The first 200 lines.
"Episode 49"
Seperti yang kamu tahu,
aku masih lama untuk menjadi sepertimu.
Jadi, sebelum peluncuran produk baru,
aku mau benar-benar memahami keseluruhan prosedur
pemasaran, perencanaan, produksi, dan distribusi.
Aku harus tahu keseluruhan prosedurnya.
Jika perlu, aku akan pergi ke mana pun
bahkan pabrik dan gudang. Agar kamu tahu saja.
Ya, akan kuingat itu.
Sudah kubilang jangan pakai hak tinggi.
Kamu nanti terluka, jadi, pakailah sepatu kets.
Bu Kang.
Tidak ada orang di sini.
Mari tetap seperti ini untuk sementara.
Tolong jangan lakukan ini.
Kukira kita sudah memperjelas
hubungan kita sebagai rekan kerja.
Jadi, kamu tidak masalah?
Kamu baik-baik saja?
Kamu tidak masalah menjalani hidup
yang bukan milikmu sendiri?
Inilah diriku yang sebenarnya.
Bu Kang.
Aku bukan Kang Mi Ri yang sama yang kamu kencani dahulu.
Kamu sudah dengar dari ayahmu.
Aku kembali untuk mengusir ibumu
dan merampas posisi CEO miliknya.
Marahi saja aku karena bersikap materialistis.
Anggap aku orang yang tergila-gila dengan uang, reputasi, dan jabatan.
Serta lupakan perasaan lama.
Tapi aku tetap menyukaimu.
Aku tetap tidak bisa melupakanmu.
Aku sudah berusaha melupakanmu.
Tapi aku terus kembali kepadamu.
Ini salahku.
Aku tidak menyingkap identitasku kepadamu dari awal.
Jika aku bilang dari awal...
Aku pasti akan lebih membencimu.
Aku tidak akan membiarkanmu mendekatiku.
Aku akan memandangmu rendah dan memarahimu
karena kamu masuk perusahaan berkat ayahmu.
Aku tahu. Begitulah kamu.
Itulah alasanku yakin
kamu menyukai Han Tae Ju.
Benar.
Tentu saja.
Anak baru, Han Tae Ju, adalah
pria pertama
yang pernah kucintai.
Tanpa ada niat lain,
aku mencintainya setulus hati. Namun...
Anak baru itu
tidak berbeda dariku yang sekarang.
Aku masih sama.
Aku sama dahulu dan sekarang.
Yang paling penting,
perasaanku kepadamu belum berubah.
Jadi, aku
akan berhenti menjauhkanmu.
Bertingkah tidak mencintaimu atau sudah melupakanmu.
Aku mau menghentikan semua itu sekarang.
Serta aku tetap
amat mencintaimu.
Seperti Han Tae Ju yang waktu itu.
Jangan lakukan ini.
Ini tidak akan mengubah apa pun.
Aku pergi dahulu, Pak.
Tidak peduli apa pun yang kamu katakan,
aku tidak akan menyerah denganmu. Aku tidak bisa!
Aku yakin kamu akan mencintaiku lagi.
Tunggu dan lihat saja. Akan kupastikan itu terjadi.
Omong-omong, kenapa tidak ada pelanggan di malam hari ini?
Entahlah.
Apa mereka pergi berlibur?
Tapi ini belum musim liburan.
Apa yang akan kamu lakukan pada liburan musim panas kali ini?
Kamu mau pergi dengan pacarmu?
Tidak ada liburan untukku.
Aku harus menghasilkan uang.
Kamu tidak punya pacar?
Zaman sekarang harus punya uang untuk mengencani seseorang.
Aku harus tetap melajang karena tidak punya uang.
Tapi kudengar kamu memang butuh uang untuk berkencan,
apalagi untuk menikah.
Banyak pasangan menunda pernikahan mereka
karena kekurangan uang.
Astaga.
Jangan bergerak.
- Ada yang besar. - Sakit. Pelan-pelan.
Astaga, dapat. Ini besar.
Ini gila.
Buka mulutmu. Ini milikmu, jadi, kamu harus memakannya.
- Ini. - Yang benar saja. Jijik!
Apa maksudmu? Ini dari tubuhmu.
Tapi ini sungguh menyegarkan. Lakukan untuk sisi yang ini juga.
- Baik. Berbaringlah. - Astaga.
Jadi, pukul berapa pengasuh pulang dari rumahmu?
Pukul 20.00.
Kami setuju pukul sebegitu kecuali lembur.
Untungnya semua anaknya sudah dewasa,
jadi, dia bisa pulang larut.
Itulah alasanmu berada di sini, berbaring di pangkuan ibu.
Benar.
Sudah lama sekali sejak bisa santai melakukan ini.
Ibu selalu bilang kepadamu
bahwa kamu berjuang terlalu keras setelah menikah.
Anak-anak paling tidak membuat masalah saat mereka
masih di kandungan ibu mereka.
Atau saat baru lahir.
Setelah mulai berjalan, mereka mulai membuat masalah.
Mereka tidak pernah mendengarkan orang tua saat sudah dewasa.
Karena kupingmu penuh kotoran,
kamu tidak mendengarkan ibu
dan membuat dirimu sendiri menderita akibat menikah.
Kenapa tidak mengorek kupingku lebih awal?
Ibu, kenapa aku menikah?
Hei, ibu hanya asal bicara.
Kamu tidak bisa hidup lama sendiri.
Kamu punya anak,
dan itu yang membuatmu bangun, menghasilkan uang,
dan memberi makan anakmu.
Benar juga. Kamu sudah menghubungi Mi Ri?
Aku lupa.
Kamu hanya memedulikan anakmu.
Lupakan saja.
Ibu akan mengunjunginya dengan membawa lauk besok.
Maaf, Bu. Keadaannya memang sibuk.
- Kembalilah berbaring. - Astaga, terserah.
Rasanya sangat nyaman membaringkan kepala di pangkuan Ibu.
Tunggu.
Hei, tunggu.
- Ada apa? - Jangan bergerak.
- Ada apa? - Astaga.
- Apa? - Ini buruk.
Astaga. Kenapa Ibu mencabut rambutku?
Hei, kamu beruban.
Astaga. Ibu rasa kamu menua juga.
Ini amat putih.
Apa yang harus kulakukan?
- Aku sudah beruban. - Aduh!
Sakit, Berandal. Kenapa kamu memukul ibumu?
Kamu tidak bisa muda selamanya.
Tapi setelah ada satu, ini akan menyebar.
Aku harus bagaimana sekarang?
Apa yang bisa kamu lakukan? Kamu akan menua seperti ibu.
- Ibu senang? - Ya.
Ibu sesenang itu aku menua.
- Ya. - Apa?
Hentikan.
Ibu amat kejam.
Sakit, Berandal.
Cabut lagi. Apa ada banyak?
Kamu tidak punya uban lagi.
Nona Kang, kamu menyukaiku?
- Apa? - Aku pernah menikah.
Lalu bercerai.
Apa?
Jadi, batasku lebih jelas dan nyata.
Aku sudah memperingatkanmu,
jadi, jangan lewati batasnya lagi.
Apa yang kamu lakukan?
Hai. Kapan Kakak datang?
Belum lama.
Kakak mau pergi.
Kenapa kamu tidak keluar kamar saat kakakmu datang?
Apa yang kamu lakukan, membaringkan kepala di meja?
Kenapa? Kamu mandek?
Tidak. Bukan itu.
Apa ada yang membuatmu cemas?
Tidak.
Bukan aku,
tapi temanku yang cemas.
Temanmu? Kakak tidak tahu kamu punya teman selain Jae Bum.
Astaga. Bisakah Kakak tidak membahas dia?
Jadi, apa masalah temanmu?
Begini...
Dia menyukai duda.
Duda?
Ya.
Apakah salah menyukai duda?
Apa salahnya?
Tidak ada salah dan benar ketika menyukai seseorang.
Benar, bukan? Kakak juga berpikir begitu?
Kamu bersikap seolah-olah itu urusanmu.
Ini karena dia teman baikku.
Apa dia berniat menikahi pria itu?
Apa?
Apa dia berniat menikahi duda itu?
Aku tidak tahu soal itu.
Kenapa? Dia tidak boleh begitu?
Tentu saja boleh,
tapi jika temanmu, dia pasti masih lajang juga.
Ya.
Lantas, apa ibunya tidak kesal?
Putrinya belum pernah menikah.
Dunia mungkin sudah lebih baik, tapi orang tua masih konservatif.
Benarkah?
Lantas, bagaimana dengan Ibu?
Jangan bahas dia.
No comments yet. Be the first to leave one.