The first 200 lines.
Episode 29
Alih Bahasa Dipersembahkan Oleh Mom Knows Best Team @ Viki
Hoon Jae ya.
CEO.
CEO, Anda belum pulang kerja?
Hah?
Apa pekerjaannya berjalan baik?
Kami sedang memilih jalur untuk distribusi.
Oh begitu.
Chae Ri baik-baik saja.
Orang tua Jin Ae sangat menyukainya.
Karena sikapnya yang manis.
Juga, setiap kali melihatnya saya jadi berharap punya adik perempuan seperti dia.
Saya telah keliru.
Anda sangat khawatir karena Chae Ri.
Saya telah berkata tanpa berpikir.
Tidak, tidak. Hal yang bagus bahwa dia baik-baik saja.
Karena kau tinggal di rumah yang sama tolong jaga dia.
Kau benar-benar...
Benar, aku melihat kau tumbuh besar dengan baik. Hoon Jae ya.
Maaf?
Tidak, tidak. Kau harus pulang kerja.
Ya. Saya akan menyelesaikan ini dan pulang.
Baiklah.
Selamat bekerja.
Ya.
Hoon Jae ya?
Yeong Seon, Kang Hoon Jae...
adalah putraku, iya kan?
Kenapa kau tidak memberitahuku?
Bagaimana dia bisa menemukannya? Bagaimana dia bisa tahu?
Unnie, aku membawa teh ginseng merah untukmu.
Mungkinkah, itu adalah kau?
Hah?
Apa yang kau katakan pada CEO Jang Cheol Woong?
Tidak. Itu...itu...
Kenapa kau melakukan sesuatu yang tidak kuminta?
Apa Oppa Woong bilang bahwa dia tahu?
Oppa itu sigap sekali.
Itu hal yang bagus. Sekarang karena telah terjadi begini,
Hoon Jae kita akan mendapatkan tempat yang sepantasnya.
Tempat yang sepantasnya? Tempat mana yang merupakan tempatnya yang sepantasnya?
Bagaimana dia ada hubungannya dengan Hoon Jae?
Apa kau pikir Ibunya CEO Jang akan diam saja jika dia tahu tentang kenyataan ini?
Saat ini dia sedang putus asa ingin punya cucu laki-laki, apa menurutmu dia akan diam saja jika dia melihat Hoon Jae kita?
Jadi si Nenek itu akan mengambil Hoon Jae?
Atas ijin siapa?
Itu tidak akan terjadi. Jika dia mau melakukan itu, aku tidak akan diam saja.
Itu bukan yang aku takutkan.
Aku takut dia akan melibatkan diri dalam kehidupan Hoon Jae dan membuatnya bingung.
Kau tidak boleh memberitahu Hoon Jae, ya?
Jika kau memberitahu Hoon Jae,
aku benar-benar tidak mau melihatmu lagi. Sungguh.k
Aku mengerti, Unnie.
Hoon Jae, aku tidak tahu bahwa kau lahir.
Aku juga tidak tahu bahwa kau berada tidak jauh dariku.
Aku tidak berpikir bahwa ada perlunya untuk saling bertemu lagi, jadi aku mengirimimu sms.
Apakah hal itu benar atau tidak, tolong jangan beritahu Hoon Jae tentang ini.
Aku percaya bahwa kau akan melakukan yang kuminta.
Itu orang yang sama yang memukulimu dulu, ya? Suaminya Hye Joo? - Aigoo.
Dia bukan suaminya. Hye Joo sudah bercerai.
Bagaimanapun. Itu dia, iya kan?
Jika seorang pengacara menangani kasus-kasus, bisa saja tanpa sengaja terseret dalam hal seperti ini.
Aku sudah mengambil langkah hukum, jadi orang itu akan segera dituntut.
Terserah! Kenapa kau harus terseret dalam situasi seperti itu?
Kenapa kau harus kena pukul oleh seseorang seperti dia?
Ok, itu bukan terserah pada Hyeong Gyu.
Bagaimana Hyeong Gyu tahu bahwa bekas suaminya Hye Joo adalah orang semacam itu?
Aku tahu, hah? Kenapa kau memilih karyawan seperti dia?
Kau dan Hye Joo tidak sedang dalam hubungan seperti itu, kan?
Berapa kali aku harus memberitahumu, Ibu?
Seon Hye Joo hanya karyawanku.
Aku mempekerjakan Seon Hye Joo semata-mata karena kebetulan,
dan aku baru belum lama ini tahu bahwa dia diganggu seperti itu oleh bekas suaminya.
Saat karyawanku mengalami hal seperti itu,
bagaimana bisa aku sebagai bosnya tidak melakukan apapun, maksudku, sebagai pengacara, Ibu?
Kenapa tidak? Kau aslinya kan bukan orang seperti itu?
Sungguh. Kau terlihat sangat objektif saat kau melakukan itu.
Saat aku melihat bagaimana kau khawatir pada Hyeong Gyu, kau terlihat sangat emosional,
tapi di waktu lain, kau sangat tenang dalam mengevaluasi kekurangan Hyeong Gyu.
Hyeong Gyu, pergi dan istirahatlah. Memarmu masih belum hilang. Kau pasti lelah.
Hei, mungkinkah...
Kau tidak boleh terlibat dengan Hye Joo lebih dari sekedar bos dan karyawan, mengerti?
Tidak usah khawatir, Ibu.
Baiklah.
Beraninya kau merayu putraku yang tersayang saat kau sudah berkeluarga?!
Kenapa kau melakukan itu?! Kenapa?
Apa? "Seorang wanita yang sudah berkeluarga berani merayu putra orang lain?"
Apa itu yang dia katakan pada putri temannya?
Bisa dimengerti alasan Ahjumoni.
Kau bilang padaku dia membesarkan putra pengacaranya dengan penuh perhatian.
Tentu betapa terkejutnya Ahjumoni saat Ayahnya San menemui dan memberitahunya hal itu.
Aigoo...Bagaimana kau bisa begitu pengertian terhadap perasaan orang lain?
Mungkin inilah sebabnya kau bisa dengan bodohnya menahan semua gangguan
dari laki-laki itu dan meneruskan hidup.
Tak tahulah. Tidur.
Tolong jangan terlalu kesal, Ibu.
Ya.
Apa yang sedang kau lakukan?
Saya baru mau tidur.
Sudah mau tidur? Apa kau sudah belajar?
Banyak hal terjadi hari ini jadi saya tidak bisa berpikir dengan baik.
Saya tidak bisa belajar hari ini karena saya ada banyak urusan. Saya tidak bisa belajar besok karena dingin.
Jadi kapan kau mau belajar?
Begini, Pengacara.
Anda jadi kesulitan karena saya, ya?
Aku akan beri kau kuis besok untuk PR yang telah aku berikan hari ini.
Maaf? Kuis... Oh...
Karena itu berhenti memikirkan hal-hal yang tidak berguna,
dan belajarlah barang satu jam lalu tidur.
Juga, jangan lupa besok pagi jam 8, di depan pintu.
Maaf, Pengacara.
Apa... kuis...
Ya.
Hyungnim, aku mempunyai bisnis yang harus didiskusikan, bolehkah aku masuk?
Kau sudah berada di dalam.
Ah, benar.
Ada apa? - Ini lauk
Aku membawakannya. Kau tidak bisa menyiapkannya, karena tadi kau sedang dimarahi Ibu mertua.
Oh.
Kau tidak perlu melakukannya.
Kau membutuhkannya. Aku sudah mengetahuinya.
Huh?
Kau akan memberikan lauk ini kepada gadis yang kau suka.
Benarkan?
Tidak.
Aku pikir bukan itu. Wajahmu memerah.
Karena wajahmu memerah, luka memarmu yang disebelah sana menjadi gelap.
Karena kau sudah membawanya dengan hangat,
Aku akan mengambilnya. 1...2...3.
$11, kan?
Hari ini $13.
Huh? Kenapa?
Sekarang, kimchi lobak ini 4000 won,
dan kimchi dan irisan daging babi, menu spesial di toko kami jadi masing-masing 6000 won.
Tapi aku memberimu diskon 1000 won untuk masing-masing lauk sebagai bagian dari obral.
Maafkan aku, tapi
Aku hanya punya uang $50.
Silahkan.
Kalau begitu, selamat malam.
Maaf.
Ya?
Hmm...
Mungkinkah...
Kalau boleh...
Untuk besok...
Tolong bawakan cherry pepper goreng.
Ada apa dengan senyuman itu?
"Orang" itu menyukai cherry pepper goreng, huh?
Oh bukan. Aku ingin makan cherry pepper goreng, aku.
Kau bisa memakan apa yang kau inginkan besok pagi, kan?
Benar.
Tapi aku ingin memakannya saat siang, bukan pagi.
Baik, aku mengerti. Kalau begitu, silahkan beristirahat.
Astaga. Dia benar-benar tidak punya sopan santun.
Berpura-pura itu tidak terjadi sampai akhir.
Hei, kenapa kau keluar dari sana?
Oh.
Ah. Memeras. - Memeras?
Apa maksudnya memeras? - Ada sesuatu seperti itu.
Rahasia.
Apa?
Kalau begitu, karena kita bertemu...
Kau dihukum.
Kenapa?
Hentikan.
Astaga! Ada apa ini?
Kau sudah mengetahuinya?
Aku bisa mengetahuinya bahkan saat kau berjarak 100 meter.
Pembohong.
Apakah kau menungguku? - Ya. Aku juga baru pulang kerja.
Aku berpikir haruskah aku pulang kerumah, tapi aku menunggu.
Kau melakukannya dengan baik.
Aku sangat menyukainya.
Sakit. - Sakit?
Tidak. Ayo.
Ayahnya Chae Ri?
Dia tiba-tiba mengatakan, "Hoon Jae-ya".
Aku pikir dia sangat kesal karena Chae Ri.
Saat dia melihatmu, "betapa menyenangkannya jika aku mempunyai putra seperti dia di saat seperti ini".
Aku pikir dia berpikir seperti itu.
Aku tahu, huh?
Mari kita buat pengumuman tentang kita akan menikah besok pagi.
Besok pagi?
Apakah tidak terburu-buru? Kita masih belum mendapat izin dari CEO.
Aku pikir lebih baik mendapatkan izin dari CEO terlebih dahulu.
Tentu saja. Aku juga merasakan hal yang sama karena ibuku, tapi
tetap saja, dalam masalah ini, aku pikir lebih baik untuk mendesaknya lebih keras.
Meskipun ibuku berkata seperti itu, dia akan mengikuti sesuai keinginanku.
Meskipun? - Percayalah kepadaku.
Aku akan terus mendesaknya dan terus melangkah maju.
Ini semakin dingin. Aku ingin secepatnya bersama denganmu. Itu mengapa.
Kita sekarang bersama.
Bukan seperti ini.
Lalu, apa?
Seperti ini.
Cepat makan.
Wow, sinar mataharinya bagus. Selimutnya akan cepat kering.
Astaga. Kau manis.
Kau berasal dari mana?
No comments yet. Be the first to leave one.