The first 200 lines.
Kau menyukaiku.
Bisakah kau tidak berkencan jika punya putri?
Apa aku memintamu menikahiku?
Berkencanlah dengan orang yang jauh lebih baik.
Kau pantas mendapatkan yang lebih baik.
Siapa kau bisa memutuskan itu
padahal kubilang aku menyukaimu?
Jika perbuatanku membuat salah paham,
aku minta maaf dengan tulus.
Jangan minta maaf dan jujurlah pada diri sendiri!
Haruskah kuminta Pak Park
membuat janji dengan dokter mata?
Aku menghargainya.
Mataku perih belakangan ini.
Kau akan mampir untuk makan ubi?
Tidak, kita bisa langsung pulang.
Tentu.
Boleh aku tahu kenapa kita di sini?
Pak Shin.
Maksudku, Ayah. Aku penasaran siapa pacarnya.
Apa? Apa maksudmu?
Dia pulang membawa ubi panggang
setiap dua malam.
Seperti yang kau tahu,
tak ada penjual ubi di dekat lingkunganku.
Aku memeriksa kantong kertasnya
dan melihat "Ubi Panggang Tradisional"
dicap di atasnya.
Jadi, kau mencari dan menemukan penjualnya.
Semua karena dia ingin makan ubi panggang?
Bagaimana orang bisa makan
ubi panggang dua hari sekali?
Dugaanku adalah
dia bertemu dengan pacarnya di sekitar sini.
Aku jadi ingat.
Kau melihat wanita di kantor
yang mungkin pacarnya.
Dia tampak sedikit lebih muda dari ayahku
dan sangat cantik.
Jika aku bertemu dengannya di sini malam ini,
aku akan memperkenalkan diri
dan mengajaknya sarapan siang.
Kenapa kau repot-repot menemuinya?
Karena setelah ayahku menikah, kita berikutnya.
Astaga.
Jihye, kau manis sekali.
Aku hanya akan nyaman menikahimu
setelah ayahku... / - Kau pasti kedinginan.
Tidak. / - Kau tidak mau terkena flu.
Tapi aku tidak kedinginan.
Terkena flu akan buruk.
Tapi... / - Di luar dingin, itu saja.
Aku tidak mau kau terkena flu.
Kurasa itu hangat.
Benar. Ini dia.
Kau selalu membuatku tertawa.
Penjualnya sedang berkemas untuk malam ini.
Tunggu. Kau benar.
Dia tak bertemu dengan pacarnya malam ini.
Kita juga harus pulang.
Apa?
Benar.
Santai saja. / - Tentu.
Perlahan.
Sedikit lebih jauh? / - Ya.
Sedikit lebih jauh.
Hati-hati. / - Baiklah.
Bagus.
Aku akan mengangkatnya.
Tentu. / - Ini dia.
Tapi kita harus berhati-hati. Satu, dua, tiga.
Tunggu. Apa itu ayahku?
Apa itu benar-benar ayahku?
Kurasa begitu.
Ayah?
Apa? / - Pak Shin.
Sedang apa kalian di sini?
Kami sedang berkencan.
Benar.
Di lingkungan ini? / - Ya.
Jalan ini terkenal dengan pemandangannya,
dan restoran kari ini
selalu memiliki antrean panjang di luar.
Benar. Mereka menyajikan kari yang lezat.
Kita harus mampir untuk makan kapan-kapan.
Dengan senang hati.
Kenapa kau memasang pohon Natal di sini?
Aku berkesempatan makan di sini.
Makanannya sangat enak
hingga aku ingin menunjukkan apresiasiku.
Aku tidak tahu Ayah punya sisi ini.
Meskipun itu hadiah,
menaruhnya di luar setelah jam kerja...
Aku akan menelepon mereka besok pagi,
aku bersedia menyingkirkannya.
Ayah datang ke sini dengan siapa?
Itu sebenarnya cukup aneh.
Entah kenapa, ayah tidak ingat.
Ayah makan kari dengannya
dan membeli ubi setelah kencan berakhir.
Sekarang aku ingat.
Sopir Kim dan aku mampir untuk makan.
Di sinilah aku membeli ubi panggang.
Dia suka yang dijual oleh penjual ini.
Sungguh? / - Tentu saja.
Tanya dia jika kau tidak memercayaiku.
Lain kali kita harus mampir untuk makan kari.
Makanan di sini luar biasa.
Pak Shin,
ada rapat besok pagi.
Mungkin kau harus tidur lebih awal.
Benar.
Tidak ada yang peduli padanya sepertimu.
Aku juga akan memberi tahu sopirmu
soal penjual ubi yang bisa dia temukan
di dekat rumah atau kantor.
Merepotkan untuk datang jauh-jauh kemari.
Benar, tentu saja.
Kita harus pergi sekarang.
Jihye, kau akan pulang, bukan?
Tentu saja.
Ayah juga akan pulang, bukan?
Astaga.
Pak Cho, sampai jumpa besok.
Benar. Selamat malam.
Kita juga harus pergi.
Aku akan mengikutinya
agar kau bisa pulang setelah dia. / - Ya.
Ayo. Aku akan mengemudi.
Pak Kim,
kau suka ubi panggang, bukan?
Apa?
Rasanya lezat, bukan?
Aku yakin kau menyukainya.
Ya.
Benar.
Hanya itu yang perlu kuketahui.
Tunggu. Kurasa dia tidak akan pulang.
Kau benar.
Mungkinkah dia bertemu dengan pacarnya?
Terus ikuti dia.
Tentu.
Kau terlalu sering datang.
Bagaimana kalau minum anggur? Aku yang bayar.
Itu mobil Pak Shin.
Kau benar. Ayo masuk ke sana.
Jihye, tunggu.
Kemarilah.
Kenapa? Ada apa?
Begitu rupanya. Akhirnya semua mulai jelas.
Dia pasti pacar Ayah.
Kau mengencani pegawaimu?
Astaga. / - Ya.
Aku melihat mereka bersama di perusahaan.
Selain itu, roti lapis yang dia beli
untuk sarapan siang dan rapat humas
berasal dari tempat yang sama.
Baiklah.
Aku tidak percaya aku sarapan siang
di rumah bosku pada akhir pekan.
CEO membelikanmu roti lapis.
Dari mana dia mendapatkan ini?
Dan stiker di roti lapisnya memiliki nama ini.
Begitu rupanya.
Jadi, mereka pasti berkencan.
Tapi aku penasaran bagaimana mereka bertemu.
Kurasa bukan sebagai penjual dan pelanggan.
Entahlah.
Haruskah kita masuk dan menyapa? / - Tidak.
Kita harus kembali nanti dan melihat seperti apa.
Ayo pulang.
Kau bisa masuk karena ayahku tak di rumah.
Astaga. Kalau begitu, ayo.
Sorim.
Hei.
Kuberikan kartu namaku pada Burung Hantu.
Aku yakin dia akan datang ke rumah sakit.
Meskipun dia datang, jangan rawat dia.
Apa kalian bertengkar?
Sudah berakhir.
Maksudku,
kami bahkan belum mulai, tapi aku menyerah.
Kenapa?
Tidak apa-apa.
Baguslah.
Baiklah. Tidak baik mengencani klien tua.
Tindakanmu benar.
Ini cantik. Boleh kusimpan ini?
Tidak boleh.
Tapi kau punya banyak.
Kubilang tidak.
Ayo ke toserba
dan beli bir serta bola keju.
Jangan makan. Kau akan gemuk.
Aku tidak peduli. Aku akan mabuk malam ini.
Ada apa dengannya?
Kenapa pohon Natal ini ada di sini?
Ini enak sekali. / - Menarik sekali.
Kita punya ikatan khusus dengan keluarga itu.
Nenek Sangjun dan aku sangat terkejut.
No comments yet. Be the first to leave one.