The first 200 lines.
"Episode 33"
Anda mau aku pergi?
Tolong beri tahu aku.
Anda sungguh ingin aku pergi?
Tidak akan ada gunanya
bagi kita berdua.
Orang-orang tidak akan tinggal diam.
Kenapa?
Apa salah kita?
Apa kita sudah berbuat jahat?
Atau kita sudah merugikan perusahaan?
Kenapa orang-orang tidak akan tinggal diam?
Kamu dan ibu sudah bekerja di perusahaan ini selama 10 tahun.
Orang-orang akan berpikir
ibu memasukkanmu
ke perusahaan sebagai orang dalam.
Tapi itu tidak benar.
Anda bahkan tidak mengenaliku.
Benar.
Ibu bahkan tidak mengenalimu.
Tapi orang-orang akan berpikir sebaliknya.
Tapi itu tidak masuk akal.
Aku tidak bisa pergi begitu saja
karena kita ibu dan anak.
Jika itu mengganggu Anda,
Anda bisa mengabaikanku saja mulai sekarang.
Kita tidak harus saling berbagi kehidupan pribadi
atau harus akrab.
Seperti kata Anda,
kita sudah tinggal terpisah dalam waktu yang sangat lama.
Kita tidak bisa tiba-tiba saling terikat.
Kita tidak bisa tiba-tiba pengertian
seperti ibu dan anak sungguhan. Kurasa itu melodramatis.
Ibu tidak butuh semua itu.
Pergilah saja.
Ini demi kebaikanmu sendiri.
Bukankah katamu kamu mau belajar?
Kamu dibesarkan keluarga miskin.
Kamu pasti tidak bisa menikmati hal yang kamu inginkan.
Apakah itu sungguh
untuk kebaikanku?
Maaf,
tapi aku tidak paham.
Seung Yeon.
Nama itu juga.
Terdengar tidak familier bagiku sekarang.
Aku pergi dahulu.
Sampai jumpa.
Kenapa Anda tidak memberitahunya sendiri?
Kurasa ini bukan sesuatu yang bisa kusampaikan.
Aku akan melapor ke Pimpinan
bahwa Bu Kang adalah putri
pemilik restoran sup tulang sapi.
Tapi aku tidak bisa memastikan
sebesar apa atau sampai kapan dia akan percaya.
Jadi, aku mau Anda membuat keputusan
sesegera mungkin.
Seperti yang Anda tahu, masalah ini tidak bisa dikubur
untuk waktu yang lama, Bu.
Aku paham.
Aku permisi dahulu.
Hei, lap meja sampai bersih.
Ini restoran. Jangan sampai kotor.
Baik, aku mengelapnya sampai bersih dan rapi.
Sebaiknya aku membersihkan lapangan parkir besok.
Restoran menjadi kacau tanpa aku
beberapa hari belakangan ini.
Bukankah itu mobil Mi Ri?
Itu mobilnya.
Bu Kang, kamu di mana?
Aku mau naik ke atas.
Aku menelepon agar kamu bersiap
jika sekarang masih memakai piama.
Maaf, aku di kantor.
Apa?
Kenapa pergi sendiri? Itu tidak setia.
Aku datang pagi karena banyak pekerjaan.
Sampai jumpa.
Hari lain sudah dimulai.
Selesaikan berkas-berkas yang seharusnya
- kalian serahkan hari ini. - Baik.
Serta Nona Lee, segera serahkan laporan
hasil acara promosi terakhir.
Baik, Pak. Aku sedang mengerjakannya.
Mari bekerja.
Selamat pagi.
- Hai, Tae Ju. - Selamat pagi.
Halo.
Kapan Bu Kang...
Astaga, dia sudah di kantor.
Kenapa dia murung lagi?
Mungkin kita harus menyapanya.
Ada apa?
Tidak, sebaiknya kita tidak menyapanya pagi ini.
Pengalaman bertahun-tahunku bilang
dia merencanakan sesuatu.
Kita malah bisa terkena masalah
jika membuatnya kesal tanpa alasan.
Duduk, Semua. Duduklah.
Jangan berisik dan bekerjalah dengan tenang.
Jangan pergi minum kopi.
Jangan ke toilet, ya?
Ini serius.
Kamu sedang apa?
Hai, Ibu. Aku baru saja makan.
- Aku pergi dahulu. Dah. - Baik.
Ada apa?
Tidak ada apa-apa.
Ibu lucu.
Bagaimana punggung Ibu?
Sudah tidak apa-apa.
Sudah lebih baik setelah beristirahat beberapa hari.
Itulah sebabnya Ibu jangan bekerja terlalu keras.
Omong-omong,
bisakah kamu
minta nomor telepon bibimu untuk ibu?
Kamu bisa mencarinya lewat daring
atau menelepon kantornya.
Ibu sudah gila? Kenapa Ibu membutuhkannya?
Ibu rasa Ibu harus menemuinya secara langsung
dan menuntaskan masalah.
Masalah apa?
Dia belum menelepon setelah pergi.
Bagaimana jika dia menemui Mi Ri
dan membuat masalah lagi?
Dia membuang anaknya.
Dia tidak akan sebahagia itu bertemu dengan anaknya lagi.
Dia mungkin berusaha bersiasat.
Ibu dengar mereka bertemu dan makan bersama beberapa kali,
tapi itu membuat ibu resah.
Tidak perlu resah.
Ibu sudah bertanya kepada Mi Ri, tapi dia tidak mau jawab.
Ibu frustrasi sekali.
Kenapa harus frustrasi?
Ibu, biarkan mereka mengurus
masalah mereka sendiri.
Mencampuri urusan mereka hanya akan membuat
Ibu dan Mi Ri tidak nyaman.
Menurutmu begitu?
Tentu saja.
Biarkan saja mereka, ya?
Lagi pula,
ibu juga tidak berhak ikut campur.
Bukan itu maksudku.
Tetap saja bukankah ibu berhak
untuk mendapatkan ucapan terima kasih darinya sekali?
Setelah semua usaha ibu untuk membesarkan Mi Ri,
bagaimana bisa dia bahkan tidak berterima kasih kepada ibu?
Mi Ri baik kepada Ibu.
Dia amat baik bahkan setelah semua yang terjadi.
Jadi, kenapa dia tidak menelepon sama sekali hari ini?
Mi Ri belum menelepon Ibu?
Belum.
Dia mungkin sibuk.
Mi Ri tidak bisa menelepon Ibu setiap hari.
Ada lagi.
Apa?
Kemarin malam,
ibu melihat mobil yang seperti milik Mi Ri.
Dia melaju tanpa mampir ke restoran.
Tidak mungkin.
Ada apa dengan Ibu?
Mi Ri tidak akan melakukan itu.
Katanya Ibu tidak akan kesal lagi dengannya.
Ibu tahu.
Ibu tidak kesal lagi.
Sudahlah. Nanti kutelepon lagi, Ibu.
Jangan berpikir konyol.
Baik.
Kalian sudah makan siang?
- Sudah. - Sudah.
Kamu membawa bekal lagi?
Ya, memangnya kenapa?
Masakan rumah itu yang terbaik.
Perhatian, Semua.
Bu Kang sudah menunjukkan
performa luar biasa belakangan ini.
Kartu, asuransi, dan bahkan rekening tabungan.
Dia sudah melampaui gol kita bulan ini.
Terima kasih, Pak.
Aku akan bekerja lebih keras.
Kalian harus belajar darinya.
Bagaimanapun, Bu Kang,
lanjutkan kerja bagusmu.
Baik, Pak.
Bisakah kamu membantuku, Bu Kang?
Aku juga.
Kamu mungkin akan menjadi manajer
sebelum aku.
Tidak mungkin.
Apa?
Kamu mau aku mengurus Da Bin hari ini?
Ya.
Ada yang masuk rumah sakit?
Ya.
Siapa?
Astaga.
Aku sudah bilang berkali-kali.
Ji Sook.
Sakit apa dia?
No comments yet. Be the first to leave one.