, aku mengirimnya agar dia sembuh.
Mengirimnya? Gelisah?
Orang yang tidak tahu, akan berpikir Pangeran sudah gila!
Itulah hal yang tidak kuinginkan terjadi. Adik terus memohon padaku.
Makanya aku mengirimnya.
Bagaimana bisa kau merahasiakan ini dari ibunya?
Itu juga keinginan adik.
Apa? Yang Mulia!
Dia anakmu dan adikku tersayang.
Sekarang, bagi adik,
dia membutuhkan waktu sendiri dari kau dan aku.
Aku tidak menduga Pangeran begitu menderita di dalam hatinya.
Yah, memiliki Ibu seperti Ibu Suri...
Karena Pangeran bersikeras untuk kerumahmu,
Yang Mulia tidak punya pilihan lain.
Tapi, kalau Ibu Suri tahu, aku takut ini akan merugikanmu.
Yang Mulia sangat khawatir.
Jangan Khawatir. Aku akan mengurusnya.
Jagalah kesehatanmu.
Jangan khawatirkan aku. Khawatirkanlah dirimu sendiri.
Kau masih tinggal di istana.
No comments yet. Be the first to leave one.