The first 200 lines.
Kerja bagus.
- Kita akan segera bertemu lagi. - Siap, pak.
Rathod!
Cepatlah!
Aku belum buang air dengan tenang selama 10 hari.
Kau sangat bau.
Seolah baumu seperti sebuket mawar.
Kapten Viresh Chatwal.
Aku tunggu kau di kamar.
Kapten Amrit Rathod.
Bung, jangan bangunkan aku hingga besok.
Ayolah, bung.
Mari sedikit minum-minum lalu baru tertidur pulas.
Bung?
Tulika mencoba menghubungi. Ini penting. Hubungi dia.
Amrit, kau di mana? Aku coba hubungi kau berkali-kali.
Kapan kau kembali?
Ayahku mengatur pertunanganku. Tolong hubungi aku kembali.
Aku tak mau tunangan. Kau di mana? Kau disana? Amrit!
Hubungi aku saat kau terima ini. Aku tunangan tanggal 16 di Ranchi.
Amrit, kau di mana?
Aku mencoba menghubungimu berhari-hari.
Ayah sudah mengatur pertunanganku dengan seseorang.
Itu akan terjadi besok. Besok!
Aku akan ke Ranchi.
Kakak,
Kenapa kau setuju dengan pertunangan ini?
Tidak penting dengan siapa aku tunangan.
Aku hanya akan menikahi Amrit.
Hati-hati.
Selamat datang! Tuhan memberkatimu!
- Selamat, Ibu. - Kau juga.
- Terima kasih. - Datanglah.
Kunjungi kami.
Sampai jumpa.
Kau sangat mati.
Dengar, semuanya siap.
Temui aku di toilet lima menit lagi.
Pemikiran yang bagus. Tapi tidak.
Bukankah aku bilang aku tak bisa kabur dari Ranchi?
- Itu terlalu beresiko. - Percaya aku.
Kita akan pergi sebelum orang lain tahu. Ayo.
Mustahil.
Kau dengar suara kembang api tadi?
Itu sebenarnya suara tembakan.
Mereka bisa membidik kita dengan sangat mudah.
Ayahku terlalu berkuasa.
Jadi, tidak, terima kasih. Pergilah untuk sekarang.
Bukankah kau sangat ingin untuk bersama denganku?
Kenapa aku harus mati untuk bersamamu?
Aku mau menjalani hidupku bersamamu, Kapten Rathod.
Batalkan.
Apa? Tapi aku di posisi.
Ini beresiko. Batalkan misi.
Dia tak mau kawin lari karena takut dengan ayahnya.
Bagaimana jika dia menolak menikahimu karena ayahnya juga. Lalu apa?
Sobat,
Cinta kami jauh lebih kuat dibanding ayahnya.
Kalimat yang menawan, Kapten.
Besok berangkat ke Delhi dengan kereta, sampai bertemu di Delhi.
Acara tunangannya menawan.
Kita akan secara bertemu lagi.
- Semoga kau diberkati! - Tunggu sebentar.
Semoga kau diberkati, Nak.
Masukkan tasnya ke dalam.
Aku akan bawa dia masuk. Kau kembalilah.
Astaga!
Bung, tolong antarkan aku.
Ayah mulai menghubungiku.
Aku bersumpah, setelah dia fokus pada sesuatu,
Dia tak mau berhenti.
MAIN DI SENSA69, SITUS GAME ONLINE TERLENGKAP AMAN & TERPERCAYA
BEBAS GANGGUAN & MENANG BERAPAPUN PASTI DIBAYAR. CARI KAMI DI GOOGLE "SENSA69"
Maaf.
Terima kasih.
Astaga.
Halo?
Kenapa kau punya ponsel jika kau tidak menjawabnya?
Untuk tonton video YouTube.
Fani!
Aku mencoba mengejar kereta.
Aku rasa ayah takkan suka jika aku ketinggalan.
Dengarkan baik-baik.
Kami sudah di perlintasan kereta.
Waktumu 30 menit untuk tugasmu.
Berapa nomor gerbongmu?
Fani?
Nomor gerbong?
Permisi? Ini gerbong berapa?
- A1. - A1. Terima kasih.
Fani, jawab aku!
Fani?
A1.
A1.
Ingat, waktumu 30...
Jika aku mati cepat, itu karena si bodoh ini.
Paman, tolong...
Kau!
Ini aku.
Amrit, kita harusnya bertemu di Delhi.
Kau akan membuatku dibunuh.
Aku harus pergi. Ayah akan mencariku.
Amrit!
Amrit?
Apa?
Amrit, apa yang kau lakukan?
Tulika Singh...
Kau mau menikah denganku?
Kau sudah gila.
Kau jelas tidak waras.
Tolong segera katakan iya.
Toilet ini memiliki berbagai macam aroma.
Iya.
- Iya? - Iya!
Sebentar.
Kenapa wajahmu merona?
- Apa kau dari militer? - Ya.
Bahkan, kami berdua militer. Sama-sama Kapten.
Itu mimpi masa kecilku untuk bergabung Angkatan Darat.
Ya? Kau harus wujudkan itu.
Itu konflik perasaan, antara Ibu Tersayang dan Ibu Pertiwi.
- Ibuku melarangku bergabung. - Diamlah.
Kau butuh alasan untuk menyudutkan Ibu.
Itu fakta.
Tolong pinggirkan kakimu.
- Maaf. - Maaf.
Apa kau mahasiswa?
Ya, pak.
Di mana kau kuliah?
Aku kuliah di Universitas Kanpur.
Sungguh?
Anakku baru diterima di Universitas Kanpur.
Tapi aku cemas untuk mengirim dia pergi jauh.
Mengapa?
- Ibu, aku akan ke toilet. - Ajak Virat.
Tak apa. Aku bisa sendiri.
Pelatihan, asrama, uang pendidikan...
Aku bisa bimbing dia untuk semuanya. Jangan khawatir.
Itu akan sangat membantu dia.
Simpan nomorku.
222...
Maaf, nak. Ada orangnya.
- Yang satunya juga? - Ya.
9822...?
9822...
- 33... - Itu nomor yang bagus.
Nomor naratama.
Tunggu. Aku pergi ke sisi satunya.
- Keluarga Bahagia: - Gerbong?
- A3. - B1.
Mi ayam siap.
- Siapa namamu? - Gangadhar Mahto.
Gangadhar Mahto.
Kenapa mereka bersiap untuk pergi?
Stasiun berikutnya masih dua jam lagi.
Benarkah?
Aku mendengarmu.
Aku naik kereta malam. Aku sampai di Delhi besok pagi.
Halo?
Ibu, kami sampai pukul 07.30.
Tidak, sayang...
Tiket Amritsar kita harus dipesan.
Aku tidak seharusnya di sini. Dia terus memohon dan meminta...
- Suaramu putus-putus. - Halo?
Halo?
- Pinky, apa kau mendapat sinyal? - Tidak, sinyalku hilang.
Lupakan saja. Ibu akan hubungi besok pagi.
Tetap duduk!
Jangan ada yang bergerak!
Kau mau lari ke mana? Hentikan dia. Tangkap dia!
Ayo, keluarkan uangnya!
Di mana Ahaana?
- Dia pergi ke toilet. - Biar aku periksa.
- Kau mau ke mana? - Ayah... Ahaana.
- Hei! - Kenapa kau berhenti?
Kami saling mengenal.
Kau tidak ingat? Aku tanya nomor gerbong denganmu.
Lalu kau pancarkan senyum berkilau dan bilang, A1.
Aku bahkan berterima kasih denganmu.
Sekarang kita teman, bukan?
Berikan itu padaku.
Tolong!
Sabun wajah apa yang kau pakai?
Dia menghalangi pandanganku.
Lihat bagaimana wajahnya bercahaya saat malam.
- Permisi, Paman... - Mundur!
Seluruh kepolisian akan memberimu pelajaran.
Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa.
Dia Baldeo Singh Thakur.
Pemilik Shanti Transport.
Astaga!
Kita mendapat hadiah!
Pergilah dari sini.
Virat!
Karena kita temukan tambang emas, mari berhenti menjarah.
Bagaimana jika kita culik mereka?
- Kau membuat kesalahan besar. - Benarkah?
Aku peringatan kau...
Baldeo!
- Jangan ada yang bergerak. - Mundur!
No comments yet. Be the first to leave one.