The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Kamu baik-baik saja?
Tidak.
Aku tidak baik-baik saja.
Aku tidak mau bulan Mei ini
berlalu tanpamu.
"Selamat atas Pertunangan Kalian, Hwang Hee Tae dan Lee Soo Ryeon"
Permisi. Boleh kutanya kenapa kamu di sini?
Bukan apa-apa.
Tunggu...
Terima kasih sudah datang jauh-jauh.
- Tidak masalah. - Selamat.
Saat anak-anakmu menikah,
- ingat untuk mengundangku. - Ya, tentu.
Aku berjanji akan hadir.
- Tentu. - Terima kasih.
Terima kasih banyak.
- Sekali lagi, selamat. - Terima kasih.
Kalau mengadakan acara keluarga, jangan lupa mengundangku.
Aku akan menjadi orang pertama yang memberimu selamat.
Sekali lagi, terima kasih sudah datang.
Soo Ryeon.
Tamu kita akan pergi. Di mana Hee Tae?
Ayah tidak melihatnya sejak tadi.
Apa dia sakit?
Aku menyuruhnya pulang.
Apa maksudmu menyuruhnya pulang?
Dia tidak enak badan sejak pagi ini.
Jadi, aku menyuruhnya pulang dan beristirahat.
Astaga. Tetap saja,
bisa-bisanya dia benar-benar pergi?
Yang benar saja.
"Episode 6: Batuk, Cinta, dan..."
Ada apa dengan Hee Tae?
Kurasa dia terserang flu.
Begitu rupanya.
Myeong Hee juga batuk seharian.
Kurasa karena pergantian musim.
Di sana sangat ramai
sampai aku tidak menyadari kepergiannya.
Kamu sudah berpamitan dengannya?
Kami berdua sangat sibuk.
Jadi, kurasa dia pergi diam-diam.
Kamu tahu Myeong Hee tidak suka mengganggu orang lain.
- Soo Ryeon. - Apa?
Kamu hebat hari ini.
Terima kasih.
Akan menyenangkan andai Ibu juga ada di sini.
Kenapa aku tidak boleh mengantarmu pulang?
Rumahku di sebelah sana. Kita sudah hampir sampai.
Aku tidak mau...
Kamu tidak mau Jin A melihat kita dan membuat keributan?
Baiklah.
Apa kegiatanmu besok?
Aku harus bekerja setelah ke gereja.
Kalau begitu, aku akan menjadwalkan kelas mengajarku besok malam.
Agar aku bisa bertemu denganmu saat kamu pulang kerja.
Bagaimana kalau kamu berikan saja jadwal kerjamu?
Jadi, aku bisa menjadwalkan kencan kita.
Tentu.
Astaga, kurasa ini alasan orang menulis lirik lagu.
Karena tidak bisa bicara di telepon
atau melihat foto saat pasangan saling merindukan.
Malam terasa begitu panjang.
Boleh aku membawa ini?
Agar aku bisa memikirkanmu.
Bagaimana denganku? Kamu juga harus memberiku sesuatu.
Tidak ada yang bisa kuberikan kepadamu.
Haruskah aku mencabut kancingku?
Aku akan mengambil ini.
Hei, di sana.
Sudah hampir waktunya sirene jam malam.
Apa yang kalian lakukan selarut ini?
Maafkan aku.
Jika kamu tidak mau mencari kamar, pulanglah.
- Baiklah, maafkan aku. - Begitulah hukum.
- Ya, aku tahu. - Baiklah.
Sebaiknya aku pulang sekarang.
Baiklah. Sampai jumpa besok, Myeong Hee.
Hati-hati di jalan.
Selamat pagi, Ayah.
Ayah dengar kamu tidak enak badan kemarin.
Kamu sudah merasa lebih baik?
Sudah.
Kamu pikir bisa mengalahkan ayah setelah dewasa?
Jangan salah paham.
Kamu hanya bisa menangkis tangan ayah.
Apa pun yang kamu lakukan, ayah selalu selangkah di depanmu.
Serta...
Jika kamu mengecewakan ayah
di depan umum seperti itu lagi,
itu tidak akan berakhir dengan tamparan.
Kamu mengerti?
Pak, ada tamu.
Astaga, kamu pasti lelah setelah upacara pertunangan.
Kamu tidak perlu melakukannya.
Aku tidak sempat memberi hormat sebelum upacara,
dan ayahku dengan tulus memintaku
untuk membawakan sendiri hadiah ini.
Hadiah yang sangat berharga.
- Sampaikan ucapan terima kasihku. - Baiklah.
- Apa makanannya sudah siap? - Sudah.
Di mana Jung Tae?
Jung Tae pergi retret gereja dan akan kembali besok malam.
Kalau begitu, ayo makan.
- Kamu... - Tunggu.
Jika mau menamparku, tampar aku di sisi ini.
Kamu ingin aku melakukan apa setelah menghilang seperti itu?
Kamu tahu betapa sulitnya mencari alasan?
Maaf. Tiba-tiba terjadi sesuatu.
Aku melihatmu semalam
pergi bersama Myeong Hee.
Apa yang kalian pikirkan?
Apa pun itu, bukankah itu bukan urusanmu sekarang?
Kita bertunangan seperti yang kamu mau,
dan kita akan mempertahankan ini sampai pabrik rampung.
Kita hanya bisa sejauh itu.
Kenapa bukan urusanku?
Seperti katamu, kita harus mempertahankan situasi ini.
Jika orang tahu tentang hubungan kalian,
pertunangan dan hal lainnya akan hancur.
Baik. Kami akan berhati-hati mulai sekarang.
Kenapa kamu terdengar begitu santai?
Sejujurnya, kalian beruntung
hanya aku yang melihat kalian.
Bagaimana jika keluarga atau salah satu tamu melihat kalian?
Bagaimana aku menjelaskannya?
Kenapa kamu begitu marah?
Siapa bilang aku marah?
Masuklah untuk makan camilan.
- Baiklah. - Baiklah.
Astaga.
Tunjukkan album fotomu.
Aku ingin melihat sejelek apa kamu saat kecil.
Aku tidak punya album foto.
Apa ada yang kamu punya?
Siapa ini?
Itu ibuku.
Apa?
Bukan yang kamu lihat di bawah,
tapi ibu kandungku.
Itu satu-satunya fotonya sebelum dia sakit.
Astaga.
Kenapa kamu memajang foto ibumu di sudut?
Pasanglah bingkai atau semacamnya.
Astaga.
Bagaimana denganmu?
Aku juga tidak melihat satu pun foto ibumu di rumahmu.
Aku menyembunyikan semuanya, karena melihat foto-foto membuatku
makin merindukannya.
Aku tahu rasanya.
Berapa usiamu saat dia meninggal?
Saat itu usiaku 12 tahun.
Astaga. Kamu masih terlalu muda.
Pasti sulit menghadapi semua kejadian itu.
Kejadian apa?
Kamu pasti merindukannya tiap hari olahraga,
upacara masuk sekolah, kelulusan, dan semacamnya.
Satu-satunya kejadian yang harus kuhadapi
tanpa ibuku adalah kelulusan SMA-ku,
dan itu sudah cukup sulit.
Aku hanya dipaksa untuk hadir
karena aku murid terbaik.
"Di dalam hatiku"
"Domba berkeliaran"
"Di kegelapan"
Ini.
- Terima kasih banyak. - Selamat menikmati.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
- Selamat menikmati. - Terima kasih.
- Makanlah. - Terima kasih.
- Ini enak sekali. - Selamat menikmati.
Semuanya harus dicuci, bukan? Berikan kepadaku.
Hye Gun.
Apa ada masalah?
Kenapa kamu mengabaikanku?
Ada apa? Katakan.
- Aku melihat semuanya. - Apa maksudmu?
Di upacara pertunangan Soo Ryeon,
aku melihatmu bersama
Hee Tae!
Bagaimana kalian bisa saling mengenal?
Bukan. Yang lebih penting,
ada apa di antara kalian berdua?
Hee Tae adalah tunangan Soo Ryeon.
Dan kamu temannya.
- Hye Gun. - Apa Soo Ryeon tahu
apa yang terjadi
di antara kalian berdua?
Halo?
Tuan Hee Tae, ini untukmu.
Aku?
Halo?
Hee Tae, kamu sudah merasa lebih baik?
Aku merasa kita kurang lama bersama.
Bagaimana kalau kita bertemu malam ini, berdua saja?
Baiklah.
Maaf, tapi aku sudah ada rencana.
Ayolah, jangan seperti itu. Tolong luangkan waktu.
No comments yet. Be the first to leave one.