The first 146 lines.
Ayo pergi ke toko!
Aku yang traktir hari ini.
Bisakah kau tetap diam?
Ayo cepat pergi sebelum jam istirahat berakhir.
Kau pasti lapar.
Apa maumu?
- Ja-rim suka roti keju. - Dia cukup luar biasa.
Tidak mudah mengambil sebanyak itu dari seseorang.
Aku kasihan kepada Gong Ju-young setiap kali melihat mereka.
Hei. Aku harus ke toilet. Pergilah lebih dahulu.
Baiklah. Sampai jumpa di toko.
- Hei, apa yang kalian bicarakan? - Apa maksudmu?
Apa yang kalian bicarakan tadi?
Kalian menyebutkan Gong Ju-young.
Kami kasihan kepada Gong Ju-young.
Apa?
Kenapa kau berpura-pura bodoh?
Semua orang di sekolah tahu kau hanya main-main dengan Gong Ju-young.
Setidaknya jangan terlalu kentara.
Dia selalu mengurusmu setiap kali aku melihatnya.
- Itulah maksudku. Ayo. - Ayo.
Dia memiliki hubungan yang baik dengan Bo-gyeong.
Aku tahu.
[Episode 28, Masa Lalu Pacarku, Aku Hanya Terusik, Bukan Cemburu]
Tempat itu restoran pasta,
tapi tiramisu yang mereka jual di sana sangat enak.
Tampaknya enak. Kau akan langsung pulang setelah kita makan?
Tidak. Aku juga akan membeli tiket bioskop.
Kenapa? Apa tidak ada yang bisa ditonton?
Tidak, bukan apa-apa.
[Apa ini? Bagaimana dia bisa tahu nomorku?]
Apa? Kwak Bo-gyeong?
Ya. Tiba-tiba saja.
Dia tidak pernah menghubungiku sebelumnya.
Kenapa dia menghubungiku? Apa ini?
Abaikan saja dia. Kau punya pacar.
Tentu saja.
Aku sudah tidak menyukainya lagi.
Aku juga memblokirnya di Instagram, tapi dia terus...
Tapi...
Tidak, lupakan saja.
Akan kupastikan ini berakhir,
jadi, jangan katakan apa pun kepada Ja-rim.
Kenapa kau membawa buku tabungan?
Jadi, kau melihatnya?
Kau mengeluarkannya.
Ini rekening pasangan. Kita akan menyetor 1.000 won setiap hari.
Lalu kita bisa memakainya saat berkencan atau jalan-jalan.
Bagaimana menurutmu?
Merepotkan sekali.
Jika kau memberiku 500 won tiap hari, aku akan menyetorkannya.
Berbuatlah sesukamu.
[Bocah gila itu tampak seperti akan mengutuk kita.]
Jika terus mengencani Bo-gyeong, dia tidak akan bersama orang seperti itu.
Aku setuju.
Hubungan mereka sungguh baik.
Aku tiba. Kalian sudah lama menunggu?
Hei, Bo-gyeong. Aku punya berita besar.
Gong Ju-young sepertinya dimanfaatkan.
Bahkan hari ini, dia berkata, "Kau mau kubelikan sesuatu?"
Begitulah dia bertingkah.
Benarkah?
Jadi, rumor itu benar.
Hei, Bo-gyeong. Kau harus mengejarnya.
Aku yakin dia menunggumu menelepon.
Tapi dia punya pacar, jadi, itu keterlaluan.
Astaga, Kau menyebalkan sekali. Kau terlalu baik.
Hei. Semua orang di sekolah tahu Wang Ja-rim hanya main-main dengannya.
Kau mau menonton film apa?
[Astaga, kenapa dia mengirimiku pesan lagi?]
- Hei, lihatlah. - Apa? Kau ingin aku melihat apa?
Film.
Ada tiga film yang diputar pukul 19.00, jadi, mari tonton salah satunya.
Apa? Baiklah.
Apa yang kau lakukan? Periksa pesanmu.
Siapa itu?
Apa? Hanya teman.
[Tapi aku tidak bisa memberitahunya bahwa ini mantan pacarku.]
Ada apa?
Bukan apa-apa.
[dan aku merasa tidak nyaman kau menghubungiku.]
[Tidak bisakah kita tetap berhubungan sebagai teman saja?]
[Maafkan aku. Jika kau terus begini, aku tidak ada pilihan selain memblokirmu.]
[Aku hanya ingin kita berteman. Kenapa kau bersikap seperti ini?]
[Aku tahu kau punya pacar, menurutmu kenapa aku melakukan ini?]
[Aku mengumpulkan keberanian karena sedang kesulitan.]
[Maafkan aku. Aku ingin kau tidak mengirimiku pesan.]
[Sejujurnya, aku terpaksa putus denganmu karena Sung Ye-jin.]
Hei, apa kata Gong Ju-young?
Kurasa pacarnya menyusahkannya.
- Masuk akal. - Apa?
Dia konyol sekali.
Ada apa dengan sikapnya?
Kau tidak memintanya untuk memacarimu. Yang kau lakukan hanya mengirim pesan.
Dia tidak tahan memikirkan pacarnya melakukan itu saat bersamanya.
Pacarnya takut kehilangan dia.
Pacarnya tak bisa bilang apa-apa jika kehilangan dia.
Akan beda jika pacarnya bersikap baik.
Kenapa kau bilang begitu?
Kau buang air besar? Kenapa lama sekali?
Tidak. Aku mencuci tanganku.
Hei, Ja-rim.
Kau sudah memesan tiket bioskop?
Tidak. Kita belum memilih.
Aku sungguh minta maaf,
tapi haruskah kita pulang lebih awal hari ini?
Mari kita lakukan itu.
Kau tidak tampak sehat hari ini.
Benar. Perutku agak sakit hari ini.
Ja-rim. Maaf. Aku yang mengusulkan agar kita berkencan hari ini.
Sebagai gantinya, mari menonton film besok.
Buka.
Minumlah ini.
Perutmu sakit, wajahmu kuning, dan kau terus beserdawa.
Mungkin kau sakit perut.
- Ja-rim. - Atau mungkin
kau punya kekhawatiran.
Apa?
- Tidak... - Ayo naik taksi hari ini. Kubayar.
[Itu benar. Aku tidak punya pilihan selain putus denganmu.]
[Hari ini sudah larut. Mari bicara lagi besok.]
[Bagaimana jika Ja-rim tahu aku berkirim pesan dengannya?]
[Aku sungguh tidak menyukainya. Dia akan salah paham.]
[Benar. Biar kucari tahu alasan kami putus besok dan kuakhiri semuanya.]
Gong Ju-young.
Ju-young.
Hei. Sedang apa kau di sini?
Kita sepakat bicara hari ini.
Benar, tapi kenapa kau di sini?
Maaf, aku tidak sadar pacarmu bersamamu.
Kalian harus pergi.
Apa yang kau lakukan?
Astaga. Lepaskan aku.
Hei. Sudah kubilang jangan menunjukkan wajahmu.
Aku terkejut kau tahu cara menyimpan rahasia.
- Gong Ju-young masih belum tahu. - Benar. Jadi, jika kau punya akal,
jangan bertingkah dan pura-pura akrab dengannya.
Tapi bagaimana Gong Ju-young bisa berakhir dengan gadis sepertinya?
Dari yang kudengar, pacarnya dahulu mengencani orang yang terkenal buruk.
Maksudmu Choi Jung-woo?
Jangan sembarangan bicara. Mereka tidak pernah berkencan.
Begitukah? Tapi sudah ada rumor buruk tentang pacarnya di sekolahmu.
Hei. Kau yang menyebarkan rumor buruk tentang Wang Ja-rim, bukan?
Apa? Aku tidak pernah melakukan itu.
Mendadak ada rumor soal Ja-rim
dan kau tiba-tiba menghubungi Gong Ju-young.
No comments yet. Be the first to leave one.