The first 200 lines.
Mirae, permisi aku akan bicara dengannya.
Kau tidak akan kembali
karena perbincangan kita akan lama.
Kalau begitu, aku permisi.
Kita akan bicara nanti.
Jangan pergi,
Pak Lee Hyeonjae.
Apa ini? Kenapa semua orang di luar?
Youngeun, sedang apa di sini?
Hai, Haejun.
Maaf karena tidak menyapamu lebih awal.
Tidak perlu.
Aku berniat menelepon dan menanyakan jadwalmu.
Aku bersyukur. / - Ada yang ingin kau katakan?
Akan kuberi tahu lain kali.
Tentu.
Hyeonjae.
Apa lagi sekarang?
Kau ke kantor Mirae atau pergi dengan Youngeun?
Aku akan pergi.
Ayo.
Ini bagus dan nyaman.
Terima kasih.
Aku berharap bisa terus melayani.
Kau selalu bekerja keras.
Tapi ada apa dengan Youngeun? Kau juga menemuinya?
Dia datang untuk berkonsultasi.
Aku memberinya kartu namaku saat kami bertemu.
Apa dia dan Hyeonjae hanya kebetulan bertemu?
Ya.
Pak Lee muncul saat dia mau pergi.
Apa mereka berjodoh?
Tak sengaja bertemu sering terjadi bagi mereka.
Ini dia.
Terima kasih banyak.
Youngeun akan menjadi klien yang baik.
Karena kaya sejak lahir, dia memakai merek mewah
sejak masih sekolah.
Kenapa dia mendatangimu
dari semua orang?
Itu yang kutanyakan pada diriku sendiri.
Mungkin ini alasannya.
Kau juga dari keluarga kaya,
jadi, auramu berbeda.
Dia mungkin menyadari itu.
Aku tidak kaya.
Baiklah, kau hanya putri CEO Bong Food.
Harus kuakui, seleranya bagus.
Andai saja selera prianya seperti itu.
Kalau begitu, kita mirip.
Hei.
Berpikir seperti itu hanya membuatku malu.
Lalu Hyeonjae? Kenapa dia pergi bersamanya?
Ada yang ingin dikatakan Nona So.
Mungkin dia masih menyukai Hyeonjae.
Pasti karena itu
dia mempekerjakannya sebagai pengacaranya.
Aku terkejut mendengar suaramu.
Aku tak tahu kau akan datang.
Jika ada yang terkejut, itu seharusnya aku.
Kenapa kau di sana?
Tentu saja untuk memakai jasanya.
Baju yang harus dipakai dan tas yang harus dibawa
terkadang menjadi membosankan untuk memilih.
Seperti biasa, kau sangat tidak terduga.
Itu sebabnya kau menyukaiku.
Sebenarnya, itu alasanmu mencintaiku.
Dahulu sekali.
Kenangan itu sudah memudar sekarang.
Kau ahli dalam membuat batasan.
Aku bertanya kau sedang apa,
dan kau membalas kau sedang tidur.
Bagaimana orang bisa mengirim pesan saat tidur?
Apa kau semuak itu bicara denganku?
Ya, benar.
Berengsek.
Apa kau menyukai Bu Hyeon?
Kenapa kau bertanya?
Karena dia
menyukaimu.
Yang benar saja.
Kau pasti sudah lama tidak berkencan
hingga tidak bisa merasakannya.
Aku sudah cukup berkencan,
dan kini aku tidak tertarik.
Kuharap tetap seperti itu.
Aku akan kembali ke kantor.
Kembalilah tepat waktu.
Inikah yang ingin kau bicarakan?
Youngeun, tolong jangan seperti ini.
Kebaikanku ada batasnya.
Apa suamiku akan ke pengadilan hari itu?
Haruskah aku menyelidikinya? / - Tidak.
Aku menahanmu di sini
agar kau tak ke kantor Bu Hyeon.
Menghibur, bukan?
Bukankah aku lebih menawan daripada sebelumnya?
Jangan pergi, Pak Lee Hyeonjae.
Apa yang merasukiku?
Sepertinya aku tidak bisa. Ada janji temu klien.
Aku akan menghubungimu.
Tak apa.
Jangan pergi, Pak Lee Hyeonjae.
Karena dia
menyukaimu.
Kau pasti sudah lama tidak berkencan
hingga tidak bisa merasakannya.
Katakan yang ingin kau katakan.
Baiklah.
Aku ingin memeriksa perasaanku.
Kepadamu.
Kita aneh, bukan?
Ya, hubungan kita memang aneh.
Jadi, bagaimana kau akan memeriksa perasaanmu?
Aku akan menciummu.
Aku mulai.
Jangan.
Kenapa jangan?
Kurasa tidak baik berciuman di sini.
Ini tempat tinggalku.
Aku akan terus teringat masa lalu.
Jadi, kau menghentikanku di tengah jalan?
Ini bukan tempat yang tepat.
Nanti kita lakukan di tempat lain.
Baiklah.
Hei, ayo makan sesuatu.
Kau lapar?
Tiba-tiba aku merasa lapar.
Aku akan membuatkanmu ramyeon.
Tambahkan dua telur. Masing-masing satu.
Itu aturannya.
Lebarkan kakimu dalam sudut 90 derajat.
Tarik napas dan regangkan saat mengembuskan napas.
Duduk sambil menarik napas.
Lalu ke sisi satunya sambil mengembuskan napas.
Hei, kau sangat pandai dalam hal ini.
Ini bukan masalah besar.
Jika kalian lentur, bentangkan 120 derajat.
Tapi jangan melebihi batasmu.
Gyeongcheol, kau sangat hebat.
Jeongja, lihat dia.
Ini kali pertamanya, tapi dia lebih baik darimu.
Kau terlalu banyak bicara di kelas.
Itu maksudku.
Bisakah kau diam?
Baik! Aku akan tetap diam.
Bahkan instruktur diam saja.
Kau baik-baik saja? / - Tidak.
Hei, kau kram?
Sampai jumpa. / - Gyeongcheol.
Kau mau pergi dan makan makanan manis?
Ayo ke rumah Manri.
Begitukah? / - Kau mau bergabung dengan kami?
Aku tak mau pergi dengan orang asing.
Kau sudah berkenalan denganku dan kakakku tadi.
Bergabunglah dengan kami.
Ini tempat kerja putraku.
Apa dia pemiliknya? / - Bukan, dia pegawai.
Hei, aku di sini. / - Ibu.
Halo, Paman.
Sudah lama tidak bertemu.
Kau tinggal di atas, tapi sulit bertemu denganmu.
Maaf. Seharusnya aku lebih sering mengunjungimu.
Kalian tinggal di gedung yang sama?
Tidak, kami menyewa kamar
di atas gedung kakakku.
Kau mau minum apa? Kopi?
Kopi sepertinya enak.
Pesan tiga cangkir kopi.
Hei, pelankan suaramu. Tiga cangkir kopi.
Baiklah! Aku akan pelankan suaraku.
Sudah puas? / - Astaga.
Kenapa kau ingin makan ini setelah makan siang?
Astaga. Terima kasih, Gyeongae.
Bahkan dengan bahan yang sama,
buatanmu memiliki rasa istimewa.
Kelihatannya enak sekali.
Halo? / - Ibu.
Jangan lupa membawa anak-anak ke klinik gigi.
Tidak akan. Kenapa aku harus lupa?
Sampai jumpa. / - Baiklah.
Gyeongae, aku dalam masalah.
Aku harus membawa anak-anak ke klinik gigi.
Lantas makananmu bagaimana? / - Apa maksudmu?
Aku akan memakannya.
Bisakah kau naik dan menyiapkan anak-anak?
Hei.
Kau harus ikut denganku.
Aku tidak bisa mengurus mereka sendirian.
Ibu ada di kelas yoga, jadi,
aku harus melakukan ini sendiri.
Tak bisa. Jika bertemu Yunjae, aku akan mengomel.
Dia menghindariku belakangan ini.
Jeongja, apa yang membuatmu ikut kelas yoga ini?
Cucuku yang mendaftarkannya,
dia bilang aku harus berolahraga.
Bukankah dia manis?
Tunggu. Kau bicara santai denganku
sejak kita bertemu.
Kau sama sekali tidak tampak tidak nyaman.
No comments yet. Be the first to leave one.