Enemies from the Past

Enemies from the Past (전생에 웬수들)

Download Indonesian Subtitle

Release info

전생에 웬수들-Forever Enemies E 21 NEXT
A Commentary by SULTAN_KHILAF
Sub by VIU, Synced for NEXT Version. Selamat menonton :):) Kunjungi www.sultankhilafsub.wordpress.com

Tags

other
Published on: 2017-12-26
Downloads: 12
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Episode 21"

Kamu menungguku?

Ya.

Kenapa?

Aku...

Aku lulus seleksi tahap pertama.

Aku tidak tahu.

Itu sebabnya aku sangat...

Kamu akan tetap di sini?

- Apa? - Ayo makan.

Kamu boleh memesan makanan terenak di sini.

Aku lulus berkat kamu, jadi, aku yang akan mentraktir.

- Kamu yakin? - Tentu saja.

Apa? Tidak ada bahasa Korea.

Biar kupesankan.

Kami pesan amuse-bouche untuk hidangan pembuka.

Untuk hidangan utamanya, kami pesan steik sapi dengan krim.

Untuk hidangan penutupnya,

- kami pesan macaroon dan kopi. - Ya, kopi.

Untuk anggurnya, kami pesan Rothschild de Lafite.

Baik.

Astaga.

Kamu menikmatinya?

Ya, ini enak sekali.

Aku suka rasanya, tapi porsinya agak sedikit.

Maksudku, piring ini sangat besar.

Makanlah perlahan. Permisi.

- Bisa sajikan hidangan utamanya? - Baik.

Jadi, kenapa kamu tidak memberitahuku?

Andaikan tidak lulus tahap pertama,

aku pasti mengingatmu sebagai pria jahat seumur hidupku.

Kurasa aku tahu kamu akan lulus.

Aku masih makan.

Kamu selalu makan secepat ini?

Ini sudah menjadi kebiasaan.

Aku tidak punya waktu untuk makan di antara pekerjaan paruh waktuku.

Jadi, aku selalu makan dengan cepat saat ada waktu.

Kurasa itu sudah menjadi kebiasaan.

Bukankah itu melelahkan?

Aku lumayan energik.

- Apa yang kamu sukai? - Uang.

- Apa tipe idealmu? - Pria kaya.

- Apa impianmu? - Menjadi kaya.

Sejujurnya, lulus kontes itu adalah impianku.

Itu pertama kalinya

aku bekerja keras mencapai sesuatu untuk diri sendiri.

Itu sebabnya aku amat bersyukur.

Kamu membantuku selangkah lebih dekat menuju impianku.

Selain itu,

maaf atas segalanya. Aku bahkan memukul wajahmu.

Jari kakimu juga.

- Aku harus ke toilet. - Silakan.

Permisi.

Berapa totalnya?

- Anda bisa langsung pergi. - Apa?

Teman Anda sudah membayarnya.

Tidak bisa begitu. Astaga.

Aku ingin mentraktirmu.

Tidak masalah.

Tidak bisa begini.

Berikutnya, biar aku yang mentraktirmu.

Berikutnya?

Baiklah, kamu boleh mentraktirku.

Kamu ke arah mana?

Tidak usah. Aku bisa naik bus dari sini.

Terima kasih atas makan malamnya.

- Tunggu. - Ya.

Bisa tunggu aku sebentar?

Dia pergi ke mana?

Kamu dari mana?

Astaga.

Kamu masih demam.

Bawa ini.

- Apa ini? - Obat flu.

Tampaknya demammu tinggi.

Kamu sudah makan, jadi, minumlah obatnya.

Jangan diminum saat belum makan meskipun kamu sibuk.

Kamu berlari untuk membeli ini?

Selain itu,

maaf telah seenaknya menilaimu.

Maafkan aku juga atas ucapanku yang menyakitkan.

Sampai jumpa lagi.

Astaga, aku terlalu keren.

"Kelas Memasak Jang Ok Ja"

Aku pulang.

Kenapa kamu pulang larut sekali?

Ibu menyuruhmu pulang lebih awal karena ingin bicara.

Tiba-tiba ada hal mendesak.

- Ada apa? - Ikut ibu.

Ada yang mengatur kencan buta untukmu dengan wanita luar biasa.

- Ibu. - Ibu tahu

kamu tidak suka kencan buta.

Jadi, biasanya ibu menolaknya,

tapi ibu rasa sayang jika menolak yang ini.

Kamu tahu Firma Hukum Ha dan Jo, bukan?

- Wanita itu putri mereka. - Hee Gyeong?

- Kamu mengenalnya? - Tentu, dia juniorku.

Dia terkenal karena cantik. Panggilannya Primadona Pengadilan.

Dia memilihmu dan ingin bertemu denganmu.

Itu konyol.

Kami sering bertemu saat ada pertemuan di pusat pelatihan.

Bukan seperti itu. Ini pertemuan formal.

Ibu tidak ingin kamu melewatkan kesempatan ini.

Bisakah kamu menghadiri satu kencan buta, Ji Seok?

Kurasa aku sudah berulang kali memberi tahu Ibu bahwa kencan buta

adalah awal dari perjalanan dua orang menuju kuburan mereka.

Kamu tidak akan menikah?

Pasti karena aku sering melihat banyak orang menikah

karena mereka tidak bisa berpisah,

lalu mereka berpisah karena muak dengan satu sama lain.

Aku tidak ingin seperti itu.

Lantas apa? Sampai kapan kamu hanya akan berpacaran?

Daripada harus mencintai

wanita yang sama seumur hidupku

dalam ikatan pernikahan,

aku lebih suka kencan biasa, tanpa tahu

- siapa pasanganku malam itu. - Terserah saja.

Ibu tidak meminta bantuanmu. Ini perintah.

Maksud ibu, ini harapan ibu.

Ayolah, Nak.

Sebaiknya Ibu mengharapkan hal yang lebih baik.

Seharusnya berharap bisa memacari pria lebih muda yang kekar.

Astaga.

Menggunakan kekerasan akan merusak kedamaian dalam keluarga.

Jika Ibu melakukan ini...

Aku akan menyapa Nenek dan naik ke atas.

Astaga.

Dia memang pengacara.

Tunggu saja. Kamu boleh lebih mahir bicara daripada ibu,

tapi ibu akan membuat ini menjadi kenyataan.

Wanita mata duitan macam apa yang bekerja siang malam

untuk membayar tagihan rumah sakit adiknya?

Dia bahkan bekerja sebagai sopir di malam hari.

Dia pasti terlalu sibuk bekerja

sampai tidak sadar sedang sakit.

Apa dia sudah meminum obatnya?

Hei, kamu kenapa? Kamu tidak mengangkat ponselmu.

Aku?

Maaf, aku tidak sadar baterai ponselku habis.

Kamu bilang akan langsung pulang.

Aku mencemaskanmu.

Maaf.

Apa itu?

Bukan apa-apa.

Lalu, kenapa wajahmu seperti itu?

Memangnya kenapa?

Tatapanmu tampak kosong.

Apa terjadi sesuatu?

- Ya. - Ada apa kali ini?

Jangan bilang kamu bertemu dengannya.

Pria yang mengambil lembar pendaftaranmu.

Kamu mengerikan.

- Ya, aku bertemu dengannya. - Kamu tidak takut?

Kenapa tidak menghubungiku?

Kamu baik-baik saja? Dia menyakitimu?

Dia tidak menampar wajahmu?

Dia tidak mematahkan jarimu?

Tidak. Tapi sebaliknya.

- Dia mengaku merasa bersalah. - Dia meminta maaf?

Ya. Untuk semuanya, termasuk karena berpikir aku mata duitan

dan mengatakan hal jahat kepadaku.

Aku tidak tahu sebelumnya,

tapi tampaknya dia orang baik.

Mungkin sebenarnya dia bukan orang jahat.

Tetap saja, berhati-hatilah. Kamu tidak tahu apa pun soal pria.

Semua pria itu bagaikan serigala, kecuali aku.

Astaga.

Dia meniru rubah?

Siapa pria itu?

Dia memegang tanganku seperti ini, jadi, kubilang,

"Kamu tidak boleh memotong jari ini."

Kurasa dia harus ke dokter.

Ya, harus. Dia harus dirawat inap.

"Kenapa kamu menunggu begitu lama?"

"Pergilah ke dokter sekarang."

Dia manis sekali.

Aku takjub dia masih bisa berdiri.

Ya, biasanya dia merangkak.

Hei, Kalian!

Terutama kamu, Go Ya!

Apa?

Maksudku,

Kak Go Ya, kakakku.

- Kalian sudah pulang rupanya. - Go Woo, kamu bangun?

Ya, suara Kak Go Bong terlalu keras.

Astaga, ayo masuk. Kakak akan menidurkanmu.

- Selamat malam, Kak San Deul. - Selamat malam.

Astaga, dasar...

"Obat"

Astaga.

Tidak!

Ji Seok.

Kamu baik-baik saja, Sayang?

- Nenek. - Ya.

Nenek mendengarmu mengerang dari luar.

Kamu bermimpi buruk lagi?

Ji Seok.

Tadinya aku baik-baik saja.

Kukira aku sudah melupakannya.

Tapi ternyata belum.

Enemies from the Past subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for Enemies from the Past

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left