The first 200 lines.
Apa ini?
Salah satu cara menolong orang?
Mudah sekali. Kau tak perlu mengeluarkan selimperpun.
Keberuntunganku saja!
Maafkan aku.
Sayang!
Menolong yang membutuhkan?
Betul sekali. Menolong yang membutuhkan.
Ini benar-benar karena kasihan dan simpati.
Juga berbuat baik.
Ada sesuatu yang harus aku ikuti malam itu.
Itu adalah hari peringatan kematian guruku.
Kau tau?
Seperti aku berumur 30 tahun.
Aku tak suka dengan rumahnya.
Atau pekerjaannya.
Aku merasa terkekang.
Jadi aku ambil,
uang, rekening bank, semua-semua yang bernilai uang...
Kuambil semua dan meninggalkan rumah.
Selama 8 bulan, aku masih bisa hidup.
Hahaha!
Sekarang jika aku mengingatnya lagi,
aku seperti anjing. Tak ada perumpaan yang tepat.
Aku benar-benar jatuh miskin.
Aku punya penyakit aneh.
Tapi kemudian...
Dokter rumah sakit tempat aku dirawat.
Ada hubungan keluarga dengan kita.
Jadi, aku tak bisa kemana-mana.
Kukira aku akan mati.
Aku ditarik seperti anjing di terik matahari.
Begitulah aku pulang.
Abangku...
Itu...
Ayahnya In Kyung.
Dia mengatakan...satu hal.
Senang sekali kau sudah pulang.
Kami anggap kau sedang liburan.
Kembalilah bekerja.
Maafkan aku, Presiden.
Pemikiranku...
Aku datang kesini untuk mengatakan bahwa pemikiranku masih tetap sama.
Aku tak perduli dengan pemikiranmu.
Kau adalah... di perusahaan kita,
orang penting.
Daerah dingin, daerah kering, daerah busuk, dan daerah lembab di perusahaan kita
Kau tau semuanya.
Kau memintaku untuk melepaskanmu, padahal dirimu begitu penting.
Kau tidak bijaksana.
Ngomong-ngomong, In Kyung ...
Apakah kau akan membiarkannya melakukan wawancara itu?
Kita mengharapkan kehidupan pribadi kita tetap terjaga.
Kenapa kalian berdua sepertinya sedang bermain game?
Sungguh kekanakan.
Jangan terlalu memojokkannya.
Takkan ada gunanya bagi kalian berdua.
Siapa itu?
Oh, kau. Kau sudah datang.
Pergilah kalian berdua makan siang.
Jangan berdebat.
Pamanku tidak mudah dihadapi, kan?
Bukan aku saja, akan banyak hal lain yang menjadi penghalangmu.
Hentikan wawancaranya.
Kau kembali dulu ke rumah.
Apa yang akan kau dapatkan dengan melakukan hal ini?
Dan apa yang akan aku dapatkan jika aku menyerah?
Ini sebuah game yang aku pun tidak akan kehilangan apapun.
Ayo makan salad saja untuk makan siang.
Para staff akan kesini pukul 3 sore.
Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif.
Kami akan menyambungkan anda dengan kotak suara.
Hei, anak muda!
Siapa? Aku?
Ya, kau.
Kenapa?
Uhm...mungkin, Ran ...
Apa dia tidak datang hari ini?
Kenapa kau penasaran soal itu?
Bukan.. Hanya saja aku tidak bisa menghubunginya.
- Ada hal yang harus kubicarakan dengannya. - Hal yang mau dibicarakan?
Lalu kenapa tidak kau sampaikan saja padaku?
Beritahu aku saja. Nanti akan kusampaikan padanya.
Begini... Kau tidak perlu tau tentang hal ini, anak muda.
Anak muda, pantat.
Ah...
Aku...
Ingin tau satu hal.
Ahjusshi, kau lelaki yang sudah menikah, kan?
Oh ya ampun!
Ahh!
Kau benar-benar tidak tahu malu.
Tunggu.
Kudengar kau tinggal di lingkungan yang sama dengan Ran.
Tapi kau membuat hal ini semakin repot untuk semua.
Seseorang yang sudah memiliki keluarga sendiri,
Ini...
Kejahatan.
Kejahatan, kejahatan!
Issh, Aku...
bukan bermaksud untuk menakutimu, tapi...
Ayahku seorang petugas di kantor polisi Sung Dong.
Jika kami menangkapmu, semuanya akan terbongkar.
- Anak muda, ini bukan seperti itu. - Aku serius memperingatkanmu, Ahjusshi.
Jangan dekati Ran.
Ran kami ...
Bukan untuk seseorang yang sudah menikah.
Kau dengar itu?
Kalau begitu mari kita mulai wawancaranya.
Aku harap anda tidak keberatan dengan banyaknya sesi fotonya.
Kukira hanya sedikit kejang otot saja di bibirku.
Ngomong-ngomong, kau juga kelihatan tegang.
Santai sajalah.
Aku sudah siap menjawab pertanyaan yang kau punya.
Untuk menghidupkan kembali majalah kita,
bukankah kita harus berusaha yang terbaik?
Kalau begitu...
Aku lewatkan saja pertanyaan yang sudah disiapkan.
Bisakah kita melakukan wawancara bebas?
Kita tidak menarik pembaca dengan cerita sopan dan yang biasa-biasa saja.
Rencana dan targetmu sebagai direktur baru di majalah Style,
tidak berbeda jauh dengan pidato kepala sekolah.
Reporter Seo lakukan saja.
Aku tertarik dan juga tertantang.
Lakukan sesukamu!
Kalau begitu kita mulai sekarang?
Kenyataannya, para pembaca...
tidak menginginkan ilusi dan romantisme, mereka juga ingin simpati dan kejelasan.
Kehidupan dari pewaris konglomerat tentu saja tidak berbeda jauh dari kami.
Anda juga berjuang dalam hidup.
Anda juga sering berargumentasi dengan suami Anda, bukan?
Tentu saja.
Bahkan hari ini, kami juga berargumen saat makan siang.
Kubilang 'Ayo lakukan wawancaranya bersama.' dan dia bilang 'Dia tidak nyaman.'
Begitulah kami.
Di waktu yang lalu kau mengatakan tentang kebahagiaan.
Menurutmu, apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan pasangan itu?
Tak perduli apapun kondisinya,
- diperlukan usaha agar keluarga selalu bersama. - Kalau begitu...
Apakah suami anda punya pemikiran yang sama?
Ya... itulah yang ingin kukatakan, tapi...
Kurasa kau harus menanyakan sendiri.
Dengan segala keimutan yang kupunya,
harusnya aku bisa membuat dia duduk di depanmu lagi.
Jika suami anda,
berpikiran berbeda...
Sebenarnya begitulah sebuah pasangan itu hidup.
Para pembaca juga memiliki kekhawatiran yang sama.
Aku tak perduli bagaimana pemikirannya.
Akan bagus sekali jika salah satu dari mereka tidak kehilangan keseimbangan.
Tetapi pernikahan...
Tidak akan berhasil hanya salah satu saja yang berusaha, bukan?
Yang mana...apakah kita tergolong keluarga konglomerat maupun keluarga menengah,
Apakah pasangan Presiden akan sama?
Kalau begitu mewakili orang biasa,
bisakah kau memberitahukanku?
Jika suamimu sekarang memiliki pemikiran yang berbeda,
kedengarannya sedikit vulgar dan ekstrim.
Bagaimana jika pengkhianatan atau perselingkuhan diantara pasanganmu terjadi,
Coba kupikirkan...
Kedengarannya aneh bagiku.
Tapi kau tidak akan pernah tau apa yang terjadi.
Aku...
Akan memenuhi apa yang suamiku inginkan.
Wow!
Inilah serunya wawancara bebas.
Bagaimana kalau kita istirahat sebentar?
Kau kelihatan sedikit capek.
Baiklah kalau begitu...
Permisi.
Kerja yang bagus!
Apakah ini tujuanmu?
Tapi ini sedikit...
Whew!
Direktur!
Direktur!
Oh Tuhanku!
Direktor, sadarlah!
- Apa yang harus kita lakukan? - Telpon 119 sekarang juga!
- 119! - Bawakan sesuatu untuk membungkusnya, selimut!
Direktur, ... cepatlah!
Bawakan sekarang cepat!
Itulah sebabnya aku menyuruhmu diam saja untuk masalah ini.
Jika hal ini sampai bocor keluar, apakah kau tidak tau hal ini bukan saja berakibat buruk untuk direktur tapi juga majalah kita?
Ini karena hyperglycemia.
Silahkan masuk.
Apa kau merasa lebih baik sekarang?
Pada akhirnya, kau masih Baek In Kyung yang sama kan?
Apapun yang terjadi...
Kita harus menunda wawancaranya.
Ketika dia sudah baikan,
kita akan mendengar kabarnya lagi.
Sampai saat itu, jangan menyalahkan dirimu sendiri.
Kau mengerti?
Ran!
Ran, Ran!
Ran!
Aku tau kau tak mau bertemu denganku.
Tolong dengarkan saja.
Okay...
No comments yet. Be the first to leave one.