The first 200 lines.
Sebelumnya dalam Chesapeake Shores.
Trace.
Kucoba hubungi Abby, tapi tak berhasil.
Trace, aku yakin Abby baca pesanmu.
Untukmu. Ayah tak tahu kau mau menemuinya atau tidak.
Dilpher didakwa dan bilang aku konspirator dalam kasus penipuannya.
Katanya aku mengizinkan fondasi di bawah standar di 200 gedung.
- Sudah usai dengan Trace. - Aku tahu.
Punya masa lalu bukan berarti kami punya masa depan.
Aku juga tahu itu.
Kadang, masa lalu tak bisa berlalu.
- Kami minta maaf kawin lari. - Itu mungkin salah.
Nelson adalah hiu, dan akan menyerang di saat tak terduga.
- Ya! - Tunggu, aku akan bertanya.
- Maukah kau menikah denganku? - Ya! Seribu kali ya!
- Terima kasih mengajakku. - Kau akan suka ucapanku ini.
Mau bawa dramamu ke West End?
- London? - Ya.
Terima kasih!
Abby. Aku takkan ke mana-mana.
- Aku takkan menyerah. - Trace…
Sedikit naikkan di kanan.
Bagus, dan kini sedikit naikkan di kiri.
Naik sedikit lagi di kanan. Ya, naik lagi di kiri.
- Kev, kau menjaili kami? - Tentu saja.
SELAMAT DATANG BREE
Sudah bagus, Anak-anak.
Itu spanduk yang bagus.
Ya, 'kan? Percaya Carrie yang membuatnya?
Dia berbakat.
Yakin Bree akan senang dengan semua ini? Topi, teh malam?
Di FaceTime, dia bilang ingin acara kepulangan sederhana. Tak mewah.
Hanya ini?
- Hei! - Hore!
Selamat datang kembali, Sayang!
Hai!
Lihat wajah itu!
Kau seharusnya tiba tiga jam lagi.
Penerbanganku lebih cepat. Untuk kejutan.
Nell akan sedih melewatkan kau datang.
Dia ke pasar membelikanmu teh.
Jangan teh lagi. Pasokan tehku sudah cukup.
Nenekmu membuat teh malam,
dengan scone dan roti lapis timun untuk menyambutmu.
Kau akan minum teh.
Baik, demi nenek, aku akan minum teh.
Kini, bisa aku minum kopi Maryland yang enak?
- Tentu. - Terima kasih.
Berikan itu.
Aku rindu itu.
- Kau pasti lelah. - Ya.
Serasa aku tak pernah pergi.
Tapi juga serasa aku pergi lama sekali. Beri tahu aku kabar baru.
Sudah semua. Kita sering bicara di FaceTime hingga ponselku usang.
Aku beli ponsel baru.
- Connor senang di firma barunya? - Dia hebat.
Aku dan David gila merencanakan pernikahan.
- Gila yang bagus? - Ya.
Semua bagus.
Lalu Ibu dan Ayah?
Mereka sering bersama.
Amat aneh. Menarik, tapi aneh.
- Lalu kau? - Aku? Aku baik-baik saja.
Sungguh?
Kau belum menyebutkan Trace, Jay, atau siapa pun.
- Tak ada yang harus dilaporkan. - Dia tak membicarakannya.
Karena hidupku bukan hanya pria.
Aku sedang berfokus dengan diriku.
Aku bekerja dengan ayah. Itu salah?
- Tidak. - Itu tak masalah.
Aku juga berfokus dengan pekerjaan…
Tapi jadi membosankan, benar?
Aku menganggapnya memberdayakan.
Baiklah.
- Aku pikir… - Apa?
Kupikir ada yang terjadi antara kau dan Trace, sebelum aku pergi.
Setelah makan malam pernikahan Kevin dan Sarah.
Abby.
- Nell datang membawa teh. - Teh! Baik.
Dia hampir bicara.
Sedikit lagi.
Kusalahkan tehnya.
- Kau sedang apa? - Melihatmu tidur.
- Kau belum bosan? - Belum.
Kau tahu ini hari apa?
Senin?
Ya. Lalu?
Katakan.
Ini hari jadi dua bulan dan tiga minggu kita.
- Itu dirayakan? - Bisa saja. Ini.
Kopi.
Ini hadiah tradisional hari jadi dua bulan dan tiga minggu?
Kurasa, ya.
Pikirkanlah. Kau mungkin sudah hamil.
Mungkin.
Jika anak lelaki,
kita beri nama Irlandia yang kuat seperti Finbarr.
Finbarr?
Ya, atau Ultan, jika Finbarr terlalu aneh.
Sungguh? Ultan atau Finbarr?
- Jika lelaki. Jika perempuan… - Kau akan jadi ayah yang hebat.
Namun, biar aku saja yang menentukan namanya.
Kau bekerja keras.
Hei, Linda. Mendalami diskriminasi upah tak adil.
- Terima kasih menugaskanku. - Kerjamu baik.
Akan kuberikan kepadamu besok sore.
Baik. Margaret, masuklah.
Connor O'Brien, pengacara hebat, Margaret Keller, paralegal hebat.
Senang berkenalan. Biar kubantu.
Ini fail UU Upah Setara 1963?
Semoga, jika tidak, gelar hebatku akan ditarik.
Teruskan kerja bagusmu, Connor. Kau memukau partner.
Bahkan Bobby Lewis. Padahal dia tak suka siapa pun.
- Benar, dia benci aku. - Tak mungkin.
- Itu foto keluargamu? - Ya.
Keluargaku juga besar. Aku bungsu kedua.
Aku juga.
Selalu terjepit di tengah? Dimanfaatkan?
- Ya. Tapi lolos untuk banyak hal. - Aku paham maksudmu.
- Senang berkenalan, Tn. O'Brien. - Terima kasih. Connor saja.
Hal besar Lewis menyukaimu.
Ya!
Tentu.
Ya, terima kasih. Aku tak sabar kita bertemu. Sampai jumpa.
KAFE SALLY'S
Ceritakan telepon itu.
Sebelumnya, aku perlu kelengkapan kamar tamu untuk orang tua David.
Orang tua David akan datang?
Ya, dan aku mencoba sepositif mungkin.
Jadi, aku perlu alat tulis, kertas, pena.
- Seperti penginapan sungguhan. - Ini memang penginapan sungguhan.
- Terus katakan itu. - Kenapa kau gugup?
- Kami ada kabar untuk mereka. - Kabar apa?
Nanti saja. Telepon apa tadi?
Dari Universitas Maryland.
Ada kelas yang belum selesai?
Gelarmu ditarik? Aku bermimpi buruk.
Bukan. Mereka ingin aku menjadi dramawan tetap.
Hebat. Apa itu?
Artinya aku akan mengajar menulis kreatif satu semester.
- Akan kau terima? - Entahlah.
Aku terpikir mengajar. Menyenangkan berbagi ilmu, atau…
- Tidak. - Apa?
Tebak siapa kepala Departemen Sastra di sana.
- Katakan. - Jerome Trask.
- Tidak! - Ya!
- Aku tak tahu siapa dia. - Dia musuhku di SMA.
- Kau punya musuh? - Ya, dia Jerome Trask.
Dia jahat. Ketua tim debat, dan tak membolehkan aku bergabung.
Kau marah tak bisa bergabung
klub debat, bukan tim pemandu sorak atau bola basket?
Jangan menghakimi. SMA berat.
Kukira hanya aku yang kesulitan di SMA. Nilaimu A semua.
Secara akademis aku bagus. Tapi sisi sosial, tidak.
Kau tak bilang.
Sudah banyak yang kau pikirkan.
Aku bisa membantu.
Sudah, dengan menjadi dirimu.
Baik. Perlengkapan sudah ditaruh. Berapa lama lagi orang tuamu tiba?
- Sekarang. - Ya, ampun.
- Mereka sebaiknya tak menginap di sini. - Tidak. Harus di sini.
- Ya. Mereka harus lihat bisnis kita. - Menghormatinya.
Pelan-pelan.
Ini hidup kita. Kita harus bisa hidup sesuai keinginan kita.
Ya, maka kita harus beri tahu mereka di ruangan yang banyak orang.
- Agar mereka tak membuat keributan? - Ya. Mereka benci itu.
- Itu ide bagus. - Aku juga berpikir begitu.
Ini saatnya.
David.
- Jess. - Halo.
Harus Ayah katakan, tak mudah, tapi akhirnya kami menemukan tempat ini.
- Ya. - Masuklah.
Bisa minta petugas bawakan tas kami?
Aku saja.
Ibu bisa lihat sebagian orang menganggap tempat ini menawan.
Terima kasih.
Sindiran dimulai.
Hei.
Cokelat keping min. Yang aku mau.
Kadang, para ibu benar.
Ketahuilah Ibu ada di sini jika kau mau membicarakannya.
Ibu juga ada di sini jika kau tak mau membicarakannya.
Terima kasih, Ibu.
Itu ciuman perpisahan, bukan?
Kita tak bisa terus begini.
Kita tak bisa hidup di masa lalu. Kita sudah berubah.
Aku tak hidup di masa lalu. Yang kubicarakan masa depan kita.
Ya, tapi aku juga harus memikirkan putriku dan masa depan mereka.
Aku menyayangi mereka.
Ya, aku tahu.
Abby, kau hanya takut.
Ya, aku takut. Ini menakutkan.
Kau belum pernah menikah. Aku pernah.
Perceraian menyakitkan bagi anakku.
Bagaimana jika kita putus lagi?
Itu takkan terjadi. Kali ini kita takkan putus.
Kau tahu tak semudah itu.
Menurutmu tak mudah karena kau suka mempersulit.
Baik.
Kau pantas bahagia, dan aku juga,
No comments yet. Be the first to leave one.